Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 85


__ADS_3

Dibawah gelapnya langit bertabur bintang, dua anak manusia itu berjalan menyusuri trotoar. Menciptakan momen indah yang akan selalu di kenang untuk selamanya. Meski mereka bukan sepasang kekasih. Percayalah jika diantara mereka memiliki sebuah perasaan terpendam yang satu sama lain tidak mau mengatakan itu. Bara menggenggam jemari Rain ketika hendak menyebrang. Jalanan sedang ramai kendaraan berlalu-lalang.


Tawa terdengar ketika menyadari sesuatu yang aneh.


"Cinderella bersandal jepit!" celetuk Rain.


"Lo tetap cantik!" puji Bara mengagumi wajah yang malam ini menjelma bak bidadari.


Ah, rasanya wajah Rain seperti sedang terbakar. Meski jiwa bak preman dia memiliki sisi feminim. Serpihan hati yang telah lama hilang sedikit demi sedikit kembali. Menatanya hingga membentuk sebuah rasa yang baru. Menciptakan ribuan kupu-kupu di dalam perutnya.


"Lihat, kita sudah berjalan terlalu jauh!" Telunjuknya menunjuk ke arah gedung pencakar langit.


Tempat dimana masih diselenggarakan pesta membosankan itu. Ucapan itu hanya untuk mengalihkan wajahnya yang kian memerah, karena Bara tidak kunjung menatap ke arah yang dia tunjuk.


"Ayo kita jalan lagi!" Rain menarik tangan Bara yang masih menggenggamnya.


Laki-laki itu seolah cosplay jadi patung!


"Kenapa diam saja!"


"Lo lucu banget kalau lagi salah tingkah gini!" Rain semakin tersipu malu.


Dia melepas genggaman tangan Bara dan memilih melangkah kembali. Menjinjing sebagian dress yang dia kenakan agar lebih nyaman untuk berjalan.


"Cantik!" Lagi, Bara memujinya sambil berjalan mundur.


"Queen cantik!"


"Queen cantik!"


"Queen cantik!"


Bara terus saja menggoda sambil berjalan mundur di samping Rain. Mengulum senyum karena melihat wajah Rain yang dipoles make up itu memerah. Bahkan blush-on saja kalah merahnya.


Bisa-bisa wajahnya gosong jika digoda seperti ini.


"Kayaknya Lo kebanyakan pake blush on ya. Pipi Lo merah banget!" Bara menowel pipi Rain yang menggemaskan.


Rain berhenti dan melepas sandal jepit yang baru saja dia beli di pinggir jalan. Hendak melemparkannya ke arah laki-laki menyebalkan itu.


"Jangan lakukan kekerasan dalam persaudaraan!"


"Saudara?" Rain membeo. Apa maksud Bara? Seingatnya dia tidak memiliki saudara bernama Bara Alterio.


"Ya, kita ini kan dekat! Sangat dekat seperti saudara. Jadi jika kamu memiliki masalah, ceritalah padaku!"


Rain melempar sandalnya asal. Dia meremas angin karena saking gemasnya pada Bara.


"Gini nih kalau kebanyakan bergaul sama Patrick!" kata Rain. Orang yang dimaksud adalah tokoh bintang laut yang ada di kartun spons kuning.


"Gue ngefans sama dia. Bahkan celana boxer gue gambar dia!"


"Nggak nanya!" Rain melangkah lebih cepat. Rasanya bisa gila saja kalau menghadapi orang seperti Bara.


"Queen! Tunggu, woy!"


"Gue bisa gila kalau deket sama Lo!" Rain mencibir dengan wajah cemberut.


"Gue juga bisa gila kalau jauh dari Lo!" Bara menaik turunkan alisnya.


"Dah lah gue laper!"


Bara menatap sekeliling, lalu menarik tangan Rain untuk menyebrang jalan dan masuk gang pemukiman asing yang sama sekali belum pernah Rain lewati. Jalan itu sempit dan hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Suara alunan musik dangdut klopo samar terdengar bersamaan dengan sorot lampu yang mengarah kemana saja.


Semakin mereka melangkah semakin dekat suara itu. Betapa terkejutnya Rain melihat jalanan di tutup oleh panggung raja dan ratu sehari. Alunan musik itu semakin terdengar keras dengan para tamu undangan yang masih berdatangan. Hari sudah malam tapi hajatan itu masih saja berlangsung. Bagaimana nasib pengantin yang sejak pagi di pajang dalam panggung kebahagiaan bernama pelaminan.


Meski lelah tentu saja bahagia karena pernikahan mereka digelar sangat mewah. Dari dekorasi itu bisa ditebak jika yang hajatan adalah orang berada diantara penduduk sana.


"Kita ngapain?" bisik Rain yang kini menggamit lengan Bara.

__ADS_1


Beberapa tamu juga orang-orang yang berjaga di meja tamu untuk memberikan suvenir dan menjaga kado juga kotak amplop menoleh ke arah Rain dan Bara. Seakan bertanya 'Siapa mereka?'.


"Lo laper kan? Ayo ikut gue!"


"Heh, Lo sakit ya? Kita nggak kenal siapa yang nikah!" protes Rain.


Bara tidak perduli dan tetap berjalan sambil menggenggam tangan Rain. Kemudian dia tersenyum ke arah para gadis sebagai penerima tamu. Memasukkan amplop yang entah sejak kapan Bara siapkan juga kapan dia membeli amplopnya.


"Silahkan di isi!" Salah satu gadis itu menyodorkan buku tamu.


"Ini, Kak. Souvernirnya." Gadis itu menyodorkan bingkisan yang entah isinya apa.


"Teman laki-lakinya atau perempuan? Pengantin sedang berganti baju!" kata seorang wanita paruh baya.


"Bu, maaf kami orang asing. Kami sudah nikah muda sekitar enam bulan yang lalu!" bisik Bara pada ibu-ibu itu.


Wajahnya kaget dan kening mengerut mendengar bisikan Bara. Menatap Rain curiga.


"Istri saya hamil baru dua bulan. Dia sedang ngidam, katanya pengen makan di tempat hajatan. Kebetulan saya lihat ada lampu sorot dan suara dangdut jadi saya kemari."


Wajah yang semula seperti tidak suka itu mendadak tersenyum ramah.


"Oalah, maaf ya tadinya ibu kira kalian nikah karena mbaknya hamil duluan!" Ibu itu tersenyum malu.


"Selamat ya, Mbak. Wah mbaknya cantik kayak artis. Bening. Masnya juga tampan. Kalian cocok sekali. Memang lebih bagus kalau saling suka menikah jadi mau apa-apa sudah bebas!" Rain tidak mengerti apa yang ibu itu maksud dan memberi selamat padanya.


"Menikah?" beo Rain. Setelah paham Rain memberikan pelototan kepada Bara.


"Ya sudah ayo silahkan makan. Mumpung masih banyak. Kebetulan tamu undangan banyak sekali dan ini baru nambah. Penganten sudah ganti baju biasa karena lelah dan sudah jam delapan malam."


Ibu tadi memberikan piring kepada Rain dan Bara. Sementara dibelakang mereka sudah antri tamu yang lain. Sungguh Rain sangat malu sebenarnya. Juga heran pada Bara yang ada saja idenya. Dimana otak waras dan urat malunya? Tapi ya sudahlah berhubung lapar Rain ambil saja menu yang menggiurkan ini.


"Mbak, kalau kurang nanti nambah saja. Bakso, ice cream sama es buahnya masih ada kok. Mau saya ambilkan?" tawar Ibu yang Rain sendiri tidak tahu siapa tapi sangat baik.


"Boleh, Bu jika tidak merepotkan," kata Rain.


Sementara Bara mengulum senyum.


"Gimana enak kan?"


"Lo gila ya! Sebenarnya Lo bilang apa sama ibu tadi?" Rain menatap tajam Bara.


Laki-laki itu nyengir tanpa dosa dan malah kembali makan makanannya dengan lahap.


Rain dengan sabar menunggu laki-laki itu menjawab.


"Lo hamil dua bulan..kita udah nikah!" jawab Bara setelah menelan makanannya.


Rain langsung mencubit perut Bara. Sungguh ini ide yang sangat memalukan demi makan gratis. Padahal Bara bisa saja mengajaknya ke restoran mewah begitu juga dengan Rain yang bisa membayar makanan semahal apapun. Hanya saja kenapa Bara memiliki ide begini? Oh, sungguh Rain benar-benar malu. Rasanya ingin melepas kepala saja.


Apalagi ibu tadi dengan antusias memberikan makanan apa saja yang masih ada di dalam meja hidangan. Sekarang Rain sudah benar-benar kenyang.


"Kami pamit dulu ya, Bu. Terima kasih atas jamuannya. Sungguh masakannya semua enak!" kata Bara yang tidak memiliki rasa malu sama sekali.


"Lho, nggak nunggu pengantennya dulu? Siapa tahu mbaknya juga ngidam mau foto sama pengantin."


"Oh, nggak, Bu. Saya sudah lelah!" tolak Rain yang sebenarnya sudah sangat malu. Wajahnya saja sudah memerah seperti tomat.


Bara malah melambaikan tangan pada tamu yang sedang duduk dan dia sempat-sempatnya berjoged mengikuti alunan musik. Rain segera menarik tangan Bara untuk segera pergi dari tempat yang sungguh, Rain tidak nyaman sekali.


"Sayang, gimana kencan kita?" Bara melingkarkan tangannya di pinggang Rain.


Gadis itu masih menahan napas dan emosi karena kalau dia meledak emosinya sekarang pasti menjadi bahan tontonan. Hingga di jalan gang yang sepi Rain segera mendorong tubuh Bara. Menjambak rambut Bara sekuat tenaga.


"Adidauuuwww sakit, sayang! Ini namanya penyiksaan!"


"Lo bikin gue malu, monyet! Bener-bener Lo ye!" Rain juga mencubit lengan, perut dan juga menarik kepalanya.


"Gemes gue! Biar leher Lo panjang kayak jerapah!"

__ADS_1


Rain juga menjewer telinga Bara sampai laki-laki itu merasa sakit. Seakan telinganya ingin lepas dari tempatnya.


"Ampun, Queen. Janji nggak gitu lagi."


"Maafin gue, cuma iseng aja sekali-kali kan cobain hal berbeda!"


Rain berhenti menganiaya Bara dan menghela napas panjang. Percuma juga marah pada lelaki ini. Semua udah terjadi.


"Mereka nggak ngenalin kita. Ini sangat jauh dari tempat tinggal kita. Lo nggak nyadar apa ya? Kalau kita udah jalan jauh banget.


"Ya sudah gue maafin!"


Tanpa berpikir panjang lagi Rain melangkah tanpa tujuan. Dia ingin menghabiskan malam bersama Bara. Supaya pikirannya tenang sebelum hidupnya kembali di usik oleh para paparazi yang pasti akan selalu memberitakan dirinya kemanapun dia pergi dan apa saja yang dia lakukan.


"Gue capek! Ngantuk!"


"Kita ke hotel!" Bara menjentikkan jarinya. "Sekamar berdua dan kita bersandiwara seperti sepasang suami istri." Ide yang gila.


"Hotel? Sekamar berdua? Lo gila? Nggak mau!"


"Ayolah, Queen. Kapan lagi coba kita punya waktu luang seperti ini. Manfaatkan gue sepuas Lo!"


"Lo pikir gue cewek apaan! Gue malah pengen cincang daging Lo terus kasih ke Pluto!"


Pluto adalah nama anjing pemberian Bara yang masih mungil. Rain rawat dengan kasih sayang penuh.


"Udah ayo! Lo nggak liat langit udah mendung gelap gitu dan sebentar lagi hujan!" Bara mendongak menatap langit.


"Astaga ... Ini malam, jelas langit gelap!"


Kesabaran Rain sudah habis. Ingin rasanya pinjam kantong Doraemon dan memutar waktu kembali di saat dia duduk di taman hotel. Ingin rasanya menolak ajakan lelaki aneh dan menyebalkan ini. Kalau saja ada pasar, ingin rasanya Rain jual Bara dan mengobralnya dengan harga murah.


Kini mereka sudah sampai di resepsionis hotel mewah. Bara hanya menunjukkan kartu identitasnya dan langsung diberikan kunci. Entah apa lagi ide gilanya. Kunci hanya satu dan itu berarti dia harus satu kamar dengan Bara?


"Dua kamar! Gue nggak mau sekamar sama lo!"


"Maaf, Nona. Kamar penuh dan hanya tersisa satu." Wanita itu tersenyum ramah.


Rain merasa ada yang tidak beres di sini. Aroma-aroma ada persekongkolan antara pihak hotel dan Bara. Namun, kapan dia menelpon pihak hotel ya? Sudahlah Rain tidak perduli apapun itu. Dia ingin sekali membersihkan diri dan beristirahat.


"Istriku, mandilah. Aku sudah membelikan baju untukmu, sayang. Sebentar lagi akan di antar. " Bara mencium pipi Rain dengan kilat.


Rain menginjak kaki Bara yang hendak melangkah masuk ke kamar hotel yang sudah terbuka.


"Queen, jangan main kasar. Ayolah ... Kita main rumah tangga bohongan. Dulu waktu kecil pasti Lo pernah main kan?"


"Kita bukan anak kecil!" protes Rain.


Melihat mood Rain yang buruk akhirnya Bara mengalah saja. Dia memilih tiduran di sofa tanpa ada niatan mau membersihkan diri. Sementara Rain membersihkan wajahnya dari make up yang tebal itu. Rupanya Bara sudah memesan beberapa kebutuhan Rain saat ini gadis itu hendak membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur bergambar teddy bear.


Pilihan yang tidak buruk.


Ah rasanya Rain ingin melempar laki-laki itu sekarang juga. Ada saja tingkahnya.


Seperti sekarang ini setelah Rain mandi Bara sudah tidur di ranjang miliknya dengan dengkuran halus.


"Bara jorok! Mandi dulu sana!" Rain menarik tangan Bara hingga tubuh laki-laki itu terjatuh dari ranjang.


"Astaga ... Queen Lo kalau jadi istri gue bisa babak belur nanti!"


"Gue nggak mau jadi istri Lo. Mending Lo mandi terus keluar dari kamar ini!" ucap Rain dengan nada suara tinggi.


Bara menurut saja, dengan rasa kantuk yang sudah tidak tertahan dia memilih mandi supaya tidak gatal-gatal badannya.


"Mimpi apa gue bisa ketemu sama cowok aneh gini!" gumam Rain sebelum menarik selimutnya.


Berjalan jauh membuat kakinya sangat sakit dan lelah. Ini pertama kalinya Rain berjalan tanpa tujuan dan sangat jauh. Juga tidak membawa bekal apapun. Bahkan pakaian ganti saja tidak ada. Harus mendadak beli, ya buat Rain dan Bara itu tidak masalah karena rekening mereka saldonya tidak main-main. Kecuali buat kaum mendang-mending yang pasti tidak akan pernah berpikir atau bermimpi untuk menikmati hidup barang sehari seperti Rain dan Bara .


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2