Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 50


__ADS_3

"Ya, aku memang menyukai semua olahraga yang menguji adrenalin, Papa. Apakah itu tidak membuatmu bangga? Ah, aku lupa jika seorang Rain di mata Tuan Damian itu hanya gadis lemah yang bisanya menangis. Ya ... Gadis cupu yang menye-menye!" Rain mengatakan itu karena dalam ingatannya itu tentang Rain asli yang selalu saja menangisi keadaan.


Rain asli yang selalu lemah dan mudah di tindas. Tentu saja sekarang Rain yang asli sudah tenang di alamnya dan berganti dengan Lea. Lea si gadis tomboy yang tidak akan pernah bisa dikalahkan bahkan disakiti hatinya.


Damian tertegun dengan jawaban putrinya yang diluar dugaan BMKG. Biasanya ketika Damian menatapnya tajam dan penuh penghakiman itu, Rain akan tunduk lalu berkata jujur. Sekarang gadis itu malah menantangnya. Benar-benar pemberani. Damian menyukai ini. Rainnya bukan Rain yang lemah seperti dulu.


Ah, iya ... Dia melupakan kasus Shely yang sudah Rain bongkar. Seharusnya Damian tahu jika putrinya ini tidak sebodoh yang dia kira dulu.


"Kenapa nggak dari dulu?"


Rain malah bingung dengan pertanyaan Damian yang mengarah kemana.


"Apanya dah! Rain nggak ngerti sama arah pembicaraan papa!"


"Ya, kenapa nggak dari dulu kamu seperti ini sih, Rain? Kenapa dulu kamu ini mudah sekali di tindas?"


Rain berdecak. "Kalau nggak ada peran yang lemah kalian ya nggak bakal hidup enak. Rain yang lemah dan selalu menjadi pelampiasan amarah itu kan biar kalian merasa lega untuk ungkapin kekesalan kalian!" Rain tertawa sarkas. Mengingatnya saja membuat Rain semakin emosi.


"Kalau membuat seorang Tuan Damian babak belur itu nggak bakal dipenjara ... Ya mungkin udah aku lakuin sejak dulu!" Rain meluapkan emosinya yang terpendam.


"Silahkan, Rain. Pukul Papa sepuas kamu!" Damian mendekat dan siap mendapatkan semua pukulan Rain yang katanya tidak main-main ini.


"Nggak ah, kalau nanti aku bikin bonyok jadi jelek itu muka. Gagal deh aku dapetin Bundanya Tami!"


"Rain! Papa nggak akan menikah lagi. Jika kamu lupa itu!" Damian memilih pergi saja daripada harus berdebat soal calon ibu sambung lagi.


Yang kemarin saja Damian masih trauma apalagi sekarang. Bisa-bisanya dia hidup bersama pemain selama enam tahun pula. Siapa yang bodoh di sini sebenarnya?


Rain terkekeh melihat Papanya yang kalang kabut kalau dia menyinggung soal Bunda Tami yang terlihat Sholehah dan lemah lembut itu. Kebetulan sekali kan Bundanya Tami ini janda. Cocok lah sama duda tampan Damian itu.


"Gimana kalau aku buat papa babak belur aja ya? Aku bilang sama Bundanya Tami kalau papa___"


"Raina Grittella Klopper!"


Rain bungkam karena Damian sudah memanggil namanya lengkap. Itu pertanda sedang marah.


"Ya, Papa. Aku di sini!" Rain mengangkat satu tangannya. Dia selalu santai menghadapi seseorang yang sedang emosi. Dia pandai memainkan emosi lawan bicaranya.


"Sudah kamu pulang saja!" Damian memijat pelipisnya. Rencana mau ngomel karena Rain ikut balap liar pun gagal sudah.


Suara pintu terbuka tidak membuat gestur Damian berubah. Dia masih duduk anteng di kursi kebanggaannya dengan kepala menunduk dan kedua tangan di pelipis sambil memijatnya.


"Papa kenapa?" tanya Ando yang membawa beberapa map.


"Ando, bawa adikmu pergi deh. Papa pusing!"


Ando menatap Rain yang terkekeh. Entah sebenarnya apa yang sedang terjadi. Melihat Damian yang memang sepertinya sedang sakit kepala, Ando memilih menurut saja.


"Ayo, Rain!" ajak Ando. Kebetulan sekali sejak semua baik-baik saja, sampai saat ini Ando belum terlalu dekat dengan Rain.


"Kamu apakan papa?" tanya Ando setelah dia berada di luar ruangan Damian.


"Nggak ada! Papanya aja yang pura-pura sakit!"


Ando menggeleng. "Serius? Nggak biasanya papa sakit!" Damian memang jarang sakit. Daya tahan tubuhnya sangat bagus.


"Aku nyuruh papa buat nikah sama Bundanya Tami. Abis itu dia ngomel-ngomel!" jawab Rain santai ketika mereka berada di dalam lift.


"Apa? Jadi karena itu dan kamu santai banget! Pantesan papa langsung pusing! Kamu, sih! Bener-bener deh ya!" Ando hanya bisa menggeleng saja. Telah kehabisan kata melihat tingkah adik perempuannya ini.


"Udah, Bang. Mending traktir Rain makan sepuasnya di restoran sebrang. Aku dengar di sana ada seblak yang enak!"


Ando mengerutkan keningnya. Setahu dia ... Restoran sebrang itu hanya menyajikan makanan dengan menu steak dan beberapa menu seperti di hotel bintang lima. Mana ada seblak di sana.


Melihat Ando yang kebingungan Rain pun terkekeh.

__ADS_1


"Gue bercanda, Bang!"


Plak


Ando menyentil kening Rain.


"Gue gue! Nggak sopan banget!" gerutu Ando.


"Haha ... Iya, Abang Ando yang ganteng. Jadi kan traktir aku?" Rain mengedip-ngedipkan matanya.


"Ya."


***


"Apa arti cinta di mata Rean?" Mentari menatap lelaki yang sedang membaca komik itu.


Hidungnya yang mancung selalu mengundang rasa gemas dalam diri Mentari untuk mencubitnya. Dia yang perempuan saja merasa iri dengan hidung milik Rean. Lelaki sempurna yang sudah mengenalkan kebahagiaan yang sebenarnya. Selama ini Mentari jarang sekali tertawa lepas. Beban yang di pikul terlalu berat. Meski dia tahu posisinya sekarang tapi biarkan Mentari egois sedikit untuk bisa bahagia seperti remaja pada umumnya.


"Arti cinta?" Rean menggaruk alisnya yang memang gatal. Pertanyaan yang sebenarnya Rean sendiri tidak tahu. Dia sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta. Baginya Rain adalah prioritas yang harus selalu dalam jangkauannya. Bahkan sampai-sampai Rean tidak perduli jika memiliki banyak fans sampai saat ini.


Namun, ketika Rain berubah dan Mentari hadir, hati Rean mendadak berubah juga. Kala menatap manik mata Mentari yang sebenarnya memiliki tubuh biasa saja. Bahkan rata-rata fans Rean ini memiliki postur tubuh ideal. Namun, ada yang berbeda dari Mentari dan membuat lelaki itu tertarik. Rasa yang belum pernah Rean rasakan. Hanya saja lelaki itu terlalu dingin dan egoisnya yang tinggi. Dia tidak pernah berkata jujur kalau memang menyukai Mentari.


Alasan memaksa gadis itu untuk membayar semua kebaikan dengan menjadi kekasih hitam di atas putih itu tentu saja hanya omong kosong belaka.


"Cinta itu rumit, seperti kita naik rollercoaster. Menguji adrenalin di setiap rasa yang muncul. Cinta membuat hati bahagia meledak-ledak dan berteriak seperti orang tidak waras. Ya, seperti kita naik rollercoaster yang berteriak tidak jelas. Takut ketinggian tapi tetap mencobanya. Begitu juga dengan cinta, takut sakit hati tapi tetap mencobanya. Saat kita dalam ketinggian dan tiba-tiba terjatuh lalu merasa sakit, saat itu juga aku sudah malas mengenal cinta. Meski begitu aku tetap merasa bahagia karena pernah mengenal cinta."


Mentari terpaku ketika Rean berbicara dalam mode serius. Terlihat tampan dan tatapan itu selalu saja menghipnotis.


"Ketika aku menjatuhkan hati pada seseorang, itu berarti aku sudah mulai merasa nyaman dengannya. Meski rasa takut lebih dominan, tapi aku tetap berusaha membuat dia senyaman mungkin dekat denganku. Aku juga berusaha mengikat dia sekencang mungkin supaya tidak akan pergi dariku. Bila perlu aku akan mengurungnya supaya bisa melihat dia setiap hari."


"Itu obsesi namanya!" Mentari menjadi ngeri sendiri kalau Rean sudah jatuh cinta.


Dia sadar dalam hubungan ini Rean tidak memakai perasaan, hanya dirinya saja yang jatuh cinta pada Rean. Sementara lelaki itu memperlakukan Mentari bagai budaknya yang kapan saja bisa dibuang.


Rean terkekeh. Dia kemudian merapikan poni Mentari yang sudah memanjang dan mengganggu kedua matanya itu.


"Cie ... Merah wajahnya!" goda Rean. Wajahnya yang dekat membuat Mentari semakin panas wajahnya.


"Apaan sih!" cicit Mentari, berusaha untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Rean pernah jatuh cinta nggak?" Tentu saja ini pertanyaan konyol.


Mentari rasa Rean sering jatuh cinta. Apalagi dia dengan mudah gonta-ganti cewek karena banyak yang mengantre di belakangnya. Apalagi cewek-cewek itu sangat cantik jadi wajar mereka percaya diri untuk mendekati Rean. Apalah Mentari yang bagaikan butiran debu ini.


"Pernah."


Mentari jadi kikuk sendiri ketika lelaki itu terus menatapnya. Meski tatapan itu biasa tapi tetap saja Mentari tidak kuat ditatap seperti itu. Pantas saja cewek-cewek di luar sana meleleh kalau Rean melirik mereka. Padahal hanya lirikan biasa saja.


"Pasti cewek itu bahagia banget ya dicintai sama Rean," tebak Mentari, meski hatinya merasa iri dengan cewek yang entah siapa.


Mentari membayangkan jika cewek tersebut tinggi semampai dan body goals. Seperti Rain misalnya. Hanya saja penampilan yang anggun bak putri raja. Kalau Rain sih ... Jangan ditanya. Dia bahkan membuang semua gaunnya demi memasukkan koleksi kaos oversize, hoodie dan lain sebagainya.


Rain mana mau pakai gaun. Ah, kenapa pula Mentari membayangkan Rain memakai gaun pengantin!


"Nggak juga, cewek itu terlalu bodoh dan tidak sadar kalau gue mencintainya!" Rean menarik ujung bibirnya.


Bibir tipis yang sebenarnya menjadi candu bagi Mentari.


"Kok gitu? Padahal Rean tampan dan penuh perhatian!" Mentari jadi penasaran siapa cewek tersebut.


Rean menyentil kening Mentari. "Ngapain jadi bahas ini. Mending Lo kasih asupan ke gue!" Rean menarik tangan Mentari menuju ranjangnya kembali.


Ah, Mentari masih merinding menatap ranjang itu. Rasa perihnya saja masih terasa dan sekarang Rean meminta jatahnya lagi.


"Rean, apa sewaktu Rean bayi tidak minum asi?" tanya Mentari saat Rean sedang asyik menyusu.

__ADS_1


"Gue nggak inget bahkan nggak tahu gue bayinya gimana!" jawab Rean santai.


Dia sangat gemas dengan bongkah kenyal milik Mentari ini. Jadi tidak perduli jika Mentari merasa sakit dengan ulahnya. Bahkan Rean juga meninggal jejak kepemilikan begitu banyak di sana. Rean secara tidak langsung sudah mengklaim bahwa Mentari adalah miliknya. Meski dia tidak mengatakan perasaannya secara langsung.


"Rean, apa boleh aku suka sama Rean?"


Mentari merasa malu sekarang, karena sudah mengatakan hal ini. Tapi ya masa bodoh yang penting dia bisa sedekat ini sama Rean. Juga dia merasa sombong karena pernah merasakan bibir tipis yang selalu menjadi khayalan para fans Rean.


"Boleh."


Tanpa Mentari sadari, Rean tersenyum tipis. Dia kembali menyusu pada Mentari. Hingga kedua matanya terasa mengantuk. Bibir Rean masih menyesap topping cery itu meski kedua mata terpejam. Mentari sedikit menunduk melihat Rean yang diam saja. Rupanya bayi besarnya sudah tertidur. Benar-benar seperti bayi. Bahkan saat Mentari perlahan melepaskan dirinya, Rean masih menarik topping cery itu. Dia juga mempererat pelukannya. Seolah tidak mengizinkan Mentari pergi.


**


Angin yang berhembus menerpa wajah Mentari. Kedua matanya mulai terbuka saat menyadari bahwa dirinya tertidur, Mentari bergegas untuk bangun. Tubuhnya terasa pegal karena posisi tidurnya yang terus miring akibat Rean memeluknya sambil menyusu. Kini posisi itu tetap sama dan Rean masih menyusu. Bedanya kedua mata itu sudah terbuka.


"Selamat malam," sapa Rean dengan suara serak.


Melihat wajah Rean yang khas orang bangun tidur itu membuat Mentari semakin terkesima. Sedetik kemudian Mentari mendorong tubuh Rean. Dia kelabakan membenarkan kancing pakaian yang dikenakan.


Rean protes tadi saat dia memakai dress milik Rain yang ribet itu. Karena resleting di belakang. Akhirnya Rean memberikan kemeja pada Mentari yang kebetulan ukurannya pas di tubuh mungil gadis itu.


"Rean, gimana ini! Aku bisa dimarahin ibu!"


Jantung Mentari sudah berdebar tidak karuan. Dia membayangkan bagaimana ibunya itu akan marah besar karena sangat terlambat pulang. Bisa-bisanya dia ikut tertidur hingga bangun semalam ini. Entah jam berapa sekarang.


Sementara Rean duduk di tepi ranjang dengan santai.


"Mau kemana?" tanya Rean ketika Mentari hendak keluar dari kamarnya.


"Pulang, Rean. Memangnya mau kemana lagi? Ibu bisa marah!"


Ponsel Mentari bergetar menampilkan nama ibu di layar benda pipih yang sudah ketinggalan jaman itu.


"H-hallo, Bu?"


"Kakak sudah makan? Jangan merepotkan non Rain ya, sayang. Maaf kalau Ibu tadi nggak sempet pamit!"


Mentari mengernyit, dia bingung dengan ucapan ibunya itu. Mentari melirik ke arah Rean yang masih saja duduk santai.


"Maksud ibu?"


"Lho katanya kamu nginap di rumah Non Rain karena. Tadi kan dia ke rumah katanya mau ngerjain tugas. Kamu lagi belanja sedangkan Non Rain ke sini buat izinin kamu. Kebetulan Ibu sama Sean sedang buru-buru mau pergi ke rumah nenek. Bibi Ani kasih kabar kalau nenek sakit. Jadi ya sudah ibu suruh Non Rain buat menginap saja di rumahnya. Ibu takut kalau kamu sendirian terus lelaki itu datang!"


Lelaki yang Ibu Mentari maksud adalah ayahnya. Ibu Mentari memang sudah sangat membenci lelaki itu.


Hal yang membuat Mentari syok adalah, sejak kapan Rain ke rumahnya dan tugas apa yang harus di kerjakan? Bukan kah Rain sedang menjalani masa skorsingnya? Ah, Mentari tahu ini ulah siapa!


Setidaknya Mentari juga merasa lega jika ibunya ini tidak di rumah. Dia terbebas dari hukuman juga nasehat panjang lebar ibunya yang pasti akan terus berdengung di telinga Mentari sepanjang beberapa hari. Mentari tahu itu memang demi kebaikannya. Hanya saja Mentari malas jika sang ibu sudah ngomel panjang lebar.


"Oh, gitu ya. Nenek bagaimana sekarang?" Mentari mengalihkan rasa terkejutnya. Sebisa mungkin suaranya terdengar baik-baik saja.


"Nenek sudah tidur. Tadi langsung dibawa berobat. Kakak tenang saja. Ya sudah, ibu mau suapin Sean dulu. Kamu jangan merepotkan Non Rain ya."


"Iya, Bu. Salam buat nenek ya. Mentari tutup teleponnya."


Setelah panggilan terputus, Mentari melotot ke arah lelaki yang sejak tadi santai itu.


"Kok Rean nggak bilang kalau ibu pergi! Terus kenapa Rean nyuruh Rain bohong soal tugas?"


Rean menepuk pundak kepala Mentari penuh sayang.


"Kan Lo nggak nanya. Rain nggak bohong soal tugas. Karena tugas Lo masak dan beres-beres apartemen ini!"


Rean menepuk pundak Mentari dan berlalu pergi dengan tawa yang tertahan. Sedangkan Mentari sudah sangat kesal. Bisa-bisanya dia tidak tahu kalau ibu dan adiknya sedang pergi ke luar kota karena sang nenek sedang sakit. Lalu Rean dan Rain bekerja sama supaya Mentari tinggal di apartemen hanya berdua dengan lelaki itu.

__ADS_1


Ah, Mentari berharap jika Rain akan pulang. Jadi bisa menyelamatkan dirinya dari jerat bayi besar itu.


Bersambung ....


__ADS_2