Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 29


__ADS_3

Bab 29


"Rean ... Gue juga mau ikut sama Lo!"


"Rain, tenanglah!" Alex mencoba menenangkan tapi itu hanya percuma saja, tangisan Rain semakin kencang.


Sekarang apa yang akan Alex katakan kepada Albert tentang berita duka ini?


"Itu Rean!"


Rain mendongak saat mendengar ucapan Radit. Benar saja sosok lelaki dibalik gumpalan asap itu muncul bersama seorang gadis yang ada digendongnya. Membuat siapa saja yang melihat pun terkejut. Nyawa Rain seolah kembali, dia bangkit berdiri dan tersenyum lega juga menangis haru.


Rean dibantu berdiri oleh tim damkar yang juga menyirami tubuh panasnya dengan apar. Sementara Tim medis membawa gadis yang telah Rean selamatkan menuju ambulans karena keadaan yang tidak sadarkan diri.


"Rean!" Rain memilih berlari menghampiri Rean dan memeluk lelaki itu erat.


Baru saja Alex dikejutkan dengan ledakan yang menenggelamkan Rean, kini dengan kedua mata kepala dia melihat sebuah keajaiban. Lelaki itu yang terjebak di sana tadi masih sadarkan diri dan bisa berdiri tegak.


"Rain, gue baik-baik aja!" ujar Rean.


Radit yang melihat itu pun ikut terharu. Dia baru tahu jika anak kembar itu saling menyayangi. Bahkan kasih sayang mereka sangat kuat.


"Rean, syukurlah kamu baik-baik saja!" ujar Alex.


Rean tersenyum ke arah Alex, "Pak Alex, aku tadi menyelamatkan gadis itu!"


Alex mengangguk. Dia merasa lega, setidaknya tidak ada kabar duka datang untuk keluarga Albert.


Rean menatap gedung megah tadi yang kini sudah tidak lagi berbentuk. Dia merasa puas karena telah membalas semua kejahatan yang menimpa mamanya.


"Rean, Arya sudah ditangkap bersama gadis itu!" Alex berkata saat Rean sedang diobati lukanya.


"Mereka melarikan diri dari pintu belakang. Mobil mereka meninggal gedung ini sebelum bom meledak. Beruntung anggota kami dengan sigap mengikuti mobil tersebut."


"Mobil yang mereka kendarai menabrak pembatas jalan. Beruntung tidak mengalami luka serius."


"Bagus!"


Rain sedari tadi memeluk lengan Rean dan memperhatikan luka di tubuh lelaki itu. Sesekali Rain meringis karena melihat lukanya yang dibersihkan. Kejadian tadi membuat Rain benar-benar syok dan takut kehilangan Rean.


***


Proses evakuasi para korban sudah berhasil. Mereka mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit milik Albert. Lalu para tersangka yang juga terlibat di dalam masalah itu pun sudah ditangani oleh polisi.


Kasus pembunuhan Kimberley menjadi merembet. Banyak kejahatan yang telah Arya lakukan. Membuat sang istri syok dan jatuh pingsan. Akhirnya Gina harus di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang kritis.


"Lo kenapa nggak ngasih tahu gue, Ren!" ucap Kenan geram.


Di saat seperti ini hanya dia yang tidak tahu.


"Maaf, Ken. Gue nggak mau Lo ikut karena ada bokap Lo yang terlibat!"


"****! Gue pikir Lo sahabat ternyata ___"


"Rean benar! Kita nggak mau Lo gagalin semua ini. Siapa tahu bokap Lo manfaatin Lo supaya menghentikan penyerangan ini!" sahut Rain.


Kenan menghela napas, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Paru-parunya terasa terhimpit, kepala yang pusing karena masalah yang menimpa keluarganya.


Dia sendiri ... Menjadi anak tunggal tidaklah enak. Tidak memiliki sandaran ketika tertimpa masalah sebesar ini.


Kenan berpikir jika ucapan Rain ada benarnya juga. Lebih baik dia tidak tahu, Kenan yang sangat menyayangi Arya pasti akan luluh ketika melihat lelaki itu menatapnya dengan tatapan iba.

__ADS_1


"Apa Ella juga tertangkap?" Kenan mengalihkan topik pembicaraan.


Mereka sedang duduk di kursi tunggu yang terletak di ruang rawat Gina.


"Lo masih aja kepikiran sama gadis itu? Cih!" Rain berdecih, dia tidak habis pikir dengan Kenan. Masih saja menanyakan gadis yang sudah merusak kehidupan Kenan.


Kenan menatap ke arah Rain. Dia cukup terkejut melihat wajah gadis itu yang lebam.


"Cemburu?" tanya Kenan.


"Khem!" Radit berdehem untuk menyadarkan Kenan bahwa ada dia yang sudah menjadi penggantinya.


"Gue cuma nanya, apa salahnya?" sahut Kenan santai.


"Ella tertangkap. Dia korban tapi juga pelaku. Dia memakai narkoba."


Mengejutkan!


Kenan tidak mengetahui hal ini. Selama menjalin hubungan dengan Ella, dia hanya tahu gadis itu bekerja di kafe. Barang mahal miliknya juga Kenan tidak ambil pusing. Kenan pikir itu dari gaji sebagai pelayan kafe karena Ella sebatang kara.


Gadis itu benar-benar licik dan pandai menyembunyikan semuanya dengan rapat.


"Apartemen itu bukan dari orangtua Ella. Melainkan dari bokap Lo. Fasilitas mewah juga semua di sita!"


"Dan Lo jadi cowok terbodoh karena nggak tahu sama sekali!" Rain menambahkan. Hatinya terasa puas melihat wajah Kenan yang tegang.


"Gue ... Emang bodoh karena memilih batu karang dan meninggalkan berlian!"


Rean menepuk pundak Kenan, "Jangan di sesali!" kata Rean. "Lo mending fokus sama Tante Gina. Kalau ada apa-apa Lo bisa minta tolong sama gue!" Rean mencoba menguatkan Kenan. Sahabatnya sejak jaman SMP.


"Thanks, Ren!" Kenan memeluk Rean.


"Itu dia juga ikut berantem?" lirih Kenan.


"Ya, dia lebih jago dari kita!"


Kenan semakin mengagumi gadis itu yang sebentar lagi akan menjadi mantan tunangannya.


***


Damian meminta para pelayan untuk bekerja di mansion milik Albert. Mansion itu lebih besar darinya. Hanya ada beberapa pelayan saja dan Damian menambahkan untuk dibeberapa tempat yang jarang terpakai.


Kini dia tinggal di sana bersama ketiga anak-anaknya. Ando masih syok dengan yang terjadi. Dia juga tidak menyangka jika Rain dan Rean memang benar adik kandungnya. Selama ini Ando menanamkan kebencian kepada Rain karena telah membunuh Kimberley.


Kecelakaan itu terjadi ketika Kimberley bersama Rain.


Bahkan yang membuat Ando lebih tidak percaya jika Rain ikut andil dalam penyerangan itu. Dia tidak percaya adiknya sangat hebat.


"Ando," panggil Nenek Sania.


"Nenek!" Ando memeluk wanita paruh baya itu. Ini pertama kalinya Ando bertemu.


"Sudah besar rupanya. Mama dulu sering cerita dan mengirim foto kecil kamu!"


Ando tersenyum getir, dia sangat merindukan sosok Kimberley yang ternyata kecantikan mamanya itu menurun dari sang nenek. Rain pun memiliki paras yang mirip dengan Kimberley.


"Ando ... Baru tahu jika memiliki nenek dan kakek."


"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi dan kita sekarang buka lembaran baru!" Sania menepuk pundak Ando.


Lelaki itu mengangguk. Dia juga senang karena bisa bertemu dengan keluarga mamanya.

__ADS_1


***


"Kak, makasih ya atas semua bantuannya!" ujar Rain.


Radit terkekeh dia mengacak rambut Rain karena gemas. Mereka sedang berada di rumah pohon. Menikmati hari yang menjelang sore itu.


"Aku akan selalu ada untukmu, Rain!"


Rain tersenyum. Dia menatap lurus ke arah depan. Sekarang hatinya benar-benar plong. Pundaknya terasa lebih ringan karena beban yang dia pikul selama ini telah hilang. Rain hanya bisa pasrah untuk takdir selanjutnya. Jika dulu dia terjebak dalam tubuh gadis berusia 16 tahun untuk mengungkap semuanya, maka sekarang ....


Alasan apa lagi untuk dia bertahan?


Rain berpikir jika tugasnya sudah selesai dan mungkin Tuhan akan mengambil nyawanya juga. Tidak ada Rain asli maupun reinkarnasi Rain.


Rain meraih jemari Radit untuk digenggam, "Kak, jika keadaan tidak memihak pada hubungan kita bagaimana?" Rain mendesah pelan.


Ini ... Terlalu rumit kan?


Rain sudah terkena imbasnya sendiri. Awal yang hanya memanfaatkan Radit untuk membalas Kenan, nyatanya dia terjebak dalam kisah cinta ini.


Kisah cinta yang mungkin hanya terjadi di saat masa remaja saja. Kedepannya ... Rain tidak mungkin bisa melanjutkan itu. Banyak lika-liku yang akan terjadi. Apalagi jika sudah menyangkut perjodohan dari pihak keluarga. Mungkin Rain bisa menolak dan bahkan sudah tidak ada lagi perjodohan.


Sementara Radit? Lelaki itu selalu saja menghindar jika Rain bertanya soal siapa gadis yang telah dijodohkan dengannya.


"Bicara apa? Sudah aku bilang jangan pernah bahas apapun. Jalani saja dan aku yakin kita akan selalu bersama!"


"Sampai kakak lulus SMA?"


Radit menangkup wajah Rain, "Tidak! Sampai kita tua nanti. Aku akan menikahimu setelah kau lulus SMA!" Radit berusaha meyakinkan Rain.


"Sandra?"


Wajah Radit mendadak berubah. Dia sangat jengkel jika nama itu di sebut. Radit juga terkejut. Darimana Rain tahu tentang nama itu?


"Apa Oma akan setuju tentang hal ini? Kak, kita boleh berencana, tapi ... Semua keputusan itu ada ditangan Oma!"


Mengingat kata Fania jika Oma Nacita tidak bisa dibantah. Semua keputusannya harus selalu dituruti. Apalagi Sandra adalah gadis dari keluarga yang sangat terpandang. Gadis dengan didikan yang baik dan memiliki karier cemerlang.


"Aku memang orang berada, tapi tidak sebanding dengan Sandra, bukan? Apalagi aku gadis yang slengean begini!" Rain merasa minder jika dibandingkan dengan Sandra.


Rain tahu siapa Sandra karena dia sudah mencari tahu sendiri saat bertanya kepada Fania. Ya, Rain sering main ke rumah Radit jika sedang suntuk. Mama Radit ini sangat menyayangi Rain dan sudah menganggap seperti anak sendiri. Dulu dia adalah teman dekat Kimberley.


Bahkan dia pernah berencana untuk menjodohkan anak-anaknya. Hanya saja Fania tidak bisa membantah Oma Nacita yang tak lain adalah mertuanya sendiri.


"Stop!"teriak Radit. "Aku nggak mau kamu bahas dia!" Radit mengusap wajah frustasi. .


"Di sini!" Radit meraih tangan Rain dan meletakkan di dadanya. "Hanya ada kamu, Rain. Sudah lama aku menunggumu. Biarkan aku bahagia dengan hubungan ini. Aku nggak perduli tentang perjodohan kamu maupun aku!" bisik Radit dengan suara yang bergetar.


Dimata Radit, Sandra hanyalah seorang gadis yang manja dan egois. Meski gadis seorang model dan kecantikannya selalu dielu-elukan, tidak membuat Radit jatuh hati. Namun, saat pertama kali melihat Rain, dia langsung menyukainya. Radit langsung memberi cap pada gadis itu bahwa dia hanya miliknya. Tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan Rain. Meski dia sudah bertunangan dengan Kenan.


Ketika gadis itu menolak cintanya karena Kenan, Radit tidak akan menyerah. Sekarang dia mendapatkan Rain dan tidak akan pernah melepaskannya. Persetan dengan perjodohan Oma Nacita. Kehidupan Radit hanya Radit yang bisa mengaturnya.


"I love you, Rain!" bisik Radit.


Hati Rain menghangat, tapi bibirnya terasa kaku untuk membalas ucapan itu.


Radit melepas pelukannya. Dia menarik dagu Rain dan menyatukan bibirnya. Mentransfer kasih sayangnya ke dalam tubuh Rain. Gadis itu memberontak tapi Radit menekan tengkuknya. Ciuman yang lembut membawa Rain terhanyut akan hal itu.


Kedua mata Rain memanas, dia merasakan betapa besar cinta Radit untuknya. Impian saat menjadi Lea sekarang menjadi kenyataan. Dia dicintai oleh seorang lelaki tampan dan kaya raya. Cinta yang begitu tulus dan mampu menjaganya.


Rain mengerang saat Radit menggigit bibir bawahnya agar gadis itu membuka bibirnya. Radit berhasil lalu ******* bibir cery milik Rain dan mengabsen giginya. Ciuman mereka terlepas disaat pasokan oksigen dalam paru-paru mereka mulai menepis. Lalu Radit menyatukan keningnya di kening Rain.

__ADS_1


"Kisah ini hanya ada aku dan kamu. Tidak ada orang lain yang mampu menghalangi hubungan kita!"


Bersambung ...


__ADS_2