Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 64


__ADS_3

Rasa penasaran Rain pun terjawab sudah. Bahwa dia pernah bertemu dengan Malina ketika menjadi Lea. Dulu saat Malina libur sekolah, dia akan mengunjungi Aldo dan menginap di rumah sang ayah. Kedua orangtuanya bercerai sejak mereka duduk di bangku SMP. Malina ikut dengan sang ibu dan Aldo dengan sang ayah. Saat itu Aldo selalu menceritakan tentang Malina kepada Lea. Meski hanya bertemu satu kali, tentu saja sekarang wajah itu tidak asing.


Sekarang ... Malina hendak menjadi kakak iparnya. Rain tersenyum hambar, ketika mengingat semua kisahnya. Takdir memang selucu itu. Terjebak dalam tubuh seorang gadis enam belas tahun yang mempunyai kehidupan penuh lika-liku.


Masalah dengan Damian selesai. Dia bisa membujuk papanya untuk tetap menyembunyikan identitasnya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya. Rain tidak perlu pengakuan. Dia sudah nyaman hidup seperti ini.


Sekarang ... Masalah dengan Radit belum kunjung padam. Api itu terus membara. Setiap kali mengingat semua perkataan Radit di dalam pesan singkat itu. Saat lelaki itu dipenuhi emosi karena kesalahpahaman. Sungguh, Rain tidak menduga jika lelaki yang dia pikir lembut dan membuatnya nyaman, rupanya bisa melontarkan kata kasar kepadanya. Apalagi dia tidak mau mendengar semua penjelasan yang Rain berikan.


Lalu sekarang ... Lelaki itu menyesal.


Rain menghela napas lelah sebelum dia beranjak masuk ke dalam kamarnya. Saat hendak masuk, Rain melihat pintu kamar Radit terbuka. Rain segera bersembunyi. Rumah mereka berdekatan. Bahkan Radit bisa memanjat ke balkon kamar Rain.


Rain menatap lelaki itu yang nampaknya sedang melamun, ada rasa rindu yang sebenarnya bergelayut dihatinya. Namun, Rain segera menepis dia tetap pada egonya. Rain terus menatap lelaki itu dari kejauhan. Dia duduk di kursi balkon agar tidak terlalu terlihat. Rain kemudian melihat sosok gadis di belakang Radit dengan rambut yang acak-acakan. Gadis itu memeluk Radit dari belakang.


Hati Rain terasa sakit, ketika Radit mengusap lembut telapak tangan gadis itu.


Rain segera beranjak dari sana, semua sudah jelas kan? Bahwa hubungannya tidak akan pernah bisa bersatu kembali. Dia meraih laptopnya dan tengkurap di atas ranjang. Membuka sosial media, mencari nama yang ada di pikirannya.


Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali tidak merubah gestur Rain. Seakan gadis itu sudah tahu siapa yang datang.


Lelaki itu pun ikut merebahkan diri di samping Rain. Memeluk lengannya. Dari aroma parfumnya saja sudah Rain tahu siapa yang sedang berada di sampingnya.


"Gwen Stefani!" gumam lelaki itu.


"Lo ngapain cari dia?" tanyanya.


"Penasaran aja. Cantik juga ya!" jawab Rain santai.


Rean menjauhkan laptopnya. Lalu menatap Rain dalam. Bisa Rean lihat bahwa adiknya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang udah Radit lakuin, hm?" tanya Rean sambil mengelus pipi Rain.


"Nggak ada!" Rain hendak meraih laptopnya tapi di cegah oleh Rean.


Rean menarik tubuh Rain untuk bersandar di dada bidangnya. Rean membelai lembut rambut panjang Rain. Membiarkan Rain hanyut dalam pikirannya. Setelah itu bisa Rean rasakan tubuh Rain bergetar. Kaos yang dia kenakan mulai basah. Rean pun duduk bersandar di kepala ranjang dengan tetap memeluk Rain. Membiarkan adiknya menangis sampai hatinya merasa lebih baik.

__ADS_1


"Kalau nangis bikin hati Lo lega, nangis aja. Gue akan selalu dengerin apa yang Lo ungkapin!" Rean mengecup kening Rain.


Rain masih menangis tanpa suara. Kedua tangannya meremas kaos yang Rean kenakan sebagai luapan emosinya. Hati siapa yang tidak sakit melihat orang yang dia sayangi bersama wanita lain.


Meski Rain tahu itu adalah Gwen tunangan Radit. Namun, lelaki itu selalu menolak untuk di jodohkan. Radit selalu bilang untuk memperjuangkan hubungannya karena kedua orang tua Radit sudah merestui hubungannya dengan Rain.


"Apa salah kalau gue itu menaruh hati kepada seseorang? Gue selalu saja jatuh cinta sama lelaki yang salah. Ajarin gue buat jatuh cinta sama orang yang tepat. Kenapa dalam hidup ini selalu di hadirkan lelaki brengsek yang lagi dan lagi nyakitin?" kata Rain masih memeluk Rean dan dengan sisa tangisannya.


"Selama ini gue selalu di perlakukan buruk sama papa, gue nggak masalah. Mencari perhatian sama Kenan karena gue yakin dia lelaki yang tepat. Dia lelaki penyayang yang bisa ngertiin gue. Nyatanya ... Dia hanya manfaatin gue dan sekarang dia bilang menyesal. Meminta gue buat buka hati dan kasih kesempatan!"


Rean masih terdiam, mendengarkan semua unek-unek Rain.


"Gue di pukul, di tampar, di hukum bagaikan seekor binatang yang harus makan makanan sisa. Hidup gue terlalu pahit. Enam belas tahun yang nggak baik-baik aja. Mental gue di hancurkan sehancur-hancurnya. Mereka hanya bilang ... Maaf!"


"Gue milih bunuh diri karena lelah, lalu saat gue bangun rasanya ... Gue seperti hidup kembali. Menjadi diri yang baru dan membuka lembaran baru. Semua orang pun menganggap gue cari muka. Nyatanya gue bisa menutup mulut mereka yang selalu bully gue. Lo orang yang selalu pasang badan ketika gue di sakiti!"


Hati Rean terasa sakit, tenggorokan tercekat dan kedua mata memanas. Dia tetap dalam posisi memeluk Rain. Mengusap punggung gadis itu supaya lebih tenang. Dia ... Sudah tidak sanggup lagi jika harus membayangkan kejadian di masa lalu. Begitu berat rintangan yang telah Rain lalui.


"Gue pikir ... Dia baik, gue ngerasa dia kayak Lo. Selalu lindungi gue meski gue bisa jaga diri. Awalnya gue hanya anggep dia Abang sendiri supaya Kenan sadar. Nyatanya gue terjebak dalam kisah yang gue ciptain sendiri. Apa ini karma? Semua terlalu menyakitkan dan rasanya gue ... Nggak sanggup lagi untuk pura-pura kuat!"


"Dia ... Bersama gadis lain, gadis itu memeluknya dan dia membalas pelukan itu. Sakit ... Sakit banget!" Rain memukul dadanya sendiri.


Rean segera menarik kedua tangan itu. Memberikan pelukan ternyaman supaya Rain lebih tenang. Rean tahu Rain sedang hancur. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasa cintanya kepada Radit itu seperti dulu dia mencintai Kenan.


"Udah ya ... Udah, gue mohon jangan kayak gini!" Rean pun ikut mengeluarkan air mata. Sejak tadi dia tahan pun akhirnya tumpah sudah.


"Gue tahu Lo sakit hati, tapi Lo nggak boleh nyakitin diri Lo sendiri. Gue mohon jangan lakuin apapun yang bikin gue khawatir!" Rean memeluk erat tubuh Rain.


Keduanya terisak dengan perasaan yang berbeda. Mereka kembar dan tentu saja ikatan batinnya sangat kuat.


"Gue selalu ada buat Lo, Rain. Apapun yang terjadi gue selalu ada di sisi Lo. Gue yakin, suatu saat Lo pasti bakal dapetin orang yang bener-bener tulus sayang sama Lo. Lupain lelaki brengsek yang udah nyakitin Lo!"


"Lo gadis yang kuat, nggak pantes nangisin cowok kayak dia!" imbuhnya.


Rain pun segera melepas pelukannya dan menghapus air mata itu dengan kasar. Rean benar, seharusnya dia tidak menangis. Namun, entah mengapa hatinya sangat sakit tadi. Melihat Radit berduaan dengan Gwen. Nampaknya Radit sudah menerima gadis itu.

__ADS_1


Bahkan mereka berduaan di dalam kamar dengan rambut Gwen yang acak-acakan. Sudah menjawab dengan jelas. Sedang apa mereka tadi.


"Lo bener, nggak seharusnya gue nangis kayak gini. Makasih ya, Lo emang selalu ngertiin gue!"


Rean mengecup kening Rain, "Udah jangan nangis, jelek muka Lo!" Rean pun menghapus air mata Rain yang sudah membasahi pipinya.


"Bang, lama-lama gue bisa jatuh cinta sama Lo!"


Lelaki berhidung mancung itu langsung menoyor kepala Rain. Bisa-bisanya Rain berpikir seperti itu.


"Gue ke sini tadi mau ngajakin Lo balik. Tar malem Mentari datang."


Belum sempat Rain menjawab, ponselnya berdering panjang.


Rain menghela napas panjang setelah melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Radit nelpon!"


"Angkat aja! Nyalain loud speakernya gue pengen denger!" kata Rean.


Rain pun menurut saja.


"Rain, bisa nggak kita ketemu di taman biasa sore ini? Gue pengen ngomong sama Lo!"


Rain melirik ke arah Rean. Lelaki itu mengangguk, tapi Rain ragu untuk menemuinya.


"Oke!" jawab Rain dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Lo rese' gue mana mau ketemu!"


"Kalau Lo menghindar terus mau sampai kapan coba?"


"Iya sih, ya udah lah. Gue siap-siap dulu!"


Rain beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Dia hendak membersihkan diri. Sementara Rean keluar dari kamar Rain untuk melakukan video call dengan Mentari. Entah mengapa Rean bisa jadi sebucin ini sama Mentari. Rasanya selalu pengen deket dan ngobrol sama dia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2