Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 23


__ADS_3

Bab 23


Rean menggeleng pelan saat melihat Rain masih saja bergelung dengan selimutnya. Sejak keluar dari rumah sakit Rain memang susah bangun pagi, tapi tidak seperti sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, belum ada tanda-tanda dari gadis itu untuk bangun.


"Kayaknya adik gue ini udah jadi cewek yang pemalas sekarang!" ujar Rean sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Rain hingga kepala.


Rain menariknya lagi karena kedua matanya terasa masih berat. "Apaan sih, Kak!" gerutunya.


"Udah siang, buruan deh nanti kita telat ke sekolah!" Rean kembali menarik selimutnya.


"Lo kalau nggak mau bangun gue seret ke kamar mandi terus gue___"


Rain sudah lari ke arah kamar mandi, dia tidak mau kejadian di apartemen waktu itu terulang lagi. Dimana Rain masih ngantuk lalu Rean memaksanya untuk bangun. Rean menyeret Rain ke kamar mandi dan mengguyur gadis itu tanpa ampun. Seakan penuh dengan dendam.


Rean hanya menggeleng saja melihat tingkah adiknya itu.


Rain menghela napas lega, tubuhnya melorot ke lantai dan kembali memejamkan kedua matanya untuk melanjutkan tidur. Sayangnya, itu tidak akan bisa terjadi karena ....


"Rain, bangun! Kalau sampai Lo tidur lagi di kamar mandi gue bakal dobrak nih pintu ya!" teriak Rean dibarengi dengan gedoran pintu.


"****!" umpat Rain.


"Bawel banget!" teriak Rain dan segera membasuh wajahnya.


"Brrrr .... Dingin banget ih!" Rain jadi mengurungkan niatnya buat mandi. Dia memilih menggosok gigi saja dan mencuci muka.


Saat Rain membuka pintu kamar mandi, dia mendapati Rean berdiri di samping kamar mandi dengan tatapan tajam dan kedua tangan dilipat.


"Mandi! Lo bisa nyalain air anget! Apa perlu gue mandiin, hah!"


Rain hanya nyengir saja, lalu kembali masuk ke kamar mandi sambil *******-***** jemarinya sebagai pelampiasan kekesalan.


"Dasar ngeselin!" cibir Rain.


Rean yang mendengar suara gemercik air pun memilih pergi keluar kamar Rain dan menuju ruang makan. Di sana sudah ada kakek dan neneknya.


"Lho dimana Rain?" tanya nenek Sania.


"Lagi mandi, Nek. Biasa dia susah bangun!" adu Rean.


Kakek Albert hanya terkekeh saja melihat Rean yang sedang mode kesal. Cucu lelakinya itu biasanya bersikap dingin jika bersama orang lain. Ketika Rean menunjukkan sikap kesal seperti itu tentu saja terlihat lucu.


"Pagi, Nenek, pagi Kakek!" Rain mencium pipi kakek dan neneknya.


Rain menarik kursi yang berada di sebelah kanan Rena. Lalu mencomot roti milik Rean yang sudah diolesi dengan selai kacang. Rean hanya mendesis saja karena dia tidak mau ribut di depan kakek dan neneknya. Rean mengambil kembali roti dan mengolesinya dengan selai kacang.


"Kalian nanti mau pulang ke apartemen langsung pulang sekolah atau kemari dulu?" tanya kakek Albert.


Rain sedang ingin melakukan sebuah misi dan kali ini dia lebih nyaman melakukannya di apartemen. Di sana dia tidak akan di ganggu oleh nenek Sania yang selalu mengkhawatirkannya jika tidak keluar dari kamar lebih dari dua jam. Kecuali memang jam tidur malam barulah nenek Sania tidak khawatir.


Rain memang akan tinggal ke sana kemari, tidak menetap di rumah nenek Sania. Rasanya juga tidak bebas jika ingin balapan. Di luar ada satpam yang jaga, bisa saja dia mengadu pada nenek maupun kakek karena mereka pergi malam hari.


"Kayaknya langsung saja deh, Nek!" sahut Rean yang memang ada janji untuk berkumpul seperti biasa.


"Ya sudah. Kalau gitu sering-sering ya main ke sini! Biar kakek sama nenek nggak kesepian!"


Rean dan Rain mengangguk.


**


Kegaduhan itu datang dari kelas XI-ipa 1, tepatnya di kelas Rain dan Rean. Guru yang mengajar belum datang jadi mereka memanfaatkan waktu luang itu. Ada yang mengobrol, tidur atau saling bercanda. Sementara Rain sudah menelungkupkan kepalanya di tangan yang dia lipat di atas meja. Kedua matanya masih sangat ngantuk karena semalam begadang nonton Drakor.


"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Maila, guru biologi.


Seketika suasana yang tadinya gaduh pun mendadak sunyi.


"Pagi, Bu ...." Para murid pun menjawab serempak.


"Oke, sebelum kita memulai pelajaran, izinkan Ibu untuk memperkenalkan teman baru kita," ujarnya yang menoleh pada pintu. "Ayo masuk," titah Bu Maila.


Seorang gadis dengan rambut kuncir kuda dan memakai seragam yang berbeda dari para murid pun masuk ke kelas. Gadis dengan kulit putih bersih dan tatapan teduhnya itu tersenyum malu.


"Ayo perkenalkan diri kamu," perintah Bu Maila yang di angguki oleh gadis tersebut.


Para murid lelaki tentu saja langsung memusatkan perhatian pada gadis itu dan seperti biasa jika ada yang bening, maka langsung memujanya.


"Hay, semua ... Nama saya Mentari, salam kenal ya. Semoga kedepannya kita bisa berteman dengan baik teman-teman," ucap Mentari susah paya. Dia gugup karena menjadi pusat perhatian.


"Ibu minta kalian buat bantu Mentari supaya bisa beradaptasi ya."


"Jangankan beradaptasi, Bu. Buat singgah di hatiku juga aku lakukan!"


"Mentari, minta nomer hape dong!"


" Mentari, cantik! Sini duduk sama Abang!"


"Mentari cintaku Mentari kasihku!"


Begitulah komentar dari para murid laki-laki. Membuat kelas menjadi gaduh kembali.

__ADS_1


Keyla, murid yang paling pintar di kelas dan menjadi most wanted girl itu pun merasa tersaingi karena kehadiran mentari yang sudah mengalihkan perhatian para murid laki-laki. Wajah Keyla sudah tidak enak dipandang tapi dia segera memasang wajah ramah ketika tatapan Keyla dan Mentari bertemu.


"Diam!" teriak Bu Maila bersamaan dengan suara meja yang dipukul menggunakan penggaris.


"Mentari, kamu duduk di bangku yang kosong, ya!"


Mentari melihat bangku kosong itu ada di sebelah bangku Rean. Dekat dengan tembok dan urutan nomor dua dari belakang. Rean yang sejak tadi menatap dengan tatapan entah, membuat kaki Mentari sulit untuk digerakkan.


Mentari hanya mengangguk saja sebagai jawaban ucapan Bu Maila. Susah payah dia berjalan menuju bangku kosong itu. Tadinya Reno duduk di sana, dia asyik bermain game dengan Lando dan memilih duduk sebentar di sana. Rupanya saat akan pindah Mentari datang dan membuat Reno teringat sesuatu.


"Wuih, jodoh memang nggak kemana ya!" celetuk Reno.


"Permisi, boleh aku duduk di situ?" ucap Mentari.


Rean berdiri untuk memberi jalan agar gadis itu duduk. Sementara Rain yang menatap itu mengulum senyum.


"Baik, kita mulai pelajarannya ya!"


"Buka buku kalian halaman 43."


Sementara Bu Maila menjelaskan, Mentari melirik ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya. Mentari seperti tidak asing dengan wajah Rean.


"Ya ampun dia yang semalam!" Mentari memekik dalam hati.


Seketika tubuhnya bergetar kecil mengingat kejadian semalam saat dia ke hotel untuk bekerja sebagai karyawan katering. Dia buru-buru pulang karena mendapatkan telepon dari ibunya dan tidak sengaja menabrak Rean saking paniknya. Dia tidak perduli jika kemeja lelaki itu kotor karena minuman yang dipegang lelaki itu tumpah.


"Kamu ... Orang yang semalam di hotel itu bukan ya?" tanya Mentari memberanikan diri.


"Iya," sahut Rean.


Mentari terdiam, lelaki itu rupanya sangat dingin. Bahkan saat menjawab pun dia tidak menoleh pada gadis itu.


"Kenapa? Mau minta maaf?" lanjut Rean. Kali ini dia menoleh.


Membuat Mentari terpesona dengan ketampanannya. Mentari baru tahu jika lelaki itu sangat tampan. Semalam dia hanya melihat sekilas karena harus buru-buru ke rumah sakit.


"Emm ... Iya, maaf ya semalam aku nggak sengaja!" Mentari memiringkan wajahnya.


Lelaki itu kembali fokus pada buku dan tidak lagi berkata apapun.


***


"Papa!" panggil Livia dan dia langsung duduk dipangkuan Damian.


Damian yang sibuk dengan laptopnya pun segera menyingkirkan benda itu dan mengelus lembut rambut panjang Livia dengan penuh kasih sayang. Damian juga diam-diam mengambil dua helai rambut Livia untuk dijadikan sampel DNA. Dia akan melakukan seperti yang Rain katakan.


Selama ini, Damian merasa begitu sakit jika memperlakukan Rain begitu kasar. Dia juga merasa sedih ketika mendengar Rain amnesia. Merasa kehilangan saat gadis itu tidak lagi berceloteh manja dengannya. Meski tidak pernah dia tanggapi. Sekarang Rain berubah menjadi gadis yang dingin dan bahkan tidak perduli lagi padanya.


Sementara dengan Livia dia seperti tidak memiliki ikatan batin. Damian akan melakukan dengan hati-hati. Jika benar ada yang tidak beres maka dia akan segera mencari tahu siapa orang dibalik semua ini.


"Ada apa, sayang?" Damian memeluk gadis itu erat.


"Aku ... Boleh nggak nanti ikut Kak Dion liburan ke Bandung?"


"Dion bukan liburan, sayang. Dia ada pekerjaan di sana!"


Livia mencebik, dia tidak mau jika lelaki itu tergoda dengan para modelnya.


"Ya ... Aku pengen ikut. Boleh ya, Pa?" rayu Livia.


"Baiklah, apa sih yang enggak buat anak Papa yang manja ini. Janji ya jangan buat kakak kamu itu repot." Damian mencubit hidung Livia gemas.


Gadis itu pun bangkit dari duduknya dengan senyum mengembang. Terlihat wajahnya yang berbinar.


"Makasih, Papa. Aku sayang banget sama Papa!"


"Ada maunya aja bilang sayang!"


Livia terkekeh dan keluar dari ruang kerja Damian. Hari ini Livia memang izin tidak masuk sekolah karena lelah sekali tubuhnya. Semalam digempur habis-habisan oleh Dion hingga dini hari.


***


Jam istirahat sudah berbunyi. Rain dan Mia membereskan bukunya yang ada di meja dan bersiap untuk segera ke kantin. Begitu juga dengan Mentari. Sementara Rean sedang sibuk dengan ponselnya.


"Rean, boleh nggak kalau gue ikut ke kantin? Soalnya Dea mau ada rapat osis," ujar Keyla.


Rain mengernyit, sejak kapan Keyla mulai dekat dengan Rean? Bukannya gadis itu sudah melupakan Rean sejak ditolak ya?


*Mungkin saja memang nggak ada teman.* Batin Rain.


"Oke!" jawab Rean tanpa menoleh. Lelaki itu pun bangkit berdiri dan memasukkan ponselnya di saku celana.


"Ehm ... Ada yang clbk nih!" celetuk Reno.


"Reno, sayang. Jangan ganggu Rean. Kita ke kantin bareng aja ya!" kata Lando sambil merangkul pundak Reno.


"Najis!" Reno melepas tangan Lando dan bergidik ngeri.


Lando tertawa puas. Sementara Rean melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan sebuah tanda tanya dibenak Keyla. Gadis itu pun memilih mengikuti langkah lebar Rean.

__ADS_1


"Mentari, Lo mau ke kantin?" tanya Rain.


"Aku ... Boleh ikut nggak?" tanya Mentari malu-malu.


"Ayo, bareng kita!" sahut Mia.


"Oh, iya. Gue Mia."


"Gue Rain!"


Mereka saling berjabat tangan. Mentari tersenyum karena baru sekarang ada yang mau dekat dengannya. Di sekolah yang dulu Mentari selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Oleh sebab itu Mentari memilih pindah karena tidak kuat bertahan di sekolah lamanya.


Sepanjang perjalanan menuju kantin ketiga gadis itu bercengkrama. Ella yang datang dari arah berlawanan pun segera bersiap untuk membuat masalah. Dia sengaja menabrak Rain dan membuat minuman yang Ella bawa tumpah mengenai seragam Rain.


Tentu saja sudah direncanakan oleh Ella.


"Lo apa-apaan sih!" geram Rain.


"Maaf, Rain. Aku ... Nggak sengaja!" Ella menundukkan kepala.


Rain berdecak, "Nggak usah sok polos, mau Lo apa sih cari gara-gara terus sama gue!" Rain mendorong bahu Ella. Gadis itu terjatuh.


Rain memutar kedua bola mata malas karena dia mendorong Ella tidak memakai tenaga tapi gadis itu terjatuh.


"Lo apa-apaan sih, Rain!" Mata elangnya menatap tajam Rain.


Siapa lagi kalau bukan Kenan.


"Gue?" Rain menunjuk dirinya sendiri. "Seharusnya tanya sama cewek Lo ini!" Rain menunjuk ke arah Ella dengan wajah yang memerah karena emosi.


Mia segera menenangkan Rain dan mengajak untuk pergi saja. Atmosfer disekitarnya sudah tidak enak.


Mentari yang melihat itu pun meremas jemarinya. Dia sangat takut, Mentari pikir Rain anak yang suka merundung. Tapi saat melihat ekspresi Ella yang tersenyum miring ketika dia terjatuh, Mentari jadi tahu apa yang terjadi.


"Rain, udah mending kita ke kantin aja!" Mia menarik tangan Rain.


Kenan membantu Ella untuk bangun. Sedangkan Rain menatap lelaki itu penuh kebencian.


"Percuma Lo minta maaf sama gue!" bisik Rain. Lalu gadis itu melenggang pergi.


"Aku ... Nggak apa-apa kok. Rain tadi nggak sengaja," ucap Ella yang masih bisa Rain dengar.


Muak, Rain sangat muak dengan sandiwara ini. Gadis itu kemudian mengambil ponselnya dan melakukan sesuatu.


"Mentari, Lo mau pesen apa?" tanya Mia yang sedang menatap kagum Rain.


"Aku ... Sama aja sama kalian."


"Oke, aku pesenin ya." Mia pun pergi entah kemana. Mia tentu saja sudah hafal makanan kesukaan Rain.


"Dia pemberani ya. Coba kalau aku begitu!" Batin Mentari.


Setelah Rain selesai mengutak-atik ponselnya, dia pun menyimpan benda itu di saku roknya. Bersamaan dengan ponsel para murid-murid yang berbunyi.


Rain telah melakukan peretasan pada grup WhatsApp milik sekolah. Rain mengirim foto Ella yang bermesraan dengan seorang lelaki. Namun, wajah lelaki itu sengaja di blur. Dia tidak mau jika Kenan malu nantinya. Apalagi Rain mencari aman saja.


"Kamu ... Hebat ya, Rain!" kata Mentari.


Rain mengernyit, "Hebat kenapa?" tanya Rain heran.


"Bisa melawan orang yang jahat sama kamu."


"Biasa aja. Oh ya Lo kenapa pindah ke sekolah ini?" tanya Rain mengalihkan topik.


Sementara kehebohan pun terjadi. Seluruh murid-murid terkejut dengan foto Ella yang hanya memakai pakaian dalam dan duduk di pangkuan seorang lelaki. Dari postur tubuhnya saja sudah terlihat jika lelaki itu berumur.


"Gila, Ella ternyata simpanan om-om!"


"Seriusan Ella ini? Sexy banget!"


"Kok Kenan mau ya!"


"Harusnya malu dong!"


Bisik-bisik itu terdengar, sementara yang menjadi bahan perbincangan pun bingung karena menjadi pusat perhatian.


"Kenan, mereka kenapa ya?" tanya Ella yang duduk tidak jauh dari tempat Rain.


"Biarin aja. Sekarang Lo makan biar punya tenaga!"


Keyla pun menatap risih Ella. Dulu mereka berteman dekat tapi Keyla menjauh karena Ella yang hanya memanfaatkan kepopuleran Keyla saja.


Keyla sebenarnya sejak dulu naksir dengan Rean tapi lelaki itu terlalu dingin hingga Keyla akhirnya menjadi kekasih Marvel, kakak kelas mereka yang tak lain sahabat Radit. Hubungan mereka sudah kandas entah karena apa. Padahal dulu mereka menjadi pasangan populer dan membuat iri yang lainnya.


"Rean, nanti pulang sekolah Lo ada acara nggak ya?"


"Ada!" sahut Rean.


"Sayang banget ya, gue mau ajakin Lo buat belajar bareng!"

__ADS_1


Rean hanya diam menikmati mie kuah yang ada dihadapannya. Sementara Kenan melihat ponsel dan terkejut dengan berita yang ada di grup sekolah. Kenan menatap tajam Ella dengan menahan emosinya. Membiarkan gadis itu menghabiskan makanannya.


Bersambung ...


__ADS_2