Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 33


__ADS_3

Bab 33


Rain membuka pagar yang terbuat dari kayu itu. Langkahnya terayun menuju jalan setapak kecil. Rain menoleh ke arah samping, dimana ada tanaman bunga yang tumbuh subur dan bermekaran. Sebelah kanan pohon mangga yang sedang berbuah. Rain melanjutkan langkahnya menuju pintu, tapi dia berhenti lalu menoleh ke arah pohon mangga itu. Dimana sebelahnya ada ayunan yang sedang bergerak.


Seorang gadis sedang memainkan ayunan itu dan tersenyum ke arahnya.


"Lo ngapain dateng siang-siang?" tanya Rain yang memilih mendekat.


Gadis itu tersentak karena Rain melihatnya. Lalu kemudian tertawa. Tawa yang terdengar memekakkan telinga.


"Hihihihi ...."


"Tawa Lo fals tahu nggak!" cibir Rain.


Gadis berambut panjang itu pun memasang wajah masam. Lalu mengayunkan kembali ayunan itu.


"Lo suka main ayunan ya? Jadi ini tempat favorit Lo?"


Gadis berpakaian serba putih itu mengangguk.


"Mending Lo pergi aja sebelum gue bacain doa sebelum makan!" ucapnya sarkas.


Gadis itu tidak perduli malah tertawa lagi dan dengan santainya memainkan ayunan.


"Batu bener! Pergi nggak Lo!"


Seorang lelaki yang baru saja membuka pagar pun tersentak kaget karena melihat Rain yang marah dan melempar sandal ke arah ayunan.


Gadis itu segera pergi, dia terbang ke atas dan duduk di batang pohon mangga.


"Ambilin buat gue ngerujak!"


Tidak lama kemudian beberapa mangga muda berjatuhan. Membuat lelaki itu mendadak merinding, karena tidak ada siapa-siapa di sekitarnya selain dirinya dan Rain.


"Dia bicara sama siapa?" batin Radit.


"Nah, gitu baik. Berguna juga kan Lo! Jangan ganggu gue kalau nggak mau gue bacain ayat kursi! Ayatnya gue baca kursinya gue lempar ke muka Lo!" gerutu Rain sambil memunguti mangga yang jatuh.


Kemudian angin berhembus bersamaan dengan menghilangnya gadis tadi.


Rain menoleh ketika melihat seseorang berdiri di dekat pagar dengan tubuh bergetar kecil.


"Eh, Sayang! Udah lama apa baru dateng?" tanya Rain santai.


"Itu ... Tadi siapa?" tanya Radit setengah takut. Wajahnya juga sudah pucat.


"Mbak Kun! Rese banget siang-siang dateng!" Rain berkata santai. Tidak ada takutnya sama sekali.


Radit segera berlari ngacir dan memeluk Rain. Tubuhnya bergetar dan terasa dingin. Radit memang sangat takut jika membahas soal hantu.


"Ketua geng motor takut sama setan? Elah!" cibir Rain yang menggandeng tangan Radit untuk duduk di kursi teras.


"Hantu? Kamu ajak ngobrol begitu?" Tentu saja Radit heran. Kekasihnya ini tidak merasa takut sama sekali.


Radit saja sudah merinding begitu. Apalagi dia sering menginap di rumah sederhana itu sendiri atau bersama temannya. Pasti sebentar lagi dia nggak berani di sana sendirian. Radit bergidik ngeri. Rumah masa kecilnya memang angker, seperti kata temannya waktu itu.


"Kenapa sih, Sayang?" Rain menangkup wajah Radit.


"Agak laen memang pacar aku ini. Di luar nurul, tidak habis fikri, tidak masuk di haikal dan benar-benar Herman deh aku, Rain! Setan saja kamu aja ngobrol dan ...." Radit geleng-geleng sambil melirik mangga yang ada di meja.


"... Dan? Apa?"


"Mangga ini kamu minta dia ambilin?" tebaknya.


Rain meraih kunci yang berada di meja lalu membuka pintu rumah itu.


"Ayo, kita ngerujak di rumah pohon!" ajaknya.


Radit pasrah saja, meski sebenarnya dia masih merasa horor. Selama ada Rain, semua akan baik-baik saja kan? Jika ada makhluk lain lagi pasti kabur kalau lihat Rain.


Saat melangkah masuk, Radit menoleh sebentar ke arah pohon mangga. Dia bergidik ngeri dan langsung berlari mengikuti langkah Rain.


"Kamu nggak suka rujak ya?" tanya Rain yang melihat kekasihnya itu sejak tadi hanya diam saja.


"Suka, dulu aku suka banget makan mangga di pohonnya. Kayaknya sekarang aku jadi nggak suka!"


Rain terkekeh, melihat sorot ketakutan dari manik cokelat pekat itu. "Mangga rasa Mbak Kun emang mantep!" celetuk Rain.


"Sayang!" rajuk Radit.


Jika bersama Rain, lelaki itu memang manja tapi saat di sekolah dia akan berubah mode dingin. Rain selama ini sering memperhatikan gerak-gerik Radit. Lelaki itu akrab dengan teman sekelasnya karena sama-sama berprestasi. Namun, tatapan Radit berbeda, dia hanya menganggap teman. Jika sedang menatap Rain, tatapan itu hangat dan penuh cinta.


"Iya ... Iya ... Nggak usah takut kan ada aku di sini!"


Radit menghela napas. Lalu berpindah posisi menjadi duduk di belakang Rain. Menarik gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Radit menyandarkan dagu di pundak Rain.


"Tadi ... Kamu jadi ke rumah sakit?" tanya Radit.


"Ya, Tante Gina sudah siuman!" kata Rain sambil menikmati rujak mangga muda buatannya.


Urusan makan buah yang asam itu memang Rain jagonya. Dia makan dengan santai tanpa nyengir masam, sedangkan orang yang melihat pun merasa linu dan juga heran.


"Syukurlah. Aku senang dengarnya. Lalu ... Apa dia ada di sana?"


Rain mengusap pipi Radit, dia paham siapa yang Radit maksud.


"Ada, kita nggak ngobrol kok!" Rain melepas tangan Radit yang melingkar di perutnya. Lalu berpindah posisi untuk menatap lelaki itu. "Aku ngobrol sama Tante Gina. Dia hanya diam saja!" jelas Rain yang tidak ingin membuat mood Radit berubah.


"Rain, apa kamu masih mencintainya?"


Kunyahan Rain terhenti, lalu menatap intens lelaki yang sejak tadi memasang wajah masam jika sudah membahas soal Kenan.


"Kalau aku sudah memilih orang lain, itu berarti perasaan aku untuknya sudah hilang."


"Secepat itu?"


Rain mengangguk.


Karena aku bukan Rain yang sebenarnya.


Radit tersenyum dan mengacak rambut Rain.


"Mau?" Rain hendak menyuapi mangga itu. Radit segera menggeleng.


"Aku nggak suka mangga!" kilahnya.


Padahal dia jelas-jelas sangat takut tadi. Seharusnya Radit tidak melihat saja adegan itu. Ah, sialnya melihat Rain berbicara dengan Mbak Kun dan memintanya untuk memetik mangga muda.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rain yang melihat Radit terus menatapnya.


Radit menarik bahu Rain agar gadis itu bersandar di dada bidangnya.


"Aku sayang banget sama kamu. Kalau aku sudah lulus terus kuliah, tolong jaga hati aku yang aku titipkan ke kamu ya?"


Rain terkekeh, "Apa ini Radit si kulkas itu?" Gadis itu sangat heran karena sikapnya di sekolah dengan Radit yang sekarang berbeda.


Radit seperti memiliki kembaran dan sifatnya berbeda. Padahal dia hanya satu dengan sifat yang berubah-ubah.


"Kamu aku ajak ngobrol serius malah bercanda!" Radit mencubit pipi Rain.


"Sakit ih?" Rain memukul punggung tangan Radit.


"Setelah kamu datang ke kelas, mereka jadi heboh dan tidak lagi meledek aku saat bersama Rean. Mereka bingung sendiri dengan hubungan aku dan Rean. Dulu mereka mengira kami pacaran!"


Rain yang hendak merubah posisinya, segera Radit tahan. Dia masih ingin berada di posisi seperti sekarang. Memainkan rambut panjang Rain yang digerai. Radit lebih menyukai Rain seperti ini.


"Kenapa kamu masih menyembunyikan identitas kamu, sayang?" Radit heran dengan kekasihnya ini yang lebih memilih menyembunyikan identitasnya. Dia juga tidak pernah pamer kepada siapapun jika dia anak orang berada.


Rain menggeleng. Membuat poni yang menutupi alis itu bergoyang. Ini tentu saja bukan model kesukaan Rain. Dia tidak suka diponi. Ya, Rain yang sekarang kan tomboy. Dia merubah gaya rambutnya juga gara-gara Radit.


Rain yang dulu itu sangat manis dan penampilannya tuh feminim meski terkesan cupu.


"Aku nggak mau nanti banyak yang deket karena tahu aku ini siapa. Mia yang sejak dulu bersama pun nggak tahu siapa aku. Pun aku nggak mau punya beban karena mereka tahu aku kembaran Rean, lelaki itu memiliki fans fanatik yang benar-benar menyeramkan!"


"Fans fanatik?" beo Radit.


"Ya, Rean suka sekali dapat hadiah di tasnya atau di titipkan sama satpam. Isinya aneh-aneh. Kadang ada Fansnya yang ngirim foto-foto dengan pakaian sexy. Itu juga banyak yg dari sekolah sebelah. Pernah juga ada yang ngikutin Rean sepulang sekolah. Maksa buat di cium atau foto bareng."


Mendengar itu Radit meringis, dia tidak menyangka jika fans Rean seheboh itu. Lelaki yang menjadi kembaran Rain selalu dikelilingi oleh gadis yang aneh.


"Pas pertama kali aku merubah penampilan, besoknya aku dapet ancaman dari entah siapa. Terus ... Kamu tahu Keyla nggak?" Rain mendongak untuk melihat wajah kekasihnya itu.


"Keyla?" Kening Radit mengerut. "Tentu saja tahu!" jawabnya santai.


Keyla gadis yang cantik dan pintar. Seluruh sekolah juga tahu siapa Keyla. Dia sering mendapatkan juara kelas dan mengharumkan nama sekolah dengan mengikuti beberapa olimpiade. Banyak kaum lelaki yang terpesona dengan kecantikan Keyla. Gadis itu seperti diratukan oleh para siswa. Sebelum Ella datang dan menjadi saingannya.


"Dulu dia kan deket sama Kenan!"


"Oh ya? Aku baru tahu."


Radit terdiam sesaat, dia lupa kalau Rain masih belum bisa mengingat semuanya. Jadi Radit memaklumi hal itu.


"Iya, kamu uring-uringan dan bahkan selalu mencampuri urusan mereka. Kamu tuh memalukan dulu!"


Rain mendongak dengan bibir mencebik dan bersungut-sungut lucu. "Jadi aku malu-maluin?" kata gadis itu dengan bibir mencebik.


Radit terkekeh lalu mencubit kedua pipi Rain dengan gemas.


"Lucu banget sih. Gemesin tahu nggak! Kamu nggak boleh kayak gini di depan umum. Aku nggak mau kalau banyak yang suka sama kamu!"


"Ih, ngeselin!" Rain mengusap kedua pipinya. "Nanti aku makin chubby!" gerutu Rain kesal.


"Nggak apa-apa biar nggak ada yang naksir!"


"Oh, jadi kalau aku gemuk kamu nggak naksir lagi?"


"Bukan gitu!" Radit mengusap tengkuknya.


Rain duduk di posisi semula, dekat jendela dengan kedua tangan dilipat. Wajahnya sudah tidak enak dipandang.


"Maksud aku biar nggak ada yang naksir selain aku. Jangan marah dong, aku tetep sayang meski kamu gemuk sekalipun!" bujuk Radit.


Rain memalingkan wajahnya. Membuat Radit merasa serba salah. Dia menarik dagu Rain dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Posisi Radit berjongkok di hadapan Rain. Sementara Rain duduk. Gadis itu langsung memberontak. Namun, dengan sigap Radit menahan kuat kedua bahu Rain. Lelaki itu langsung memberikan ******* dan ******* pada bibir atas dan bibir bawah Rain. Satu tangan Radit beralih untuk menekan tengkuk Rain agar gadis itu berhenti untuk bergerak.


Radit memperdalam ciuman itu dengan memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir Rain yang sudah memerah.


Tangan Rain yang sejak tadi mendorong bahu lelaki itu pun berubah menjadi remasan ketika lidah Radit mulai beraksi di dalam mulutnya, meliuk-liuk dan memberikan sensasi geli. Rasa yang familiar tapi berhasil membuat debaran dada Rain semakin menggila.


"Mmmh!" Rain mendorong dada Radit sekuat tenaga. Sial! Bisa-bisanya dia terbuai dengan ciuman itu.


Radit melepaskan ciuman itu lalu menempelkan keningnya pada kening Rain. Napas mereka sama-sama memburu ketika saling bertatapan dengan bibir yang sama-sama kebas. Ciuman ini paling lama Rain rasakan.


"Kalau marah gitu aku nggak segan-segan buat bibir kamu tambah bengkak!" Radit menyapu bibir Rain yang basah.


Gadis itu memilih diam dan mengangguk saja daripada nanti bibirnya bengkak dan mengudang kecurigaan Rean.


"Senyum dulu!"


"Iya, nih!" Rain memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Radit tersenyum, rupanya mudah sekali membuat Rain tidak marah. Hanya dengan ciuman lembut dan gadis tomboy itu luluh.


"Rain, boleh aku tanya sesuatu?" Radit berkata dengan hati-hati. "Menyangkut Tante Gina!" Kali ini debaran di jantung Radit bertalu-talu. Dia takut gadisnya akan marah lagi.


"Kenapa dengan Tante Gina?"


"Apa ... Tante Gina tahu tentang gagalnya pertunangan kalian?"


Rain tersentak kaget, debaran yang tadi hampir hilang kini kembali hadir. Dia meremas ujung hoodienya.


Rain menggeleng pelan, "Aku nggak tega kalau bilang nanti pasti Tante Gina ... Ngedrop lagi."


" ... Membiarkan Kenan bersikap manis di depan Tante Gina?" tebak Radit.


Berharap jika tebakannya itu tidak benar. Kalau saja benar, maka hatinya semakin teriris. Dia tidak mau membagi gadisnya dengan siapapun. Sekali miliknya akan tetap jadi miliknya.


"Hanya sandiwara, aku juga sudah katakan pada Kenan untuk bicara yang sebenarnya setelah kondisi Tante Gina membaik. Mereka juga akan pindah ke Singapura!" Penjelasan yang membuat remasan dihati Radit.


"Dan aku merasa seperti selingkuhan kamu!" Radit melempar tatapannya ke sembarang arah.


"Sekarang ... Kamu yang marah. Padahal kita sudah janji untuk tidak membahas ini! Apa aku juga harus membahas Sandra? Melihat kalian tertawa bersama seakrab itu! Katanya kamu benci tapi melihat kalian kemarin buat aku mikir lagi!"


"Aku memang nggak suka sama dia, kemarin kita tertawa karena Hanna," jelas Radit membela diri.


"Apa aku marah? Apa aku bahas?"


Radit menggeleng lemah. Rain benar, sejak tadi dia tidak membahas Sandra dan bertanya soal itu. Radit juga kaget ketika Rain tahu jika kemarin Sandra ke rumahnya. Dia juga yang bilang kalau jangan bahas itu. Hanya saja rasa penasaran Radit terus menggebu-gebu. Maka dari itu, Radit bertanya daripada terus penasaran, meski lelaki itu sudah tahu jawabannya.


Seketika suasana jadi hening, tidak ada lagi obrolan dan adegan manis itu. Hingga ... Suara dering ponsel mengalihkan atensi masing-masing.


Rain merogoh ponselnya di saku celana.


"Halo!"


"Lagi sama Radit, kenapa emang?"

__ADS_1


Radit menyimak obrolan Rain dengan seseorang di seberang sana.


"Anjiiirr! Nggak jelas!" Rain mematikan sambungan telepon tersebut.


"Kenapa?"


"Rean nggak jelas!"


Radit tersenyum tipis. Melihat obrolan Rean dan Rain itu seperti dia berkaca. Hanna dan Radit pun seperti Tom and Jerry.


***


Sedangkan di tempat lain, Rean mengambil beberapa camilan. Dia akan menikmati malam minggu di apartemen. Tadi dia menelpon Rain untuk ke apartemen setelah pulang kencan.


Rean juga membelikan minuman kesukaan Rain dan beberapa camilan yang menjadi favorit gadis itu. Saat melihat dua keranjangnya yang penuh, Rean segera menuju kasir. Ujung bibirnya sedikit tertarik ketika melihat seseorang yang hendak berjalan ke arah kasur. Dengan langkah lebih cepat dari gadis itu Rean meletakkan keranjangnya di meja kasir.


Gadis itu menggerutu di dalam hatinya ketika melihat ada seseorang yang lebih dulu darinya, tapi saat menoleh ke arah orang tersebut, kekesalannya hilang begitu saja.


"Hay!" sapa Rean dengan lambaian tangan.


Mentari hanya mengangguk kikuk, sungguh penampilan Rean telah menghipnotis dirinya.


Rean langsung mengambil botol parfum yang ada ditangan Mentari. Lalu memberikannya kepada kasir.


"Tambah ini ya, Mbak!"


Mentari melotot karena Rean membayar belanjaannya.


"Lo cuma beli ini?" tanya Rean yang menyodorkan kembali botol parfum Mentari.


Gadis itu mengangguk singkat.


"Ada lagi?"


"Nggak ada."


"Totalnya lima ratus empat puluh ribu!" ucap sang kasir.


Seketika Mentari susah sekali menelan salivanya. Nominal belanjaan Rean sangat fantastis itu bisa untuk jatah jajan Mentari dua bulan.


"Ambil aja kembaliannya!"


"Terima kasih, ganteng!"


Rean membawa dua kantong keresek besar yang penuh dengan camilan dan minuman.


"Mentari, ayo! Kamu mau bengong terus di situ?"


Mentari tersentak dan langsung mengikuti Rean yang keluar dari supermarket tersebut.


"Tunggu di sini!"


Rean membuka bagasi mobilnya dan meletakkan belanjaannya.


"Kamu naik apa ke sini?" tanya Rean.


" ... Makasih ya udah bayarin!" Mentari menggoyangkan botol parfumnya.


"Sama-sama!" Rean menatap gadis itu lamat-lamat. Benar-benar menggemaskan.


"Aku jalan kaki!" Mentari menggigit bibir bawahnya.


"Ayo masuk!" Rean sudah membuka pintu mobilnya.


Mentari ragu untuk masuk, ini pertama kalinya naik mobil sport mewah.


"Ayo, Mentari! Panas nih."


"Ah, i-iya!"


Rean pun melangkah memutari mobil dan duduk dibelakang kemudi. Memasang seat belt sambil melirik ke arah gadis itu yang terlihat gelisah.


"Rean, aku jalan kaki aja!"


Rean langsung menyalakan mesin mobil dan mengunci pintunya.


"Diluar panas, Mentari!"


Mentari mendengus kesal, lelaki disampingnya ini selalu saja berbuat seenaknya.


"Rumah kamu dimana?" tanya Rean.


Mentari lagi-lagi menggigit bibir bawahnya. Membuat Rean semakin gemas dan ingin sekali mengecup bibir itu. Dia benar-benar tidak tahan melihat Mentari seperti ini.


Rean menghentikan mobilnya dan menatap ke arah Mentari. Gadis itu bingung kenapa Rean tiba-tiba menghentikan mobilnya dipinggir jalan?


Mentari menoleh dan tatapannya bersirobok dengan lelaki itu, membuat jantung mentari mendadak berdebar tidak karuan.


"Bisa nggak jangan gigit bibir kamu di depan gue maupun depan yang lain!"


Mentari mengernyit, tidak paham dengan ucapan lelaki itu. Menggigit bibir apanya yang salah?


"Me-memangnya kenapa?" Ditatap seperti itu oleh Rean tentu saja membuat Mentari gugup.


"Gemesin, lelaki manapun kalau liat Lo gitu langsung suka!"


"Mana ada!" sangkal Mentari.


Selama ini tidak ada yang pernah naksir pada dirinya. Kalau Mentari tentu saja pernah naksir seseorang tapi dia memilih mengagumi saja, karena gadis itu sadar jika Mentari bukan siapa-siapa.


"Ada!"


"Nggak akan ada yang suka sama aku, Rean. Kalau kamu iya banyak yang naksir!"


"Termasuk kamu?"


Mentari mencebik, dia memilih membuang pandangan ke arah jendela. Rean terus menatapnya dan mencondongkan tubuhnya supaya dekat dengan Mentari. Membuat gadis itu panas dingin.


"Gue juga naksir sama Lo!" Ucapan Rean yang cepat itu seperti sedang berkumur-kumur.


"Ha?" Mentari menoleh dan melihat Rean mulai melajukan mobilnya kembali.


Mentari sejenak berpikir tentang ucapan Rean tadi. Meski cepat tapi Mentari sempat mendengar.


Aku nggak salah dengar, 'kan? Masa iya Rean naksir sama gadis yang biasa aja?


Bersambung ....

__ADS_1


Selamat membaca ya ... Semoga suka. 😉


Salam sayang dari othor rangginang.


__ADS_2