
Terima kasih buat kalian yang selalu setia baca kisah gaje ini. Jawaban rasa penasaran kalian sudah terjawab di bab ini ya.
🦋🦋🦋🦋🦋
Rain menatap layar monitor yang menampilkan keberadaan Gwen. Sungguh Rain heran dengan gadis yang penuh percaya diri itu. Bisa-bisanya mengaku jika kafe itu adalah miliknya dan dia seorang Queen. Gadis yang sedang tenar dikalangan kaum remaja. Seorang pembalap juga memiliki aura yang berbeda. Sungguh, foto-foto Rain yang selalu memakai helm itu memang damagenya ini emang beda. Siapa sih yang nggak iri sama dia. Memiliki postur tubuh yang sempurna dan di idamkan kaum hawa. Lalu penampilan yang terlihat keren.
Gwen ini urat malunya sudah putus. Otaknya konslet karena cinta yang tidak tersampaikan. Dia selalu mendapatkan apapun yang dia mau. Laki-laki model apa saja akan dengan mudah Gwen dapatkan. Sekarang semua hilang terlebih kedua orangtuanya sudah diambang kehancuran. Jika saja Damian tidak memiliki hati untuk memberi modal dengan syarat pergi dari negara ini, pasti Gwen dan keluarganya menjadi gelandangan.
Sayang, Radit terlalu bodoh untuk melepaskan Gwen begitu saja. Memberikan fasilitas mewahnya hanya karena dia mau membantu Radit mendapatkan Rain lagi. Gwen yang sakit dengan sejuta ide gilanya tentu bersorak gembira. Dia tidak perlu lagi tinggal di rumah mewahnya yang akan dijual oleh kedua orang tuanya. Dia bisa hidup mewah meski nanti Radit tidak akan pernah menganggapnya ada. Ini semua konsekuensi dari kejadian dimana Gwen menjebak Radit. Laki-laki itu akan memberikan apa saja asal Gwen membantunya untuk membuat Rain kembali ke dalam pelukan Radit. Dia menganggap itu sebagai bentuk tanggung jawab atas janin yang ada di perut Gwen jika nanti Gwen dinyatakan hamil. Ya gadis itu hanya menunggu kehamilannya saja, karena itu adalah senjata untuk mendapatkan Radit.
Kini rencana mereka berjalan lancar tanpa Gwen sadari. Gadis bodoh itu dengan santainya bernyanyi dan mengatakan jika dia adalah Queen. Padahal Leon sudah bertemu dengan Queen saat dia datang dan memergoki Rain turun dari motornya.
Leon hanya pura-pura kagum karena Rain sudah menceritakan semuanya. Pelayan dan petugas keamanan kafe sudah Rain koordinasi untuk mempermudah jalan Gwen mempermalukan dirinya.
Para pengunjung itu saja yang belum tahu. Sebenarnya jika mereka lihat pertandingan Rain dan Bara pasti tahu siapa Queen yang asli. Ya, dari banyak kerumunan para pengunjung itu ada beberapa yang memiliki foto Queen asli ketika dia memperlihatkan dirinya setelah balapan dengan Bara. Tentu saja mereka bertanya-tanya dalam hati, kenapa seorang Queen berbeda.
Rain dikejutkan oleh seseorang yang datang dari jendela. Dia adalah Radit. Ditangannya ada sebilah pisau yang entah untuk apa.
"Diam atau aku akan menusukkan pisau ini!" ancam Radit ketika Rain hendak bangkit dari duduknya.
Radit melirik pada layar monitor itu. Dia tersenyum miring, dalam hatinya dia berteriak senang karena Gwen sudah mengalihkan perhatian semua orang. Nyatanya banyak bodyguard yang menjaga tapi tidak kentara itu mempermudah jalan mereka. Radit dan lainnya sedang masuk perangkap.
"Dit, turunkan pisaunya!" kata Rain, dia juga takut melihat Radit yang seperti orang kesurupan.
Radit melangkah mendekat. Membuat Rain mau tidak mau bangkit berdiri dan hendak menghindar.
Sraak
Jaket kulit warna hitam yang Rain gunakan sobek dibagian Lengan. Beruntung tidak ada luka yang tergores di lengan Rain karena Radit hanya merobeknya saja. Dia ingin Rain diam dan tidak memberi perlawanan. Radit semakin maju dan menyudutkan Rain pada tembok. Napas tersengal dengan tatapan tajam. Tatapan yang dulu penuh cinta itu telah hilang dengan tatapan penuh puja dan dikabuti obsesi gila Radit.
Berawal dari rumah mungil yang selalu mereka kunjungi untuk menghabiskan waktu. Rain menemukan sebuah rahasia pada kamar yang Radit larang untuk di buka. Rain yang penasaran diam-diam masuk saat tidak sengaja menemukan kunci dibawah vas bunga yang ada di meja dekat kamar tersebut. Vas itu tidak sengaja Rain jatuhkan tapi beruntung dia segera menangkapnya dan tidak pecah.
Rain mengambil kunci itu dan mencoba membuka kamar tersebut. Berhasil!
Betapa terkejutnya dia ketika melihat beberapa laptop dan layar monitor.
Radit belum datang karena dia sedang latihan basket. Mereka janjian ke rumah mungil itu setelah Radit selesai latihan. Jadi Rain tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.
Mulut Rain terbuka ketika melihat beberapa layar menampilkan foto dirinya yang ... Tel an jang. Belum lagi foto yang terpasang di dinding, banyak sekali. Semua foto itu merupakan foto dirinya yang sedang berada di dalam kamar mandi.
Sungguh Rain tidak tahu jika Radit bisa memasang kamera pengintai di kamar mandi yang berada di rumah neneknya. Juga kamar mandi rumah mungil ini rupanya ada sebuah kamera.
Hal yang lebih parahnya di apartemen!
Rain mengingat-ingat sejak kapan Radit memasang? Ketika dia ingat saat sakit karena datang bulan, lalu Radit meminta izin ke kamar mandi.
"Ya, Tuhan!" Rain membekap mulutnya sendiri.
Selama itu dia baru sadar jika Radit adalah lelaki sakit. Hal ini mengingatkan Rain kepada sosok Dion. Rupanya Radit adalah sosok yang sama dan lebih parah.
Rain menyalakan salah satu layar laptop. Dia mencoba menggunakan sandi tanggal jadiannya dengan Radit dan ...
Berhasil!
Rain membuka aplikasi berlogo hijau itu. Ada banyak sekali obrolan pesan.
Rencana Pembullyan
Rain membuka grup tersebut. Ada Ella, Tomy dan Jeni.
Ella: Gue berhasil. Kenan jatuh cinta sama gue. Padahal cinta gue buat bapaknya. Dasar bego!
Jeni: Lo nggak waras emang. Sekarang apa lagi yang harus kita lakukan, Kak Radit?
Tomy: Njiir gue cuma dapet ***** Rain doang. Lo pada pelit banget! Tapi gue seneng sih bisa main sama Ella.
Ella: Jangan bahas di sini begi'!
Radit: Kirim fotonya, Lo berdua harus tetep bully Rain. Besok Lo kasih dia tikus mati. Lalu pas dia ke kamar mandi kunci pintunya dan siram sampe basah kuyup.
Jeni: Kak Radit agak laen emang cara cintanya!
Ella: Dia pengen jadi pahlawan Dimata Rain sayangnya nggak pernah di anggap ada karena mata dan hatinya tertutup sama Kenan yang bodoh.
Radit: Lo semua diem! Ini urusan gue, sampai kapanpun gue bakal ngejar dia.
Tomy: Lo bisa pilih Jeny apa Ella kalau pengen jadi mainan. Kenapa gadis cupu itu? Ya bener sih dia sexy abis. Gue nggak nyangka!
Radit: Setan Lo!
Tubuh Rain menegang membaca semua rentetan pesan itu. Dia tidak menyangka jika semua kesialan yang dia dapatkan adalah ulah Radit. Laki-laki itu yang sudah membuat mentalnya hancur dan berakhir ingin bunuh diri.
Rain kembali berselancar pada obrolan lainnya.
BLACK DEVIL
Radit : Gue berhasil dapetin dia. Sekarang Rain amnesia. Lo pada keren bisa bikin otak dia lupa semua fakta yang udah dia temuin!
__ADS_1
Nathan: Semua udah di urus. Nggak bakal ada yang tahu siapa orang yang nabrak dia. Rean juga nggak bakal tau!
Marvels: Anjir, dia udah jadian aja sama Rain!
Gilang: Lo jaga tuh anak.
Rain terus scroll kebawah hingga dia menemukan sebuah fakta yang mencengangkan.
Radit: Gila sih ini penangkapan yang keren. Padahal juga gue tahu semua siapa Tante Shely dan Ella.
Gilang: saingan Lo si Dion emang sakit ya! Bisa-bisanya hamilin adek sendiri.
Marvels: Dit, Lo jadi bebas dari Tante Shely dong.
Nathan : Haha udah nggak bisa nikmatin apem montok yang kayak para gadis.
Radit : diem Lo semua, gue udah dapetin apa yang gue mau. Gue nggak bakal lepasin Rain gitu aja.
Marvels : Lo tinggal bilang cinta apa susahnya sih, Dit. Harus banget bikin mental anak orang hancur, bikin dia hampir mati dan deketin nyokap tirinya entah apa tujuan Lo.
Radit: Lo bisa diem nggak, Vel? Nggak usah ikut campur karena ini urusan gue!
Nathan: Apa kabar sama Gwen? Lo udah rusak dia.
Radit: Siapa suruh main sama temennya Bara! Tiga orang lagi. Hati gue udah sakit dan lupain dia. Gue mau senang-senang dulu sama Rain.
Marvels : Udah, biarin dia bahagia. Seenggaknya Rain juga cinta sama Radit. Semoga aja si Gwen nggak balik.
Tanpa sadar Rain sudah meneteskan air matanya membaca rentetan pesan di aplikasi itu. Sungguh betapa jahatnya Radit. Dia memang laki-laki psyco. Coba pikir, laki-laki mana sih yang bilang cinta tapi malah membuat orang yang dicintai terluka mentalnya.
Saat hendak keluar dari aplikasi itu Rain melihat pesan dari Bara.
Bara: JANGAN PERNAH DEKETIN RAIN LAGI, DIA BAKAL TAHU SIAPA LO, BRENGSEK!
Radit: Sebelum dia tahu, gue bakal rusak dia dan nggak akan pernah bisa dia lari dari gue.
Bara: Tanding sama gue, kalau gue menang Lo harus jauhin Rain dia nggak pantes buat Lo!
Radit: Oke gue terima!
Rain tidak menyangka jika balapan itu rupanya bukan karena Bara penasaran pada siapa sosok Queen.
Rain kembali membuka pesan dari Gwen. Dari tanggal itu Rain mengingat saat dia kabur dan bertemu dengan Bara di pantai. Tepat saat dimana Radit kecelakaan.
Gwen: Lo harus terima pertunangan ini. Lo lupa kalau kita pernah punya anak dan Lo buat gue keguguran!
Rain segera menutup aplikasi itu dan mematikan laptop milik Radit. Dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan jam empat sore, Radit sebentar lagi selesai latihan. Dia harus cepat keluar dari kamar tersebut. Rain mengunci pintunya dan meletakkan kunci itu pada vas bunga.
"Itu peringatan karena kamu berani masuk ke kamar yang udah aku larang!" Rain tersadar dari semua lamunannya.
Dia menjauhi Radit perlahan karena menemukan fakta-fakta itu. Lalu di saat Radit kecelakaan dan laki-laki itu melontarkan kata kasarnya, Rain mengambil kesempatan untuk bisa lepas dari jeratan Radit.
Rupanya Radit tahu jika Rain sudah mengetahui semua rahasianya. Namun, mengapa selama ini Radit tidak marah dan bersikap seolah tidak tahu? Sungguh Rain tidak bisa membaca apapun yang ada di pikiran laki-laki sakit ini.
"Dit, Lo sakit! Lo harus pergi ke psikiater!"
Radit menempelkan pisau di leher Rain.
"Aku nggak butuh psikiater dan aku juga nggak sakit. Aku hanya butuh kamu, Rain!" katanya penuh penekanan.
Pisau itu ditekan dan membuat leher Rain sedikit tertusuk. Darah mulai keluar.
Radit tertawa dan dia malah menjilat darah yang ada di ujung pisau itu.
"Dit?" Tubuh Rain bergetar hebat.
Rain tidak menyangka jika dia salah mencintai seseorang. Jika dulu perutnya selalu dipenuhi oleh kupu-kupu ketika bersamanya, kini perutnya dipenuhi oleh cacing-cacing yang mengaduk seluruh isi perut dan membuatnya mual.
"Rain, kamu terluka?" Radit memegang luka yang ada di lehernya. Tatapannya menunjukkan kekhawatiran.
"Maaf, aku nggak sengaja!" Radit menghisap luka itu agar tidak ada darah lagi yang keluar.
Rain mendorong dada bidang Radit, tapi sialnya tenaga laki-laki itu sangat kuat. Kedua tangan Radit sudah menempel di tembok untuk mengunci pergerakan Rain.
Radit beralih pada bibir Ranum Rain. Menciumnya dengan paksa dan juga kasar. Bahkan Radit menggigit bibir bawah Rain sampai mengeluarkan darah.
Srak
Radit menggoreskan pisau di pipi Rain.
"Lo lebih baik mati! Daripada gue harus lihat lo sama orang lain!"
Rasa perih yang menjalar di pipi Rain berganti dengan rasa takut. Radit benar-benar seorang psyco!
Laki-laki itu pun mundur setelah membuat tubuh Rain gemetar hebat. Meski dia tomboy dan bisa melawan, tapi kali ini Radit sangat mengerikan. Dia hendak meraih tombol untuk memanggil bantuan. Namun, Radit kembali mendekat dengan membawa vas bunga.
Pyaaar
__ADS_1
Vas bunga itu Radit pecahkan dikepala Rain. Membuat kepala gadis itu mengeluarkan darah dan pusing melanda.
"Dit, Lo sakit!" Rain berjalan mundur untuk sampai ke pintu.
"Gue cinta sama Lo, gue minta maaf sama semua yang udah terjadi tapi apa? Lo nggak pernah mau maafin gue! Kalau gue nggak bisa milikin Lo maka laki-laki manapun juga nggak boleh deketin Lo. Jadi mari kita selesaikan semuanya malam ini. Gue bakal dapetin semua yang gue mau termasuk Lo! Lo nggak akan bisa lari dari gue!"
Plak
Rain berhasil menampar laki-laki itu. Memberikan bogem mentah dan serangan lainnya. Dia berusaha untuk keluar dari tempat itu, tidak mau terjebak lebih lama di ruangan itu bersama Radit.
Bugh
Bugh
Rain kalah karena Radit lagi dan lagi memukul dibagian kepala. Gadis itu merasa pusing dan darah semakin banyak yang keluar. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di dalam pikirannya. Rain pura-pura terjatuh.
"Dit?"
Rain pingsan hingga membuat Radit tertawa.
"Maafin aku, Rain. Semua aku lakukan supaya kamu kembali sama aku. Cintaku terlalu besar untukmu!" bisik Radit sambil mengecup bibir Rain.
Ingin rasanya Rain melubangi kepala Radit saat ini juga. Dia sangat mual mendengar ucapan Radit. Bukan cinta yang ada dalam diri Radit. Melainkan sebuah obsesi. Radit terobsesi pada tubuhnya saja.
Kalau cinta pasti Radit tidak akan menghancurkan mental Rain dan juga membuatnya hampir kehilangan nyawa. Rain tidak habis pikir, kenapa Rain asli tidak mengatakan ini semua jika dia tahu siapa Radit?
Rain merasa tubuhnya melayang. Saat ini Radit telah membopongnya ala bridal style. Radit melangkah entah kemana. Rain melihat pencahayaan yang minim juga suara orang yang sedang berkelahi. Rain berharap jika Bara melihat dan menyelamatkan nyawanya.
Suara mesin mobil membuat jantung Rain bertalu-talu. Entah kemana Radit akan membawanya.
"Cepat pergi sebelum mereka tahu!"
Supir pun menuruti perintah Radit yang baru saja memasukkan Rain dalam keadaan bersimbah darah. Pakaian yang dia kenakan sudah kotor oleh darah yang menetes dari kepalanya.
Hingga ...
"Queen, Lo baik-baik aja?" Suara itu menyadarkan Rain dari lamunannya.
Rain memalingkan wajahnya dari Radit yang dari kejauhan juga menatapnya. Laki-laki itu sudah tak berdaya dan dibawa oleh orang suruhannya. Bara yang sedang mengobati luka Rain pun sedikit bingung.
"Kita ke rumah sakit ya?"
Rain menggeleng, "Gue baik-baik aja!" Rain meyakinkan Bara supaya laki-laki itu tidak khawatir.
Sungguh Rain merasa berhutang budi pada Bara yang sudah menolongnya.
"Gue nggak nyangka kalau otak Lo ini lebih pantes jadi mafia!" puji Bara.
"Kenapa?"
"Mereka Lo buat mati mengenaskan dan gue aja nggak kepikiran soal itu. Bahkan ide gila Lo buat mutilasi supir itu bikin gue merinding tau nggak!" Bara bergidik ngeri jika ingat tentang rencana Rain.
Ya, Rain tahu siapa yang sudah coba-coba bikin dia celaka. Saat Bara mengatakan jika Gwen pelakunya dan Bara sudah menyandera supir itu, Rain lah yang menyuruh anak buah Bara menghabisi nyawa supir truk tersebut dan dimutilasi. Dimana mayat tersebut dia kirim ke rumah Gwen dengan kepala terpisah.
"Gue nggak akan pernah tinggal diem kalau ada orang yang coba-coba gangguin kehidupan gue!"
Bara mengangkat kedua tangannya, "Jangan bunuh gue juga, Queen. Gue nggak ganggu Lo kok. Gue cuma menikmati__"
Bara tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa?" Rain mengulum senyum.
Dia tahu jika Bara menyukainya, Bara banyak berjuang untuknya supaya bisa lepas dari jeratan Radit. Bahkan Bara juga yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Lo keren banget tadi pas nyelametin gue!" Rain mengalihkan pembicaraan supaya tidak canggung.
Rain sedikit mengintip saat Bara melompat ke atas mobil. Lalu anak buahnya dan juga orang-orang Rain datang dengan menodongkan senjata api. Sungguh Rain seperti melihat adegan di drama-drama Korea.
"Di pikiran gue cuma Lo, apalagi gue liat muka Lo penuh darah!" Bara membalut kepala Rain dengan perban setelah membersihkannya dan memberikan obat.
"Nah, Lo udah cantik. Sekarang ganti baju Lo yang udah penuh sama darah!" Bara memberikan paper bag yang berisi pakaian Rain.
"Thanks ya, Ra. Gue nggak tahu harus bilang apa lagi, Lo udah nyelametin nyawa gue!"
Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sudah jadi kewajiban gue, berkat Lo juga masalah gue kelar!" Bara tersenyum canggung.
Rain menuju kamar mandi yang berada di belakang kafe tersebut. Dia segera mengganti pakaiannya dan menyimpan pakaian yang penuh dengan darah.
"Andai Lo tahu, Dit. Kalau gue udah cinta banget sama Lo. Bahkan cinta gue melebihi rasa sakit ini. Sayangnya kebencian gue sama Lo udah menggunung!" batin Rain menatap pakaian dan jaketnya yang sudah berubah warna itu.
Rain keluar dari kamar mandi tersebut dan menutup kepalanya dengan tudung hoodie.
Rain tidak akan menyalahkan tentang cinta. Cara Radit yang mencintai dirinya salah. Cara pandang Rain yang menurutnya laki-laki itu baik karena masuk ke dalam kriterianya. Rain pikir menjadi cewek matre dan hanya memanfaatkan Radit saja sudah cukup, dia terjebak dalam pusara cinta yang Radit cipta hingga laki-laki itu mengikat kaki Rain dengan rantai agar terus bersama dan jatuh kedalam pesonanya. Beruntung dia gadis yang tidak akan mudah di jebak. Semakin perasaan curiga itu bertambah semakin dalam pula dia ingin mengorek siapapun yang mencoba mendekatinya. Termasuk Bara yang rupanya memiliki profil lebih baik. Bara dengan luaran yang terkesan nakal juga playboy itu rupanya laki-laki baik dan mungkin idaman kaum hawa.
Biarlah semua mengalir apa adanya, Rain belum berani membuka hati. Dia akan membuat Radit dan Gwen pergi dari negara ini dan dikirim ke negera terpencil supaya kehidupannya lebih tenang juga menyenangkan.
Bersambung ....
__ADS_1