
Bab 36
Kenan dan keluarga sudah sampai di halaman rumah barunya. Kenan sudah mempersiapkan semuanya sejak sang mama masuk rumah sakit. Dia tidak ingin jika Gina kembali drop ketika sedang tidak bersama dirinya. Rumah yang dulu mereka tempati itu memiliki banyak kenangan indah yang rupanya dibalik kehangatan keluarga Kenan itu sang papa menyimpan kebusukan dengan sangat rapih. Entah sudah berapa banyak gadis yang menjadi selingkuhannya itu.
Kenan menuntun Gina untuk masuk ke rumah yang tidak kalah mewahnya dari rumah lamanya. Pintu terbuka dan ada dua pelayan di sana. Mereka membungkukkan badan sebagai tanda hormat. Pelayan di sana adalah para pelayan di rumah lamanya.
"Ini ... Rumah siapa, Ken?"
"Kita, aku membelinya sebagai hadiah untuk mama karena sudah sekuat ini!"
Gina menatap haru sang putra sulungnya itu. Dia tidak menyangka jika putranya sudah besar dan pikirannya dewasa. Gina saja tidak berpikir sejauh ini untuk pindah dari rumah lama tersebut.
"Ya ampun, Kenan ... Mama terharu banget kamu seperti ini." Gina memeluk putranya sambil terisak.
Maya yang berdiri dibelakang mereka pun ikut menitikan air mata karena pemandangan di depannya sangat manis.
"Mama harus bangkit, nggak boleh terpuruk lagi. Kita buka lembaran baru sesuai ucapan mama."
Gina mengangguk, Kenan mengelus punggung Gina. Sekarang Gina adalah menjadi tanggung jawabnya. Dia akan berusaha membahagiakan sang mama dan tidak akan membiarkan Gina bersedih. Apapun yang terjadi.
"Gina," panggil Lily.
Gina menoleh dan langsung berhambur ke dalam pelukan sang mama. Menumpahkan semua rasa sesak di hatinya. Hanya lewat tangisan itu Lily paham bagaimana keadaan putri sulungnya ini. Lily sendiri belum menjenguk Gina di rumah sakit. Maya yang menyuruhnya karena tidak mau membuat kondisi sang mama menurun karena melihat kondisi Gina di rumah sakit.
Beruntung Kenan selalu ada disamping Gina jadi membuat wanita itu lebih kuat. Meski beberapa kali dia tidak sanggup menerima kenyataan ini.
"Kamu kuat, sayang. Ada Kenan yang membutuhkan kamu."
Kenan membiarkan sang mama bersedih sejenak di dalam pelukan Oma Lily. Namun, setelah ini Kenan tidak akan membiarkan mamanya menangis karena lelaki itu. Lelaki yang sudah berkhianat. Lelaki yang pandai memberikan kebahagiaan semu.
"Maafin Gina ya, pasti gara-gara Gina mama jadi kepikiran dan drop!"
"Kamu bicara apa? Mama baik-baik saja. Udah jangan nangis. Kasian Kenan lho!"
Gina melepas pelukannya dan menghapus air mata itu.
"Ma, sebaiknya mama istirahat dulu," ucap Kenan.
"Ya, Mbak. Kenan benar, Mbak pasti lelah apalagi baru sembuh. Kenan juga benar untuk melupakan semuanya."
Gina menatap Maya dan Kenan lalu mengangguk. Mereka mengantar Gina ke kamarnya dan membiarkan Gina untuk beristirahat. Gina mencoba memejamkan mata, hanya saja bayang-bayang Arya terus berputar dalam pikirannya.
Arya, lelaki yang telah hidup bersamanya selama hampir 20 tahun itu, rupanya lelaki baj(i)ng(an), lelaki yang pandai memainkan hatinya. Arya selalu membuat Gina bahagia karena cinta dan kesetiaannya. Semua orang yang mengenal Gina selalu beranggapan jika mereka adalah pasangan yang patut dijadikan contoh. Arya selalu memperlakukan Gina seperti seorang ratu, nyatanya semua itu hanya untuk menutupi kebusukannya saja.
Gina juga tidak menyangka jika suaminya itu sudah berselingkuh sejak Kenan berusia tujuh tahun. Dia selalu menjadikan gadis muda untuk selingkuhannya. Fakta yang membuat siapapun terkejut mendengar hal itu. Tentu saja mereka yang mengenal Gina dan Arya sangat menyayangkan lelaki itu yang tega membohongi Gina.
Dari luar terlihat bagus, tapi di dalamnya busuk. Perumpamaan yang cocok untuk Arya. Lelaki itu akan menjual selingkuhannya jika sudah mahir melayaninya. Ya, dia terlibat dalam penjualan para gadis yang membutuhkan biaya untuk bersekolah. Entah sudah berapa gadis yang dia cicipi.
Hal ini membuat rasa cinta Gina pada Arya berganti kebencian yang mendalam. Dia akan membuktikan bahwa dia bisa bangkit tanpa lelaki itu. Selama ini Gina selalu mengandalkan Arya, dia sangat takut kehilangan Arya, sebab itu saat pertemuan di penjara dia dicemooh Arya jika dia tidak akan bisa hidup tanpa dirinya.
Sudah tertimpa masalah, tapi Arya tetap saja angkuh. Bahkan dengan terang-terangan dia tidak pernah mencintai Gina.
__ADS_1
Lalu, untuk apa dia bersedih sekarang?
***
Rain mulai mendribble bola basket dan memasukkan ke dalam ring.
Berkali-kali dia melakukan itu tak luput dari perhatian teman sekelasnya. Hari ini mereka sedang pelajaran olahraga dan mengambil penilaian basket.
Mentari terus menatap kagum Rain. Dimata Mentari, Rain ini adalah sosok gadis yang keren. Dia belum pernah bertemu dengan sosok seperti Rain. Sudah pandai dalam segala mata pelajaran, olahraga, bela diri, balapan dan bisa membuat siapapun yang tidak menyukainya tunduk.
Ah, Mentari ingin sekali memiliki sifat percaya diri dan pemberani. Supaya tidak ada yang mengganggunya. Namun, sayang Mentari tetaplah Mentari.
"Lo liatin Rain sampai segitunya!" bisik Mia yang duduk disebelah Mentari.
"Aku ... Kagum sama dia. Andai aku seperti Rain, pasti nggak ada yang membully aku!" Mentari menundukkan kepala. Entah mengapa hidupnya selalu saja sial.
"Mentari, setiap orang itu istimewa di mata orang lain. Rain dengan caranya dan lo tentu saja memiliki kelebihan yang mungkin Rain tidak punya. Jangan pernah iri kepada siapapun. Jadi diri sendiri itu lebih baik."
Mentari menoleh dan mengangguk, ucapan Mia membuatnya sedikit lega.
"Rain dulu sama kok kayak Lo, selalu dibully, tapi liat dia sekarang. Dia pemberani jadi siapapun nggak akan berani mengusiknya. Buat Lo seberapa kejam mereka, Lo lawan deh sekali-kali. Kalau dari diri Lo selalu bilang takut maka selamanya akan takut. Kita nggak setiap saat kan sama Lo, mereka kapan saja bisa buat jatuhin Lo. Jadi mulai sekarang buang jauh-jauh tuh rasa minder Lo. Nggak usah merasa karena Lo dari kalangan apa, kita semua di sini sama. Lo harus bisa lawan mereka. Rain pernah down tapi dia bangkit dan coba buat lawan mereka. Hasilnya ... Seperti yang Lo lihat. Bahkan gue sempet nggak percaya kalau itu sahabat gue. "
Berteman dengan Mia dan Rain itu tidak pernah Mentari duga. Rupanya ada juga yang mau dekat dengannya. Mia selalu memberi dukungan padanya, Rain selalu membantu Mentari ketika gadis itu sedang dibully. Ya, seharusnya Mentari juga bisa berani. Dia di sini juga sekolah meski mendapatkan beasiswa dan bukan anak dari orang seberuntung mereka. Namun, apa yang dikatakan Mia benar. Sampai kapan Mentari terus takut dan tidak percaya diri seperti itu?
"Jadi ... Dulu Rain dibully?"
Mia mengangguk, dia memang benar jika Rain itu cupu dan selalu mendapatkan bullyan. Namun, Mia tidak cerita jika Rain amnesia karena pasti akan membuat Mentari tidak semangat lagi.
Mendengar kata Rean membuat hati mentari terasa di remas. Mentari kembali ditampar oleh kenyataan jika seharusnya dia tidak menaruh hati pada lelaki itu. Rean dekat dengan Rain, tapi Rain memiliki kekasih yang tidak kalah tampan dengan Rean.
"Rean ... Dekat banget ya sama Rain," tanya Mentari.
Mia mengulum senyum, "Banget, tapi dulu mereka seperti musuh. Sekarang aja kayak Tom and Jerry. Bahkan sama Rain tuh cowok kulkas pada bisa ketawa lho." Mia menggeleng lemah karena melihat Rean dan Radit bisa tersenyum ketika bersama Rain.
"Rain orangnya asyik!"
"Lo bener banget!"
"Apanya yang bener?" Rain datang dengan membawa sebotol minuman yang baru saja dia dapatkan dari Rean.
Ah, bukan pemberian Rean. Melainkan Rain merampasnya.
"Lo habis lakuin apa, Rain? Kenapa mereka baper gitu?" Mia mendongak dan menatap sekitar karena sekarang mereka menjadi pusat perhatian.
Terutama Rain.
Rain duduk di sebelah Mentari setelah membuang botol air mineral yang telah habis. Keringat bercucuran membasahi wajah Rain. Rambut gadis itu dicepol asal membuatnya lebih terlihat cantik.
"Habis minum, kenapa sih?" tanya Rain santai.
"Lo bikin cewek-cewek mupeng!"
__ADS_1
"Haha, biasa mereka ngefans sama gue karena dapetin nilai terbaik!" jawab Rain dengan penuh percaya diri.
Mia memasang wajah jijik, sungguh Rain percaya diri sekali. Memang benar sih dia bagus banget pas main basket tadi. Kalau kapten basket lihat mungkin sudah di suruh masuk club basket.
"Anjir! Sakit, nyet!" umpat Rain saat rambutnya di jambak oleh Rean.
Gadis itu segera membuka sepatu dan melemparnya.
"Aduh!"
"Mampus kan Lo!" pekik Rain yang melihat sepatu itu melayang tepat d punggung seseorang.
"Rain!"pekik Mia.
Sementara Rean sudah tertawa puas melihatnya.
Rain dengan santainya berjalan tanpa sepatu ke arah lelaki yang punggungnya terkena lemparan sepatu Rain.
"Maaf ya, gue nggak sengaja. Tadi gue mau lempar ke cowok tengil di sebelah sana!" Rain menunjuk ke arah Rean yang sudah duduk santai di sebelah Mentari. Tempat dia duduk tadi.
Lelaki yang membawa beberapa buku paket itu menghela napas. Lalu memberikan sepatunya kepada Rain.
"Kalau bukan ceweknya Radit udah gue hukum Lo!" ucapnya.
Rain tersenyum, "Hehe, maaf banget ya Kak!" Rain menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya gue maafin!"
"Terima kasih, Kak Marvels!"
"Sama-sama, gue ke kelas dulu ya!"
Rain tersenyum kikuk dan mengangguk. Gadis itu langsung pergi lalu memiting Rean.
"Heh, gue nggak bisa napas!"
"Mampus, gue kesel sama Lo!"
Rain semakin mengencangkan pitingannya. Setelah itu dia menjitak kepala Rain. Meluapkan segala kekesalannya pagi ini.
"Mentari, Rain jahat banget nih!" Rean menyandarkan kepalanya di pundak Mentari.
Membuat gadis itu menegang.
"Minggir!" Rain mendorong Rean supaya memberi jarak diantara dia dan Mentari. Gadis itu duduk ditengah pada akhirnya.
Sementara Mia sedang berjuang untuk bisa memasukkan bola basket kedalam ring.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya tidak suka.
Bersambung ...
__ADS_1