
"Menurut Lo, kalau kita punya firasat aneh sama seseorang kita utarakan nggak sih?" tanya Rain yang sedang membuat mie instan.
Sementara Rean sedang menyeduh kopi instan.
"Iya, biar orang itu bisa hati-hati mungkin!" jawab Rean.
Wajah Rain mulai termenung.
"Lo kalau lagi masak jangan melamun! Kenapa sih?" Rean mengambil alih pekerjaan Rain.
Gadis itu duduk di kursi mini bar. "Gue bilang nggak ya?" Rain menimbang-nimbang, takut jika dia menghalanginya malah membuat lelaki itu besar kepala.
"Cerita sama gue!" Rean menuang mie instan milik Rain ke dalam mangkuk.
"Perasaan gue nggak enak pas liat Kenan mau pergi. Tadi dia pamitan sama gue!" Rain menggigit bibir bawahnya.
"Ekspresi Lo bisa nggak biasa aja! Pengen gue kecup tuh bibir!"
Rain melempar bunga plastik yang ada di meja.
"Nggak kena!" Rean menjulurkan lidahnya.
"Kata gue mah Lo bilang aja. Siapa tahu emang ada yang nggak beres. Kalau emang tuh firasat kuat Lo bilang sama Kenan. Lo jelasin deh."
"Tar kalau dia ngira gue kasih harapan gimana?"
Rean menyeruput kuah mie instannya.
"Ya Lo bilang dulu kalau ini sekadar firasat. Lagian kenapa juga sih Lo takut Kenan beranggapan gitu? Toh si Radit juga nggak bakal jadi milik Lo kan?"
"Bener juga ya!" Rain menyambar kunci motornya. Dia berlari keluar dan melupakan mie instan yang tadi dia buat.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Itu dua jam lagi Kenan berangkat, dia harus segera sampai di rumah Kenan yang lumayan jauh jaraknya dari apartemen miliknya.
Rain melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan raya yang padat. Sesekali dia mendapatkan umpatan dari pengguna jalan lainnya karena hampir menyebabkan kecelakaan.
Rain tidak perduli yang menjadi fokusnya itu adalah rumah Kenan.
Sekelebat bayangan tentang pesawat terbang yang tiba-tiba mengeluarkan api dan mendarat ke arah laut itu terus berputar dikepalanya.
Tidak ada penumpang yang selamat.
"Arrggghhhh .... Ini firasat apa! Kenapa gue begini sih!"
Rain terus melajukan motornya dengan degupan jantung bertalu-talu.
Sebentar lagi ... Rain akan sampai.
Kenan sudah mengemasi barang-barangnya yang akan dia bawa. Memasukkan koper-koper itu ke dalam bagasi mobil.
Sementara Maya dan Lily sudah lebih dulu kembali ke Singapura.
Gina sesekali menatap ke arah rumah itu, rasanya baru beberapa hari dia tinggal di rumah tersebut tapi harus segera pergi untuk selamanya. Berat bagi Gina untuk pergi dari kota itu.
"Ma, ayo!" kata Kenan.
"Ken, apa Rain tidak kemari?"
Kenan menggeleng, "Dia sibuk, tadi pagi Kenan udah pamit kok sama dia!" Kenan merogoh ponselnya di saku celana.
"Nih, dia lagi pake dress di taman. Cantik kan? Biasanya dia pake baju over size!"
Gina tersenyum melihat foto Rain yang Kenan ambil candid. Lalu foto Rain dengan hiasan kepala dari bunga-bunga.
"Mama mau dong fotonya!"
"Iya, ayo masuk!"
Kenan dan Gina pun masuk ke dalam mobil menuju bandara.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu motor Rain baru saja tiba. Dia melihat gerbang yang tertutup. Garasi yang terbuka dan di sana tidak ada mobil.
Sial!
Rain mengeram tertahan. Dia langsung melajukan motornya, melihat ada mobil yang dia yakini itu mobil Kenan.
Tidak perduli jika ini kawasan perumahan yang tidak diperbolehkan untuk ngebut. Keadaan sangat gawat, Rain sekarang paham kenapa bisa dia sekhawatir ini?
Ciiiiit ....
Supir pribadi Kenan ngerem mendadak, membuat kening Gina membentur kursi depan, begitu juga dengan Kenan.
"Ada apa, Pak?" tanya Gina.
"Itu!" Sang supir melepas seat beltnya dan hendak keluar.
Namun, Rain sudah lebih dulu mengetuk jendela mobil bagian penumpang. Kenan mengernyit, ketika melihat motor yang terparkir di depan mobilnya itu adalah motor milik Queen. Sementara dia tidak memiliki urusan dengan gadis itu.
"Ken, siapa?" tanya Gina.
"Nggak tahu, Ma!"
Kenan menurunkan kaca jendela tersebut.
"Queen?" panggilnya heran.
Gadis itu membuka helmnya. Betapa terkejutnya Gina ketika melihat siapa yang ada di luar. Gina bergegas keluar dari mobil dan berjalan menemui Rain.
"Ya, Tuhan. Rain, ini kamu?" Gina memeluk gadis itu erat. Menumpahkan rasa gelisah dan bercampur haru karena harus berjauhan dengan gadis itu.
"Tante, maaf ya Rain baru dateng!"
"Tante, jangan nangis!" Rain menghapus air mata Gina.
Sementara otak Kenan seolah ngeblank sebentar, mencerna semua yang terjadi dan praduganya selama ini rupanya benar. Jika Queen itu adalah Rain.
"Rain, Tante pasti akan rindu sama kamu!"
Gina mengangguk, tidak menunggu lama Rain membuka pintu mobil Kenan dan menarik tangan lelaki itu.
"Ikut gue bentar!"
Rain berjalan sedikit menjauh dari Tante Gina supaya wanita itu tidak mendengarnya.
"Ken, bisa nggak kalau gue minta Lo tetep di sini?" Rain menatap manik mata milik Kenan yang memancarkan kesedihan.
"Nggak bisa, Rain!" Kenan melihat jam tangannya, dia harus buru-buru. Jika tidak pasti akan terlambat. "Gue harus pergi. Gue bisa telat!" Kenan pun membalikkan badan.
Rain segera meraih tangan itu lalu memeluk tubuh jangkung Kenan. Napas yang memburu membuat Kenan tidak mengerti dengan gadis ini.
Apa yang terjadi?
Dia menangis?
Kenan tidak tahu harus bagaimana. Ragu, dia membalas pelukan itu. Sementara dia menoleh ke arah Gina yang mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Ken, sorry! Gue nggak bermaksud buat ...." Rain sudah kehabisan kata-kata. Dia harus bagaimana mengatakannya.
Sementara di seberang sana ada seorang gadis yang menatapnya dengan wajah sendu. Gadis cantik degan gaun putihnya itu terlihat bercahaya bak bidadari. Rain tahu perasaan ini adalah perasaan milik Rain asli, firasat ini pula pemberian Rain asli. Mungkin dia lebih dulu tahu dan meminta pada Tuhan untuk menyelamatkan Kenan dari marabahaya melalui orang yang sudah memakai tubuhnya saat ini.
Lantas, bagaimana sekarang Rain mengatakannya? Dia tidak bisa mengungkapkan semua isi hatinya.
Tubuhnya terasa lemas mengingat peristiwa yang terus berputar dikepalanya.
"Kalau Lo masih sayang sama gue, cinta sama gue, Lo pertahanin perasaan itu, bukan malah pergi menjauh agar bisa lupain gue!" Rain menunjuk-nunjuk dada Kenan.
Kenan terhenyak, mata hitamnya mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa dihadapannya ini benar-benar Rain.
Gadis itu datang dan memintanya untuk tidak pergi. Lalu mengatakan untuk mempertahankan perasaannya?
__ADS_1
Bukankah ini seperti mimpi?
"R-Rain ... Lo ..." Sejenak Kenan terdiam, meredam rasa bahagia dengan bibir yang sedikit bergetar untuk menampilkan senyuman. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kenan juga bahagia.
"Gue kesini emang sengaja buat cegah Lo pergi, Ken. Gue benci sama Lo tapi gue nggak bisa biarin firasat ini gitu aja!"
Kenan menautkan alisnya, "Firasat?" tanyanya.
"Iya, sejak kemarin gue punya firasat nggak enak. Gue pikir bakal ada apa-apa sama Rean. Nyatanya semua baik-baik aja. Terus setelah pertemuan tadi pas Lo pamit itu, perasaan gue makin nggak enak. Bayang-bayang itu ...." Rain menghela napas sejenak.
Mungkin dia lebih baik jujur saja daripada harus merangkai kata yang pikirannya saja sedang kacau.
Kenan masih sabar untuk menunggu Rain mengatakan semuanya.
"Pesawat yang Lo tumpangi jatuh ke laut!"
Deg
Jantung Kenan seakan berhenti berdetak, bersama waktu yang juga ikut berhenti. Seketika dunia Kenan runtuh begitu saja, tubuhnya melemas mendengar penuturan Rain. Padahal dia masih di sini, berdiri di depan gadis itu. Masih bisa menghirup oksigen dan masih sehat. Mendengar kabar itu saja membuatnya ketakutan. Apa itu sebuah pertanda? Lalu Tuhan memberikan firasat itu pada Rain untuk mencegahnya. Secara tidak langsung dia diberi kesempatan kedua untuk hidup.
Jika itu benar, dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kehidupan keduanya lagi. Dia akan berusaha menjadi Kenan yang lebih baik. Bukan Kenan lelaki brengsek yang sering menyakiti hati seorang gadis. Kenan juga akan berjuang mendapatkan Rain kembali, meski harus menahan pesakitan ketika Rain bersama Radit.
Jodoh tidak akan kemana, meski bukan jodohnya suatu hari nanti, Kenan akan selalu melindungi gadis itu.
"Itu ... Rain?" Kenan menarik kedua tangan Rain untuk digenggamnya supaya memberikan tenaga untuknya.
"J-jadi ... Gue ..." Kenan menghirup oksigen sebanyak mungkin lalu perlahan dia hembuskan.
"Baiklah gue nggak akan pergi. Gue akan perjuangin Lo lagi, melihat Lo bahagia bersama Radit supaya gue merasakan sakitnya saat Lo liat gue sama Ella maupun cewek lain."
Kenan meletakkan kedua telapak tanah Rain di dadanya. "Setelah sikap Lo berubah, gue baru sadar perasaan ini. Setiap kali liat Lo, setiap kali dekat sama Lo, detak jantung ini semakin berdebar tidak karuan," ucapnya.
Rain segera melepas kedua tangannya, "Jadi Lo nggak pergi kan? Lalu apa yang harus gue katakan pada Tante Gina?" tanya Rain. Dia takut jika Gina syok dan membuat wanita itu drop.
"Biar gue yang bilang. Lo tunggu sini ya!" Kenan tidak menunggu jawaban dari Rain, lelaki itu sudah berlari ke arah mobilnya.
"Ma,"panggilnya saat masuk ke dalam mobil.
Sopir yang mulai menyalakan mesin pun dicegah oleh Kenan.
"Jangan, tunggu sebentar, Pak!"
"Ada apa, Ken? Mama bilang juga apa! Nggak usah ke Singapura. Rain pasti nggak mau kamu tinggalin!"
Sejak kemarin memang Gina uring-uringan, memaksa Kenan agar tidak berangkat ke Singapura. Bahkan perasaan wanita itu juga tidak enak. Dia tidak bisa mendeskripsikan perasaan apa itu, dia hanya menerka mungkin karena hendak pergi jauh dan meninggalkan Rain. Meski bukan anak kandungnya dihati Gina, Rain sudah seperti anak kandungnya.
"Pak, kembali ke rumah ya."
"Baik, Den."
Senyum Gina terbit, wajahnya tidak sekhawatir tadi.
"Akhirnya anak mama ini sadar juga!"
Kenan memeluk Gina dengan erat. "Rain bilang jangan pergi!" ujarnya.
Kenan keluar dari mobil hendak mengambil motor Rain yang terparkir di depan mobilnya. Dia segera membawa mobil itu ke rumah. Sementara Rain sudah menunggunya di depan gerbang.
"Rain, makasih ya. Berkat kamu Tante masih bisa di sini," bisik Gina.
Rain mengangguk, sementara dia melihat ke arah seberang dimana sejak tadi ada gadis itu. Ketika dia hendak mendekat gadis itu segera melambaikan kedua tangannya, pertanda meminta Rain agar tidak mendekat.
Saat Gina datang dan memeluknya, gadis itu langsung mengacungkan kedua jari jempolnya. Senyum terbit di wajah bak bidadari itu. Lalu dia menghilang begitu saja.
Rain menghela napas lega, tugasnya selesai dengan baik.
**
Bersambung....
__ADS_1
Guys, maaf ya pendek. Mau lebaran gini sibuk banget. Aku tetep usahain buat up tiap hari. Makasih ya yg selalu setia baca kisah ini. Love you.