
Rean meletakkan semangkuk bubur dan segelas susu di meja dekat ranjang Rain. Gadis itu baru saja selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya. Dia sangat kesal juga bosan karena Rean yang super posesif. Melarang dirinya melakukan ini dan itu. Padahal hanya luka ringan saja.
Rean memperlakukan Rain seperti orang sakit. Bahkan harus makan bubur dan minum obat yang Bara berikan. Rain sangat tidak suka minum obat!
"Ayo makan! Gue udah beliin buat Lo!" Rean mengangkat sendok yang berisi bubur ayam.
Rean sudah mengaduk-aduk bubur itu dan tercampur rata. Rain melirik sekilas. Melihat tampilannya saja sudah membuat perutnya mual. Makanan macam apa itu!
"Bang, gue nggak suka!" Rain mendorong sendok yang hendak masuk ke mulutnya.
"Ini kesukaan Lo, bubur ayam di aduk. Sejak kapan Lo nggak suka?"
"Sejak saat ini!" Rain membuang wajahnya. Malas menatap Rean.
Lelaki itu menghela napas berat. Tanpa bicara apapun dia membawa mangkuk bubur yang sudah di aduk dengan sempurna.
"Apaan itu! Dia mau racuni gue dengan makanan mirip muntahan bayi?" Rain bermonolog.
"Dimana ponsel dan laptop gue!" Rain melangkah perlahan menuju meja belajar. Mencari kedua benda yang menghasilkan uang itu. Kedua benda itu seperti tuyul yang kapan saja bisa menghasilkan uang jutaan.
"Lo harus sembuh! Kalau kayak gini gue ribet!" Rain berkata kepada kakinya yang diperban.
Saat hendak menunduk Rean datang membawa bubur baru yang belum diaduk sama sekali. Tampilan yang cantik dan aromanya menggoda. Rain lapar tapi dia gengsi mengatakannya. Dia kesal sama Rean.
"Ngapain?" tanya Rean yang langsung meletakkan mangkuk bubur di meja dan menarik lengan Rain.
"Sudah gue bilang istirahat aja! Jangan melakukan apapun supaya luka di kaki Lo dan siku sembuh!" perintah Rean yang membantu Rain duduk dikepala ranjang.
Rain memutar kedua bola mata malas, "Gue cuma luka ringan dan Lo perlakuin gue kayak sakit parah!" protes Rain.
"Dimana ponsel sama laptop gue!"
"Gue simpen supaya Lo bisa tidur! Kalau benda itu ada Lo pasti bakal begadang!"
Rain menggembungkan pipinya, "Gue nggak mau liat muka Lo lagi!" Rain melipat kedua tangannya di perut.
"Serah Lo!" Rean meletakkan kembali mangkuk bubur itu. Dia pergi begit saja dan menutup pintu dengan cara membanting.
Membuat Rain terkejut dan juga heran kenapa Rean malah marah.
"Aneh!"
Rain mengambil mangkuk itu dan memakannya hingga habis. Dia juga meminum obatnya setelah itu tidur dengan nyenyak karena pengaruh obatnya.
Sementara dikamar Rean dia berbaring di atas kasur dengan kedua tangan yang menjadi bantalnya. Menatap langit-langit kamar, mengingat kejadian barusan. Apa dia keterlaluan dengan adik kembarnya itu? Dia hanya ingin memberikan perhatian supaya Rain cepat sembuh. Hati Rean sangat sakit dan selalu dihantui rasa penyesalan jika Rain terluka dan dia gagal melindunginya.
Ucapan Damian terus terngiang ditelinganya saat dia memberi kabar jika Rain kecelakaan dan lukanya tidak parah.
"Apa saja yang kamu lakukan, Rean? Adikmu dalam bahaya dan kau sibuk pacaran, hah!"
"Jauhkan dia dari Radit! Papa yang akan mengurus semuanya. Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan!"
Rean menghela napas kasar, sungguh bukan mau dia juga. Sejak tadi di sekolah Rean mencari keberadaan gadis itu tapi tidak ketemu. Berkali-kali dia menghubungi Rain, nomornya tidak aktif. Siapa yang tidak khawatir coba? Bayangan Rain yang terbaring lemah selama dua hari karena kecelakaan yang menimpanya terus berputar.
"Kenapa dia jadi menyebalkan begini?" Rean bertanya sendiri dan akhirnya menenggelamkan wajah pada bantal. Berusaha untuk terpejam agar esok lebih baik.
***
Rain bangun lebih dulu, dia berjalan perlahan untuk ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah. Saat selesai dengan seragamnya, Rain menuju dapur untuk sarapan roti saja karena dia tahu pasti kalau Rean belum bangun.
Tebakannya salah! Rean sudah bangun dan sibuk membuat sarapan. Dia memakai apron warna pink yang membuat Rain ingin tertawa.
"Hai, cantik! Kenapa pakai seragam sekolah?" tanya Rean dengan senyum manisnya.
Sungguh Rain jadi curiga jika Rean bersikap manis seperti ini.
Rain memicing dan bersiap mundur ketika lelaki itu mendekat.
"Jangan macam-macam, Rean!" Tidak ada embel-embel Abang, karena alarm bahaya di kepala Rain sudah berbunyi.
Sayangnya kaki Rain cidera jadi Rean bisa dengan mudah mendekat. Lelaki itu menyentil kening Rain.
"Gue nggak bakal macam-macam sama Lo, gue mau hidup normal seperti layaknya kakak adik pada umunya! Nggak usah bersikap menyebalkan jika hanya mau berusaha buat jauh dari gue! Lo itu kembaran gue dan sampai kapanpun nggak bakal bisa kita terpisah. Kecuali maut yang memisahkan kita!"
Rain mengerjapkan matanya berkali-kali. Menatap lekat Rean yang menurut sangat aneh. Habis nonton film apa dia? Tiba-tiba bisa bijak seperti ini?
"Gue udah ada Mentari yang ngebuka hati gue. Maaf, kalau perasaan gue yang terlalu khawatir sama Lo bikin Lo nggak nyaman, tapi buat hari ini Lo nggak bisa pergi kemana-mana!"
Baru saja Rain merasa lega dan kembali kesal dengan ucapan terakhir Rean.
"Ck, gue mau sekolah!"
"Nggak ada, gue sama Lo nggak bakal masuk sekolah! Papa nggak izinin kita. Di depan pintu sana sudah ada dua penjaga. Kita boleh keluar kalau papa izinkan!"
"Ha?" Rain tidak bisa berkata-kata. Jadi dia akan terkurung di apartemen ini sampai papanya mengizinkan dia pergi.
"Kenapa?"
"Di luar sana sedang bahaya buat nyawa Lo! Ini semua karena Radit!" Wajah Rean seketika berubah. Rahangnya yang kokoh terlihat mengeras. Dia seperti menahan amarah.
"Gue mau tanya sama Lo, tapi mending Lo sarapan dulu!" Rean menarik jemari Rain untuk menuju meja makan. Dia menarik satu kursi dan mendudukkan Rain di sana.
Rean menyodorkan bubur ayam yang baru saja matang. Dia membuatnya susah payah sambil melihat instruksi dari yutub.
"Enak?" tanya Rean saat Rain sudah menyuap satu sendok bubur.
Rain mengangguk, "Lo beli? Beda sama semalam. Ini lebih enak, Lo mending kalau beli di tempat bubur ini lagi!" Rain kembali melahap bubur ayamnya.
"Gue bikin sendiri!"
__ADS_1
Perkataan itu berhasil membuat Rain tersedak bubur. Cepat Rean menyodorkan minuman untuk Rain.
"Pelan-pelan. Gue nggak bakal minta, masih banyak kok tenang aja!" Rean tersenyum manis.
"Lo bisa masak? Tumben nggak berantakan!"
"Ya dong!" Rean menaik turunkan alisnya.
Rain tidak tahu saja jika dapur tadi sudah seperti kapal pecah karena Rean membuat makanan yang belum pernah dia buat. Dia segera membereskan kekacauan itu sebelum Rain bangun dan menertawakannya. Semalam, Rean tidak bisa tidur dan akhirnya mencari resep bubur ayam yang tidak terlalu ribet. Setelah menemukannya, dia melihat isi kulkas. Kebetulan semua bahan yang dibutuhkan ada. Rean bergegas eksekusi meski pertama kali gagal dan harus membuangnya.
Kedua kalinya dia berhasil dan tepat saat itu alarm ponselnya berbunyi. Jam lima dia bergegas menyelesaikan kekacauan terlebih dahulu. Lalu menyiapkan bubur pada mangkuk dan memberikan pelengkapnya.
Semua beres ketika Rain bangun, lalu turun ke dapur. Semua sudah diprediksi Rean dan prediksinya berhasil. Rean kelar tepat waktu.
"Gue kenyang!" Rain bangkit dari duduknya. Rean membereskan piring dan gelas kotor.
Membawanya ke wastafel dan mencucinya. Dia senang karena buburnya berhasil membuat mood Rain membaik. Bahkan gadis itu juga minta nambah. Bubur yang dia buat ludes.
Setelah selesai dengan urusan dapur, Rean ke kamar lalu membersihkan diri. Sementara Rain merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah berganti pakaian.
Ponselnya berdering, entah kapan Rean mengembalikan ponselnya.
Rain segera meraih benda itu di meja dekat ranjang. Nama Bara yang tertera di layar benda pipih itu.
"Ya?" kata Rain setelah menggeser tombol hijau.
"Dimana?"
"Apartemen."
"Syukurlah, istirahat supaya cepat sembuh."
"Hmm, ada apa?"
Rain heran saja kenapa laki-laki itu tiba-tiba memberi perhatian.
"Nggak, takutnya Lo masuk mau gue jemput."
"Oh!" Rain tidak tahu harus bicara apa, dia tidak suka basa-basi.
"Nanti gue telepon lagi. Istirahat, jangan lupa minum obatnya!"
Belum sempat Rain menjawab, laki-laki itu sudah mematikan panggilan teleponnya.
"Lo juga, kenapa ikutan aneh?" Rain bertanya pada ponselnya, seolah benda itu bisa berbicara.
***
Sementara geng liol sudah menyerang markas moris. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan teror yang diberikan Gwen, menurut mereka ini cara yang kuno. Lebih baik langsung war saja.
Gwen memberi pesan ancaman di laci meja Rain. Sebuah kotak misterius ditemukan oleh Bara saat dia duduk di kursinya. Bau bangkai itu tercium. Di bawah kotak itu ada kertas bertuliskan ...
"LO BOLEH LOLOS SEKARANG, TAPI SEBENTAR LAGI LO BAKAL NYUSUL MAYAT YANG LO KIRIM KE GUE!!"
Rupanya ancaman itu tidak membuat Gwen takut, dia tetap saja akan melenyapkan Rain yang jelas-jelas tidak bersalah. Bara langsung menelepon Rain. Memastikan gadis itu baik-baik saja. Ketika Rain mengatakan jika dia tidak masuk, Bara bernapas lega. Setidaknya dia tidak keluar apartemen.
Bara langsung menelpon anak buahnya dan mengirim beberapa orang untuk menyerang markas moris. Memancing agar Gwen keluar.
Di markas geng Moris sudah berantakan, semua orang sibuk baku hantam. Bahkan mereka juga membawa senjata tajam.
Beberapa orang Moris sudah dilumpuhkan. Kini Angga dan Regar sedang memaksa salah satu anak buah Moris yang tersisa untuk mengatakan dimana Gwen. Hari ini dia tidak masuk.
"Kami nggak tahu dimana dia!" jawab Lelaki berambut gondrong itu.
"Oh, rupanya Lo mau main-main, hah!" Regar merobek lengan lelaki itu dengan belati. Hingga lelaki itu jatuh tak berdaya.
Sementara dua orang lainnya sudah tidak memiliki tenaga lagi dan ikut tergeletak di lantai.
Geng Moris sudah kalah, para anggotanya sudah tumbang sementara Gwen tidak juga muncul.
Regra tersenyum miring dan meletakkan sesuatu di setiap sudut ruang.
"Lo bakal gue temuin!"
"Gimana, Gar?" tanya Angga yang sudah ngos-ngosan karena lawannya yang lebih besar.
"Kita sembunyi!" perintah Regar.
Beberapa anggota Liol pun sembunyi dibalik semak-semak yang mengelilingi markas tersebut.
Satu jam kemudian seorang gadis dengan motor gedenya datang. Penampilannya kini menyerupai Rain bahkan motor yang dia gunakan nyaris sama.
"Dia datang!" gumam Alen.
"Ssst, gue curiga dia akan melakukan sesuatu!" kata Regar.
"Brengsek! Berani-beraninya dia hancurin markas gue! Kalian semua memang nggak berguna!" teriak Gwen.
Regar membuka ponselnya dan memperlihatkan rekaman cctv juga penyadap suara.
"Bangun Lo semua!" teriak Gwen.
Regar mendengarkan suara Gwen melalui headset yang dia kenakan. Dari situ dia bisa mengetahui rencana busuk Gwen.
Susah payah anggotanya bangun setelah Gwen mengamuk dan menggebrak meja. Dia tidak perduli jika ada anggotanya yang mati, dia juga tidak perduli jika ada yang terluka parah. Ambisinya melenyapkan liol dan juga Rain menutup hatinya. Bahkan obsesi pada Radit membuat amarahnya kian meledak.
"Lo semua nggak berguna! Lawan liol aja lo semua babak belur, hah!"
Semua anggotanya yang hanya beberapa itu bungkam.
__ADS_1
"Semua udah selesai, Gwen. Gue bilang juga jangan cari masalah sama mereka! Rencana Lo ini nggak banget, terlalu norak!" protes Billy, salah satu anggotanya.
"Lo kemana aja di saat markas di serang, hah! Lo cuma bisanya neror doang. Gaya Lo aja yang sok jadi leader kita. Sikap Lo yang sok jadi bos bikin kita nggak betah tahu nggak!" bentak Billy.
"Bil, udah. Mending kita keluar aja. Biarin dia sendiri. Cuma bisa neror doang tapi nggak tahu cara balas dendam, yang Lo lakuin itu terlalu pasaran! Kayak gitu mau jadi leader kita? Hah, mimpi kali!" Elan, menunjuk wajah Gwen.
Gwen mengepalkan kedua tangannya. Dia berusaha untuk membalaskan dendam kakaknya, tapi dia sendiri yang malah menjadi boomerang. Tidak pandai bela diri, tidak bisa menggantikan posisi sang kakak, tidak bisa balapan. Dia memang sangat payah. Gayanya saja yang sok tomboy tapi dia sebenarnya tidak bisa apa-apa. Dia hanya gadis manja yang selalu menghabiskan uang bapaknya.
Dia hanya bisa menyuruh orang dan menghamburkan uang bapaknya demi melenyapkan siapa saja yang menghalangi keinginannya.
"Oke! Lo semua emang brengsek! Lo juga, Bil! Lo cuma bisa manfaatin tubuh gue, sekarang ini balasan Lo!"
Gwen menampar laki-laki itu.
"Kalau iya kenapa? Lo sendiri yang mau. Lagipula gue selalu bilang kalau gue ini cinta sama Lo dan lupain Radit. Dia nggak pantes buat Lo perjuangin. Jadi diri Lo, Gwen! Sekarang liat, Lo pengen seperti Rain buat memikat Radit kan? Atau Lo mau lakuin sesuatu biar nama Queen jatuh dan Lo bisa ganti posisinya? Gitu? Udah deh, mending Lo lupain obsesi Lo ini!"
"Brengsek!"
Gwen kembali menyerang Billy, sayangnya laki-laki itu langsung bisa menangkis tangan Gwen. Gadis itu juga tidak mahir dalam bela diri.
Ah, sungguh payah.
Gwen sangat kesal, dia pun memilih pergi dan melanjutkan aksinya.
Regar sudah mengirim semua rekaman itu kepada Bara. Kemudian Bara menyuruh dua orang untuk mengikuti kemana Gwen pergi.
Regar dan Angga yang memilih mengikuti Gwen. Mereka berada di belakang Gwen dengan jarak yang jauh supaya tidak curiga.
Benar saja, Gwen pergi menemui Radit. Di sekolahnya dengan penampilan seperti itu.
Regar masih memantau dari jauh, Radit datang dengan senyum mengembang. Sayangnya Regar tidak bisa mendengar obrolan mereka.
"Radit di samping gerbang. Gue nggak bisa denger mereka ngobrol!" kata Regar kepada Bara melalui alat yang sudah terhubung langsung dengan Bara.
Lelaki itu langsung bergegas keluar. Kebetulan ini jam istirahat. Tepat di belakang Radit berdiri ada pohon mangga. Bara akan duduk di balik pohon itu untuk mendengar obrolan mereka.
"Rain, aku seneng kamu datang. Kenapa nggak sekolah?"
Gwen membuka helmnya, wajah Radit langsung berubah.
"Dit, gimana penampilan gue? Semua ini demi Lo!"
"Jadi ... Itu Queen?" pekik salah satu siswi yang hendak masuk ke dalam sekolah.
Segerombolan siswi yang baru saja keluar dari kedai jus yang berada di depan sekolah itu langsung berteriak histeris. Mereka pun mengerumuni Gwen. Rencananya berhasil.
"Hey, kalian salah! Dia bukan Queen!" Radit berusaha untuk membubarkan semua siswa-siswi yang mulai datang mengerumuni Gwen.
Radit tidak menyangka jika Gwen akan melakukan ini semua. Di balik pohon tangan Bara terkepal kuat. Namun, dia tidak boleh gegabah untuk keluar dari persembunyiannya.
"Queen, boleh foto bareng?" tanya seorang gadis berambut sebahu.
Gadis cupu yang ada di sebelahnya juga mengangguk. Dia antusias sekali melihat seorang Queen.
"Pergi kalian! Gue jijik liat Lo semua apalagi kalian ini pada norak dateng-dateng langsung ngerubungin gue kayak lalet!"
Semua fans Queen pun kecewa karena ucapan Gwen. Mereka akhirnya pergi karena sang idola rupanya tidak seramah saat di sirkuit.
"Queen, kita nggak nyangka ya kalau Lo itu ternyata sombong. Gue pikir Lo emang ramah karena selalu nyapa para fans meski tetap pakai helm!" sahut gadis berambut sebahu itu.
"Iya, gue emang sombong! Udah sana pergi, gue nggak mau kalau motor gue jadi lecet karena di sentuh tangan kotor kalian!"
"Gwen!" teriak Radit yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Gwen.
"Kalian semua dengar! Dia bukan Queen. Dia hanya gadis gila yang menyamar sebagai Queen!" teriak Bara yang tiba-tiba datang.
Membuat Gwen mendelik kaget, rupanya Bara satu sekolah dengan Radit.
"Heh, gue Queen ya. Dia itu cowok stres yang gue tolak. Asal kalian tahu, gue ini memang cuma pura-pura ramah di depan fans!"
"Queen, aku tahu kamu pura-pura. Kamu baik dan pernah nolong aku pas pulang nggak ada taksi!" Gadis cupu berkacamata tebal itu memegang tangan Gwen.
Gwen mendorong gadis itu hingga jatuh tersungkur. Bara segera membantu gadis itu untuk bangkit.
"Lihat, idola yang kalian banggakan itu emang cewek sombong dan nggak punya sopan santun! Mending udah deh nggak usah kalian banggain yang namanya Queen! Dia emang gadis manipulatif!" teriak salah satu laki-laki berambut ikal. Dia fans Queen dan selalu melihat setiap Queen balapan.
Rupanya penyamaran Gwen berhasil membuat para fans Queen atau Rain kecewa. Mereka pergi begitu saja, juga dengan gadis cupu tadi yang menangis karena perlakuan Gwen. Sebentar lagi sosial media akan heboh dengan berita seorang Queen. Gwen berhasil menjatuhkan gadis itu. Sementara Bara yang hendak melayangkan tinjunya pada Gwen segera di cegah oleh Radit.
Laki-laki itu membawa Gwen pergi entah kemana. Gwen ya senang saja bisa semotor berdua dengan Radit. Dia langsung memeluk pinggang laki-laki itu ketika Radit melajukan motor Gwen dengan kecepatan tinggi.
Gwen hampir kehilangan napasnya ketika Radit dengan ugal-ugalan di jalan, hampir saja motornya itu menabrak mobil-mobil besar.
Mereka sampai di sebuah rumah kosong yang entah Gwen sendiri tidak tahu itu rumah siapa. Rumah itu mungil dan menyeramkan tentunya.
"Puas Lo hancurin Rain, hah!" Radit mendorong tubuh Gwen ketika pintu sudah terbuka.
"Dit?" Gwen menggigil melihat wajah Radit yang menyeramkan.
"Lo udah buat hidup gue hancur, Gwen. Gara-gara Lo, Rain berpikir yang enggak! Gara-gara obat sialan yang Lo berikan, gue jadi nggak waras. Puas Lo, hah!"
Radit menampar Gwen berkali-kali. Gadis itu terjatuh dan berusaha untuk bangkit. Sialnya kedua kaki Gwen terasa kaku, Radit terus berjalan mendekat, gadis itu terus berusaha mundur meski terduduk lemas.
"Ini mau Lo?" Radit merobek jaket yang Gwen kenakan dengan pisau kecil yang selalu dia bawa di saku celananya.
Gwen menggeleng, "Lo mau apa? Jangan, Dit!" Tubuh Gwen gemetar hebat.
Dia tidak sekuat Rain dan tidak bisa melakukan apapun untuk membela dirinya. Sudah dikatakan Gwen itu lemah tapi sok kuat dan sok berkuasa. Sekarang entah bagaimana nasibnya. Regar terus memantau dari luar. Seharusnya dia yang menyiksa gadis itu, tapi syukurlah ada Radit yang sudah dengan suka rela menyiksa gadis itu. Jadi Regar tidak perlu mengotori tangannya.
Bersambung ....
__ADS_1
Visual Rean Gabriel Klopper