
Napas Rain naik turun karena sejak tadi berlarian di tepi pantai. Kejar-kejaran sama Bara, seperti anak kecil yang berebut mainan. Akhirnya mereka duduk di tepi pantai beralaskan pasir. Kedua kaki mereka pun tidak memakai alas. Mereka menikmati momen sore ini untuk melepas penat dan juga masalah masing-masing.
"Gue capek banget!" kata Bara dengan napas yang tersengal-sengal.
Rain mengangguk, dia sedang menikmati matahari yang akan pulang karena tugasnya sudah selesai. Senja yang begitu indah telah datang, pertanda langit akan gelap dan banyak aktivitas akan selesai. Sebelum mereka pergi dari pantai, mereka akan terus memandangi matahari benar-benar tenggelam.
"Aaaaaaaaaaaa ....." teriak Rain sekencang mungkin.
"Anjir! Ngagetin gue aja lu!" Bara memukul lengan Rain.
"Apaan sih! Gue cuma lagi lepas beban!" jawab Rain.
"Lepas beban?" ulang Bara.
Rain mengangguk, "Coba aja. Lu merem deh terus sambil tarik napas keluarin pelan-pelan. Habis itu Lu buka mata Lu dan teriak!" jelasnya.
Bara pun mencoba apa yang Rain katakan. Lelaki itu terpejam dan menarik napasnya lalu mengeluarkannya perlahan. Kemudian ...
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa ..... Tuhan ... Gue lelah! Gue pengen kawin sama Rain!"
Plak!
Rain memukul kepala Bara.
"Lo kalau ngomong sembarangan!"
Bara mengelus kepalanya yang terkena pukulan. " Serius gue capek sama masalah gue. Jadi ... Ayo kita nikah!" Bara langsung menarik tangan Rain.
Gadis itu pun menepisnya. "Lo ngajak nikah udah kayak ngajak beli cabe!" protesnya.
"Lho justru itu lebih baik, Queen! Kalau kita nikah nggak ada cinta tuh nanti lama-lama ada tumbuh cinta. Terus gue mau apa-apain Lo udah halal."
"Yang ada gue empet liat muka Lo!"
"Jangan gitu ... Lo benci sama gue lama-lama cinta!" ucap Bara penuh percaya diri.
"Nggak ada! Cinta bikin nyakitin!" Rain kembali teringat dengan kisah cintanya.
Dia pun menatap matahari yang sisa setengah. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi warna abu-abu.
"Hapus semua tentangnya. Gue bantu deh!"
Rain menatap Bara penuh curiga. Mana ada dia bisa bantu buat lupain tentang Radit. Bahkan laki-laki itu saja sedang ada masalah dengan seorang perempuan yang mengaku sedang hamil anaknya. Sampai sekarang masalah itu belum selesai, meski orang yang menyuruh perempuan itu sudah mengaku, tetap saja Alpha: ayah Bara masih belum percaya.
"Gue nggak percaya sama Lo! Duit aja nggak punya!" sindir Rain.
"Anjirr!"
Rain tertawa puas melihat Bara dengan wajah yang nelangsa.
"Gue kasih Lo kerjaan mau kaga?" tanya Rain dengan wajah yang serius.
Melihat keseriusan di wajah Rain, Bara pun ikut serius. Mungkin dengan bekerja dan mendapatkan gaji, seenggaknya dia punya duit. Sekarang semua kartu ATM dan kartu kredit lainnya saja sudah di sita oleh Alpha. Mau balapan juga percuma. Semua fasilitas yang Alpha berikan kepada Bara pun di tarik. Laki-laki itu harus bisa hidup tanpa kemewahan. Ya, beruntung saja Bara masih boleh tinggal di rumah mewahnya.
Bahkan sekolah saja uang saku di jatah setiap hari. Itu juga hanya cukup untuk naik kendaraan umum bolak-balik. Kabarnya hukuman itu sampai si perempuan mau bicara siapa anak tersebut atau paling nggak sampai perempuan tersebut melahirkan. Bayangkan saja, Bara hidup seperti di penjara sampai 9 bulan.
"Tuh cewek katanya lagi bunting 6minggu. Sampai 9 bulan gue di hukum! Jadi ... Apapun kerjaannya gue ambil!"
"Ha? 9 bulan?" Rain terkejut mendengarnya. Bayangkan saja jika jadi Bara seperti apa.
Rain jadi sangat kasian sama lelaki itu, tapi salut juga karena dia tetap mau menjalani hukuman. Bahkan Rain dengar kalau Bara tidak lagi ikut balapan.
"Biasa aja itu muka!" Bara mengusap wajah Rain.
"Sapi! Tangan Lo kena pasir!" Rain mengelap wajahnya dengan hoodie yang dia kenakan.
"Maaf, sengaja sih!"
Rain geleng-geleng kepala. "Besok pulang sekolah bareng gue, tar gue ajakin ke tempat Lo kerja!" katanya.
"Serius?" Bara tidak menyangka jika dia bisa bekerja mulai besok.
__ADS_1
"Iya, Lo liat dulu cocok apa enggak!"
Bara menggoyangkan lengan Rain yang bertumpu pada kedua kakinya.
"Gue mau, apa aja dah yang penting gue punya duit, Queen!"
"Oke, gampang."
Ponsel Bara pun berdering. Lelaki itu segera menggeser tombol hijau karena yang menelpon adalah anak buahnya.
"Bro, Lo kemana aja sih? Gue cariin susah bener!" kata seseorang di seberang sana.
"Sorry, ada apa?"
"Markas di serang sama geng Moris!"
"APA?! Gue ke sana sekarang!"
Bara pun mematikan sambungan telepon. Rain yang melihat wajah Bara nampak panik pun segera bangkit dari duduknya.
"Gue anter!" tawarnya. Meski Rain sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
***
"Dia cuma mecahin kaca doang pake ini!" kata Angga, sambil memberikan kertas yang di dalamnya ada batu.
Bara membuka kertas itu dan menemukan sebuah tulisan. Sementara Rain duduk di kursi dengan tenang. Mereka sekarang berada di markas geng liol milik Bara.
NYAWA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA. KALIAN SEMUA HARUS MATI DI TANGAN GUE!
"Dia siapa?" tanya Bara kepada Angga.
Angga mengangkat kedua bahunya. "Dia pake motor punya Glen!" jawabnya.
Angga tadi sempat melihat cctv untuk mencari tahu siapa orang yang telah menyerang markasnya.
"Glen? Bukannya dia udah mati?"
"Iya, kayaknya ada orang yang pake. Mana ada Glen sendiri yang pake!"
"Udah tapi ya sama aja, semua data nggak ada yang mencurigakan. Hanya saja ada satu anggota keluarga dia yang datanya di lindungi. Gue nggak bisa bobol."
Bara menggaruk dagunya yang gatal, "Di lindungi?" ulang Bara.
"Iya, ini aneh juga. Biasanya geng Moris itu kalau nyerang nggak mencurigakan gini. Dia langsung aja main gelud. Ini aneh nggak sih, Bar?" timpal Regar.
"Terus tadi pas nyerang juga helm masih di pake. Kita semua kan sudah hafal anggota mereka!" sambung Angga yang melihat kejadian itu dari cctv.
"Kayaknya dia bukan cowok deh. Solanya dari cara naik motor aja beda nggak kayak kita-kita!" imbuh Alen, mengingat saat tadi hendak ke markas dia melihat seseorang berpakaian serba hitam yang berada tidak jauh dari markas. Lalu pergi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Angga, Alen dan Regar spontan menatap ke arah Rain yang kebetulan duduk di depan mereka bersekat meja persegi panjang.
"Lo bertiga nuduh gue?" tebak Rain langsung karena ketiga lelaki itu menatapnya curiga.
"Bos, dia siapa?" bisik Regar. Bukan bisikan sih soalnya Rain dengar.
"Queen!" jawab Bara santai. Kemudian dia beralih ke laptopnya.
"Ha? Jadi ... Lo si ratu sirkuit itu?" tanya Regar tidak percaya.
Rain diam saja dan kembali sibuk dengan ponselnya.
"Njiir di cuekin!" ledek Angga.
"Orang yang ngelindungin datanya ini sangat pintar ya, susah banget di bobol!" celetuk Bara.
Rain yang mendengar itu segera mengambil alih laptop Bara. Dia kemudian melakukan sesuatu dengan wajah yang serius.
Keempat lelaki itu saling melempar tatapan.
"Dia emang bisa retas?" kata Regar pelan.
__ADS_1
"Sok jago dan sok cool tuh cewek!" timpal Alen.
Bara melirik ketiga sahabatnya ini dengan tatapan garangnya dan langsung membuat ketiga sahabatnya menunduk.
"Deanori Gwenna Alterio, perempuan berusia enam belas tahun. Adik bungsu Glen Alterio!"
Semua terdiam mendengarkan Rain berkata. Mereka semua tidak menyangka jika Rain berhasil membobol data milik anggota keluarga Glen yang di lindungi. Benar-benar hebat.
"Anjir! Jadi Glen masih punya adik?" tanya Angga entah pada siapa.
Rain mengerutkan keningnya. Saking dalamnya alis itu pun menukik tajam. Seperti ada sesuatu yang dia temukan.
"Gwen?" Kedua mata Rain membelalak.
"Lo kenal, Queen?" tanya Bara.
"Dia tunangan Radit!"
"Apa?" Ketiga lelaki itu berkata serempak.
"Radit? Gue denger-denger dia punya cewek namanya Rain. Tomboy tapi cakep. Kenapa jadi tunangan sama Gwen?" ucap Alen yang tidak habis pikir dengan Radit.
"Iya, gue juga denger. Mending Rain buat gue aja. Nanti gue ajarin bela diri dah. Gue masukin ke geng Liol!" sarkas Angga.
"Njiir, udah main embat aja. Emang Lo pernah liat tuh cewek?" tanya Regar.
"Gue pernah liat di Instagram dia, tuh cewek cakep, anjir. Cuma penampilan tomboy sok-sokan kayak anak motor gitu!" Mulut Angga kalau di suruh julid ini memang pantes. Dia seperti emak-emak kalau lagi julid.
Bara memukul kepala ketiga sahabatnya bergantian. Membuat mereka pun kesal.
"Lo apa-apaan sih, Bar?" tanya Alen nggak terima dia dapet pukulan dari Bara tiba-tiba.
"Bisa jaga nggak itu mulut kalian?" Bara melirik ke arah Rain yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Lah emang bener kok apa yang kita-kita bilang!" jawab Angga santai.
"Lo nggak liat kalau ada Queen di sini? Cewek yang kalian bertiga julidin itu ya dia! Rain itu ya Queen. Mereka satu orang!" jelas Bara.
Ketiga sahabatnya itu menelan ludah susah payah. Kalau orang julid kan ngomonginnya dari belakang orang itu supaya nggak denger. Lah kalau mereka ini julidnya pas orang itu ada di depan mereka bahkan dengar pula.
Rain menatap ke tiga temannya dengan senyum yang ... Membunuh dimata ketiga lelaki itu. Sementara Bara mengulum senyum puas. Heran saja kenapa ketiga sahabatnya ini jadi hobi julid.
"Udah selesai ngomongin si Rain yang tomboy dan gayanya sok-sokan kayak anak motor?" kata Rain santai, meski nadanya terdengar ramah tapi siapa sangka membuat tiga lelaki itu kicep.
"Ha? Eng-nggak kok, gue cuma ... Gue cuma bercanda, Queen!" jawab Angga gugup. Keringat dingin sudah menetes di pelipisnya.
Rain menghela napas sambil geleng-geleng. "Gue udah selesai cari siapa dia. Nih, gue udah baik lho bantuin kalian cari siapa musuh kalian. Dia juga musuh gue kalau nggak cari gara-gara dulu sih!" kata Rain mengalihkan topik pembicaraan.
"Terima kasih, Queen. Lo emang baik bener deh!" puji Regar.
Padahal tadi aja julid.
"Udah ... Udah ... Ini sekarang kita bahas Gwen. Dia anak di sekolah kita kan? Eh maksud gue dia ini anak di sekolah kalian bertiga, kan?"
Angga mengangguk, "Temen sekelas gue!" Memang dulu Bara sempat satu sekolah dengan ketiga sahabatnya itu. Sedikit tahu juga teman sekelasnya. Bara hanya bertahan tiga bulan di sana lalu pindah ke sekolah Rain.
Angga dan Bara memang satu kelas. Kalau Regar dan Alen beda kelas dengan Angga dan Bara. Regar dan Alen di kelas IPS. Mereka berbeda haluan memang.
"Nah, pantau tuh cewek. Lo kasih tahu sama Edo!" perintah Bara. Edo adalah salah satu sahabat mereka dan juga anggota geng Liol. Hanya saja sekarang tidak bisa berkumpul karena sedang menemani mamanya belanja.
"Siap laksanakan!" kata Regar dengan tangan menempel di kening tanda hormat.
"Gue cabut ya, Ra!" kata Rain yang bangkit dari duduknya.
"Gue juga cabut, Lo bertiga harus main cantik. Oke?"
"Oke, Lo tenang aja. Ini urusan kita bertiga karena kita yang setiap hari ketemu tuh cewek!"
Bara mengangkat kedua jempolnya. Kemudian mengikuti Rain yang sudah lebih dulu keluar. Rain hendak memakai helmnya pun urung saat melihat Bara mendekat.
"Nebeng, Queen. Anter sampe rumah!"
__ADS_1
Bersambung....
follow Instagram aku dong: @alaishkarenina18