Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 28


__ADS_3

Bab 28


Rain menghentikan motornya diparkiran dia menatap sekitar ada banyak mobil mewah yang berjajar dengan rapih dan juga beberapa motor. Rain menghela napas lelah, tugasnya kali ini benar-benar berat tapi membuat gadis itu tertantang. Dia yang meminta untuk turun tangan juga meski sempat diragukan oleh Rean dan juga Radit. Di sini mereka menggunakan geng Black Devil karena ada Arya yang tak lain ayah Kenan sendiri. Rean tidak mau semuanya gagal jika Kenan tahu hal ini.


Black Devil yang memiliki anggota ratusan orang itu pun mulai berpencar. Rain lebih dulu masuk dan menemui dua penjaga yang sudah dia kenal dan tentu saja menyuapnya. Mereka berdua juga sudah lelah bekerja dibawah kendali Shely dan juga Arya.


"Nona, akhirnya anda datang juga. Saya pikir anda berbohong," ucap Roy, penjaga pintu masuk club malam itu.


Rain tersenyum sini, "Gue nggak akan pernah main-main sama omongan gue!" ucap Rain. "Sekarang gue butuh bantuan kalian berdua!"


"Ya, katakan saja apapun yang anda butuhkan, Nona."


"Kalian penjaga di sini juga? Pasti kalian tahu dimana mereka sekarang? Katakan dan tunjukkan jalan yang aman untuk menuju ke sana! Kami akan melakukan penyerangan malam ini dan menangkap semua yang terlibat dalam kasus ini!"


Roy mengangguk mengerti.


"Tentu, Nona." jawabnya serius.


Roy pun menjelaskan bagaimana lika-liku jalan menuju dimana para petinggi yang sedang menikmati kemenangan mereka dan ada yang berpesta narkoba juga minuman keras. Mereka baru saja berhasil mendapatkan bisnis besar yang sangat menguntungkan.


"Nona masuk saja dari club ini. Dilantai dua nona akan melihat ada dua lorong. Sebelah kanan dan kiri. Namun, di sana ada banyak penjaga di setiap lorongnya. Nona sebaiknya melumpuhkan mereka terlebih dahulu. Dengan begitu para scurity guard pasti akan memeriksa lorong-lorong itu. Maka penjagaan di ruang utama akan melemah. Nona bisa melewati lorong sebelah kiri dan di sana ada pintu menuju ruang utama tersebut. Ada kaki tangan mereka yang sedang berpesta narkoba dan juga minuman keras bersama para wanita bayaran. Lalu di sebelah pintu ada lorong juga. Itu jalan menuju rumah yang sudah terhubung dengan club ini. Mereka gunakan khusus untuk para pejabat tinggi untuk bersenang-senang. Bersama gadis-gadis yang telah Shely jual kepada mereka. Ada juga para gadis yang sedang disekap karena tidak mau pekerjaan kotor ini. Mereka nantinya akan di kirim ke beberapa negara dan juga menjadi pendonor organ tubuh yang dibutuhkan. Nona bisa dengan mudah ke sana jika pertahanan pertama berhasil dilumpuhkan," jelas Roy secara terperinci.


"Kenapa kita tidak langsung serang area belakang club ini?" Radit tiba-tiba menyambar. Rupanya lelaki itu sudah datang sejak tadi dan mendengar obrolan Rain.


"Tidak, Tuan. Kalian bisa mati tertembak jika langsung ke belakang club. Jalan paling aman ya seperti yang saya katakan!"


"Oke, baiklah. Lo ada saran nggak biar kita bisa lumpuhkan penjaga?"


"Sebaiknya Nona dan Tuan Radit pergi terlebih dahulu untuk memancing mereka. Lalu Nona bisa gunakan para anggota untuk melumpuhkan mereka dan kalian berdua bisa meringkus para pengguna narkoba tersebut."


"Di dalam hanya orang-orang biasa yang menyukai dunia malam, selebihnya mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi di lantai dua. Sementara lorong ke kanan adalah tempat para penyewa gadis penghibur saja!"


Radit mengangguk paham.


"Oke, kalau gitu kita let's go!" sambung Radit.


Rain masuk ke dalam dengan kedua telinga ditutup. Suara dentuman musik itu benar-benar memekakkan telinga. Rain mengedarkan pandangan, sungguh pemandangan yang menjijikan. Di setiap sudut dia melihat banyak orang yang berada dibawah pengaruh alkohol. Ada juga yang sedang berjoged dibawah panggung menikmati alunan musik diskotik yang membuat kepala pening. Mereka yang berpasangan pun tidak tanggung-tanggung melakukan ciuman di depan umum.


Benar-benar tidak ada rasa malu sama sekali.


Di sebelah kiri, di ujung sofa Rain melihat adegan yang luar biasa menakjubkan. Beberapa lelaki dengan para wanita penghibur pun sedang bercumbu. Seolah tidak ada tempat yang privasi.


Radit segera menutup mata Rain saat hendak menoleh ke kiri. Karena di sana lebih liar. Lebih dari sekadar remda (remas da-da).


"Ini adegan dewasa, kamu nggak patut melihatnya, sayang!"


Rain terkikik geli, dia pun melangkah dengan mata yang tertutup oleh telapak tangan Radit. Ini tentu saja membuat Rain kesusahan.


"Woah, anak muda! Mainan langsung ke atas! Kalah kita!" celetuk seorang lelaki yang sudah dibawah pengaruh alkohol.


Radit melewati para pemabuk itu dengan susah payah. Banyak pasang mata yang melihat ada juga yang mencibir Radit dan menggodanya.


"Ganteng, sama aku aja daripada sama pacar kamu yang tidak berbentuk ini!" Wanita itu mencolek dagu Radit.


Radit sudah melepaskan tangannya karena sudah tidak tahan dengan mereka yang menganggu.


"Bro, sebaiknya pakai pengaman. Gue ada banyak nih!"


"Lo cobain deh isep ini. Lebih menyenangkan!"


Radit tidak perduli apapun itu dia menggenggam tangan Rain untuk menaiki anak tangga.


"Ya ampun, tampan sekali. Ah, bikin aku berkedut!" celetuk seorang wanita dengan pakaian kurang bahan.


"Apanya yang berkedut?" tanya Rain tidak mengerti.


Radit menepuk keningnya sendiri. Benar-benar perjuangan menuju ke lantai dua. Gadisnya pasti sudah terkontaminasi dengan ucapan-ucapan fontal tadi.


"Ganteng, boleh dong goyang dikit!" Saat wanita tadi ingin memeluk Radit dengan sigap Rain menghalanginya.


"Lebih baik sama aku, sayang. Wanitamu ini pasti sangat payah. Tidak bisa melakukan berbagai gaya dan kedua bukitnya sangat datar. Aku bisa kok menggoyangkan kamu hingga pagi?"


"Sudah sana pergi!" Radit menarik tangan Rain untuk menaiki anak tangga. Daripada gadis itu semakin pusing mendengar ucapan wanita genit tadi.


"Lo suka ya sama dia?"


"Apa sih, Rain. Nggak usah dengerin. Dia itu kan wanita pemuas!"


"Tadi dia ngajakin apa emangnya? Kenapa banyakin gaya sama goyang-goyang?"


"Sssttt .... Beri kode pada mereka!" Radit berbisik, dia sudah tidak mau lagi meladeni ucapan Rain. Bukan saatnya juga.


Rain menekan tombol darurat diponselnya yang sudah terhubung pada anggota Black Devil.


"Mau apa kalian ke sini! Anak dibawah umur tidak boleh masuk!" ucap lelaki berbadan kekar dengan rambut gondrong itu.


"Kami sudah bayar, lagipula kenapa kalian menghalangi kami!"


Lelaki itu tertawa, "Anak bau kencur mending pulang kalian. Minta susu sama mama lalu tidur!" ejeknya.


Rain memilih melangkah ke lorong sebelah Kanan untuk memancing emosi lelaki itu.


"Heh, gadis ingusan! Tempat ini dilarang keras untuk anak dibawah umur!"


"Gue nggak perduli!"


"Oh nantangin ya!"

__ADS_1


Lelaki itu hendak memberi pukulan para Rain. Dengan sigap Rain segera menendang perut buncitnya. Sementara teman satunya hadir dan perkelahian dimulai.


Para anggota Black Devil juga sudah melakukan penyerangan. Rain berhasil melumpuhkan lelaki gondrong itu. Dia muntah darah dengan tiga gigi yang copot lalu tidak sadarkan diri.


Radit juga berhasil membuat lelaki gempal satunya tumbang.


Radit menggandeng tangan Rain untuk setengah berlari ke lorong sebelah kiri. Di sana juga para anggota sedang berkelahi. Radit dan Rain sebisa mungkin berhati. Dibelakang Rain ada beberapa anggota Black Devil yang siap melakukan pertarungan selanjutnya.


Benar saja di ujung lorong ada pintu yang memiliki penjagaan ketat. Mereka sudah berkelahi dengan anggota lainnya.


"Keadaan di sini sudah aman, Bos!" suara itu terdengar dari walkie talkie yang dibawa Radit, Rain dan anggota yang berjalan dibelakang mereka.


"Keadaan di depan aman. Kita bisa langsung melakukan penyerangan ini! Harus hati-hati karena mereka sedang mabuk berat dan membawa senjata api!" ujar seseorang dari walkie talkie itu. Dia adalah Fade, anggota Black Devil.


Mereka tentu saja bekerja sama dengan para aparat, hal ini sudah diprediksi sebelumnya. Anggota Black Lion milik Albert juga sudah meringkus markas Shely yang lainnya.


Tempat penyerangan Rain ini memang yang paling berbahaya.


"Siapa kalian!" Salah satu lelaki yang sedang sakoy itu menodongkan sebuah pistol. Ada juga yang mengambil pisau dan segera menodongkan ke arah Rain.


"Gue nyari Arya, dimana bos kalian itu!"


"Anak ingusan! Ngapain kalian cari bos kami!"


Rain sebenarnya sangat tidak tahan dengan pemandangan ini. Di pojok ruangan ada sepasang manusia yang sedang berhubungan badan. Mereka tentu saja menjadi tontonan. Namun, mereka tidak perduli itu. Akal sehatnya sudah hilang.


"Kau suka? Apa kau mau seperti itu? Mari kita bersenang-senang, sayang?" Lelaki yang menodongkan pisau itu merangkul Rain.


Dor


Dor


Dor


Suara tembakan tiga kali terdengar dan tepat sasaran. Lelaki yang disamping Rain sudah tertembak di bagian betisnya.


Suara ricuh mulai terdengar, sementara mereka yang sedang meraih kesenangan duniawi tidak perduli. Mereka terus melakukan hal itu tanpa takut akan mendapatkan pukulan.


"Serang dia!" ucap lelaki yang sedang memegang botol minuman keras itu.


Suasana mulai tidak kondusif. Bahkan suara musik yang kencang hampir tidak terdengar karena berganti suara pukulan dan senjata api.


"Rain, Ayo!"


Rain yang sedikit linglung karena bau alkohol dan ruangan itu pun segera berlari. Dia mengikuti arah langkah Radit.


Tepat di rumah rahasia itu mereka berhasil bertemu dengan orang-orang penting.


Ada seorang lelaki dengan tubuh gempalnya memakai kimono dan duduk santai di sofa sambil meraba area dada gadis cantik yang berusia sepantaran Rain.


"Tuan Bona Atmaja!" Sebaiknya kau menyerah saja!"


***


Sementara Rean sudah babak belur akibat melawan beberapa orang. Tujuh lawan satu, ini tidak adil. Namun, Rean tidak perduli dengan tubuhnya yang terasa perih. Ini perjuangan demi sang mama yang telah mereka bunuh.


Bugh


Bugh ...


Bugh ...


Srak ...


"Argghh ..." Rean mengeram saat lengannya terkena pisau.


"Rean!"teriak Marvels. Dia langsung menendang orang yang berhasil melukai Rean.


"Kita obati dulu lukamu!"


"Nggak usah, ini bukan saatnya lagi!"


Marvels menyobek kaos yang dia kenakan dan mengikat lengang Rean agar darah tidak terus menerus keluar.


Rean melangkah dengan langkah tertatih. Dia segera masuk ke rumah yang dimaksud. Keadaan Rain terancam karena berhasil ditahan oleh para pejabat tinggi.


"Rain, Radit!"


"Woah, rupanya ada lagi mangsa kita. Tangkap dia dan ambil ginjal juga hatinya!"


"Jangan tangkap mereka!"


Suara dentuman membuat mereka yang ada di sana terkejut. Tapi tidak dengan Bona. Dia tertawa puas.


"Sebentar lagi nyawa kalian akan habis. Pasang segera bom ditubuh mereka!"


Wajah Rean berubah pucat pasi. Rupanya suara tadi adalah bom. Ruangan Club malam tadi sudah habis dilahap sijago merah.


"Bapak Boan yang terhormat segera angkat tangan karena anda sudah kami kepung!"


Bona mengeluarkan pistol dan menodongkan pada gadis yang sejak tadi dinikmati. Gadis itu sudah pucat pasi.


"Gadis ini akan mati jika kalian tidak menurunkan pistol kalian!"


Sementara Rean mencoba melepaskan ikatan ditubuh Rain.


Dor

__ADS_1


Dor


Dor


Tepat di betis Bona tertebak. Lelaki itu tersungkur bersamaan dengan suara pistol yang mengenai kepala gadis itu.


"Aaaggggrrrrhhhhhh" pekik Rain.


Beberapa orang segera menggeledah setiap ruangan. Menemukan beberapa lelaki dengan gadis muda. Rain melepaskan para gadis yang sedang di sekap. Tubuh mereka benar-benar seperti kerangka manusia hidup. Mengenaskan.


Pertarungan tumpah darah terjadi antara anggota Bona dan juga Black Devil.


"Cepat keluar dari sini! Kita tidak ada waktu lagi!" teriak Radit yang melihat kedipan lampu berwarna merah yang melambat. Di sana sudah terpasang bom.


Sialnya Arya sudah kabur bersama Ella terlebih dahulu. Juga para pembunuh bayaran itu.


Radit, Rean, Rain dan Marvels panik luar biasa karena melihat kedipan yang berada di kotak itu semakin cepat. Mereka berlari secepat mungkin yang mereka bisa. Menyelamatkan diri masing-masing. Sementara Bona dan mayat gadis tadi sudah berhasil dibawa keluar.


"Ayo, Rain!" Radit terus menggenggam tangan Rain.


"Aku tidak kuat!" Suara itu dari gadis yang di sekap tadi. Rean segera membopong gadis itu.


"Rean awas!" Runtuhan bangunan hampir saja mengenai Rean.


Tim penolong segera memadamkan api dengan APAR. Asap dimana-mana dan kebakaran mulai membesar. Pemandangan dibawah sana mulai redup dan menyesakkan. Pun suhu yang memanas hanya bisa membuat keadaan semakin genting.


Rain dan yang lainnya terus menuruni anak tangga. Gadis yang berada dalam gendongan Rean pun meminta turun karena sudah merasa kuat. Dia juga tidak enak jika merepotkan lelaki yang tidak dikenalnya. Bisa keluar dari tempat itu saja gadis itu sangat bersyukur.


"Apa semua aman? Bawa para anggota ke markas! Ingat jangan ada yang berpencar! Semua harus kemarkas!" teriak Radit.


Markas miliknya sangat besar karena itu adalah sebuah rumah dengan tiga lantai.


Fade dan para Tim medis pun segera membantu teman-teman mereka yang terluka dan membawanya ke mobil ambulans yang satu per satu sudah pergi membawa para korban terluka akibat peledak.


Pada akhirnya Rain, Radit, Marvel, Rean bisa selamat dari ruangan yang sudah tidak berbentuk itu.


Rain menghela napas lega.


"Aagh, tolong!" Suara gadis itu terdengar lemah.


Rean menoleh dan melihat gadis itu dengan kaki yang terjebak diantara reruntuhan kayu besar.


"Rean!" panggil Rain.


"Pergilah, gue bantu dia!"


"Rean, jangan!" teriak Rain.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Rean melangkah ke arah gadis itu dan menolongnya.


Rean melirik ke arah truk yang berisi peledak itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Ah, ****!" umpatnya.


"Ayo tarik kakimu!"


"Tidak bisa, ini sakit!"


Rean mencoba menarik kaki gadis itu sekuat tegang.


"Terima kasih," ucap gadis itu saat berhasil mengeluarkan kakinya.


Boom ..


Rean terhuyung begitu saja. Dia segera menyambar tubuh gadis itu dan mengeratkan pelukannya. Gadis itu berada di bawah kungkungan Rean.


Ledakan itu terjadi begitu saja bersama dengan kepulan asap dan kebakaran yang cepat menyambar.


"Rean!" Rain meraung melihat api yang besar itu. Saudara kembarnya ada di sana.


Rain hendak ke sana tapi Radit mencegahnya.


"Itu bahaya, Rain!"


"Rean ... Dia ... Ada di sana! Nggak mungkin!"


Rain tidak bisa berpikir jernih. Tujuan dari penyerangan ini adalah menangkap Arya. Otak dari pembunuhan berencana terhadap Kimberly. Malah mengantarkan nyawa Rean. Gadis itu berlutut. Dia menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya lemas dan dia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang telah memasang bom di sini.


Padahal rencana penyerangan ini tidak akan ada yang tahu. Apalagi Shely. Anehnya semua seolah sudah di persiapkan.


"Rean ..." Tangisnya terdengar mengalihkan seluruh perhatian. Alex dan Fade segera berlari ke arah Rain yang berusaha ditenangkan oleh Radit.


Hati Rain terasa sakit, kilasan tentang pertama kali pertemuannya dengan lelaki itu berputar bak kaset kusut. Dia tidak mau kehilangan Rean. Lelaki yang selalu memberikan warna dalam hidupnya. Lelaki yang menjadi alasan untuk dia tetap bertahan terjebak dalam tubuh gadis ini.


"Ada apa?" tanya Alex.


"Rean ... Rean ada di sana!" Rain berusaha untuk berlari ke arah Rean.


Tubuh Alex membeku, mendengar ucapan Rain. Ini ... Tidak mungkin terjadi ....


"Kamu ... Bicara apa?"


"Rean ada di sana! Aku ingin menolongnya!"


Benar, Alex tidak salah dengar. Jika cucu atasannya itu terjebak diantara kobaran api yang membesar.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2