
Hay, Spesial buat kalian nih. doubel up! selamat membaca!
🦋🦋
"Kenapa gue jadi pembunuh?" Rain mengulang pertanyaan Rean. Sungguh pertanyaan yang terdengar konyol ditelinga Rain.
Rain meletakkan mangkuk buburnya di meja dan hal itu tidak luput dari tatapan tajam Rean. Laki-laki itu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara kasar.
"Kenapa nggak dimakan?" tanya Rean datar.
"Nggak napsu makan. Liat muka Lo bikin itu bubur jadi hambar!" Rain melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.
Bukannya makanan dari rumah sakit itu memang semua hambar ya? Ah, bilang saja Rain tidak doyan sama makanan rumah sakit. Gadis itu memang benci berada di rumah sakit.
Suara ketukan pintu terdengar. Rean segera membukanya dan entah siapa yang datang. Saat kembali Rean sudah membawa bungkusan yang entah apa isinya.
"Nih makan, segala pake bilang buburnya jadi hambar!" Rean menyodorkan kotak berisi bubur ayam yang lebih menggoda.
Rain meringis, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Nggak usah sok imut! Mau gue cium?" Rain langsung memasang wajah masam.
Jika mengingat dirinya yang selalu berciuman dengan Rean dulu saat belum sepenuhnya menerima menjadi Rain, dia merasa otaknya sudah tidak waras. Dia sempat mengagumi laki-laki yang berstatus menjadi kakak kembarnya. Rain juga sempat menyukai karena dia berperan menjadi kembaran Rean. Tentu saja hal itu bisa terjadi karena dalam diri Rain adalah Lea.
Namun, saat mengetahui fakta jika dulu Rain asli pernah berciuman karena terbawa suasana drama Korea yang mereka tonton membuat Rain semakin gila. Lagi dan lagi mereka berciuman. Dia selalu mendikte otaknya bahwa ciuman dengan saudara itu bukan masalah.
Seiring berjalanya waktu Rain merasa bersalah dan hal yang dia lakukan tidak benar. Hingga Rain perlahan menghindari Rean juga saat hatinya mulai jatuh cinta pada pesona Radit. Lalu Rean memiliki hubungan dengan Mentari. Hubungan Rean dan Rain layaknya seorang anak kembar pada umumnya. Apa yang mereka lakukan memang menyimpang dan beruntung tidak sampai ke hal yang fatal. Meski Rean selalu tidur di kamar yang sama tapi jujur Rean tidak pernah berpikir untuk melakukan hal lebih atau mencintai adiknya seperti mencintai gadis lain. Dia hanya melakukan hal yang wajar saja karena dulu tidak pernah mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya yang memang selalu sibuk.
Sudahlah lupakan itu, saat ini mereka sedang mode hening. Rain sudah selesai menyantap sarapannya begitu juga dengan Rean. Laki-laki itu memberikan obat dan menyodorkan segelas air putih tanpa suara. Suasana hati Rean memang sedang berantakan.
Rean baru menyadari jika ada sebuah bingkisan di meja. Dia mengambil dan hendak membuangnya ke tong sampah.
"Abang?!" pekik Rain histeris.
"Kenapa? Isinya pasti benda murahan kan? Gue bisa beliin lebih banyak. Lo nggak perlu lagi terlena sama rayuan cowok manapun. Hasilnya sama! Bikin nyawa Lo hampir melayang!" kata Rean dengan santainya dia melempar bingkisan itu ke tong sampah.
"Bukan dari Bara tapi Kak Leon!" jelas Rain.
"Dari siapapun itu nggak perduli. Lo harus mikir masa depan bukan malah percintaan gila Lo!"
Heran saja kenapa Rean jadi seperti ini ya? Dia sebenarnya ngaca nggak sih? Dia saja bucin banget sama Mentari dan bahkan tidak pernah ada di sisi Rain. Selalu saja Bara yang melindungi Rain dari bahaya yang datang. Sementara Rean asyik bermesraan dengan Mentari dengan alasan jika dia butuh energinya.
Rain mengambil kembali bingkisan yang belum di buka itu. Lalu dia membuka dihadapan Rean yang sudah sangat kesal.
"Nih, Lo beliin gue sebanyak mungkin!" kata Rain sambil menunjukkan isi bingkisan itu.
Sebuah kotak musik dengan foto dirinya, lukisan Rain yang sedang naik motor dan masih pakai helm. Lalu bingkai foto berisi foto-foto dirinya yang dijadikan satu. Sungguh indah. Juga ada sebuah diary dengan sampul foto dirinya.
Rean mengatupkan bibirnya. Oke dia pikir itu hadiah tidak penting. Bagaimana dia bisa beli seperti itu yang pasti Leon memesannya khusus.
Rean mengerucutkan bibirnya, sungguh kesal juga malu sih.
"Lo kenapa sih sebenernya dari tadi maraaah mulu! Asupan cium dari Mentari kurang? Atau semalam Lo nggak di puk-puk sama Mentari?" Rain geleng-geleng kepala.
Rean menoyor kepala Rain. "Lambenya bisa di jaga nggak sih?" kesal Rean.
"Nggak bisa! Lo ini udah nuduh gue pembunuh sekarang marah nggak jelas. Nyuruh gue mikirin masa depan sementara Lo aja bucin sama Mentari. Iya deh pengantin baru, tapi ya nggak__" Rean sudah membekap mulut Rain.
"Udah diem! Gue cuma nggak mau Lo terluka!" jelas Rean dengan wajah melasnya.
__ADS_1
Rain menggigit telapak tangan Rean. Membuat laki-laki itu melepaskan tangan yang membekap mulut Rain.
"Gue lagi nggak habis pikir. Otak kecil Lo ini rupanya seperti seorang mafia ya!" Rean menyentil kening Rain.
"Ashu!" umpat Rain.
"Heh, ini mulut minta di jahit!" Rean menarik bibir Rain.
"Lagian ngeselin. Kepala gue luka dan dari tadi Lo mukul gue!" Rain mengelus keningnya. Sebenarnya tidak sakit sih hanya ingin Rean perhatian saja.
"Ya elah luka kayak gini sakit? Apa kabar sama sikap Lo yang bar-bar? Bahkan gue liat Lo baik-baik aja!" tebak Rean. Sungguh ucapan Rean ini terdengar pedas.
Dia sebenarnya tadi makan cabe berapa kilo sih? Sikapnya dan ucapannya benar-benar nyebelin.
"Lo gagal malam pertama ya, Bang?" Rain menggodanya. Membuat Rean ingin merobek bibir adiknya.
"Sialan, siapa yang ngajarin adik gue tentang ginian?" Rean bangkit dari duduknya dan mondar-mandir nggak jelas. Dia juga mengusap wajahnya frustasi.
"Pergi sana, empet gue liat Lo kayak anak bebek kehilangan induknya!" Perumpamaan yang indah.
"Adik durha___" Rean tidak meneruskan ucapannya karena ada suara ribut-ribut di luar.
Laki-laki itu segera membuka pintu dan lihat apa yang terjadi.
"Pagi Rain!" Sapa tiga orang cowok yang kini datang dengan hebohnya.
Mereka juga membawa buah tangan sebagai syarat menjenguk orang sakit. Rain tertawa melihat sahabat Rean yang kelewat gilanya.
Bagaimana bisa mereka membawa bunga mawar merah, putih, bunga kenanga dan Lily. Lalu beberapa gelas berisi kopi hitam. Ada bermacam-macam buah dan kantong kresek yang entah isinya apa.
"Sebentar ya!" Reno berlari kecil dia kembali membawa rangkaian buket berisi keripik kentang dan juga ada satu buket yang terbuat dari cokelat. Sungguh ini kenapa heboh sekali dan kenapa bunga yang mereka bawa khas bunga mau ke kuburan.
"Gue nggak tahu Lo suka bunga apa jadi gue bawain bunga ini!" Lando meletakkan sebuket bunga mawar merah lalu memberikan kantong keresek yang berisi penuh bunga khas untuk ke kuburan.
Gelak tawa terdengar menggema di ruangan Rain. Suasana menyebalkan tadi menjadi ceria karena kedatangan sahabat Rean.
"Lo kesini ngapain dah!" Rean sudah berwajah masam.
"Jenguk tuan putri kita yang berhasil mengalahkan black devil!"
"Black Devil?" beo Rain.
"Iya, Lo amnesia lagi Rain? Ah kalau gitu Lo inget gue nggak? Gue Reno pacar Lo yang mau jadi suami Lo!" Reno mengulurkan tangannya.
Rain membalas uluran tangan Reno, "Ah, calon suami. Makasih ya tapi gue nggak amnesia lagi. Gue cuma lupa nama geng Radit. Gue tadi salah sebut black liol." Rain terkekeh.
Rean segera melepas jabatan tangan Reno. Lalu menatap tajam laki-laki itu.
"Pawangnya serem, anjir!"
"Memang kenapa ya, Anjing?"
"Ashu!"
Rain terkekeh melihat Rean dan Reno adu mulut. Setidaknya ini adalah hiburan baginya.
"Rain, mau makan buah? Gue nggak mau bukain sih!" Lando kini bersuara sambil meletakkan beberapa parsel buah.
"Ye si goblok! Orang kalau nawarin mau gue kupasin gitu!" Sandy memukul lengan Lando.
__ADS_1
"Ya habis parsel buah ini cakep, sayang kalau dibuka."
Reno, Lando dan Sandy tertawa. Kecuali Rean yang sudah nggak enak dipandang itu wajah. Dia juga sibuk sama ponselnya. Entah apa yang terjadi, laki-laki itu keluar sepertinya sedang menerima telepon.
"Rain, Abang Lo nggak dapat jatah apa ya semalam? Muka asem bener kayak ketek si Lando!" celetuk Reno yang kini malah membuka camilan yang mereka bawa.
Rain mengangkat kedua bahunya. "Gue diomelin terus!" Rain menghela napas lelah.
Memikirkan Rean membuat kepalanya pusing saja.
Lando menggeser tubuh Reno agar bisa duduk di tepi brankar. Menyuapi Rain buah jeruk yang sangat manis.
"Ini namanya jeruk, Rain!" katanya.
"Rain juga tahu!" Sandy sudah capek sama tingkah kedua sahabatnya yang memang agak laen.
"Ya kali aja dia lupa karena kepalanya luka lagi!"
Rain tertawa sampai keluar air matanya. Dia juga tidak menolak Lando menyuapinya. Sekali-kali kan dapetin perhatian dari sahabat kakaknya sendiri. Apalagi statusnya jomblo.
"Hay!"
Mereka semua menoleh ke sumber suara dengan mulut yang menganga lebar. Apalagi Reno saking lebarnya air liur keluar bahkan lalat saja bisa masuk.
"Ini nggak seperti yang Lo liat ya, Ken!" Lando turun dari brankar dan langsung memasukkan jeruk yang masih tersisa setengah ke dalam mulut Reno. Kebetulan kan laki-laki itu membuka mulutnya lebar.
Reno melotot karena hampir tersedak juga.
"Sahabat nggak ada akhlak!" umpatnya setelah menelan semua buah yang masuk ke dalam mulutnya.
"Rain, gimana kabarnya?" Kenan memberikan setangkai mawar merah dan sekotak cokelat.
Baru saja tangannya terulur untuk menyentuh pipi Rain yang terluka, Rean segera menepis tangan Kenan.
"Lo pada mending pulang. Rain mau istirahat!"
Muka Rean makin nggak enak aja. Bener kata Reno kalau muka Rean tuh asem kayak ketek Lando, tapi Rain belum pernah nyium ketek Lando sih.
"Gue baru nyampe, Ren!" tolak Kenan karena baru saja sampai dan ingin gabung ngobrol sama Rain.
"Bodo amat. Gue nggak ngebolehin adek gue di jenguk sama Lo pada. Bikin kepala dia pusing!"
"Nggak juga, buktinya Rain ketawa aja bareng kita!" sahut Sandy santai sambil makan keripik kentang.
"Dia nahan pusing!"
"Nggak juga, Ren. Adek Lo baik-baik aja!" elak Reno.
Rean berkacak pinggang. Dia menghirup udara sebanyak mungkin lalu ....
"Kita cabut!" Reno menarik tangan Lando dan menjepitnya di ketek.
"Rain, cepet sembuh ya kita pulang!"
Mereka semua lari terbirit-birit seperti orang kecepirit termasuk Kenan. Sungguh melihat Rean yang melotot gitu seolah kedua bola matanya hendak keluar langsung membuat mereka takut.
Hal yang tidak Rain sangka Kenan juga takut. Padahal kalau dilihat jabatan Rean itu kan anggota dan Kenan ketua. Bisa-bisanya ketua kalah sama anggota.
"Kenapa ketawa!"
__ADS_1
Rain langsung menghentikan tawanya. Dia memilih merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua mata. Lebih baik tidur daripada harus berhadapan dengan Rean dan segala tingkah menyebabkannya.
Bersambung ...