
Bab 30
Terhitung sudah satu minggu sejak penangkapan itu, Kenan belum juga masuk sekolah. Dia merasa malu karena kasus yang menimpa papanya. Apalagi membawa nama Ella yang ternyata adalah kekasih hatinya. Pasangan yang selalu membuat iri para penonton itu telah kandas akibat skandal yang dilakukan oleh Ella sendiri.
Rumor jika gadis itu adalah simpanan om-om kaya terjawab sudah.
Banyak komentar buruk untuk Ella, tapi banyak juga yang memberi semangat kepada Kenan. Di sekolah tidak ada yang menghujat Kenan. Mereka menyayangkan sikap Ella yang justru kepincut Arya padahal jelas-jelas Kenan sangat mencintainya dan tidak kalah tampan dengan Arya. Mereka yang selalu melihat Arya dan Gina sangat mesra ketika di media, tidak menyangka jika Arya berselingkuh dengan gadis sepantaran anaknya. Para siswa-siswi SMA Pelita Bangsa juga mengecap Ella sebagai pelakor.
Ella juga resmi dikeluarkan dari sekolah berserta Jeny karena mereka memakai barang terlarang. Sekolah mereka pada akhirnya pun tercoreng namanya akibat kasus ini.
Namun, berkat kekuatan Albert hal itu tidak terjadi. Albert telah membersihkan nama sekolah dan telah mengurus semuanya. Meminta kepada awak media dan jajaran polisi untuk tidak mengatakan asal sekolah Ella dan Jeny. Begitu juga murid di sekolah diminta untuk bungkam tentang kasus ini. Agar sekolah mereka tetap aman dan mereka bisa menjalankan proses belajar mengajar dengan tenang.
Albert melakukan ini karena Rean dan Rain bersekolah di sana. Albert pula orang yang memberikan dana terbesar disekolah itu.
"Gila sih si Ella, pantes aja dia selalu pake barang branded. Simpanan om-om!"
"Padahal Kenan itu paket komplit. Malah pilih bapaknya!"
"Bapaknya lebih hot, Anjiiirr!"
"Tapi si Ella montok juga ya, gue lihat sepenggal video panasnya!" celetuk salah seorang anak laki-laki.
Pagi ini seluruh siswa-siswi sedang membahas kasus Ella.
Rain melangkah dengan santai sambil mendengarkan musik dari headset yang dia kenakan. Pagi ini sudah Rain prediksi jika topik yang mereka bahas ya tentang Ella. Oleh sebab itu Rain malas mendengarnya dan memilih memasang headset sambil mengunyah permen karet.
"Rain, Lo udah tahu belum kabar tentang Ella di tangkap?" tanya Mia.
Ya tau lah. Gue juga terlibat dalam penangkapan itu
"Nggak tahu dan gue nggak mau tahu!" jawabnya santai.
Mia mengedikkan bahu dan memilih bergabung dengan yang lain untuk bergosip. Rain sekarang berbeda dengan Rain yang dulu. Rain yang sekarang sangat cuek dan tidak pernah mau tahu urusan orang lain.
Suara gaduh di kelas yang sedang membahas Ella itu tiba-tiba berhenti. Ketika sosok itu datang ....
"Ah, mimpi apa gue ... Kelas kita di datengin Kak Radit!"
"Oh my ... Dia mau cari siapa ya?"
"Ya ampun dia bawa bunga!"
"Beruntung banget deh yang dapetin Kak Radit!"
Begitu heboh kelas itu. Sementara Rain?
Dia memilih menelungkupkan kepalanya diantara kedua tangan yang bertumpu di atas meja.
Keyla pun memasang wajah semanis mungkin dan merapikan rambutnya.
"Keyla, jangan bilang Kak Radit mau ketemu sama Lo!" tebak Naya, teman sebangku Keyla.
Namun ....
"Pagi, sayang!" Radit duduk di bangku sebelah Rain dan mengusap rambut gadis itu.
Rain segera mendongak dan kedua mata bulat itu mengerjap. Dia ... Nggak lagi mimpi kan?
Radit memberikan setangkai bunga mawar merah dan dua batang cokelat.
"Kak Radit!" pekik Rain. Lalu menatap sekitar kelas yang rupanya sudah ramai.
Rain dan Radit sekarang ... Menjadi pusat perhatian.
"Key, cubit tangan gue! Demi apa? Kak Radit manggil Rain ... Sayang?" Naya tidak percaya ini.
"Ya ampun ... So sweet!"
Mereka yang sedang bergerombol membahas Ella seketika menonton adegan seperti drama Korea.
Radit mencium kening Rain tanpa perduli sekarang dia ada dimana. Mungkin sudah saatnya hubungan ini dipublikasikan.
"Kak, jangan gitu!"
"Kenapa?"
Rain tidak mau jika dia menjadi pusat perhatian apalagi fans Radit garis keras pasti sebentar lagi akan marah padanya.
"Aku nggak mau hubungan ini kita sembunyikan lagi. Lebih baik mereka tahu supaya tidak ada lagi yang ganggu aku maupun kamu!"
"Demi nenek Tapasya .... Pemandangan macam apa ini!"
Seluruh penghuni kelas langsung mengalihkan pandangan ke arah Reno yang baru saja datang bersama Rean.
Reno langsung menarik kursi yang ada di depan Rain lalu menatap Rain dan Radit bergantian. Reno memicingkan matanya.
"Serius kalian beneran pacaran?" tanya Reno. Dia memang sudah dengar dari Rean tapi belum percaya sepenuhnya.
"Reno! Lo ganggu pemandangan aja sih!" protes salah satu cewek yang berambut ikal.
"Tau nih si Reno!"
"Huuuuu, Reno!" teriak mereka serempak.
Sementara Keyla menatap tidak suka pemandangan ini. Dia selalu menjadi yang terdepan. Banyak siswa tampan di sekolah itu yang selalu mengincar Keyla. Sekarang ... Dia tidak menyangka jika Radit memilih Rain, padahal Keyla selalu berusaha mencari perhatian Radit.
Rean dengan santainya mencomot cokelat yang ada digenggam tangan Rain dan membukanya.
"Rean!" Kedua mata Rain pun melotot.
"Lo nggak mau gue laporin ke nenek kalau di sekolah pacaran mulu, 'kan?" bisik Rean.
Rain mengerucutkan bibirnya. Membuat Radit gemas dan mencubit pipi Rain.
"Nanti aku beliin lagi!" ujar Radit yang merapikan rambut Rain.
"Gue cuma mau, sayang. Beliin yang banyak ya!" Reno pun ikut mencomot cokelat milik Rain.
"Nih, aku masih ada. Jangan marah. Aku nggak suka kamu pasang wajah cemberut gitu!"
Rain tersenyum, "Makasih ya."
Radit menarik pundak Rain dan memeluknya.
"Aku ke kelas dulu ya. Nanti ke kantin bareng!"
Para jomblo pun menjadi semakin ngenes lihat adegan ini. Reno langsung memeluk tubuh Rean untuk di peluk.
"Cieeee, Rain ... Traktir kita sekelas dong!"
"Wik wiiiww .... Romantisnya!"
"Tenang semuanya ... Nanti babang Radit bakal traktir Lo semua!" Ucapan itu tentu saja bukan dari mulut Radit. Siapa lagi kalau bukan si lemes Reno.
Radit hanya menggeleng saja. Lalu bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Reno, "Gue traktir sepuasnya tapi Lo yang bayar ya!" ucapnya yang langsung berlalu.
__ADS_1
Rain tertawa puas. Mia pun segera menghampiri Rain dan mencubit pipi gadis itu. Sementara Mentari yang baru saja datang tidak tahu apa yang terjadi pun bingung.
"Sumpah Lo pacaran sama dia? Ahh Lo hutang shopping sama gue!"
Rain mengernyit heran. "Bilang aja Lo pengen gue beliin sesuatu kan?" tebak Rain.
Mia tertawa terbahak-bahak. Sementara Mentari masih dalam tahap kebingungan. Kelas menjadi gaduh dan terdengar nama Ella kembali yang disebut-sebut.
"Mau?" Rean menyodorkan cokelat yang tadi dia ambil dari Rain.
Mentari menoleh, lalu menggeleng perlahan. Dia kembali mengambil buku di dalam tasnya.
"Buka mulut Lo!" titah Rean.
Mentari terkejut saat tangan Rean sudah memasukkan cokelat dengan paksa di dalam mulutnya.
"Rean!" kesal Mentari.
Rean hanya mengangkat kedua bahu. Tidak perduli dan kembali menikmati cokelat hasil rampasannya. Di sekolah belum ada yang tahu siapa Rain sebenarnya. Gadis itu juga tidak mau jika dikenalkan di media tentang siapa dirinya.
Menjadi siswi terkenal karena nama orangtua bukan cita-cita Rain.
"Enak?" tanya Rean lagi.
"Nggak, aku nggak suka cokelat, Rean!"
"Nggak suka tapi dimakan!"
"Kamu tadi maksa aku!"
Tepat saat Mentari membuka mulutnya Rean dengan kilat memasukkan cokelat itu lagi.
"Rean!" Mentari sangat jengkel dengan tingkah lelaki yang duduk di sampingnya ini. Dia mencubit lengan Rean.
Mungkin hanya Mentari yang baru berani melakukan itu.
"Awww ... Lo makan apa sih! Tenaga kayak banteng!"
"Ih, Rean! Kamu ngeselin!" Mentari mengerucutkan bibirnya. Membuat Rean gemas saja.
Ingin sekali dia mencubit pipi Mentari yang menggemaskan, tapi Rean harus menahan itu.
***
Kenan terus menatap wajah Gina yang pucat. Entah sampai kapan wanita itu akan memejamkan mata. Kenan berharap sang mama segera bangun dari tidur panjangnya.
"Mah, hari ini aku nggak sekolah lagi. Aku temenin mama."
"Mama tahu nggak? Kalau Rain ... Udah bahagia. Aku baru menyadari kalau ada ruang dihati aku buat Rain!"
Kenan terus bercerita kepada sang mama meski wanita itu memejamkan mata.
"Mah, jangan sedih ya kalau lelaki itu nggak bersama kita lagi. Aku janji bakal bahagiakan mama."
Tanpa sadar air mata telah menggenang di sudut mata elang itu.
Kenan menghapusnya, dia menatap ke atas langit untuk menahan air matanya supaya tidak jatuh. Dia harus kuat di depan sang mama. Meski cobaan hidupnya terlalu berat.
"Nanti ... Oma Lily bakal dateng. Mama pasti kangen kan sama Oma Lily."
Lily adalah mama kandung Gina yang tinggal Singapura. Mendengar kabar menantunya yang tertangkap karena kasus penjualan para gadis, membuat kondisi Lily sempat menurun. Lalu Lily juga diberi kabar oleh Maya--adik kandung Gina, kalau Gina sedang kritis.
Lily langsung meminta Maya untuk segera terbang ke Indonesia. Setelah memeriksakan diri tentunya. Kondisi Lily memang sudah membaik dan dokter menyarankan untuk melakukan penerbangan dua hari lagi supaya lebih baik.
Lily menuruti itu, meski sebenarnya rasa khawatir yang melanda. Rima dan Maya memang tinggal di sana sejak Maya masih kecil. Maya sekarang sedang mengurus perusahaan milik mendiang ayahnya. Meski Lily tidak memiliki seorang putra, tapi percayalah kemampuan Maya tidak perlu diragukan dalam soal bisnis. Maya mampu membuka mata seluruh para pemilik perusahaan jika seorang wanita bisa menjadi pemimpin.
"Oma Lily bilang ... Kita akan tinggal di sana lagi. Mama pasti lebih bahagia kan?"
Kenan menghela napas lelah, lingkaran mata itu menandakan dia tidak memiliki kualitas tidur yang baik. Bahkan Kenan terlihat sedikit kurus dari biasanya. Wajahnya juga layu.
Kenan juga merasa perutnya melilit. Cacing di dalam perutnya meminta di isi tapi dia enggan untuk keluar. Dia tidak mau meninggalkan sang mama sendirian. Kenan meraih botol air mineral yang ada di meja dan meneguknya hingga setengah. Terakhir kali dia mengisi perutnya itu semalam dan ini sudah siang hari.
Suara pintu terbuka membuat Kenan menoleh. Dia mengerjapkan mata berkali-kali untuk memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah.
Seseorang yang baru saja membuka pintu ruang rawat Gina pun kembali menutupnya dan melangkah mendekat dengan senyum canggung.
Tatapan Kenan terlihat kosong, gadis itu segera melambaikan tangannya.
"Ken?" panggilnya.
Kenan terkesiap dan kesadarannya pun sudah kembali dia segera bangkit lalu memberikan tempat duduknya pada gadis itu.
"Duduklah."
"Lo ... Belum mandi?" Gadis itu mencium sesuatu saat Kenan bangkit dari duduknya.
Kenan mengusap rambutnya, dia benar-benar malu dan memang lupa kapan terakhir kali mandi. Kenan selalu saja tidak mau meninggalkan Gina sendiri. Padahal ada suster jaga yang bisa menggantikannya sebentar.
"Mandi dulu sana, biar gue yang jaga Tante Gina."
Kenan mengangguk, entah mengapa tiba-tiba mulutnya seolah terkunci saat berhadapan dengan gadis itu.
"Hey, malah bengong!"
"Ah, iya!"
Kenan langsung mengambil tas nya, "Gue ... Mandi dulu," pamitnya.
Gadis itu hanya mengangguk, lalu mengalihkan tatapan ke arah Gina. Menggenggam tangan Gina lalu mencium punggung tangannya.
Meski dia sangat membenci putranya tapi Rain tidak mau hubungan baik dengan Tante Gina hancur. Biar bagaimanapun Tante Gina selalu memperlakukan Rain seperti anak sendiri. Tatapan Tante Gina saat menatapnya pun terasa hangat. Meski saat bertemu Tante Gina dia harus bertemu dengan Kenan seperti sekarang ini.
"Apa kabar, Tante! Maaf ya Rain baru datang."
Ya, gadis itu adalah Rain. Dia datang untuk menengok Gina dan membawakan Kenan makanan. Gadis itu tahu jika Kenan tidak akan sempat mengisi perutnya karena dia tidak mau meninggalkan Gina seorang diri. Rain datang hanya karena merasa iba saja. Menjadi anak tunggal memang tidak enak, Rain memposisikan itu saat menjadi Lea. Dimana sang mama sedang terbaring lemah di rumah sakit sementara papanya sedang ada bisnis di luar kota yang tidak memungkinkan untuk kembali saat itu juga. Karena baru beberapa jam berangkat.
Rain tahu kondisi itu tidak mudah. Di saat dia lelah tapi tidak ada yang menjaga mamanya. Maka dari itu Rain berinisiatif untuk menjenguk Gina dan juga menggantikan posisi Kenan sebentar.
"Tante ... Cepat bangun ya. Biar nanti kita bisa buat kue bareng!" ujarnya.
Fania dan Gina memang sangat menyayangi Rain. Tentu dengan pembawaan yang berbeda. Rain itu gadis yang baik dan cerewet ketika bersama orang-orang yang dikenal dekat dan membuatnya nyaman. Dia akan berubah menjadi dingin ketika dilingkungan baru dan orang-orang yang tidak terlalu dekat dengannya.
"Tante harus bahagia dan kuat. Kasian Kenan sendirian. Dia ... Sampai lupa makan bahkan mandi. Penampilan Kenan yang biasanya terlihat bad boy ... Sekarang kayak benang kusut." Rain terkekeh. Lalu melihat ke arah pintu kamar mandi.
Rain segera memasang wajah datar.
Cklek ...
Benar saja Kenan sudah selesai mandi. Wajahnya terlihat sangat segar. Memakai kaos long size warna hitam dan celana chinos warna cokelat. Rambutnya yang basah dia kibas-kibaskan dengan handuk. Rain hanya melirik saja daripada pemandangan itu membuatnya sesak napas dan berujung membuat lelaki itu besar kepala.
"Makan gih, gue tau Lo laper!" ucap Rain saat Kenan duduk di sofa.
Namun, lelaki itu hanya diam saja dan terus menatap Rain.
Merasa di tatap oleh Kenan, Rain segera menoleh. Lalu melangkah untuk mendekat.
__ADS_1
"Lo batu banget! Gue bilang makan daripada Lo juga sakit siapa yang bakal jagain Tante Gina!" gerutu Rain sambil membuka paper bag yang dia bawa.
Rain meletakkan beberapa tempat makan di meja dan membukanya satu persatu.
Ada nasi dengan lauk udang saus padang, nuget kentang dan capcay kuah. Lalu wadah satu lagi ada salad sayur dengan keju mozzarella diatasnya. Lalu ada juga buah yang sudah dipotong-potong. Benar-benar menu empat sehat lima kenyang.
"Nih ma__" Rain tidak melanjutkan ucapannya karena Kenan menatapnya intens.
Kenan membasahi bibirnya yang kemerahan. "Akhirnya gue denger suara Lo yang cerewet lagi!" ujar Kenan.
Membuat Rain kesal tentunya.
"Nggak usah sok memuji. Mending Lo makan daripada Lo sakit!"
"Nih, minum dulu biar perut Lo anget!" Rain menuangkan teh hangat yang berada di termos kecil ke dalam gelas.
Kenan menerima itu tidak sengaja jemarinya menyentuh jemari Rain. Membuat gadis itu segera melepaskan tangannya.
"Thanks ya."
"Lo jangan salah paham. Gue cuma kasian sama Lo bukan perhatian!"
Kenan mengangguk. Lalu ... Nafsu makannya hilang begitu saja saat mendengar ucapan Rain.
Ah, ya ... Kenan sadar ini semua salahnya. Kalau saja tidak menaruh hati pada Ella ... Mungkin sekarang dia bahagia memiliki Rain yang penuh perhatian.
Perubahan Rain membuat hatinya terasa kosong. Kenan sadar bahwa selama ini dia tidak mencintai Ella. Cinta dan obsesi itu ... Hampir sama.
"Ayo makan!"
Kenan menggeleng. Lalu menatap sang mama yang masih dengan posisi sama.
"Gue ... Nggak laper!"
Rain mendesah kesal. Menghadapi Kenan yang seperti ini memang harus ekstra sabar. Rain mengesampingkan egonya dan mencoba berdamai dengan rasa bencinya. Ah, iya bukan dia yang benci melainkan Rain asli. Lea yang ada ditubuh Rain hanya mengendalikan perasaannya itu saat membaca semua diary milik Rain asli. Tentu saja Lea geram dan ingin membalas dendam Kenan.
Sekarang ... Posisinya Kenan sedang terkena musibah jadi Rain mengesampingkan perasaan bencinya sebentar saja.
"Ayo aaaak," kata Rain sambil menyodorkan sesendok nasi dan capcaynya.
Kenan tentu saja tidak menyangka jika Rain mau menyuapi dirinya. Kilas balik saat Rain selalu membawakan bekal makanan untuknya dan menyuapi dia di kelas meski Kenan bermesraan dengan Ella pun berputar di dalam kepalanya.
"Bengong terus, kesambet sukurin!"
Kenan tersenyum kecil dan menuruti perintah Rain untuk membuka mulutnya.
"Enak."
"Iyalah! Gue yang masak!" celetuk Rain.
Kenan tersenyum, dia tahu jika Rain pandai memasak. Rain dulu selalu membawa bekal hasil masakan pelayan. Entah mengapa perubahan Rain sangat drastis. Kenan tidak perduli soal itu. Lebih baik dia menikmati momen ini meski hanya sebentar.
"Lo harus banyak makan, supaya nanti Tante Gina bangun lihat Lo sehat jadi bahagia."
"Gimana mau makan banyak, bahkan pikiran gue aja kayak benang kusut!"
"Lo harus yakin kalau nyokap Lo bakal bangun."
Kenan mengangguk, tanpa terasa makanan yang sejak tadi Rain suapi telah habis.
"Anak pinter!" Rain menepuk-nepuk kepala Kenan seperti seorang ibu yang bangga karena anaknya makan banyak.
"Sekarang makan buah ya, apa mau makan salad dulu!"
"Makan Lo boleh nggak!"
Rain mencubit pinggang Kenan.
"Lo apa-apaan sih!"
"Aduuuhh sakit!" Kenan merintih kesakitan. Cubitan Rain terasa pedas.
"Rain ... Gue minta maaf ya."
Rain memutar kedua bola mata malas. "Capek dengernya!"
"Gue mau pindah ke Singapura setelah mama sadar."
Deg ...
Bagaikan adegan slow motion seakan Rain mengejar Kenan yang semakin jauh. Rain tidak bisa meraih lelaki itu lagi. Rain segera menggeleng. Hatinya hanya untuk Radit bukan Kenan.
Perasaan itu masih ada karena ini milik Rain asli bukan dirinya. Rain segera menepis semua perasaan itu dan memilih diam. Menutup kembali tempat yang sudah kosong.
"Lo yakin? Kenapa harus pindah?"
"Di sana ada Oma juga Tante Maya. Mereka bisa jagain mama kalau gue sekolah!"
Rain menepuk pundak Kenan, "Baik-baik ya di sana. Semoga Lo ketemu gadis Jepang yang cakep!" Rain mengambil salad sayuran untuk Kenan.
"Kok gadis Jepang? Gue di Singapura, Rain!" ralat Kenan.
Rain nyengir tanpa dosa. Lalu mengambil sendok dan menyuapkan salad itu ke dalam mulutnya.
Astaga!
Rain lupa jika salad itu harusnya untuk Kenan. Dia menepuk keningnya sendiri.
"*Sorry*, gue suapin lagi ya!"
"Di hati Lo ... Bener-bener nggak ada gue lagi?"
Rain menghentikan tangannya yang hendak menyuapi Kenan. Kemudian dia meletakkan salad itu ke meja dan menggeser duduknya.
"Gue ke sini cuma mau nengokin Tante Gina dan bawain Lo makanan. Bukan berarti gue mau berdamai sama Lo!"
Disaat mereka berbicara tanpa mereka berdua sadari Gina menggerakkan satu jarinya. Pertanda wanita itu sudah melewati masa kritisnya.
"Iya, iya. Jangan marah!" Kenan mengusap kepala Rain.
"Makan tuh, gue mau pulang!" Rain mengambil salad tersebut dan meletakkan di pangkuan Kenan.
"Bentar banget, Rain?"
"Gue ada janji sama Radit!" Rain pun bergegas untuk pergi.
"Gue pamit ya. Salam buat Tante Gina!"
Kenan hanya mengangguk dan menatap Rain hingga menghilang dari balik pintu. Hati Kenan terasa teremas saat Rain menyebutkan nama Radit. Lelaki itu ... Sudah menggantikan posisinya. Mungkin dengan Kenan pindah ke Singapura akan membuat hatinya sembuh dan bisa melupakan Rain.
Bersambung ....
Hay, pembaca setia Rain . Aku mau mengucapkan banyak terima kasih karena kalian selalu beri aku semangat dengan like cerita ini setiap kali aku update. Maaf ya aku belum bisa crazy up karena pekerjaan di dunia nyata bejibun. Aku tetep akan berusaha kok setiap harinya akan update. Maaf ya bila ada kesalahan dalam menulis. Maklum author nulis setelah sahur. Untuk visualnya nanti nyusul.
Salam sayang dariku
__ADS_1
Alaish Karenina