
Bab 73
Rain memarkirkan motornya setelah sampai di sekolah. Dia melepas helm, kemudian mencepol rambutnya asal. Bara menyodorkan helm yang dia gunakan kepada Rain. Pagi ini, sesuai janji Rain menjemput Bara dan mengantarkan ke sekolah. Meski dia harus ditahan oleh Jasmine, ibunya Bara. Jasmine meminta agar Rain ke rumah Bara selepas pulang sekolah. Katanya ada resep kue yang baru dia temukan dan ingin di coba.
Rain hanya bisa mengangguk pasrah saja. Kalau di tolak secara langsung pasti akan mengecewakan Jasmine. Dia tidak mau melihat raut kecewa di mata Jasmine. Entah mengapa dekat dengan Jasmine, Rain merasa jika memiliki seorang ibu. Perhatian dan kasih sayang Jasmine bisa Rain rasakan meski baru satu kali bertemu. Dia memang rindu sosok seorang ibu.
"Rain!" panggil Bara dengan lambaian tangannya.
"Apa sih!"
"Lo lagi cosplay jadi patung ya?".
Rain mendorong dada bidang Bara dan gadis itu melangkah menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya.
Sepanjang koridor sekolah dia mendengar jika nama kafenya sedang jadi bahan pembicaraan para penghuni sekolah, rupanya kabar tentang kafenya yang akan buka itu pun sudah tersebar.
"Jangan-jangan Queen pembalap itu yang punya!"
"Fix sih ini kita harus ke sana buat liat siapa Queen!"
"Eh iya Queen kafe ini bakal buka malem minggu besok. Banyak diskon. Cobain kuy!"
Memang saat Rain mengatakan jika dia adalah Queen, setelah itu para fansnya berbondong-bondong untuk meminta foto, Rain membungkam semua orang yang ada di sana agar tidak ada satupun yang membocorkan rahasianya. Lalu jangan sampai ada siapapun yang ada di sana memposting fotonya malam ini. Rain juga memberi ancaman yang tidak main-main.
Pada akhirnya mereka menurut demi keamanan hidup mereka juga, yang penting mereka bisa mendapatkan foto idola misteriusnya. Mereka tahu jika Rain bukan orang sembarangan. Takut juga sama ancaman Rain. Sejauh ini memang tidak ada yang bocor. Rain memang sengaja meminta nama akun mereka untuk mengecek ada apa tidak postingan tentang dirinya yang memperlihatkan wajahnya. Itu juga supaya Rain dengan mudah membobol akun mereka.
Setidaknya para fans Queen garis keras itu tidak ada yang bocor dan patuh. Padahal mereka tidak sadar saja jika Rain dengan mudah menghapus foto-fotonya di ponsel masing-masing. Hanya saja tidak Rain lakukan. Biarlah itu jadi kenangan-kenangan.
Jadi, di sekolah tidak ada yang tahu siapa Queen, karena saat balapan itu juga hanya beberapa yang tahu. Sekitar sepuluh orang. Itu juga para fans Radit dan Queen.
"Gritell Queen kafe? Ini kayaknya deket sama universitas Airlangga kan?"
"Demi apa? Pembukaannya ada band terkenal dari universitas Airlangga. Ini sih banyak cogan!"
"Bakal jadi tempat tongkrongan baru sih ini!"
Rain menatap Bara dan menepuk pundak lelaki itu. Dia telah bekerja keras semalam untuk membuat selebaran dan dibagikan ke tempat-tempat juga beberapa sekolah termasuk sekolahnya. Bara menyuruh orang untuk menyebarkan selebaran itu tentunya.
"Mana nomor rekening Lo, gue transfer!"
Bara mencebik, "Uang cash aja, Yang! Gue nggak ada rekening!" Wajah Bara mendadak lesu.
Di hukum begini membuatnya serba salah. Apalagi geng motornya sedang di incar oleh orang yang misterius. Dendam mengakar dari geng Moris dan Bara tidak bisa melakukan apapun. Dia merasa jika dirinya itu tidak berguna. Sebenarnya apa sih motif cewek yang telah membuat hidupnya susah itu. Kelvin sudah mengakui kesalahannya. Mereka juga sudah berbaikan tapi cewek itu tetap mengaku jika Bara pelakunya. Orang yang telah memberikan benih kecubung dalam perutnya.
Padahal Bara tidak pernah mabuk sampai berat dan bahkan masuk ke dalam club malam saja jarang. Dia akan melakukan itu jika sedang banyak pikiran. Meski tampang badboy dia tidak sebrengsek Kenan yang memiliki banyak mantan.
Rain mengambil salah satu kartu atm-nya dan menyodorkan kepada Bara.
"Pakai ini, gue akan gaji Lo di kartu itu. Di situ ada saldo jadi nggak perlu gue transfer ya. Lo cek aja sendiri saldonya!" jelas Rain.
Bara mengangguk dan saat Rain menjauh dia baru sadar sesuatu.
"Gimana gua mau pake coba kalau nggak tau pinnya. Tuh cewek emang rada-rada!" Bara menggeleng dan bergegas mengejar Rain.
Saat sampai di kelas, gadis cantik itu tidak terlihat. Entah kemana perginya. Bara memilih duduk di kursi sambil membaca novel milik Rain yang selalu di simpan dalam laci.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang duduk di bangku milik Rain, lelaki itu mengira jika dia adalah Rain. Saat menoleh Bara langsung mengalihkan wajahnya karena bukan Rain yang duduk di sebelahnya.
Gadis itu menopang dagu sambil terus menatap Bara tanpa berkedip.
"Lo ngapain di sini!" tanya Bara.
Dia risih saja di tatap seperti itu sama cewek yang menurutnya nyebelin. Entah mengapa dimata Bara Keyla itu sangat menyebalkan dan menjijikan.
Ya, cewek itu memang Keyla.
__ADS_1
"Malam minggu kamu mau nggak pergi sama aku ke kafe__"
"Nggak!" jawab Bara memotong ucapan Keyla. "Mending Lo pergi dari sini!" usir Bara. Berharap gadis itu pergi.
Namun, Keyla malah tersenyum kegirangan saat Bara menatapnya. Bara mengernyit heran tentu saja.
"Makasih, Bara. Aku tahu kalau kamu pasti mau aku ajak kencan!" Keyla memeluk lengan Bara dan bergelayut manja.
Bara menepisnya mendorong gadis itu hingga hampir terjatuh.
"Jijik gue!" Bara mengusap-usap lengannya seolah banyak debu yang tertinggal.
"Bel udah masuk dan Lo masih di sini?" Rain memasang wajah datar.
Keyla bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arah Bara.
"Aku tunggu nanti malam minggu ya."
Rain menatap Bara yang sibuk baca novelnya. Dari tatapan itu seolah Rain bertanya. *'Ada apa dengan malam minggu?'*
"Tuh cewek sakit! Tiba-tiba kegirangan setelah gue usir!" Bara menggeleng pelan.
Rain melirik ke arah bangku Rean dan Mentari. Dua orang itu kompak sekali tidak masuk sekolah.
"Naksir sama Lo, jadi Lo bakal kencan nih malem minggu sama dia?"
Bara menoleh dan tersenyum penuh arti, "Lo cemburu ya?" goda Bara.
Rain memukul lengan Bara dan lelaki itu meringis.
"Sorry! Lo terlalu pede!"
Bara tertawa, menggoda Rain itu adalah suatu kebahagiaannya. Entah mengapa sejak kenal dengan Rain, cewek secantik apa tidak menarik lagi di matanya.
"Pala Lo peang!" Rain menempeleng kepala Bara.
Suasana kelas yang ricuh seketika tenang saat melihat kedatangan Rean dengan wajah kusutnya. Laki-laki itu berjalan melewatin Rain sambil mencubit pipi gadis itu dengan gemas. Meski wajah Rean tetap datar.
Rain mengernyit, apa yang terjadi pada Rean? Kenapa Mentari tidak masuk?
"Pin atmnya berapa, sayang!" bisik Bara lagi, membuat tubuh Rain merinding.
Rain menepuk keningnya, lalu dia mengirim pesan kepada Bara, berupa pin atmnya.
"Selamat bekerja malam minggu, Dude!"
***
Gwen tersenyum saat melihat Radit sedang terlelap, rencananya menjebak laki-laki itu berhasil. Kini mereka sedang berada di sebuah hotel. Tahu kan? Jika laki-laki dan perempuan di dalam hotel itu ngapain?
Gwen sengaja menjebak Radit, memberikan minuman dengan campuran obat. Supaya laki-laki itu terjerat pesona Gwen.
"Rencana berhasil, tinggal kita tunggu kematian Rain sebentar lagi!" Gwen tersenyum puas.
Seolah semua rencana yang dia susun semalam akan berhasil hari ini juga.
Gwen yang merasa pergerakan Radit, segera memejamkan mata kembali. Radit memeluk tubuh polosnya, tentu dia belum sadar sedang ada dimana dan bersama siapa.
Bahkan mereka bolos sekolah hari ini. Radit yang merasa ada seseorang di sebelahnya segera membuka mata meski terasa berat. Betapa terkejutnya dia karena ada Gwen di sisinya. Apalagi keadaan mereka yang sungguh ... Ehm, tidak memakai apapun.
"Bangun, sialan!" Radit menggoyangkan tubuh Gwen.
"Apa yang Lo lakuin ke gue, hah!" bentak Radit.
Gwen pura-pura terkejut dan dia langsung segera menjauh.
__ADS_1
"Lo ... Ngapain di sini!"
Radit menggaruk kepalanya frustasi, "Ck, Lo kan pasti yang lakuin ini semua? Gue udah tahu akal bulus Lo!" tebak Radit.
"Dit, gue nggak tau apa-apa! Lo semalam narik tangan gue dan ngajak gue ke sini! Lo paksa gue lakuin itu lagi!" Gwen berusaha untuk menangis.
Sialnya air mata tidak bisa menetes.
"Arggh, mau Lo apa sih, Gwen!"
"Gue cuma mau Lo balik sama gue lagi, setelah apa yang Lo lakuin dan dengan entengnya Lo nolak perjodohannya ini!"
"Gue emang yang pertama tapi Lo sendiri bermain di belakang gue dengan dua pria sekaligus! Ingat itu, Gwen!" Radit memijit pelipisnya dia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Gwen.
Rasa-rasanya berkata kasar dengan nada tinggi juga percuma. Dia keras kepala dan apapun yang Gwen mau harus di dapat. Mungkin jika dia tega dan membunuh itu tidak masuk penjara, sudah Radit lakukan saat ini.
"Itu karena gue di jebak, Dit!" Gwen hendak meraih jemari Radit. Lelaki itu segera menepisnya.
Dia mengambil kaos dan memakai semua pakaiannya kembali. Gwen sudah kelewatan.
"Lo bener-bener cewek gila!" tuding Radit yang kemudian meninggalkan gadis itu.
"Lo liat aja kalau Lo nggak mau tunangan itu terjadi, sepulang sekolah nanti cewek sialan Lo itu sudah mati!" teriak Gwen.
Radit menghentikan langkahnya, dia kembali mendekati Gwen dan mencengkeram rahang gadis iblis itu.
"Kalau sampai Lo lakuin sesuatu sama Rain, gue juga nggak akan segan-segan bunuh Lo, sialan!" desis Radit. Meski tidak memiliki hubungan apapun dengan Rain, dia tetap tidak mau gadis itu dicelakai oleh Gwen.
Gwen menepis tangan Radit, "Lo harus tahu, kalau Glen mati karena geng liol! Bara yang udah bunuh dia dan sekarang ... Sekarang cewek sialan itu pacaran sama Bara!" Air mata Gwen luruh sudah.
Jika mengingat Glen maka dia akan bersedih. Glen adalah satu-satunya kakak yang dia miliki. Semua karena masalahnya dengan Bara dan berakhir laki-laki itu pergi untuk selamanya.
Gwen masih ingat bagaimana semua itu terjadi, maka sejak saat itu dia menyimpan dendam kepada Bara. Dia akan melakukan apapun demi membalaskan dendamnya. Nyawa dibayar dengan nyawa.
Glen adalah sahabat Radit, meski Glen lebih tua dua tahun dari Radit. Mereka berteman sejak kecil. Gwen juga berteman sejak kecil dengan Radit. Mereka tumbuh bersama.
Hingga saat duduk dibangku smp, Radit jatuh pada pesona Gwen. Akhirnya mereka pacaran. Glen selalu bilang untuk jagain adik satu-satunya. Dia mendukung hubungan Gwen dan Radit. Hingga hubungan mereka pun jatuh ke dalam lubang dosa saat duduk di bangku SMA. Saat itu Gwen sedang berduka karena Glen mengalami kecelakaan setelah bertarung dengan Bara.
Semua yang teman-teman Glen menceritakannya. Di saat itulah Gwen sangat membenci Bara yang tiba-tiba hilang entah kemana. Radit yang selalu ada untuk Gwen. Semua itu juga berawal dari Gwen yang selalu meminta Radit untuk menemaninya di apartemen. Entah Radit kerasukan setan apa, dia pun akhirnya hanyut dalam suasana yang mendukung itu. Radit takut kehilangan Gwen dan mereka pun terjerumus pada dunia liar.
Kejadian itu sering terulang disaat ada kesempatan. Hingga Radit memilih memutuskan Gwen karena ada seseorang yang mengirimkan foto pada Radit. Jika Gwen selingkuh dan bermain bersama dua orang di hotel. Betapa kecewanya Radit. Dia pun akhirnya menutup hati untuk tidak mencintai gadis manapun. Hatinya sangat terluka dan susah payah dia melupakan perasaannya pada Gwen.
Lantas sekarang, gadis itu datang meminta pertanggung jawabannya. Takdir tidak memihak kepada Radit. Grandma Rima rupanya telah menjodohkan Radit dengan Gwen. Akhirnya gadis itu mengambil kesempatan agar Radit mau kembali. Apapun resikonya akan Gwen lakukan yang penting Radit jatuh ke dalam pelukannya.
"Lo nggak bohong kan!" Radit tentu tidak mempercayai ucapan apapun dari mulut Gwen.
Dia sudah terlanjur kecewa dengan gadis itu. Betapa dulu dia sangat mencintai Gwen dan harus jatuh begitu saja ketika melihat kenyataan jika gadis itu main api.
"Lihat baik-baik. Buka mata Lo, Dit!" Gwen menunjukkan ponselnya dimana ada foto Bara dan Rain berboncengan.
"Mereka pergi bersama. Bahkan Rain kerja di kafe Bara yang akan buka malam minggu nanti. Sekarang terserah Lo mau percaya atau enggak!"
Gwen membuka selimutnya. Menampilkan tubuh polosnya dan melenggang pergi ke kamar mandi. Radit mematung, menatap tubuh Gwen dan membuat pikirannya melayang ke dua tahun yang lalu. Dimana dia merasa beruntung karena Gwen menyerahkan apa yang dia jaga kepadanya. Gwen ketakutan dan Radit berjanji untuk menikahi Gwen. Dia selalu memuja apapun yang ada pada Gwen. Dia pemilik tubuh itu, tapi hatinya kembali sakit saat mengingat video Gwen dengan dua orang laki-laki di dalam hotel.
Radit memilih pergi keluar dari hotel. Tidak perduli apa yang akan terjadi pada Gwen. Dia anggap semalam adalah malam kesialannya.
Radit pun memesan taksi online. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan ucapan Gwen. Jika Bara dan Rain sudah berpacaran. Kedua tangan Radit mengepal kuat.
Tidak ada yang boleh memiliki gadisnya. Rain adalah miliknya, siapapun yang merebut Rain akan Radit habisi. Apapun yang terjadi, Radit akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Rain.
"Lo milik gue, Rain!"
Bersambung ...
Akhir-akhir ini mood nulis lagi kacau. Apa ini efek bergaul dengan Spongebob ya? 😔
__ADS_1