Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 71


__ADS_3

Mentari membuka mata, kepalanya terasa berat karena terlalu lama menangis. Kedua matanya juga bengkak. Mentari mengedarkan pandangan, dia baru tersadar jika berada di kamarnya. Mengingat semua yang terjadi, Mentari bergegas keluar kamar tapi yang dia temukan hanya kesunyian. Mentari menatap ke arah pintu yang nampak baik-baik saja dan tidak ada Rean. Apa dia bermimpi?


Bermimpi Rean bertengkar dengan Nevan. Melihat ibunya yang menangis dan berharap jika keluarganya kembali utuh. Semua kejadian itu berputar dalam ingatannya. Itu seperti nyata. Mentari pun melangkah ke dapur untuk mencari dimana Sean dan ibunya. Dia takut jika Nevan membawa mereka berdua.


"Ibu, Sean. Kalian dimana?" teriak Mentari.


Seharusnya mereka dengar kan? Rumah mereka kecil dan bagian ruang tamu menuju dapur hanya bersekat tembok saja. Mentari tidak menemukan siapapun di rumahnya.


"Laki-laki itu membawa Sean dan Ibu. Aku harus menghubungi Rean!" Mentari berlari menuju kamarnya untuk mencari ponsel.


Tidak ada, benda itu tidak dia temukan. Mentari mengingat-ingat dimana terkahir kali dia letakkan.


"Ya Tuhan." Air matanya kembali menetes. Ketika dia ingat benda itu terlempar setelah Mentari menelpon Rean.


Meminta bantuan pada laki-laki itu saat di kejar Nevan. Tanpa sadar Mentari menjatuhkannya. Saat hendak mengambil dia sudah tidak sempat karena Nevan semakin dekat. Dia hendak membawa Mentari kepada juragan tanah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Mentari bergegas pergi dari rumahnya.


Mencari bantuan untuk pergi menemui Rean karena dia sama sekali tidak memegang uang sepeser pun.


"Astaga ... Kemana Sean? Ibu ... Maafkan Mentari. Ucapan Mentari pasti sudah melukai hati ibu!" Mentari duduk di depan pintu dengan kedua kaki ditekuk.


Mentari menenggelamkan kepalanya disela-sela kedua kakinya, menangis tersedu-sedu karena sekarang dia sendiri. Merasa bersalah atas apa yang terucap dari bibir tipisnya.


"Ibu, Sean ...." gumam Mentari.


Suara mesin mobil berhenti tapi tidak membuat Mentari bangkit. Dia terus menangis dan tidak perduli siapa pemilik mobil tersebut. Barangkali tetangga sebelah yang memang orang berada dan selalu memarkirkan mobilnya diantara rumah dia dan Mentari. Gadis itu meraung, menangisi semua yang terjadi. Menyesal, hingga ingin mengubah waktu kembali dan memperbaiki semua ucapannya.


"Maafin Tari, Bu ... Maaf."


Seorang wanita berusia empat puluh delapan tahun itu menatap sendu Mentari yang duduk meringkuk di depan pintu. Tadi sebelum dia pergi, gadis itu sedang terlelap. Bahkan dia mencoba membangunkannya pun tidak membuat gadis itu membuka mata. Nampaknya dia lelah dan memang Mentari tidak pernah merasakan tidur dengan nyenyak. Selalu kurang tidur karena bekerja selepas sekolah, juga mengerjakan tugas-tugas sekolah sepulang bekerja.


"Mentari," panggilnya lembut.


Yasmin meletakkan barang belanjaan di pelataran dan bergegas membantu gadis itu bangkit. Memeluknya erat karena rasa bersalahnya selama ini. Ego yang luar biasa besar telah membuat kedua buah hatinya terluka.


Yasmin sadar jika harapannya itu telah salah, dia mengorbankan perasaan Mentari dan Sean. Dia pikir kedua anaknya itu juga butuh sosok ayah. Nyatanya mereka sudah tidak lagi perduli terhadap laki-laki yang seharusnya mereka panggil 'ayah'.


"Ibu ...." Mentari semakin meraung ketika meliha sosok ibunya berlari ke arahnya.


Bak adegan slow motion, mereka berlari dan langsung memeluk erat satu sama lain. Menumpahkan kesedihan yang teramat dalam.


"Maafkan ibu, Nak!"


"Mentari juga minta maaf karena ucapan__"


"Kamu benar, sayang. Ibu akan berusaha untuk tidak lagi peduli kepada dia. Ibu akan menuruti semua keinginan kamu. Kita pindah ya!"


Mentari mengurai pelukannya. Dia menatap wajah ibunya tepat di kedua mata sang ibu menyiratkan keseriusan.


Dulu, Yasmin selalu menolak untuk pindah karena rumah itu penuh kenangan dan perjuangan dari keringat Nevan.


"Ibu ... Serius?"


"Iya, karena Lo sebentar lagi jadi kakak ipar gue!" sahut Rain yang menggandeng Sean.

__ADS_1


Lelaki kecil itu malah asyik memakan es krim. Sungguh menggemaskan.


"Kalian ...."


"Kita habis jalan-jalan sama Kak Rean dan Kak Rain!" jawab Sean polos.


"Ha?" Mentari pikir mereka dibawa paksa oleh Nevan. Nyatanya mereka asyik jalan-jalan dan meninggalkan dirinya di rumah seorang diri.


"Kenapa kalian tinggalin aku!" Bibir Mentari mengerucut.


Yasmin terkekeh, "Ibu sudah bangunkan kamu tapi malah nggak bangun-bangun," jelas Yasmin.


"Ya udah, ayo masuk gue udah laper nih!" Rain mengusap perutnya.


"Ibu mau masak dulu, bantu bawa belanjaan!" Yasmin membawa beberapa kantong plastik.


Sementara Mentari membawa sisanya dengan wajah yang masih di tekuk.


"Jangan cemberut!" bisik Rean yang membuat Mentari menoleh.


Dia tidak sadar jika sejak tadi ada Rean. Laki-laki itu membawa beberapa paper bag yang entah apa isinya.


"Kamu nyebelin!" Mentari menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah sederhana yang sebentar lagi dia tinggalkan.


***


Suasana rumah mungil itu mendadak ramai. Biasanya hanya ditemukan kesunyian dan kini terdengar gelak tawa. Makan malam hari ini sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Rean dan Rain membawa efek yang lebih menyenangkan. Kehadiran mereka membuat Sean tidak merasa kesepian. Sean menyukai Rean dan Rain. Mereka selalu mau di ajak bercanda. Tidak seperti Mentari yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan atau buku-buku sekolah. Sean selalu main sendiri berbalut kesepian.


"Sean senang sama Kak Rain! Soalnya Kak Rain dari tadi mau teman Sean main!" celetuknya.


Sean menggeleng, "Kak Tari selalu sibuk. Ibu sama Kak Tari sama, sibuk kerja. Kalau libur Kak Tari sibuk sama buku-buku sekolah!" keluhnya.


Mendadak hati Mentari tercubit oleh ungkapan Sean. Selama ini dia memang selalu sibuk. Itu juga demi Sean. Namun, seorang anak kecil tidak butuh memiliki mainan banyak atau uang, mereka butuh perhatian.


Rean menatap Mentari seolah tatapan itu adalah sebuah pertanyaan. "Jadi kamu masih bekerja?"


Mentari menelan ludah susah payah.


"Sean, maaf ya. Kalau Kak Tari sibuk. Itu juga demi Sean biar bisa sekolah sama beli mainan," kata Mentari hati-hati.


"Memang Kak Tari masih kerja?" Kini Rean ikut bersuara.


Sean mengangguk, "Pulangnya malam. Sean selalu menunggu Kakak buat main. Ibu bilang Sean tidur dulu, nanti kalau kakak pulang baru main. Ibu sibuk buat kue!" jawab Sean dengan wajah polosnya.


Sean tidak tahu saja, jika jawaban itu membuat Rean keluar tanduknya. Jadi selama ini Mentari bilang sibuk bantu ibu membuat pesanan kue itu bohong? Mentari bekerja dan itu tanpa sepengetahuan Rean. Bisa-bisanya Rean kecolongan. Padahal Rean sudah menyuruh Mentari keluar dari pekerjaan itu dan fokus belajar. Semua hutang telah lunas dan biaya sekolah Sean juga Mentari sudah di tanggung oleh Damian. Tentu saja Yasmin belum tahu. Jika Yasmin tahu pastilah dia menolak.


Ini saja Rean baru tahu kalau Damian datang untuk membicarakan pernikahannya dengan Mentari. Sungguh diluar dugaan. Rean yang hendak menolak pun tidak bisa karena Damian sangat marah. Dia memang salah karena sering membawa Mentari menginap dan mengambil kesempatan untuk tidur dalam satu kamar. Meski tidak melakukan apapun.


Ehm, ya benar tidak melakukan apapun, tapi tetap menyusu.


"Oh, gitu ya? Kalau gitu Sean nanti tinggal sama Kak Rain aja. Ada Kak Ando juga biar Sean ada temannya," sahut Rain mencairkan suasana.


Rain tahu jika Rean sudah sangat emosi dan ingin meledak tapi ada Yasmin diantara mereka.


"Bibi dengar kamu buka kafe?"

__ADS_1


Rain mengangguk, "Rencananya Minggu depan aku buka. Bibi buka toko kue juga di sebelah kafe Rain. Di sana tempatnya strategis."


"Nanti kalau kafe kamu kalah ramai gimana?"


Rain terkekeh, "Bibi, kafe buatku itu khas remaja. Bibi buka toko kue sama berbagai macam kopi saja. Di sana kan dekat kantor papa," usul Rain.


Rain berusaha mengalihkan topik pembicaraan supaya emosi Rean stabil. Dia nggak mau laki-laki itu ngerusuh di rumah orang.


"Bibi besok jadi pindah?" tanya Rean.


"Ya, Rean. Bibi malam ini akan berkemas dulu."


"Nggak usah, semua sudah di siapkan oleh papa. Tinggalkan saja semua barang-barang di sini. Barangkali nanti bibi kangen kan nggak perlu repot-repot bawa apapun."


Yasmin menggigit bibir bawahnya. Dia sebenarnya sangat terharu karena mantan majikannya itu sangat baik, dia ingin menolak semua pemberiannya tapi tidak ingin jika Mentari menganggap dirinya masih memikirkan Nevan.


"Baiklah, Bibi bawa baju-baju kami yang masih bagus saja."


Mentari tersenyum, karena ibunya


sudah mau berusaha untuk melupakan Nevan. Ya, meski itu berat, tapi demi masa depan Sean juga. Mentari nggak mau ibunya itu selalu sedih dan menerima kembali Nevan. Kejadian itu pasti akan terus berulang kembali kalau saja Yasmin tidak bisa menolak ucapan penuh kepalsuan Nevan.


"Dua hari lagi kita akan menikah!" kata Rean kepada Mentari.


Mereka sedang duduk di teras. Malam ini Rean dan Rain menginap, supaya besok bisa langsung mengantarkan Yasmin, Sean dan Mentari ke rumah barunya.


"A-apa?" Mentari terkejut, dia bahkan tidak tahu jika akan menikah dengan Rean.


Rupanya apa yang dikatakan Damian itu benar. Pantas saja Nevan datang dan merusuh. Mengambil kesempatan demi keuntungan.


"Kamu nggak mau?"


"Bukan gitu, tapi menikah itu kan bener-bener harus butuh pemikiran yang matang. Apalagi kita masih muda dan perjalanan masih panjang, Rean."


"Aku tahu, jadi apa masalahnya?"


"Kita masih kelas dua. Terus sebentar lagi kelas tiga lalu lulus. Kita kuliah di tempat yang baru dan ketemu sama orang-orang baru. Bagaimana jika kamu di kampus nanti banyak yang suka dan ketemu sama__"


Rean meletakkan jari telunjuk di bibir Mentari agar gadis itu diam.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Sudah aku bilang jika cintaku sudah habis untukmu. Tidak akan ada lagi gadis lain yang mampu menggantikan kamu di hatiku, Tari. Jadi apalagi yang kamu ragukan, hm?"


Ah, wajah Mentari menjadi memerah. Dia benar-benar tidak menyangka jika akan nikah muda. Bahkan dia tidak pernah memikirkan untuk menjadi istri seorang Rean. Rasanya itu seperti mimpi. Ya, meski Rean sudah menjamah area dadanya. Walau Rean tidak sampai melakukan hal di luar batas tetap saja Mentari tidak pernah kepikiran untuk menikah dengan Rean. Sadar diri saja dia siapa.


Lantas sekarang, dia merasa seperti sedang terbang di angkasa. Mendapatkan kabar dua hari lagi menikah dan menjadi istri seorang Rean Gabriel Klopper yang menjadi idola kaum hawa. Mentari merasa hidupnya itu seperti Cinderella yang menikah dengan seorang pangeran tampan. Bedanya dia tidak kehilangan sepatu kacanya.


"Bangunkan aku segera jika ini mimpi, Rean!" Mentari menepuk-nepuk pipinya.


Sungguh gemas sekali, kalau saja bukan berada di rumah Mentari. Sudah Rean kecup itu bibir yang menggemaskan.


Rean hanya bisa mencubit hidung Mentari saja untuk meluapkan rasa gemasnya.


"Ini nyata, sayang. Kita akan menikah dua hari lagi!" Rean mengedipkan matanya.


Ibu ... Beri Mentari oksigen!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2