Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 43


__ADS_3

"Pesawat Trijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182 jurusan Jakarta - Singapura dikabarkan telah kehilangan kontak dengan menara kendali setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.Berdasarkan informasi yang dihimpun, kontak terakhir terjadi pada pukul 15.00 WIB pada hari ini. Pesawat jenis Boeing 737-524 itu membawa setidaknya 100 penumpang yang terdiri dari 12 orang kru kabin."


Berita dari salah satu stasiun televisi itu benar-benar mengejutkan Gina yang sedang menikmati camilan dan secangkir teh bersama Rain.


Telinga Gina dan Rain terasa berdengung ketika mendengar kelanjutan penyebab pesawat itu jatuh ke dalam danau. Mereka berdua tidak bisa mendengar dengan jelas sebab terjadinya kecelakaan.


".... Sampai saat ini belum diketahui __"


Kenan segera mematikan televisi itu agar Gina tidak syok. Melihat wajah pucat sang mama membuatnya takut.


"Ma, udah ya jangan di pikirin!" kata Kenan saat Gina menoleh pada putranya tersebut.


"Ya Tuhan, kita ... Kita masih dilindungi, Ken." Gina memeluk Kenan dan menangis karena haru.


Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tetap berangkat dan mengabaikan ucapan Rain. Beruntung Kenan mau menurunkan eogisnya dan percaya dengan ucapan Kenan.


"Semua berkat Rain, Ma. Kalau saja dia tidak datang karena firasat buruknya mungkin __"


"Iya, kamu benar, Ken. Syukurlah kita selamat. Uang bisa dicari tapi nyawa tidak bisa kita ganti ketika takdir sudah berkata."


Kenan mengangguk, sementara Rain masih diam mematung. Dia tidak menyangka jika bayangan itu rupanya nyata. Semua firasatnya terjadi. Kenapa bisa seaneh ini. Mungkin itu karena Rain asli?


Dia tidak menginginkan Kenan pergi untuk saat ini?


Kalau begini, Kenan akan kembali bersekolah. Apa yang akan terjadi nanti?


"Rain, terima kasih ya. Semua ini berkat kamu." Gina beralih memeluk erat tubuh Rain.


"Rain hanya khawatir saja, perasaan Rain nggak enak. Makanya ke sini. Entah apa yang terjadi kalau saja Kenan menolak permintaan Rain." Gadis itu menundukkan kepala.


Suara dering ponsel membuat Gina tidak jadi berbicara. Tertera nama Mama di layar ponselnya. Mungkin sang mama sudah mengetahui berita ini. Dia bergegas mengangkat telepon tersebut.


"Gina .... Ya, Tuhan. Kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Kenan?"


"Gina ... Baik-baik saja, Ma. Kenan juga baik. Kami selamat karena tidak jadi melakukan perjalanan. Rain ... Dia meminta Kenan untuk tidak pergi dan alhasil Kenan membatalkannya. Rupanya dibalik kecemasan Rain dan juga aku .... Ada kabar buruk yang terdengar!"


Helaan napas dari Lily terdengar lega. Sejak tadi dia merasa khawatir jikalau cucu dan putrinya itu kenapa-kenapa.


"Syukurlah. Sudah kalian di sana saja. Mama memang senang kalian akan tinggal di sini. Sebaiknya nanti ketika Kenan kuliah. Sekarang lanjutkan sekolahnya saja dulu!"


"Iya, Ma. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Nanti aku telepon!"


"Ya, sehat selalu, sayang!"


Gina mengangguk. Meski Lily tidak bisa melihat itu. Gina mematikan teleponnya dan kini beralih pada Rain.


"Rain, Tante minta ... Hubungan kamu sama Kenan selalu baik-baik saja ya."


Rain hanya mengangguk sambil melirik ke arah lelaki yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan entah.


**


Rain menghentikan motornya di tepi jalan. Lalu dia berlari ke arah bukit. Dia menatap ke langit, sambil membentangkan kedua tangan dan kedua mata yang terpejam. Menikmati angin sore yang menenangkan. Melupakan segala beban di pundak. Dia pikir tidak ada lagi tugas beratnya. Dia pikir Kenan pergi maka semua akan baik-baik saja. Dia masih merasa benci pada lelaki itu, tapi ... Perasaan pemilik tubuhnya sangat kuat ketika bersama Kenan.


Jadi ini yang dinamakan kehidupan kedua? Mungkin Kenan akan menjalani kehidupan keduanya lebih baik. Meski jalan cerita dengan kehidupan kedua Rain sangat berbeda.


Rain membuka mata dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu perlahan dia hembuskan.


"Rain, tugas gue udah selesai ya! Lo jangan bikin beban lagi ke gue! Biarin gue nikmatin kebucinan ini bersama Radit!" ucapnya sambil menatap langit.


Berharap Rain asli akan mendengarnya.


***


Mentari terus meremas tali sling bagnya. Sudah lima menit berlalu dia duduk di halte yang tidak jauh dari gang rumahnya. Dia ragu untuk melanjutkan perjalanan menuju kafe tempat seseorang yang sedang menunggunya.


Mentari terus membentuk huruf abstrak dengan kakinya di trotoar. Kegugupan semakin bertambah kala mengingat wajah seseorang yang selalu menari-nari di dalam pikirannya.


Suara deru motor berhenti tepat dihadapannya. Mentari mendongak untuk melihat siapa gerangan yang datang?


"Rean?"


"Ayo naik!" titahnya.


Mentari tertegun ketika melihat lelaki itu datang. Kenapa dia bisa tahu daerah rumahnya. Kalau sampai Rean tahu dimana rumahnya, Mentari harus siap-siap menerima jika Rean akan menjauh.


Rumah sederhana milik orangtuanya tidak sebanding dengan rumah milik Rean. Bahkan kasat mereka jauh berbeda.

__ADS_1


"Mentari?" panggil Rean. Membuat gadis itu tersentak.


"I-iya!" Mentari dengan langkah ragu pun mendekat. Lelaki itu memberikan helm padanya. Setelah memasang, Mentari duduk dibelakang Rean.


Rean menarik kedua tangan Mentari agar melingkar di pinggangnya.


"Gue nggak mau Lo jatuh!" ucapnya.


Mentari diam saja dan menurut apa kata Rean. Dia selalu saja takut jika dibonceng lelaki itu. Berakhir dengan degupan jantung yang bertalu-talu dan napas tercekat karena lelaki itu selalu saja mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


Dalam perjalanan tidak ada yang buka suara karena percuma juga pasti tidak akan terdengar. Kali ini Rean melajukan motornya dengan santai. Menikmati sore hari bersama sosok gadis yang telah memporak-porandakan hatinya.


Pikiran Mentari masih terus menerka. Apa mereka ini sedang berkencan? Atau hanya sekadar pertemuan saja. Mengingat perjanjian itu Mentari menggeleng pelan. Ini bukan kencan, melainkan tugasnya untuk menemani Rean kemanapun dia pergi.


Terus saja Mentari meyakinkan hatinya jika itu bukan kencan. Berusaha menghilangkan segala rasa. Toh di sini hanya dia yang memakai hati kan? Begitu isi pikiran Mentari.


Motor sport Rean telah sampai di sebuah restoran. Bukan kafe seperti yang Rean katakan. Restoran itu sangat mewah dan semakin menegaskan jika Rean tidak pantas bersanding dengannya.


"Ayo!" Rean menarik tangan Mentari.


Ketika membuka pintu yang terbuat dari kaca itu, Mentari merasa jika dirinya hanyalah seekor semut kecil. Seumur hidupnya dia tidak akan pernah bisa makan di tempat semewah ini. Dulu ketika melihat restoran mewah Mentari selalu berandai-andai jika suatu hari nanti lidahnya bisa merasakan masakan orang kaya.


Hari ini ... Hari ini Mentari merasa jika Tuhan sudah mengabulkan harapannya itu. Anggaplah ini kesempatan Mentari untuk menikmati makanan dengan harga yang membuat ginjalnya tercubit.


Rean membawa Mentari duduk di kursi paling pojok. Dimana kursi itu dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan sore di luar sana. Orang yang berlalu lalang juga para kendaraan yang saling menyalip agar segera sampai ketempat tujuan.


"Lo mau pesen apa?" tanya Rean yang memberikan buku menunya.


Melihat buku menu dan harganya saja membuat Mentari menelan saliva. Uang jajan sebulan mana cukup membeli makanan yang terlihat menggiurkan itu. Mentari menutup kembali buku menu itu karena sudah pusing. Tidak paham dengan makanan orang kaya dengan nama yang rumit.


"Rean aja yang pilih!" bisik Mentari.


Melihat wajah Mentari yang malu juga bingung itu sangat lucu. Rean hanya tersenyum dan setelah itu memanggil pelayan.


"Aku pesan .... Sirloin Meltique dua, Spaghetti Aglio Olio with Salmon satu,Chiken Florentine satu, Ice lemon tea glass dua,"kata Rean kepada pelayan.


Melihat Rean yang menyebutkan menu tanpa membuka buku tersebut, membuat Mentari yakin jika ini adalah restoran favorit Rean. Makanan yang Rean sebutkan tadi terlalu rumit untuk dicerna di dalam otak kecil Mentari.


Sekarang ... Mentari hanya ingin melihat bagaimana bentuk makanan itu.


Sebenarnya sejak tadi Mentari tidak pede duduk dihadapan Rean di dalam restoran ini. Dia yang pas-pasan sementara penampilan Rean yang santai itu tetap saja mencolok. Menandakan jika dia orang berada.


Beberapa pasang mata pun sesekali menoleh ke arah mereka. Membuat Mentari semakin ingin lari saja daripada nanti membuat Rean malu ketika makanan sudah datang dan dia tidak tahu cara memakannya.


Kalau saja Mentari tahu akan dibawa ke restoran mewah ini, Mentari akan memilih makan bakso atau pecel lele saja.


"Iya, ini restoran favorit gue sama Rain. Menurut gue steak di sini tuh enak juga paling murah."


Rain? Steak harga ratusan itu bagi Rean murah?


Kalimat itu semakin menampar mentari. Apalah daya seratus ribu dia harus mengirit agar bisa cukup selama dua minggu.


"Kalian sering kencan ya?"


Rean mengerutkan keningnya. "Kencan? Siapa?" tanya Rean.


"Rean sama Rain!"


Rean terkekeh, "Nggak lah. Kita hanya makan malam biasa kalau lagi males masak." Seketika Rean sadar dengan ucapannya. "Maksud gue males masakan rumah masing-masing! Gitu!" ralat Rean yang tidak mau membuat Mentari curiga.


"Oh, gitu. Rean sama Rain cocok banget. Kenapa nggak jadian aja?"


Melihat wajah Mentari yang kesal ketika mengatakan itu membuat Rean mengulum senyum.


"Lo cemburu?"


"Enggak ya. Aku cuma nanya aja!"


"Bilang aja cemburu!"


"Ih, Rean! Aku nggak cemburu. Emang salah ya kalau bilang gitu?"


Tangan Rean terulur untuk mengusap kepala Mentari. "Nggak kok. Lo berhak bilang gitu dan Lo juga berhak cemburu!"


Wajah Mentari memerah, kedua matanya juga memanas. Dia memilih menundukkan kepala untuk menghindari tatapan Rean.


Tidak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan. Aromanya benar-benar menggugah napsu makan saja.

__ADS_1


Mentari melihat makanan yang terhidang dimeja. Benar saja dugaannya. Mentari tidak tahu cara makannya. Garpu dan pisau? Bagaimana cara memakannya coba kalau cuma pakai garpu dan pisau. Mentari biasa makan pake sendok kadang juga pake tangan lebih nikmat.


Kalau Spaghetti sih dia doyan. Pernah beli dipinggir jalan dengan harga lima ribuan.


Ada hal yang membuat Mentari menjerit ketika melihat makanan di meja itu, porsinya sangat sedikit jadi Mentari mana kenyang? Orang kaya itu memang beda ya.


"Mentari, Ayo makan! Kenapa bengong?"


"Ah, i-iya, Rean!" Mentari memilih menyeruput lemon teanya terlebih dahulu. Untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Juga melihat bagaimana cara Kenan memakan daging itu.


Setelah puas mengamati, Mentari kini mencobanya dan ....


Berhasil.


Lidahnya terkejut, kedua matanya memanas karena terharu. Makanan mewah yang masuk ke dalam mulutnya itu benar-benar enak. Mentari pun lagi dan lagi memotong daging dan menikmatinya dengan lahap.


Mentari bodoh! Tidak anggun sama sekali!


Mentari menatap sekeliling, dia pun kembali menikmati makannya dengan perlahan.


"Gimana? Enak nggak?"


Mentari mengangguk, ini sangat lezat. Namun, saat mengingat harganya dia lebih baik makan bakso, mie ayam atau pecel lele lebih kenyang. Satu porsi Sirloin Meltique saja tidak membuat Mentari kenyang. Dia sudah habis dan sekarang Rean menyodorkan spaghetti untuknya.


"Habisin ya, biar kenyang!"


Mentari mengangguk saja. Anggap ini rezeki jadi jangan ditolak.


"Rean?" Panggilan dari seorang gadis mengalihkan pandangan Rean dan juga Mentari. Mereka menoleh bersama ke arah gadis tersebut.


Wajah Mentari seketika masam, melihat siapa yang datang.


"Wah kebetulan ya kita ketemu di sini."


Rean tidak memperdulikan gadis itu, dia melanjutkan makannya.


"Boleh nggak aku gabung?" tanya gadis itu, yang sudah duduk saja di kursi sebelah Rean.


Padahal Rean belum menjawabnya lho. Mentari semakin tidak nyaman saja. Apalagi penampilan gadis itu sangat anggun, cocok sekali dengan Rean. Mentari merasa seperti butiran debu saja berada diantara dua orang tersebut.


Gadis itu terus menatap Rean yang diam saja. Lelaki itu melirik Mentari yang terus menunduk menikmati makanannya dalam diam. Rean tahu jika Mentari pasti tidak nyaman.


"Aku seneng deh akhirnya bisa makan berdua sama kamu kayak gini!"


"Hmmm ...," jawab Rean cuek.


Tidak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan gadis itu. Rupanya dia sudah memesan tadi. Melihat Rean dia langsung saja pindah meja.


"Rean, ini enak lho. Kamu mau coba? Nih buka mulut kamu!" gadis itu menyodorkan sepotong daging.


"Apaan sih, Key?"


"Aku mau nyuapin kamu, ini enak!" Rean mendorong tangan gadis itu.


Meski kesal, Keyla tetap saja bersikap biasa. Mengabaikan Mentari yang ada di sana.


"Rean, makasih ya udah anterin aku pulang kemarin!"


"Ya."


"Aku nggak nyangka___"


"Mentari, kamu sudah selesai makannya?"


Mentari mengangguk, dia sebenarnya ingin menghabiskan makanan itu tapi entah mengapa rasanya hambar.


"Ayo pulang!" ajaknya.


"Lho, Rean. Aku baru saja makan lho. Masa kamu udah mau pulang sih!" Keyla menarik lengan Rean. Lelaki itu segera menepisnya.


"Lo makan aja sendiri!" Rean menarik tangan Mentari. " Ayo, Mentari!" ajaknya.


Mentari dan Rean pun pergi meninggalkan Keyla yang sudah kesal. Dia menghentakkan kakinya dan sudah malas untuk melanjutkan makan siangnya. Rencana gagal.


"Liat aja nanti. Lo bakal jatuh ke pelukan gue, Ren!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2