Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 81


__ADS_3

"Udah?" tanya Bara.


Sejak tadi dia berjaga di kamar mandi itu. Takut saja jika ada serangan balik dari musuh.


Meski sebenarnya pertarungan itu sudah selesai. Radit dibawa ke markas dan Gwen di tempat yang berbeda. Mereka sama-sama tidak sadarkan diri dengan tubuh yang terikat di sebuah kursi. Rain yang akan memberikan hukuman kepada Gwen sebelum dia dibebaskan dan di tendang ke negara terpencil.


"Kita pulang, Lo harus istirahat!" Bara menarik tangan Rain. Ah, tepatnya menarik hoodie Rain tepat di lengannya. Dia benar-benar tidak menyentuh Rain.


"Gimana sama mayat-mayat itu?" tanya Rain. Dia juga tidak protes dengan Bara yang menggandengnya tapi terkesan jijik.


Ya, memang Bara kan orangnya suka diluar nurul. Eh di luar nalar.


"Sudah beres. Mereka akan dibawa ke rumah masing-masing. Lo tenang aja!" Bara memasangkan helm milik Rain.


Gadis itu mengedarkan pandangannya. Suasana kafe sudah sepi karena sudah larut malam dan acara selesai dengan baik. Pertarungan tadi tidak membuat mereka terganggu.


"Hey, tunggu!" Leon berjalan mendekat. Dia baru saja selesai membereskan peralatan bandnya.


Bara dan Rain menoleh, sementara Bara memutar kedua bola matanya malas. Sejak tadi dia tidak suka dengan sikap Leon. Ya, meski usianya lebih tua dari Bara tetap saja dia ingin membuat Leon babak belur.


"Terima kasih, Queen. Sudah memperbolehkan aku tampil. Eum ini buat kamu!" Leon membuka tas ranselnya dan memberikan plastik yang berisi bingkisan kado.


"Sudah lama aku ingin memberikannya, hanya saja kamu nggak pernah balapan lagi. Juga aku nggak tahu kapan bertemu. Aku selalu membawanya kemanapun aku pergi dan berharap bisa bertemu lagi." Perkataan Leon membuat Bara kesal.


Dan ... Apa tadi? Laki-laki itu memanggil Rain dengan sebutan Queen! Hah, emosi Bara sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya dia merobek mulutnya dan menancapkan belati yang sudah dilapisi racun itu tepat di jantungnya. Sungguh, Bara nggak suka Leon cari perhatian Rain.


"Wow, makasih banyak ya, Kak. Nggak nyangka perjuangan kakak segitunya!"


Leon tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.


Dia mengusap tengkuknya, "Ya, aku terlalu mengagumimu, Queen. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Pacarmu sepertinya sudah sangat marah!" Leon melirik ke arah Bara dengan senyum tertahan.


Sungguh wajah Bara saat ini tidak enak di pandang. Wajah merah dengan emosi tertahan.


"Pacar?" beo Rain. Kemudian melirik ke arah Bara.


"Dia sahabat kok, Kak!"


Leon terkekeh, "Oh ya, luka kamu__"


"Nggak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja. Maklum lah tadi ada insiden yang tidak menyenangkan!" Rain memotong ucapan Leon. Laki-laki itu tidak tahu jika Kafe mendapatkan penyerangan.


Ini karena anak buah Bara dan Kenan bersatu, sehingga tidak membuat para pengunjung melihat kericuhan tadi. Juga orang-orang Rain yang profesional.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang ya. Terima kasih buat semuanya!" Leon melambaikan tangannya.


"Daaa, hati-hati di jalan!" Rain membalas lambaian tangan itu.


"Daaa, hati-hati di jalan! Huweeeek!" Bara menirukan suara Rain yang terkesan di buat imut itu.


Padahal tidak ada yang salah dari ucapan Rain, hanya saja Bara sedang mengalami serangan cemburu.


Rain tertawa lalu memukul lengan Bara dan lelaki itu meringis karena lengannya terasa sakit. Melihat itu Rain segera membuka resleting jaket Bara.


"Queen, Lo nggak bakal perkosa gue kan?" Bara terkejut oleh tindakan Rain.


"Buka jaket Lo!" perintah Rain.


Bara menolak dan dia tetap memakai helmnya.


"Jangan di sini, ayo ke apartemen kalau Lo mau perkosa gue!"


Rain menoyor kepala Bara. Sungguh di saat Rain sedang khawatir dia malah bercanda.


"Bara Alexio!"


Kalau sudah memanggil nama lengkapnya Bara menyerah dan memilih tunduk. Dia membuka jaket warna hitam itu. Betapa terkejutnya Rain melihat lengan Bara yang terluka. Kebetulan Bara menggunakan kaos putih, dimana ada darah di bagian perutnya. Rain membuka kaos itu, Darah sudah mengering tapi luka belum di obati.


"Naik sekarang!" Rain langsung mengambil alih motornya dan langsung menyuruh Bara untuk naik.


Memang sejak tadi Bara menahan rasa sakit karena mendapatkan luka goresan di lengan dan tusukan di bagian perut, tapi itu tidak masalah bagi Bara. Demi menyelematkan Rain dia tidak perduli dengan rasa sakitnya. Rain membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Jalan yang sepi karena sudah larut malam itu membuat Rain cepat sampai di sebuah rumah sakit.


"Tolong, teman saya terluka!" kata Rain pada seorang perawat yang datang mendekat.


Sejak tadi Rain sudah memiliki firasat nggak enak karena melihat wajah pucat Bara.


"Queen, gue nggak apa-apa. Lebih baik Lo yang diobati karena luka lo___"


Bara sudah di dorong oleh Rain agar masuk ke ruang UGD. Dimana dia akan diobati lukanya. Meski tidak terlalu dalam tapi luka itu kan serius. Apalagi di perut. Entah siapa yang mencoba melukai Bara.


Laki-laki itu memang kuat. Bisa menahan sakit dan malah menolongnya. Sungguh Rain merasa bersalah karena tidak peka.


Kepala Rain terasa pusing dia baru merasakannya saat menunggu Bara selesai di periksa. Kedua matanya sudah tidak fokus melihat tapi Rain harus menahan itu supaya saat Bara keluar nanti dia tidak khawatir. Sebenarnya luka Rain lah yang serius. Dia harus mendapatkan perawatan tapi gadis itu tidak mau dan menganggap dirinya baik-baik saja.


Bertepatan dengan Bara yang sudah keluar setelah mendapatkan perawatan, laki-laki itu dikejutkan oleh Rain yang ...


"Queen!" pekik Bara dan langsung menangkap tubuh gadis itu yang limbung.

__ADS_1


Beruntung Bara tepat waktu, luka milik nya tidak terlalu dalam dan hanya dijahit sedikit. Bara juga mengalami patah di tulang rusuknya dan harus di rawat, tapi Bara menolak. Dia tidak mau merepotkan Rain.


"Suster tolong!" teriak Bara.


Tubuh Gadis itu dibaringkan ke atas brankar. Lalu Bara menggantikan posisi Rain yang duduk di kursi tunggu. Berada di UGD membuat jantungnya bertalu-talu.


Dia baru melihat Rain selemah itu. Ingin sekali membuat Radit juga merasakan apa yang Rain rasakan. Bila perlu dia akan membuat Radit lebih menderita. Tidak menyangka jika Raditlah yang membuat Rain terluka, heran saja sama orang yang mengaku cinta tapi malah melukai orang yang dia cintai.


Di saat rasa tegang melanda karena pintu UGD tidak kunjung terbuka, ponsel Bara bergetar.


Rean memanggil


"Gue di rumah sakit! Rain terluka!"


Bara langsung menutup sambungan teleponnya. Dia tidak mau mendengar omelan laki-laki itu.


Khawatir boleh tapi Rean ini terlalu berlebihan. Ya, siapa coba yang tidak trauma ketika melihat kondisi adiknya yang terbaring lemah di rumah sakit dalam kondisi koma. Lalu saat sadar betapa bahagianya Rean tapi Kebahagiaan itu harus terampas dengan kenyataan jika Rain amnesia.


Dari situlah Rean berjanji akan melindungi Rain dan tidak akan membuat dia terluka. Jika ada yang membuat dia terluka maka akan Rean beri pelajaran. Bara yang selalu menjadi sasaran empuk Rean. Tidak perduli alasannya. Membuat babak belur Bara dan kemudian baru mendengarkan apa yang terjadi.


"Gimana keadaannya, Dok?" tanya Bara setelah pintu UGD terbuka dan seorang lelaki berjas putih itu keluar.


"Apa anda keluarga pasien?"


Bara menggeleng, "Saya pacarnya. Keluarga sedang perjalanan kemari. Jadi bagaimana kondisinya?"


"Pasien pingsan karena luka di kepalanya. Dia juga syok semacam trauma. Kita sedang observasi trauma apa yang dialami pasien. Juga ada beberapa jahitan di lengannya karena robek."


Lengan Rain hanya di ikat oleh kain saja supaya darah tidak mengucur. Bara sudah meminta Rain untuk ke rumah sakit tapi gadis itu menolak. Lukanya memang tidak baik-baik saja, tapi Rain keras kepala.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Tenang saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Bara menghela napas lega.


"Ada yang mau ditanyakan lagi?"


"Tidak."


"Jika begitu saya permisi dulu."


Bertepatan dengan itu dua orang perawat mendorong brankar. Dimana ada Rain yang memejamkan matanya. Dia mengikuti langkah para perawat itu menuju ruang rawat. Sebelumnya Bara sudah mengurus segala administrasi.


"Pasien mengalami trauma." Ucapan dokter tadi terus berputar dikepalanya.


Trauma? Apa yang membuat Queen trauma? Bara terus bertanya dalam hati.


Pintu terbuka dan Rean langsung memeluk tubuh Rain. Jangan ditanyakan lagi bagaimana kondisi Rean saat ini.


Sangat kacau.


"Rean, dia punya trauma!"


"Ha?" Rean tidak tahu apa yang membuat Rain trauma.


Mungkinkah dimasa lalu?


"Trauma? Siapa yang sudah buat Rain seperti ini?"


"Radit!"


"Brengsek!" kata Rean dengan teriak tertahan. Dia tidak mau mengganggu Rain.


"Dia di markas yang gue sendiri nggak tahu dimana. Orang-orang Queen yang membawanya!"


"Apa?!" Rean lagi-lagi tidak mengetahui soal Rain.


Orang-orang Queen? Siapa mereka?


Rean juga baru tahu fakta tentang semua rencana Rain. Dia seperti seorang mafia. Bahkan kekejaman Damian saja kalah dengan Rain. Gadis itu lebih pantas menjadi ketua mafia saja.


"Lo nggak tahu juga?" Rean menggeleng dengan pertanyaan Bara.


Apa ini? Apa yang Rain sembunyikan darinya? Setelah gadis itu sadar Rean akan menanyakannya.


***


Rain membuka kedua matanya, menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih juga aroma yang sangat khas. Tempat yang asing tapi Rain tahu dimana dirinya berada. Gadis itu melirik ke arah samping kanan, seorang laki-laki menggenggam tangannya dan menenggelamkan kepala diantara kedua tangan yang dilipat.


Rain tersenyum, membayangkan wajah konyolnya yang selalu khawatir luar biasa. Bisa dia tebak setelah ini akan menjadi tawanan lagi. Tidak ada hal yang bisa dia kerjakan. Ah, rasa-rasanya ingin kabur saja sekarang. Namun, kepalanya sangat pusing. Bayangan luka Bara yang hanya di ikat oleh kain lalu dia buka, membuat darah yang semula kering kembali mengalir. Luka tusukan itu mengingatkan kembali pada kejadian dulu saat menjadi Lea. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dia ... Ketakutan.


Rain mencoba melirik ke arah sofa. Ada laki-laki yang sudah berkorban banyak demi menyelamatkan nyawanya. Sedan terlelap dengan lengannya yang menutupi sebagian wajahnya.


Rain tersenyum lega melihat laki-laki itu, setidaknya apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Namun, mengingat luka itu perut Rain terasa di aduk dan ingin segera muntah.


Rasa itu tidak tertahankan, Rain mencoba bangkit, gerakannya dirasakan oleh Rean.


"Rain, ada apa?" tanya Rean.

__ADS_1


Rain menggeleng sambil membekap mulutnya. Menahan gejolak rasa yang terus memaksa ingin dikeluarkan.


Rain berlari meski tangannya terdapat selang infus. Ah menyebalkan sekali. Belum sampai di kamar mandi dia ...


"Huweeeek."


Rain memuntahkan semua isi dalam perutnya dan menyisakan rasa pait di tenggorokan.


Rean menekan tombol yang tersedia untuk memanggil dokter.


Bara juga bangun dengan siga dia memijat tengkuk Rain.


"Sudah lega? Balik ke tempat tidur, gue bersihin dulu!"


Rean membantu Rain untuk kembali ke ranjang pesakitan itu. Sementara Bara membersihkan muntahan Rain.


Tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Rain.


"Jangan banyak bergerak ya, jahitan di lengan masih basah. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Dokter setelah melakukan rangkaian pemeriksaan.


"Jauh lebih baik."


"Tidak, dia baru saja muntah!" sahut Rean.


"Apa kau masih takut?" tanya Dokter Adrian.


Rain mengangguk, dia melirik ke arah Rean dan Bara bergantian.


"Tidak apa-apa, ini efek dari trauma yang kamu alami. Jangan terlalu stres ya."


"Trauma?" beo Rean.


"Ya, dia mengalami trauma. Pacarnya terkena tusukan di pinggang. Mungkin Rain memiliki trauma dengan hal tersebut."


Rean menatap Rain penuh tanya. Ada banyak sekali hal yang ingin dia tanyakan. Sementara Bara duduk di sofa dengan wajah yang sedikit menahan rasa sakit.


"Baiklah, setelah sarapan minum obatnya ya. Ada pertanyaan lagi?"


"Tidak ada," jawab Rain.


"Jika begitu saya permisi dulu."


Rean menatap tajam Rain setelah dokter itu pergi.


"Ada yang harus Lo jelasin setelah sembuh!" Rean berkata dingin.


Bara mendekat lalu, bibirnya tertarik ke kanan dan kiri, sebuah senyuman yang membuat Rain merasa hangat karena suasana dingin yang Rean ciptakan.


"Rain, gue balik dulu ya. Ada Rean yang jagain Lo!"


"Ya, gue bisa jaga dia!" sahut Rean. Seperti orang yang sedang datang bulan. Rean terlihat tidak suka dengan kehadiran Bara.


Andai saja dia tahu perjuangan Bara. Yah, tapi Rean tetap tidak perduli karena rasa khawatir yang teramat dalam. Rain lagi dan lagi terluka saat bersama Bara.


"Buka mulut makan yang banyak biar cepet sembuh!" Rean mulai menyuapkan sesendok bubur.


Rain mendorong mangkuk bubur itu setelah berhasil menelan satu sendok.


"Nggak suka!"


"Jangan manja, Lo lagi sakit dan harus makan biar sehat lagi!" Rean tetap memaksa Rain untuk makan.


Biasanya Rean penuh perhatian jika sakit dan harus di rawat di rumah sakit Rean akan mengganti makanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit karena rasanya pasti tidak enak. Sayangnya sekarang Rean sedang mengibarkan bendera perang. Jawaban yang diberikan selalu ketus dan terkesan dingin.


"Gue bisa makan sendiri!" Rain mengambil alih mangkuknya daripada dia di suapi Rean yang agaknya dendam. Satu suap belum habis sudah di paksa buka mulut lagi.


"Ck! Merepotkan!" bentak Rean.


Rain mengernyit heran. Apa yang terjadi semalam? Kenapa Rean bersikap seperti ini? Biasanya dia akan penuh perhatian. Apa dia lelah karena Rain terus berulah?


"Maaf, gue nggak bermaksud buat Lo repot! Gue bisa sendiri nggak usah di jaga!"


"Lo bisa nggak sih sebentar aja nggak bikin ulah?" Rean mengusap wajahnya frustasi.


Napsu makan Rain mendadak hilang. Tenggorokan sakit bersama dengan kedua mata yang berembun. Sungguh suasana macam apa ini?


Rain menghela napas kasar, mencoba menahan emosinya supaya tidak membuat Rean semakin meledak-ledak.


"Lo lagi dateng bulan?" canda Rain supaya laki-laki itu tidak lagi emosi.


"Ck, siapa yang nggak khawatir denger kabar Lo pingsan dan masuk rumah sakit. Kepala Lo hampir pecah dan lengan Lo robek. Bara kerjaannya ngapain sih? Nggak bisa jaga Lo sama sekali!" protes Bara.


Wajahnya sudah terlihat jelek ditambah rambut yang acak-acakan.


"Bara nggak salah, Lo lupa kalau semalam kita di serang sama Radit dan black liol? Lo tenang aja mereka semua sudah tidur di dalam gundukan tanah!" kata Rain mencoba menenangkan Rean yang sudah seperti orang kerasukan jin iprit.


"Kenapa Lo jadi pembunuh?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2