
Balapan itu dimenangkan oleh Rain. Bara lagi-lagi tersulut emosinya, tapi dia tetap menahan karena ada misi tersembunyi. Bara tidak akan pernah melepaskan Rain begitu saja. Sementara Radit sudah dibawa ke rumah sakit karena luka yang cukup parah.
"Lo jangan pernah ganggu gue maupun Radit lagi!" Rain mendorong dada Bara dengan telunjuknya.
Sementara Bara hanya tersenyum tipis. Dia ... Benar-benar jatuh cinta pada pesona gadis itu. Gadis multitalenta dan sangat langka ini.
"Baiklah!" Bara menyerah.
Mengetahui siapa Queen itu adalah tujuannya. Rupanya benar, jika menyakiti Radit Queen pasti akan keluar. Hanya saja Bara tidak percaya jika gadis yang membuat dia babak belur adalah Queen. Sekarang semua orang tahu siapa ratu sirkuit itu.
Rean datang dengan napas yang tersengal. Dia takut jika sesuatu terjadi pada Rain. Tanpa sadar juga dia menggenggam tangan Mentari agar tidak tertinggal. Gadis itu sudah lelah berlari mengikuti lari Rean yang cepat.
"Rain!" panggil Rean. " Lo baik-baik aja?" tanyanya sambil memegang wajah Rain dan membolak-balikkannya.
"Gue baik-baik aja, Rean!"
Bara mengernyit. Kenapa mereka bisa saling kenal? Itu berarti geng Aksara juga tahu siapa Queen itu. Bara dengar tidak sembarang orang yang tahu. Hanya orang yang spesial dan Raditlah yang tahu siapa Queen ini.
"Lo sampai nyakitin adek gue, Lo bakal berurusan sama gue!" Rean menunjuk Bara yang santai itu.
"Kalem, bro! Gue nggak apa-apain dia kok!"
Rain kembali menaiki motornya. "Mending sekarang ke rumah sakit!" ajak Rain kepada Rean.
"Siapa yang sakit!"
"Nih cowok tengil udah buat Radit babak belur. Dia harus tanggung jawab buat bayar rumah sakit itu. Kalau sampai kabur, gue bakal kejar Lo sampai manapun!" Rain menyeringai. Tentu membuat orang bergidik ngeri.
Dia seperti pembunuh berdarah dingin.
***
Rain berlari sepanjang lorong rumah sakit menuju UGD tempat Radit berada. Tadi, setelah dia selesai balapan, Rain mendapatkan kabar dari Marvels bahwa Radit masuk rumah sakit. Bukan karena luka yang Bara berikan, tapi lelaki itu mengalami kecelakaan saat hendak pulang. Grandmanya tiba-tiba menelpon dan membuat dia pulang lebih dulu tanpa berpamitan kepada Rain. Begitu, kata Marvels yang kebetulan datang atas permintaan Rain untuk menjaga Radit.
Rain memelankan langkahnya saat melihat di depan ruang UGD ada Fania, Alex, grandma Rima dan .... Gwen.
Tubuh Rain menegang saat melihat tatapan grandma Rima yang tajam tertuju padanya. Rain tetap melangkah untuk mendekat. Apapun yang terjadi dia tetap akan menemui keluarga Radit dan menanyakan keadaannya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rain dari tangan Rima. Tamparan sangat keras menimbulkan dengungan di telinga dan panas menjalar di kepala Rain.
Fania langsung memeluk gadis itu. "Mama kenapa tiba-tiba menampar Rain?" tanya Fania yang terkejut bukan main.
Di saat sedang genting begini, mertuanya justru menambah masalah.
"Ma,"panggil Alex.
__ADS_1
"Kalian ini masih saja membela gadis sialan ini. Gara-gara dia! Cucu Mama jadi seperti ini!"
Wajah Rima sudah memperlihatkan betapa tidak sukanya Rima kepada Rain.
"Bukan sama Rain, ini kecelakaan, Ma. Jangan salahkan dia yang tidak tahu apapun!" bela Fania.
"Kamu! Anak sedang berjuang bukannya berdoa untuknya malah membela gadis sialan ini!" Rima menunjuk ke arah Rain. Dia sudah ingin menampar demi meluapkan emosinya.
"Pergi dari sini! Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi di depan saya!" teriak Rima.
"Ma, sudah! Ini di rumah sakit. Suara mama bisa mengganggu kenyamanan yang lain!" Alex mencoba menenangkan mamanya.
Sementara Gwen tersenyum puas, dia tidak perlu lagi mengotori tangannya untuk menyingkirkan Rain. Gadis yang tidak jelas asal-usulnya itu.
"Terima kasih atas tamparannya, Nyonya Rima. Saya tidak akan pernah lupakan ini. Saya harap Radit sembuh dan baik-baik saja. Karena saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Saya juga tidak akan pernah lagi muncul di hadapan kalian. Permisi!"
Rain bukan gadis yang akan menangis mendapatkan ini. Dia gadis yang kuat, meski sebenarnya hatinya sakit dan ingin menangis karena hal ini. Namun, dia tetap tegar agar tidak membuat musuhnya itu puas.
"Baguslah! Kamu memang tidak pantas untuk cucu saya! Silahkan pergi dari sini, gadis sialan!" Rima hendak kembali menampar Rain.
Namun, gadis itu sigap menangkap tangan Rima.
"Saya tidak akan membiarkan tangan ini kembali menampar saya!" ucap Rain.
Di belakang gadis itu sudah ada Rean dan Mentari. Mereka hanya menatap Rain, Rean yakin gadis itu bisa menyelesaikan semuanya. Meski dia tidak tahu duduk permasalahannya.
Rima menghentakkan tangannya. "Apa-apaan kamu ini! Berani mengancam saya rupanya!" Rima sudah naik pitam. Tidak menyangka jika Rain benar-benar berani melawannya.
"Semoga gadis yang ada pilih itu sesuai dengan keinginan anda!" Rain melirik ke arah Gwen.
Sementara Fania menggenggam erat lengan Rain agar gadis itu tidak tersulut emosinya. Dia sudah sangat pusing. Mendengar kabar Radit yang membuatnya syok dan kini harus menyaksikan pertengkaran mertuanya dengan Rain. Alex hanya diam saja. Sudah tidak bisa berkata apapun.
"Tentu saja dia gadis baik-baik! Bukan seperti kamu yang tidak jelas asal-usulnya! Gadis brutal! Orangtua kamu memang tidak bisa mendidik anaknya untuk lebih sopan kepada orang yang lebih tua!"
"Saya bisa lebih sopan, tergantung orang tua itu!" Rain menghela napasnya.
Lelah dan muak kepada orang-orang yang selalu merendahkannya. Namun, dia tidak perduli. Ini memang pilihannya bukan? Menutup identitas aslinya.
"Semoga Radit mendapatkan fasilitas yang baik di rumah sakit ini!"
"Tentu saja! Rumah sakit ini milik Gwen dan kamu tidak pantas untuk menginjak rumah sakit ini! Pergi dari sini sekarang juga!"
Rima sudah seperti orang gila, dia sangat emosi dan ingin menjambak juga mencakar Rain yang selalu menjawabi ucapannya.
"R-Rain ... Jangan__" Fania menatap sendu Rain sambil menggeleng.
Rain menepuk pundak Fania sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku pulang ya. Radit pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat!"
Rain pun pergi meninggalkan mereka. Dia benar-benar lelah karena Rima menguras emosinya. Sementara Rean dan Mentari mengikuti langkah Rain dalam diam. Mereka berdua membiarkan Rain tenang lebih dulu, nanti juga Rain akan berbicara lagi jika sudah tenang.
"Milik Gwen ya? Gadis itu benar-benar picik!" gumam Rain ketika sudah sampai di parkiran rumah sakit. Menatap sekitar rumah sakit itu.
"Rain, jangan berbuat hal di luar dugaan. Di sana ada pacar Lo yang sedang berjuang!"
Rain melirik ke arah Rean. "Lo ngapain di sini!" Dia baru sadar jika Rean dan Mentari mengikutinya.
Itu berarti Rean melihat semuanya? Astaga ...
"Jangan bilang Lo tahu?"
"Telat! Lo nggak nyadar gue lari-larian ngejar Lo!"
Rain mendesah pasrah. Entah apa yang bakal dia terima dari Damian. Rain yakin Rean akan mengatakan semuanya tentang malam ini.
"Dasar Cepu!"
"Apa?" Rean melotot tidak terima dikatakan seperti itu.
"Lo bakal ngadu ke bokap kan?"
"Mana ada gue ngadu!"
Rain mengernyit, sedetik kemudian dia melihat seseorang berpakaian serba hitam menghilang dari balik pepohonan. Sekarang Rain tahu kenapa Damian mengetahui setiap gerak-geriknya.
"Sialan!" teriak Rain frustasi.
"Lo ngatain gue?"
Rain menggeleng dan pergi meninggalkan Rean. Dia menuju ke pohon. Dimana ada lelaki yang sedang bersembunyi di sana.
"Rain kenapa?" Tubuh Mentari sebenarnya sudah bergetar sejak tadi.
Melihat kejadian demi kejadian yang benar-benar mengejutkan. Namun, genggaman tangan Rean membuatnya sedikit lebih tenang.
"Liat aja apa yang dia lakukan!"
"Rean, bantu Rain!" pinta Mentari.
Namun, Rean tetap diam di tempat. Dia sudah tahu jika Rain bisa menyelesaikan sendiri. Kalau butuh bantuan pasti Rain segera datang.
"Percaya saja sama Rain."
Bersambung ....
__ADS_1