Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 47


__ADS_3

Sejak masuk di bangku SMP, Rain selalu memohon kepada kepala sekolah untuk menyembunyikan identitasnya. Bahkan dia selalu menghilangkan nama Klopper jika menulis namanya. Rain tidak mau jika semua orang tahu kalau dia itu kembaran Rean. Bahkan dia rela mengubah penampilannya supaya tidak ada yang mengenalinya. Meski sudah pindah keluar kota.


Setelah lulus SMP, lagi dan lagi Rain memohon kepada kepala sekolah untuk tidak mengatakan kepada siapapun. Rain selalu menyuruh Pak Slamet atau bibi Arum datang ke sekolah jika diperlukan. Soal beasiswa itu tidak benar-benar ada. Rain rela merogoh uang untuk membungkam Bu Yanti.


Bu Yanti adalah kepala sekolah yang tegas dan jujur. Dia tidak peduli siapa orang tua siswa-siswi jika memang bersalah maka akan tetap dihukum. Jadi, saat Rain menemuinya ... Bu Yanti memberitahukan kepada Damian. Juga mengembalikan uang Rain. Damian pun meminta agar Bu Yanti mengikuti kemauan Rain karena gadis itu memiliki trauma.


Lalu ketika Rain mendapatkan perundungan, Bu Yanti sama sekali tidak tahu. Dia baru tahu jika Rain kecelakaan karena ulah Ella yang selalu merundungnya. Berhubung Ella adalah sepupu Arya yang juga pemberi dana di sekolah, Bu Yanti tidak bisa berkutik. Juga mengadukan soal ini kepada Damian pun lelaki itu hanya mengancam agar tutup mata kalau tidak dia akan kehilangan pekerjaan juga dilempar ke negara terpencil.


Tadi, saat Bu Yanti menuduh Rain dan membela Keyla itu semata-mata untuk melihat bagaimana sifat asli Keyla yang katanya baik dalam bertutur kata. Beberapa kali memenangkan olimpiade dan menjadi kebanggaan sekolah lalu setelah Rain bangkit dikalahkan oleh Rain. Keyla ini gadis manipulatif. Dia selalu berpura-pura lemah ketika berhadapan dengan Rain. Berakhir Rain lah yang mendapatkan hukuman.


Bu Yanti tidak sengaja memergoki Keyla ketika sedang menelpon di dekat laboratorium. Jika anak itu melakukan rencana untuk menjebak Mentari. Dari nada bicaranya saja bukan mencerminkan anak yang lemah lembut, sopan dan jujur. Jauh berbeda dengan Keyla yang dia kenal. Ah, rupanya gadis itu pintar sekali bermain topeng.


Berhubung Rain sudah mengancamnya akhirnya Bu Yanti pergi ke ruang cctv, memastikan apa yang terjadi. Setelah itu dia berbicara pada Damian. Lelaki itu meminta untuk membongkar saja siapa Rain. Dia tidak mau jika putrinya terus menerus direndahkan oleh para orang tua. Kecuali Bunda Ima yang sejak tadi hanya diam, ini baru pertama kalinya dia ke sekolah karena Ima membuat ulah. Bukan acara-acara penting seperti biasanya.


"Rain adalah putri ketiga yang tak lain saudari kembar Rean. Dia selalu tidak mau orang mengetahui identitasnya karena trauma yang dialami gadis ini. Dia memang salah karena memukul Keyla, tapi Keyla juga salah karena merundung temannya. Rain tidak mau sekolah ini terkenal karena perundungan. Dia juga korban perundungan dan hampir kehilangan nyawanya."


Bunda Ima tercengang mendengar hal itu. Lalu dia juga melirik ke arah putrinya yang rupanya masalah ini adalah perundungan. Jadi ... Putrinya ini merundung seseorang yang lemah. Oh, astaga! Apa ini pengaruh Keyla? Sejak awal bertemu gadis itu main ke rumah, Bunda Ima merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Putrinya juga selalu menuruti apa yang Keyla inginkan.


"Apa ... Pelaku perundungan Rain itu mereka ini? Termasuk putri saya yang ikut merundung Rain?" tanya Bunda Ima yang bernama Anita.


Damian menggeleng, "Mereka sudah keluar dari sekolah ini. Tenang saja putri anda tidak ikut andil dalam perundungan yang sangat mengerikan."


Damian menghela napas, dia tahu jika di usia remaja ini selalu ada hal yang seperti ini. Mereka selalu penasaran dengan apa saja bahkan apa yang mereka inginkan harus di dapatkan. Bertengkar dengan perempuan dan laki-laki itu tentu sudah menjadi hal biasa dikalangan anak Remaja.


Anita menghela napas lega, syukurlah jika Ima tidak terlibat.


"Tuan Damian, saya minta maaf atas ucapan saya dan juga putri saya tadi. Saya berjanji akan mendidiknya agar bisa lebih sopan lagi ketika berbicara."


"Saya yang simpanan om-om juga pengen liat nona Keyla ini minta maaf kepada Mentari! Hal yang dia lakukan tadi benar-benar sangat berbahaya."


Keyla melucuti seragam Mentari hingga tersisa dalaman saja. Lalu mengambil beberapa foto untuk dijadikan sebuah ancaman.


"Apa Tuan Agung mau jika saya melakukan hal yang sama kepada putri kesayangan anda ini, hmm?" Lalu Rain menatap ke arah mama Dina yang sejak tadi melirik Damian. "Juga nyonya Lisa, bagaimana jika saya melucuti pakaian putri anda dan menyisakan dalaman saja. Mengambil foto dan dijadikan bahan lelucon juga ancaman. Apa anda terima?" tanya Rain.


Membuat Lisa diam. Tentu saja dia tidak mau putrinya diperlakukan seperti itu.


"Dina, sebaiknya kamu minta maaf sama siapa tadi?" Lisa menatap ke arah Rain.


"Mentari."


"Ya, Mentari. Kamu ini keterlaluan sekali. Memang dia bikin masalah apa sih?"


Dina hanya menundukkan kepalanya. Dia sangat jengkel karena mamanya memarahi di depan umum.


"Bunda Ima, sebaiknya anda jauhkan Ima dari manusia berbisa seperti Keyla ini. Ima anak yang pendiam tapi entah mengapa bisa berteman dengan Keyla dan selalu saja mengganggu Mentari!"


Anita hanya mengangguk. Apa yang Rain katakan memang benar.


"Bu Santi ada pertanyaan? Mungkin mau bertanya pada siswi yang bermasalah ini, kenapa bisa menjadi simpanan om-om? Saya nggak punya biaya buat sekolah di sini jadi saya hanya bisa mengandalkan tubuh saya ini untuk tetap bersekolah dan makan makanan enak. Soalnya papa saya Damian nggak pernah kasih uang lebih!" Rain melirik ke arah Damian yang sudah ingin mencubit pipinya.


Bu Santi diam saja, mulutnya yang lebih menghargai Keyla sekarang kena batunya.


"Rain, tindakan kamu benar. Menegakkan keadilan dan menghilangkan kebiasaan merundung siswa-siswi lain. Hanya saja kamu sudah bikin mereka babak belur. Kamu salah satu siswi ibu yang jagoan, tapi jangan gunakan ilmu kamu ini untuk hal seperti ini. Kalau kayak gini ya kamu nggak ada bedanya sama mereka," kata Bu Yanti.


Rain hanya nyengir saja.


Damian berdehem. "Jadi Bu Yanti, semua keputusan ada ditangan Bu Yanti. Apa yang akan Bu Yanti lakukan pada empat gadis cantik ini?" ujar Damian.


Bu Yanti menghela napas berat, "Bagaimana Pak Erwin?" Bu Yanti malah melemparkan keputusan pada Pak Erwin.


Kalau begini lelaki berusia dua puluh delapan itu hanya menggeleng lemah. Dia juga bingung hukuman apa yang akan diberikan. Mengingat Keyla anak konglomerat nomor lima belas. Sementara Damian si pemilik yayasan. Dian dan Ima ya kalangan konglomerat biasa.


"Mungkin skorsing?" kata Pak Erwin dengan tenggorokan yang sudah terasa kering. Mengucapkan itu saja dia sudah takut setengah mati.


"Baiklah, kalian berempat Ibu skorsing selama satu minggu. Dalam satu minggu itu kalian tulis satu buku penuh dengan kata-kata "Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ingat satu buku penuh. Kumpulkan jika masa skorsing kalian selesai."


"Pa, masa iya aku juga ikut? Dia yang salah!"


Keyla tidak tahu kalau Damian ini lebih berkuasa dari papanya. Dia sebenarnya juga menyesal karena selalu memusuhi Rain. Kalau tahu Rain adalah adik kembar Rean, sudah pasti dia dekati dari dulu.


"Keyla, sudah terima saja. Semua juga merasakannya," bisik Agung.


"Setelah masuk selama satu minggu tugas kalian bersih-bersih halaman sekolah. Memunguti___"


"Nggak bisa gitu dong, Bu! Rain sudah buat muka aku kayak gini masa hukumannya sama!"


"Keyla, jaga bicaramu!" tekan Agung. " Bu Yanti belum selesai bicara, sayang!" ucap Agung lebih lembut.


"Rain akan membersihkan perpustakaan sepulang sekolah. Jadi kalian hanya halaman saja. Sepulang sekolah tidak ada hukuman seperti Rain. Ingat ini selama satu minggu. Kalau sampai terulang lagi maka ibu nggak segan-segan keluarin kalian dari sekolah!"


Keyla mendengus, baginya ini tidak adil. Dia akan memberikan perhitungan pada Rain.


*


Setelah keputusan yang alot itu selesai dan semua siswi yang bermasalah pun menyetujui hukuman itu, para orangtua pun keluar dari ruang kepala sekolah.

__ADS_1


Rain terus memandangi Bunda Ima. Meski anaknya terkena masalah Bunda Ima masih berkata lembut. Tidak memarahinya seperti mama Dina. Sungguh terbuat dari apa hati wanita itu. Begitu lembut, bahkan Rain yakin jika bunda Ima ini tidak pernah marah. Melihat Rain yang terus menatap ke arahnya, Anita melempar senyuman. Dia mengangguk ketika hendak pergi.


"Pa aku juga mau dong punya mama seperti Bundanya Ima!" celetuk Rain yang hendak mengantar Damian.


Sebenarnya mereka ingin pulang saja. Tapi masih ada waktu dua jam pelajaran. Jadi mereka tidak diizinkan pulang. Kecuali Keyla yang merintih pipinya yang memar itu sakit kepalanya juga pusing.


"Bicara apa kamu ini, Rain!"


"Ya, kan Rain rindu pelukan seorang ibu!"


Damian langsung memeluk putrinya erat. "Papa akan selalu memelukmu, sayang!" Damian mencolek hidung mancung Rain.


"Papa, ih! Beda dong!"


Ima yang melihat interaksi Damian dan Rain membuatnya iri. Dia juga pengen punya seorang ayah yang menyayangi dirinya. Bukan ayah yang selalu membagi kasih sayang pada anak dari istri keduanya. Meski Anita sudah bercerai dengan ayah Ima, tetap saja status anak tetap tanggung jawab mantan suaminya. Tidak ada mantan anak. Namun, mantan suami Anita ini seolah tidak perduli pada Ima, baginya anak perempuan itu tidak bisa memimpin jadi dia sangat menyayangi putranya dari istri kedua.


***


"Lo bener-bener deh Rain, bikin gue cemas tahu nggak!" kata Rean saat Rain sudah di kelas.


"Rain, kamu kenapa nolongin aku? Kalau kamu nggak lakuin itu pasti kamu nggak bakal di skors."


"Lo berdua berisik tahu nggak!" gerutu Rain yang sedang memejamkan kedua matanya. Dia menelungkupkan wajah pada kedua tangan yang dilipat di atas meja.


"Lo bisa ngomong ke gue jangan main hakim sendiri. Main cantik kek. Urakan bener dah!"


Mentari hanya diam saja, melirik ke arah Rean yang wajahnya sangat khawatir pada Rain. Dia benar-benar iri kepada Rain karena selalu diprioritaskan oleh Rean. Meski status mereka pacaran tapi Mentari menganggap ini balas budi karena Rean sering menolongnya. Ya, dia akan bertahan sampai nanti lulus sekolah untuk bisa berhenti menjadi budak Rean.


"Rain, bangun woy. Lo nggak mau balik apa?" kata Mia menggoyangkan tubuh Rain.


Pelajaran sudah selesai lima menit yang lalu. Guru hanya memberi tugas karena berhalangan hadir.


Semua siswa-siswi juga satu persatu keluar kelas. Rain setengah sadar, dia memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas dan bergegas pergi. Dia yang hendak menggandeng tangan Mia pun salah orang. Malah menggandeng tangan Reno.


"Rain, please jangan perkosa gue! Masa depan gue masih panjang woy!"


Rain menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang dan terkejut melihat ada Reno bersamanya. Rain celingukan dimana Mia berada?


"Gue di sini, Rain. Lo salah narik orang!" Mia berada di dekat pintu sambil menggeleng pelan.


Pantas saja Rain merasa tangan Mia lebih besar. Rupanya dia salah orang. Rain hanya nyengir saja.


"Lo juga ngapa diem aja sih?"


"Lah? Emang rada-rada ya istrinya si Radit!" Reno pun pergi menuju parkiran.


Reno mengambil helmnya dan diberikan kepada Sandy. Lelaki itu mengerutkan keningnya.


"Sayang, pasangin juga dong ah!" ujar Reno dengan nada manja.


"Najis! Amit-amit, huwwweeek!" Sandy dengan mimik jijik itu segera melempar helm Reno.


"Si Anying, helm mahal nih. Mana belum lunas!"


Sandy memilih pergi saja daripada pusing dengan tingkah absurd Reno.


"Gue tunggu di basement ya!"


Rean hanya mengangguk.


"Mentari, Lo tahu nggak persamaan Lo sama AC?" tanya Reno tiba-tiba.


Rean sudah bersiap mengepalkan tangannya kalau sampai Reno menggoda Mentari.


"Nggak tahu. Memangnya apa?" tanya Mentari polos.


Reno bersiap menyalakan motornya. Dia akan kabur setelah memberitahu jawabannya.


"Persamaan Lo sama AC tuh sama-sama menyejukkan. Lo berhasil menyejukkan hati gue!" jawab Reno dengan tawa yang puas dan langsung tancap gas.


"Setan!" gerutu Rean.


"Kok Rean marah sih?"


Rean tidak menjawab, dia berubah datar karena malu, seharusnya ya memang dia tidak marah.


"Udah ayo naik. Gue mau ajak Lo ke apartemen."


"Ha? M-mau ngapain?"


"N(e)n(e)n!" jawab Rean asal.


Wajah Mentari sudah memerah. Dia tidak mau kalau sampai itu terjadi. Dia tidak mau mengecewakan ibunya yang sudah susah payah memindahkannya ke sekolah mahal ini.


"Nggak! Aku nggak mau ikut. Rean ngeri ah!" Mentari menjadi sebal sama Rean.

__ADS_1


Rean terkekeh, dia gemas sekali melihat raut wajah Mentari yang sedang kesal.


"Main, ada temen-temen di sana. Sekali-sekali ikut. Biar kamu kenal sama mereka."


"T-tapi ... Aku malu."


"Ngapain malu sih, sayangku?" Rean mencubit pipi chubby Mentari. Dia sudah tidak tahan ingin mencubit pipi itu sejak lama.


Di panggil dengan sebutan 'sayang' membuat darah Mentari berdesir.


"Heh kulkas dua belas pintu! Lo mau kemana?" teriak Rain padahal mereka sangat dekat.


"Apartemen!" jawab Rean.


Kedua mata Rain membulat sempurna.


"Mampus gue!" Rain menepuk keningnya.


Mengingat apartemen sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Tunggu bentar, Ren!" Rain berlari ke arah satpam. Saat kembali dia sudah membawa helm entah milik siapa.


"Mi, ikut gue!" Mia hanya menurut saja. Lalu membonceng Rain.


"Gue duluan!" Rain melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Dia tidak perduli pada Mia yang terus mengomel.


"Rain, Lo mau bunuh gue? Gue masih pengen hidup, Rain!"


Rain menyalip para kendaraan yang ada di jalan. Meski makian terus dia dengar. Demi keselamatannya dari amukan Rean lebih baik dia cepat sampai di apartemen lebih dulu.


"Lo emang pembalap, tapi ya nggak gini juga!" teriak Mia meski suaranya hanya terdengar samar.


Beruntung jalanan sepi jadi Rain bisa menempuh perjalanan hanya dalam waktu lima belas menit saja. Biasanya dia akan memakan waktu tiga puluh menit kalau macet bisa lebih.


"Lo gila! Jantung gue hampir copot!" kata Mia saat sampai di basemen.


Rain hanya nyengir saja. Lalu menarik Mia yang masih ada nyawanya. Mia tadi sudah ketakutan setengah mati sampai memeluk pinggang Rain erat.


"Hay, Mia. Kebetulan kita ketemu. Abang ganteng ini nggak bakal jadi obat nyamuk nanti kalau ada neng Mia."


"Ren, diem deh ah." Rain langsung bergegas pergi.


Reno dan Sandy mengekor.


"Lo berdua mending ke supermarket deh. Nggak ada cemilan soalnya." Tentu saja ini hanya akal-akalan Rain.


"Sayangnya kita lagi bokek!" sahut Sandy sambil menaik turunkan alisnya.


Rain mengambil kartu atm-nya dan diberikan kepada Sandy.


"Pin nya tanggal lahir gue!"


"Tanggal lahir Lo sama nggak ama tanggal lahir Rean?" tanya Reno dengan polosnya.


"Dasar Ogeb! Ya samalah mereka kan kembar!" protes Mia.


Reno tertawa puas.


Rain bergegas pergi menuju unitnya sebelum Rean dan Mentari datang. Rain melihat jam tangan dan memperkirakan kedatangan Rean.


"Mi, bantuin gue beres-beres apartemen!"


"Ha? Lo ngajak gue ke sini cuma buat__"


"Gue bayar sejuta!"


"Dua juta! Sayang nih kuku gue!"


Rain memutar kedua bola mata malas. "Iya, matre banget!"


"Harus!"


**


"Seorang Rain jorok begini? Astaga!" Mia memekik ketika melihat isi apartemen yang acak-acakan.


Bungkus camilan dimana-mana. Remahan biskuit. Kaleng minuman dan masih banyak lainnya.


"Rain Lo habis ngapain ini bh sama ****** di sofa?"


Rain segera meraih itu dan langsung memasukkan ke dalam tas.


"Mending cepetan Lo beresin sebelum Rean dateng." Rain berlari ke dapur untuk membereskan semuanya.

__ADS_1


"Lo nggak habis yang iya-iya kan sama Radit?"


Bersambung ...


__ADS_2