Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 87


__ADS_3

"Astaga, Rain!"


Damian langsung memeluk Rain dengan erat. Membawanya untuk menjauh dari Bara. Sementara laki-laki itu merasa tegang karena mendapatkan tatapan tajam dari keluarga Rain. Seakan mereka ini ingin menyantapnya hidup-hidup. Mimpi apa Bara semalam? Kenapa dia jadi berat gini kakinya mau melangkah. Bahkan tangan yang hendak menyalami para orang tua pun terasa kaku. Padahal dia hanya menuruti keinginan Rain untuk pergi sejenak dari dunia antah berantah ini. Dia nggak siap kalau ketemu wartawan ketika sedang di luar.


Dia nggak siap dengan pertanyaan yang akan mereka lontarkan. Apalagi gosip tentang pernah dekat dengan Radit pun muncul di media. Foto-foto Rain yang entah mereka dapatkan darimana pun juga muncul.


Bahkan akun Instagram miliknya mendadak memiliki banyak followers. Rain memang tidak membuat akunnya private dia juga tidak terlalu peduli dengan sosial medianya.


"Kamu baik-baik aja kan? Ya, Tuhan. Laki-laki itu tidak berbuat macam-macam padamu kan?"


"Cucuku, kemana saja kamu ini. Kami semua khawatir!"


"Syukurlah kau pulang dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun!"


"Nenek, sebaiknya kita bawa Rain ke rumah sakit. Lakukan pemeriksaan keseluruhan. Aku tidak percaya jika laki-laki ini tidak berbuat macam-macam!" Ando menunjuk ke arah Bara.


"Ya, kau benar! Ayo bawa Rain!" Sania yang tadinya selalu berpikir positif mendadak ikut setuju dengan ide gila cucunya.


"Kurung dia, jangan sampai lepas!" Damian memerintah para bodyguard yang tadi membawa paksa Rain dan Bara.


Mereka ditemukan saat terjebak macet. Orang suruhan Damian sejak tadi mengikuti mereka. Hanya saja mereka kehilangan jejak. Beruntung salah satu dari mereka menghapal nomor plat mobil Bara.


Saat itulah mereka saling kejar-kejaran meninggalkan mobil yang sudah terjebak kemacetan. Salah satu dari mereka membawa mobil milik Bara agar tidak mengganggu aktivitas lalu lintas.


Bara sudah babak belur. Begitu juga dengan Rain. Meski pada akhirnya anak buah Damian terkena amukan karena sudah membuat putri Klopper babak belur diwajahnya.


"Kalian bawa laki-laki ini di kamar tamu! Jangan sampai dia lepas."


"Dan kamu!" Damian menunjuk ke arah laki-laki berbadan besar dan memiliki codet di wajahnya.


"Tugas kamu berikan hukuman kepada mereka yang sudah membuat putri saya babak belur!"


"Pa!" Rain yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


Dia sudah tidak tahan dengan sikap Damian yang menurutnya berlebihan. Apalagi Ando sudah bersiap untuk membawanya pergi ke rumah sakit.


"Jangan kurung Bara!"


Rain menatap tajam dua lelaki yang sudah menarik tangan Bara.


"Lepaskan dia!" teriak Rain. Membuat dua lelaki berbadan kekar itu pun menurut.


Rain lebih seram daripada bosnya. Sungguh, melihat tatapan Rain saja seolah gadis itu sudah siap ingin membunuh.


"Apa-apaan kamu, Rain! Dia sudah menculik kamu dan harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan sama kamu!"


"Aku nggak pernah melakukan hal seperti yang kalian pikirkan. Aku bukan Rean!" Semua karena Rean yang sudah menodai kepercayaan Damian.


Kalau saja dia tidak terlalu sembrono dalam berpacaran pasti semua ini tidak akan terjadi. Damian selalu berpikir buruk pada Rain.


Mendengar hal itu hati Mentari terasa tercubit. Dia seperti perempuan murahan yang mau saja menjadi budak napsu Rean.


"Papa lupa dengan kesalahan papa dulu? Menjodohkan aku dengan lelaki brengsek seperti Kenan! Aku bahkan hampir saja terjebak dengan rencana busuk Radit. Lalu apa yang dilakukan Bara? Dia menyelamatkan aku, Pa!"


Rain mengingat kejadian dimana Bara menyelamatkannya begitu keren. Dia sangat kagum dengan laki-laki itu yang bahkan tidak perduli jika nyawanya terancam.


Bara mau melakukan apapun asal Rain bahagia. Lelaki yang terlihat brengsek malah memiliki hati yang luar biasa baik. Selalu memilih terluka demi menyelamatkan dirinya.


"Dia nggak pernah sedikitpun nyentuh aku! Bahkan dia selalu melindungi aku! Papa lupa dengan semua yang terjadi? Stop menganggap aku ini anak kecil yang baru hilang sebentar sudah membuat kalian kelabakan!"


Rain mengatur napasnya. Emosinya sudah meledak dan ingin rasanya mengeluarkan semua yang ada di hati. Namun, energinya sudah habis. Dia lelah jika harus berkata lebih banyak.


"Udah! Jangan buat masalah makin panjang. Aku udah pulang dengan selamat tanpa suatu kekurangan apapun. Bara hanya mengikuti perintahku yang nggak mau berurusan dengan media. Bara sudah nyuruh aku pulang tapi aku kekeh tetep nggak mau pulang sampai pikiran aku tenang!"


Bara terkejut dengan ucapan Rain yang membela dirinya. Semua orang yang ada di sana pun mulai merubah cara pandang ke arah Bara. Tatapan mereka sulit di artikan.


"Kalau dia laki-laki brengsek! Pasti sudah melakukan hal yang diluar batas. Tapi dia?" Rain menunjuk ke arah Bara. Rain tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya teramat sakit.


Ingatan yang dulu dia kubur pelan-pelan pun kembali berputar. Membuat kepalanya terasa pening.


"Kenapa sejak dulu aku tidak pernah diberi kebebasan? Kenapa hidup aku ini selalu di atur? Apa papa nggak belajar dari kesalahan? Sejak kapan Bang Ando perduli sama aku? Bang Rean, kamu udah janji buat nggak ngekang aku lagi, buat nggak panik berlebih di saat aku sakit. Kenapa kamu jadi berubah? Kenapa juga kesalahan kamu berimbas sama aku!" Runtuh sudah air mata Rain.


Dia segera menghapus air mata sialan yang malah menetes dengan seenaknya.


Ando sejak dulu tidak pernah perduli dengan Rain. Entah kenapa sejak semua baik-baik saja dia jadi menyayangi Rain. Padahal dulu dengan terang-terangan dia membenci Rain dan selalu mengatakan anak sial, pembunuh, karena sudah membuat Kimberley meninggal.


Disaat semua sudah berlalu, Rain berharap jika dia memiliki kebebasan. Hidup dengan normal layaknya remaja lainnya. Tanpa harus berurusan dengan orang jahat dan berakhir dengan pertumpahan darah lagi.


Cukup masalah Radit yang terakhir.


"Aku capek! Aku lelah menjadi boneka kalian!"


Setelah mengatakan hal itu cekalan ditangan Ando mengendur. Rain mengambil kesempatan untuk pergi ke kamarnya. Dia ingin menenangkan dirinya.


Sementara kakek Albert hanya diam dengan tatapan yang entah. Sejak tadi memang dia seolah tidak perduli dengan Rain yang hilang. Dia percaya pada Rain yang bisa menjaga diri dan pasti kembali.

__ADS_1


Pesta semalam tentu saja membuat Rain merasa tidak nyaman. Berada di hadapan banyak orang dengan tatapan entah itu pasti membuat Rain trauma.


Ibarat berlian, Rain pasti akan selalu di kejar-kejar oleh siapa saja yang ingin dekat dengannya dan mendapatkan berlian itu.


"Bara, pulanglah!" Itu suara Kakek Albert.


Bara langsung mengangguk. Dia harus segera mengambil kesempatan ini daripada berlama-lama di mansion Damian yang besar tapi membuatnya terasa sesak.


"Saya permisi!"


Tidak ada jawaban. Mentari sejak tadi hanya menunduk sambil meremas jemarinya. Sementara nenek Sania duduk dengan tatapan sendu.


Damian mematung, mencerna semua ucapan Rain. Merasa dirinya memang tidak pantas menjadi seorang ayah. Ando, dia memilih untuk ke kamar Rain. Memang sikapnya selama ini salah, dia hanya ingin membangun hubungan seorang kakak kepada adik dengan baik. Namun, caranya salah dan membuat Rain tidak nyaman.


Rean merasa sangat bersalah di sini. Dia juga di tuntut untuk menjadi Abang yang baik. Mereka kembar dan Damian selalu mengatakan jika Rean tidak bisa menjaga Rain bahkan sempat menyalahkan kehadiran Mentari. Beruntung saat itu tidak ada Mentari, jadi gadis itu tidak mendengar perkataan Damian yang menyakitkan.


Damian hanya ingin membangun hubungan yang harmonis dengan putra-putrinya. Dia nggak mau mengulang masalah yang dulu. Hanya saja caranya yang salah. Rupanya sikap Damian sudah membuat Rain tertekan.


Dulu Damian akan selalu melakukan kekerasan kalau Rain pulang terlambat. Dia menahan itu semua tadi, dia memberikan pelukan hangat pada gadis itu. Nyatanya malah sikap Damian salah. Kekhawatiran yang berlebihan itu lah yang membuat Rain kesal. Padahal dia sebenarnya rindu dengan pelukan hangat itu.


"Mentari, jangan diambil hati ucapan Rain ya. Dia hanya sedang emosi. Apapun itu bukan salah kamu." Sania membelai lembut kepala Mentari.


Wajah gadis itu sudah sangat pucat. Sania tahu jika Mentari merasa tertekan. Damian baru menyadari jika ada menantunya di sana. Ucapan Rain tadi pasti menyinggung hati Mentari. Dia juga pernah menyalahkan Mentari. Melihat gadis itu yang kacau, Damian menjadi merasa bersalah.


"Rean, bawa istri kamu pulang. Kasian dia pasti syok dengan ucapan Rain yang menyudutkanmu. Meski dia tidak mengatakannya pastilah Mentari merasa jika semua adalah salah dirinya!" kata Damian pelan.


Rean mengangguk dan menggenggam tangan Mentari.


"Kita pulang ya!"


Perlakuan itu membuat hati mentari menghangat. Air matanya ingin tumpah tapi dia tahan.


"Nenek, Kakek, Papa ... Aku ... Pulang dulu," pamit Mentari.


"Ya, jaga kesehatanmu. Jangan sampai ucapan Rain menjadi pikiranmu dan buat kamu sakit!" pesan Nenek sania.


Mentari hanya mengangguk. Setelah menyalami Nenek, kakek dan Damian mereka pun keluar dari bangunan mewah ini.


"Damian, aku rasa sikapmu memang keterlaluan. Sudah aku bilang jika Rain baik-baik saja. Dia hanya butuh ketenangan. Apa kamu tidak tahu, jika dulu dia trauma dengan takdirnya yang menjadi kembaran Rean?" Kakek Albert buka suara.


Damian hanya menggeleng lemah. Dia sibuk bekerja dan bekerja jadi mana tahu tentang Rain dan segala masa lalunya.


"Ini yang aku tidak sukai dari kamu. Kenapa Kimberley bisa menikahi laki-laki sepertimu!" Albert menghela napas panjang.


Dia kemudian bangkit dari duduknya. Menyisakan rasa penasaran di benak Damian. Ingin rasanya menyuruh Albert menceritakan apa trauma Rain, tapi dia malas ribut dengan mertua laki-laki.


Damian mengangguk dan langsung menaiki anak tangga. Dia akan membicarakan semua ini dengan baik. Albert benar, Rain bisa menjaga diri dan Bara tidak seperti yang mereka bayangkan. Bara laki-laki baik yang memang pantas bersanding dengan Rain.


Albert sangat menyukai karakter Bara, tapi lagi dan lagi Damian mematahkan dengan asumsinya sendiri. Bahkan dia berniat menjodohkan Rain saja dengan anak dari salah satu koleganya juga berniat menjauhkan Rain dengan Bara. Tidak perduli jika Bara adalah putra sahabatnya.


Ponsel Damian berdering ketika hendak mengetuk pintu kamar Rain. Menampilkan nama Alpha di benda pintar itu.


"Apa putrimu baik-baik saja? Aku meminta maaf atas kelakuan putraku," kata Alpha dari seberang sana.


Panjang umur sekali dia, baru saja ada dalam pikiran Damian, nama itu muncul pada layar ponselnya.


"Tidak! Dan ini semua karena putramu!"


"Ya, baiklah aku tahu. Aku akan menjauhkan putraku dari putrimu supaya tidak berbuat onar."


"Baguslah jika kau menyadarinya!"


Damian menutup teleponnya.


"Rencana apa lagi yang akan papa lakukan?" Suara Ando membuat Damian kaget.


"Menjauhkan Rain dari laki-laki bajingan itu!"


Ando menghela napas panjang, "Tidak berubah juga!" Papanya itu memang keras kepala sekali.


Ucapan yang Rain katakan sepertinya tidak menusuk sampai ke hati. Mungkin masuk kuping kanan keluar kuping kanan juga.


"Rain akan semakin membenci papa!"


"Tidak akan, Papa akan carikan laki-laki yang bisa menjadi teman untuk Rain dan yang pasti lebih baik!"


Suara pintu terbuka dan Rain keluar dengan wajah yang mengeras.


"Nggak perlu cari teman buat Rain. Jauhkan semua teman yang dekat dengan Rain. Kurung saja aku biar kamu puas! Bila perlu lakukan homeschooling supaya kamu tidak khawatir lagi kalau aku dekat dengan Bara. Nikahkan aku sama anak temanmu yang hanya kamu pandang dari harta tanpa peduli sikap anak itu!"


Tidak ada panggilan papa yang tersemat dalam perkataan Rain. Hatinya sudah sangat membenci Damian bahkan jika laki-laki itu ingin minta maaf, sepertinya Rain sudah tidak perduli lagi. Ando saja tidak Rain dengar saat ingin meminta maaf. Rain sama sekali tidak membuka pintunya.


"Kalau boleh memilih, dulu lebih baik aku mati daripada harus hidup dalam keluarga menyebalkan seperti ini!" teriak Rain, suaranya menggema membuat Sania pun menaiki anak tangga.


Rain kembali masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kencang. Menimbulkan suara yang nyaring.

__ADS_1


Hari ini dia benar-benar kacau. Takdir seakan sedang mempermainkan dirinya. Terjebak dalam tubuh gadis yang sekarang berusia tujuh belas tahun sungguh melelahkan. Seharusnya hari ini menjadi hari yang bahagia karena Damian sudah mengakui dia putrinya.


Juga kehidupan semua baik-baik saja. Hubungan dengan Ando pun layaknya seorang kakak dan adik. Benteng permusuhan mereka sudah tidak ada lagi.


Hari dimana menjadi kelahirannya dan menginjak usia yang kata orang itu adalah usia spesial. Harusnya menjadi moment yang indah. Nyatanya Rain kembali menelan pil pahit. Seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menyakitkan dihari ulang tahun.


Rain bukan Rain asli yang lemah. Memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya di saat semua menghakimi hidupnya. Rain memilih diam dan mengurung diri di kamar. Dia sudah menyusun rencana untuk kabur saja.


Kabur sejauh mungkin dan menutup akses supaya tidak ada yang bisa menemukan dirinya.


Hidup sebatang kara akan jauh lebih baik daripada hidup bersama keluarga yang menjadikannya boneka. Rain tahu, jika mereka khawatir karena dia seorang perempuan yang akan dengan mudah terbuai ucapan laki-laki. Namun, Rain bukan perempuan seperti itu.


Kalau saja Bara sudah berniat buruk pastilah sudah dia lakukan semalam. Meski tidur di ranjang yang sama itu karena mereka lelah. Rain juga tidak mempermasalahkan itu. Ranjang yang luas jika Bara tidur di sofa yang kecil pasti tubuhnya akan terasa semakin sakit. Bara tidak melakukan apapun. Bahkan dia juga tidak menyentuhnya. Kalau dia adalah Radit pasti udah mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Melakukan apa saja supaya Rain tidak sadarkan diri.


Rain sudah mengemasi barang-barang. Juga mengecek saldo rekening dan memindahkannya pada rekening yang tidak Damian ketahui.


Rain harap rencananya berjalan dengan lancar. Dia juga menghitung biaya kehidupan nanti setelah pergi dari kota tersebut.


Meskipun uang milik Rain tidak berseri tetap saja dia harus memikirkan biaya kedepannya. Dia juga belum memiliki pekerjaan. Meski gaji menulis juga sudah lumayan.


"Rain, makan yuk udah siang!" Nenek Sania mengetuk pintu Rain perlahan.


Jujur perut Rain sudah keroncongan tapi dia gengsi dong kalau makan bersama Ando dan Damian. Rain sedang mode ngambek. Bahkan mereka juga lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Rain memilih membuka pintunya. Selama tinggal di rumah ini, nenek Sania tidak pernah memberikan peraturan. Nenek Sania selalu memberikan kasih sayang untuknya.


"Nenek?" Rain terkejut karena nenek Sania membawakan makan siangnya ke kamar.


Nenek Sania sangat pengertian sekali.


"Nenek pengen nasi Padang. Ayo kita makan di sini sama-sama!" Nenek Sania menutup pintu kamar Rain dan menguncinya.


Dua bungkus nasi Padang sudah siap di meja kecil yang berada di kamar Rain. Bersama dengan segelas es teh dan air putih untuk nenek Sania. Tentu saja nenek yang menyiapkan ini.


Rain makan dengan lahap karena dia memang lapar. Energinya terkuras habis saat berhadapan dengan Damian tadi. Sekarang dia harus mengisi kembali energinya supaya bisa berpikir dengan jernih.


"Nenek nggak habis, Rain!" Nenek Sania menyodorkan piring miliknya.


Nasi Padang memang posrinya sangat banyak. Rain pun meraih piring milik nenek Sania dan menyingkirkan sendoknya. Nasi Padang memang lebih enak makan dengan tangan.


Nenek Sania tersenyum juga geleng kepala melihat cucunya ini makan dengan lahap bahkan menghabiskan miliknya.


"Berapa hari kamu tidak makan, Nak?" Nenek Sania terkekeh.


Rain hanya nyengir saja. Melihat Rain makan dengan lahap saja sudah membuat nenek Sania kenyang.


"Aku cuci tangan dulu!" Rain sudah selesai makan dan tanpa sisa sedikitpun. Piring nenek Sania sampai bersih.


Bungkus nasi milik Rain jug bersih. Piring Rain hanya untuk mengalasi bungkus nasi saja. Kalau nenek Sania dipindahkan ke dalam piring.


"Kenyang banget!" kata Rain sambil menepuk perutnya.


"Istirahat ya, nenek tahu kamu lelah. Jangan dipikirkan tentang papamu. Dia hanya khawatir dan belum menurunkan egonya."


Rain mengangguk saja supaya lebih cepat. Dia ingin tidur juga sebenarnya.


"Biar nanti Rain yang bereskan. Makasih ya, Nek. Sudah repot-repot bawain makan siang buat Rain!" Gadis itu memeluk neneknya dengan erat dan mencium pipi yang sudah keriput itu.


"Nenek bahagia jika kamu bahagia. Ayo tidur. Nenek akan temani kamu!"


"Dengan senang hati!"


Nenek Sania memeluk tubuh Rain dan mengusap keningnya supaya gadis itu terlelap. Dia merasa sedih melihat Rain yang memiliki masa lalu yang menyakitkan. Hidupnya selalu tidak berjalan mulus. Nenek Sania tahu jika Rain menuntut sebuah kebahagiaan dan itu tidak salah. Rain berhak bahagia dengan caranya sendiri. Tidak perlu campur tangan siapapun. Seharusnya keluarga hanya memberi nasehat dan dukungan bukan malah mengekangnya.


Sania juga tahu jika Rain ingin meluapkan semua isi hatinya. Dia sangat rindu dengan sosok seorang ibu. Meski sudah besar, Sania yakin jika Rain merindukan kasih sayang seorang ibu. Sania memandangi wajah Rain yang sudah terlelap. Dia merasa sangat sedih, apalagi teringat dengan Kimberley. Putri semata wayangnya yang sudah tiada.


Sania mengecup kening Rain kemudian perlahan meletakkan tangan Rain pada guling untuk menggantikan posisinya. Sania membersihkan meja tempat mereka makan tadi. Lalu perlahan keluar dari kamar Rain.


Damian langsung menghampiri nenek Sania..


"Dia sudah tidur."


Damian bernapas lega. Dia membuka pintu kamar Rain perlahan dan menatap wajah yang mirip dengan Kimberley. Betapa rindunya dia dengan sosok cinta pertamanya itu.


"Maafkan Papa, Nak!" Damian mengecup kening Rain.


"Banyak kesalahan yang sudah papa lakukan. Bahkan rasanya papa tidak pantas kamu panggil dengan sebutan papa. Trauma kamu saja papa tidak tahu. Bahkan kamu hampir bunuh diri karena papa. Maafkan Papa yang egois, sayang. Papa hanya khawatir dan ingin menebus semua kesalahan Papa. Hanya saja cara papa yang salah. Papa janji nggak akan mengekang kamu lagi. Papa akan memberikan kamu kebebasan dengan catatan kamu bisa menjaga diri. Kamu boleh berteman sama siapa saja termasuk Bara."


Damian berkata dengan pelan karena tidak mau membangunkan Rain. Damian tahu Rain akan mendengar ucapannya dibawah alam sadarnya.


Damian mengusap-usap kening Rain.


"Maafkan Papa ya. Seharusnya Papa yang disalahkan karena sudah membuat mamamu meninggal. Andai dia masih ada pasti kita sudah bahagia." Suara Damian mulai serak. Dia memilih untuk pergi dari kamar Rain.


Rain yang tadi sudah pulas tidur kembali terbangun ketika mendengar suara Damian. Kepergian Damian meninggalkan sebuah senyuman di bibir Rain.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2