Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 58


__ADS_3

Bara mulai memejamkan matanya, meski pikirannya juga sedang kacau. Sebenarnya masalah Bara cukup besar. Tentang dia yang meminta pindah sekolah seperti berganti baju, juga tentang seorang gadis yang mengaku hamil dengan Bara. Padahal Bara sudah mengancam gadis itu tapi tetap saja tidak mau mengaku siapa yang telah menjebak dirinya. Bara tidak kenal sama sekali dengan gadis itu.


Hal ini telah sampai di telinga Alpha dan tentu saja papanya itu sangat marah besar. Meminta Bara untuk jadi lelaki yang bertanggung jawab. Alpha akan memindahkan Bara jika dia bersedia menikahi gadis itu atau home schooling saja. Alpha bukan orangtua yang memikirkan bibir, bebet dan bobot seperti orang kaya pada umumnya.


Dia juga tidak akan meminta gadis itu mengugurkan kandungannya. Alpha bukan orang tua yang seperti itu. Biar bagaimanapun itu kesalahan putranya dan Bara harus bertanggung jawab.


Maka di pantai itulah Bara berlari dari semua masalah. Bukan Bara pengecut, hanya saja masalah itu tiba-tiba datang setelah balapan selesai.


Awalnya Bara mendapatkan tantangan dari Rafa untuk bisa mendapatkan Queen.


Malam itu Rafa sedang berkumpul bersama gengnya dan kebetulan melihat Bara yang juga ikut duduk di kafe tersebut. Rafa mendekati Bara untuk sebuah tujuan. Mengingat Bara adalah lelaki bad boy dengan gayanya yang sombong maka Rafa akan mengerjai dirinya.


"Ngapain Lo di sini!" tanya Bara dengan nada sinis.


"Santai, Bro! Gue ke sini mau kasih Lo tantangan!" Rafa menyeringai.


Sebenarnya lelaki ini cukup sakit hati dengan tingkah Queen yang menolaknya mentah-mentah. Menurut Rafa, Queen itu sama seperti gadis lain. Hanya covernya saja yang berbeda jadi ya ... Berlagak sok.


Bara menatap tajam Rafa dengan wajah yang juga datar.


"Lo percaya nggak? Kalau di zaman sekarang masih ada cewek perawan?"


Pertanyaan Rafa lumayan menarik untuk Bara.


"Semua cewek sama aja! Luarnya doang gadis tapi dalamnya rasa janda!" jawab Bara santai.


Mengingat semua cewek yang mendekatinya pun rela melakukan apa saja hanya demi menjadi kekasihnya. Bahkan mereka juga rela memberikan tubuhnya demi memuaskan Bara, yang penting mereka bisa menunjukkan ke semua orang kalau dia adalah kekasih Bara.


"Termasuk ... Queen!" Ucapan Rafa itu semakin membuat Bara terpancing.


Lelaki itu juga penasaran dengan siapa Queen dan bagaimana wajahnya. Sejak malam itu dia tiba-tiba ikut balapan dan dikalahkan oleh Queen, rasa penasarannya muncul dan Bara selalu melihat Queen diam-diam jika ada balapan. Namun, Queen selalu memakai helmnya dan tidak melepaskan sembarangan.


"Apa mau Lo, hah!"


"Lo buat taruhan sama Radit. Kalau Lo menang maka dia harus katakan siapa Queen dan dimana dia sekolah atau tinggal. Lo dengan mudah bisa jebak Queen lalu nikmatin tuh cewek!"


Bara mengangguk setuju, kebetulan dia juga penasaran dengan Queen. Hanya Radit yang dekat dengan gadis itu.


"Dia susah di raih, Boy! Asal Lo tahu itu!"


Rafa berdecak, lalu melirik ke arah Luna yang sedang duduk bersama Samuel, "Lo liat tuh cewek yang dulunya cupu dan susah di raih. Sekarang apa? Dia pemain handal! Jangan liat covernya!"


"Terus keuntungan buat Lo apa?"


"Dendam gue ke Queen terbalas! Gue mau dia sakit hati. Kalau perlu di gilir sekalian!" Tawa Rafa pecah. Membayangkan kejadian itu saja sudah sangat puas.


"Oh, maksud Lo ... Lo pengen Queen hancur di tangan gue?"


Rafa mengangguk, dia tidak mau mengotori tangannya untuk balas dendam.


"Deal!" Bara mengulurkan tangannya.


"Murni tidak ada embel apapun. Jangan seret gue juga kalau ada kejadian apa-apa. Gue hanya kasih Lo tantangan!"


"Oke!"


Mereka pun berjabat tangan. Bara menyetujui tantangan Rafa.


"Kalau Lo menang juga jangan ganggu geng gue lagi!"


"Tergantung! Kalau sampai anak buah Lo cari masalah, maka gue nggak janji."


"Ya, baiklah gue bakal bilang ke mereka."


Bara memilih pergi, dia hendak menemui Radit dan memberikan sebuah tantangan.


Dan di sinilah Bara berada. Di kafe tempat Radit berada. Lelaki itu duduk sendiri sambil menunggu Bara.


"Apa kabar?" tanya Bara basa-basi. Bukan tipe bara sekali.


"Nggak usah basa-basi. Apa mau Lo!" kata Radit santai.


Radit dan Bara tidak pernah memiliki masalah. Mereka juga tidak kenal, hanya saja geng mereka sama-sama kuat dan terkenal di takuti oleh musuh.


Jika dibandingkan memang ada perbedaan. Geng Bara lebih unggul dari geng Radit.


"Kita balapan. Kalau gue kalah gue kasih mobil sport keluaran terbaru juga motor gue. Kalau gue menang Lo harus katakan siapa Queen dan identitas dia!"


Radit mengepalkan kedua tangannya. Dia tidak mungkin menjadikan kekasihnya taruhan. Dia juga tidak mau kalau Bara tahu siapa Queen sebenarnya. Radit tidak mau kekasihnya itu mendapatkan masalah dengan Bara. Radit tahu apa niat busuk Bara.


"Deal!" kata Radit. Tentu saja dia memiliki rencana yang tersembunyi.


Dia tidak bisa mengalahkan Bara tapi dia tidak akan pernah memberitahu siapa Queen. Biarlah dia yang terkena masalah asal masih bisa melindungi Rain.

__ADS_1


Bara yang bad boy dan terkenal brengsek! Radit tidak akan tinggal diam jika kekasihnya di ganggu oleh lelaki lain.


Rupanya diskusi mereka tidak seperti yang Bara pikirkan. Radit langsung menyetujui.


Hingga malam itu tiba dimana Bara sangat emosi karena Radit ingkar janji. Berakhir dengan kehadiran Rain yang memberikan semua jawabannya dengan penuh emosi.


Bara menjadi sadar, jika semua gadis tidak bisa di dapatkan dengan mudah. Sepertinya ucapan Bara tentang gadis semua sama dan rasa janda itu salah. Melihat kemampuan Rain yang pandai bela diri, Bara menyimpulkan gadis itu tidak akan mudah di raih maupun di sentuh.


Sialnya, Bara malah terpesona dengan Rain yang ternyata adalah Queen.


"Arrrghhhh, sial!" Bara mengeram, ketika kedua matanya tak lagi bisa terpejam.


Dia menatap datar layar ponselnya yang tiba-tiba menyala dan juga bergetar. Ada sebuah panggilan dari kontak bernama 'Papa'. Bara malas sekali untuk mengangkatnya.


Pasti papanya itu akan mengomel dan meminta pertanggung jawaban kepada gadis yang sama sekali tidak Bara kenal.


"Siapa sih tuh cewek, hah! Siapa yang udah bayar dia buat hancurin gue! Brengsek!" Bara meremas rambutnya frustasi.


Bara memilih keluar dari villa itu dan berjalan menuju pantai dengan tiga botol minuman keras. Dia tidak perduli jika akan mabuk malam ini. Biarkan rasa lelahnya itu hilang untuk sejenak.


Baru saja Bara hendak meneguk minuman itu, suara seseorang mengagetkan dirinya.


"Nggak semua masalah bisa di selesaikan dengan minuman beralkohol!"


Bara menoleh, ada Rain yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan lurus. Bara tentu saja tercengang dengan kehadiran gadis itu. Gadis yang baru saja memenuhi pikirannya.


"Lo ngapain di sini?" Bara kembali meletakkan botol itu. Dia tidak jadi minum.


Jika dia memaksa minum, Bara tidak mau melakukan perbuatan konyol yang mengakibatkan Rain marah. Pertemuannya dengan Rain yang tidak sengaja itu dan membuat mereka akrab saja, Bara sudah sangat bersyukur.


"Gue pengen aja nikmatin pemandangan pantai malam hari!" Rain mengangkat kedua bahu. Kedua tangannya masuk ke dalam saku hoodie.


Meski selalu memakai hoodie atau kaos oversize, Rain tetap terlihat cantik. Wajahnya selalu terlihat natural. Tidak seperti gadis pada umumnya yang seperti tante-tante.


Kenapa di zaman seperti sekarang ini, dimana sedang maraknya hubungan **** bebas dikalangan remaja, Rain sangat jauh berbeda. Dia gadis langka yang bisa melindungi diri. Pikir Bara.


Memang seharusnya setiap gadis itu mau belajar ilmu bela diri agar tidak terjebak dalam kenikmatan yang penuh dosa dan mengakibatkan kerugian dimasa depan.


"Dingin, Queen. Lebih baik Lo masuk!"


Memanggil nama Rain itu sebenarnya sangat susah bagi Bara. Dia kan mengagumi Rain sebagai Queen. Jadi Bara selalu menyebut nama Queen di setiap dia melihat gadis itu bahagia karena menang balapan.


"Lo ada masalah?" Rain tidak memperdulikan perintah Bara.


"Gue emang brengsek, Queen, tapi buat ngerusak masa depan seorang cewek itu nggak pernah terpikirkan sama gue!"


Rain menatap Bara dan memilih diam. Dia membiarkan lelaki itu bercerita. Dengan Bara yang mau bercerita begitu saja, Rain sedikit simpati. Jarang ada lelaki yang mau berbagi masalah dengan orang yang baru saja dikenalnya. Mungkin Bara sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menyelesaikan masalahnya itu.


"Bahkan gue nggak pernah lakuin itu, meskipun mereka memberikannya dengan suka rela demi dapetin gue. Demi keuntungan buat mereka. Agar semua orang tahu kalau mereka pernah jadi kekasih gue." Bara menghela napas lelah.


"Gue nggak pernah lakuin itu. Ya, gue deketin tuh cewek buat seneng-seneng aja. Buat dia seneng tanpa harus menggunakan tubuhnya. Gue cuma manfaatin bibirnya aja."


Rain mendelik, sungguh jujur sekali Bara ini. Bahkan lelaki itu nyengir tanpa dosa.


"Bibir Lo udah terkontaminasi dong. Pasti puluhan cewek yang ngerasain itu!" Rain terkekeh.


"Nggak juga. Mereka yang mau, tapi gue nggak lebih dari batas ciuman. Temen-temen gue yang udah biasa celup sana celup sini pun selalu berusaha jerumusin gue buat ke hal-hal itu, nggak pernah gue lakuin. Gue nggak mau jalani sebuah hubungan yang nggak sehat."


Rain sangat terkejut dengan semua penjelasan Bara. Dia menatap kedua mata Bara untuk menemukan kebohongan di sana. Tidak ada kebohongan, hanya ada keputusasaan yang Rain temukan. Jadi ... Penilaian Rain tentang Bara yang celup sana sini itu salah. Bara terlihat brengsek dan bad boy itu tidak pernah melakukan hal tersebut.


Oh, tidak! Rain sungguh malu dengan ucapannya kemarin. Kalau saja dia bisa menarik lagi ucapannya ...


"Maaf, gue pernah nuduh Lo kalau Lo si brengsek yang udah celup sana celup sini."


Bara menyemburkan tawanya. "Tampang gue emang terlihat cowok brengsek, tapi gue nggak sebego itu, Queen. Nanti yang ada gue kena penyakit dan masa depan gue hancur."


Rain mengangguk, setuju dengan ucapan Bara kali ini.


"Jadi ... Ada gadis yang mengaku hamil sama gue, katanya gue udah merenggut keperawanannya saat gue mabuk. Aneh ya, padahal selama gue ke Indonesia tuh nggak pernah mabuk lagi. Sekarang doang ini karena gue udah ... Nggak tahu lagi harus gimana!" Bara memalingkan wajahnya.


Mencoba untuk menahan air mata karena dia terlalu gengsi kalau harus menangis dihadapan seorang gadis. Apalagi Bara baru mengenalnya.


"Gue udah janji sama bokap nggak bikin ulah lagi. Makanya gue berhenti jadi anak bandel. Bokap marah karena kabar ini. Dia nggak percaya kalau gue nggak pernah lakuin itu. Gue juga nggak berharap nanti dapetin istri yang baik. Mana ada sih yang mau sama gue!"


"Bentar deh, jadi ... Masalah Lo itu soal cewek yang tiba-tiba dateng terus bilang dia hamil?"


Bara mengangguk.


Rain berpikir sejenak, mencerna semua cerita Bara.


"Lo di jebak nggak sih?" kata Rain.


"Gue udah coba paksa tuh cewek buat kasih tahu siapa yang nyuruh dia. Eh dia malah nangis dan bilang gue brengsek karena cuma mau manfaatin dia doang. Mana sambil nangis lagi."

__ADS_1


Ponsel Bara berdering, ada sebuah panggilan dari nomor yang Bara beri nama 'Cewek gila'.


"Apa lagi?"


Suara isakan itu terdengar, membuat Bara memutar kedua bola mata.


"Bar, Lo dimana? Gue pengen banget makan pizza. Kenapa Lo pergi? Lo nggak mau mengakui anak ini anak lo? Lo tega, Bar! Kalau Lo benci sama gue, seenggaknya Lo akui anak yang ada di rahim gue ini!"


"Gue lagi pergi ke luar kota. Please, jangan ganggu gue dulu kalau Lo mau gue tanggung jawab!" Bara sudah sangat lelah jika terus ditekan seperti ini.


Tangisan itu malah semakin keras dan terdengar memilukan.


"Lebih baik gue bunuh diri supaya Lo bisa hidup tenang. Gue nggak maksa Lo buat tanggung jawab kok!"


"Lo jangan nekat ya, brengsek!"


Gadis itu segera memutus panggilan teleponnya.


Rain segera meraih ponsel Bara dan membuat lelaki itu melotot.


"Lo apa-apaan sih, Queen!"


Rain menempelkan jari telunjuknya di bibir Rain sendiri. Memberi isyarat agar Bara tidak bersuara. Rain bangkit dari duduknya dan pergi untuk mengambil laptop. Bara tentu saja mengikuti langkah Rain.


"Kita dalem aja!" bisik Bara.


Entah mengapa jantungnya berdebar tidak karuan saat jarak dengan Rain sangat dekat. Apalagi saat Rain membekap mulut Bara agar tidak bersuara. Jantung Bara seakan hendak lepas dari tempatnya.


Di ruang tengah mereka duduk di karpet bulu. Rain berkutat dengan laptopnya, sementara Bara duduk di sebelah Rain menatap gadis itu yang dengan lincah memasukkan kode-kode. Bara pusing melihat layar laptop Rain karena bahasa yang tidak dia mengerti.


Lalu Rain mengetikkan kode di ponselnya, kemudian muncul sebuah peta.


Rain menarik tangan Bara untuk menjauh dari sana. Mereka ke gazebo belakang. Anehnya Bara menurut saja. Emosinya tadi kepada gadis gila itu dan kepada Rain yang merebut ponselnya hilang begitu saja.


"Ponsel Lo di bajak. Gue yakin besok itu cewek bakal dateng ke sini!"


Tubuh Bara menegang dan takjub secara bersamaan.


"Lo ...." Tenggorokan Bara tercekat. Bagaimana bisa Rain mengetahui semua itu.


"Lo seorang Hacker?"


Astaga ... Bara kagum kepada gadis dihadapannya ini. Dia benar-benar hebat dan serba bisa.


Bara juga sangat senang karena mungkin dia akan membutuhkan Rain untuk menyelesaikan masalahnya.


"Gue ... Boleh minta bantuan Lo?" Bara mengusap wajahnya frustasi.


"Astaga ... Masalah apa ini? Gue nggak tahu harus gimana! Gue nggak kepikiran ke sana dan lo___" Bara tidak melanjutkan ucapannya.


Kenapa dia terlalu bodoh, tidak berpikir sampai ke sana. Ada musuh yang mau bermain dengannya. Dia malah kabur tidak jelas seperti ini.


"Lo bodoh! Kenapa juga Lo nggak mikir kalau memang ada musuh yang mau Lo hancur!"


Bara mendengus kesal, baru kali ini dia di rendahkan oleh seorang gadis. Untung sayang, kalau enggak udah Bara maki itu Rain.


"Sekarang mending Lo tenangkan diri Lo dulu. Besok pagi kita mulai ikuti alurnya!"


"Jadi Lo mau bantuin gue?"


"Hapus postingan Lo maka gue bakal mau bantuin!"


Bara tersenyum senang dan reflek memeluk Rain erat.


"Ya gue hapus postingan tadi. Thanks, Queen!"


"Ehm!" Rain berdehem dan menyadarkan Bara.


"Ah, sorry, Queen!"


"Gue ... Mau istirahat dulu!"


Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengangguk. Dia jadi salah tingkah. Namun, saat Rain pergi Bara senyum sendiri.


"Siapa orang brengsek yang mau nyerang gue?" Bara nampak berpikir dan itu tertuju pada Rafa.


"Apa si lelaki licik itu?" gumam Bara.


Akhirnya lelaki itu memilih untuk tidur saja, setidaknya masalah itu akan bisa dia selesaikan dan sang papa tidak akan terus memaksa juga mengancamnya.


"Kalau sampai gue bisa nangkep itu tikus, maka gue akan buat dia jadi santapan buaya!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2