Raina Grittella

Raina Grittella
Bab 89


__ADS_3

"Tespek?" Rean mengulang ucapan Mentari.


Namun, sedetik kemudian Rean segera menyambar jaketnya dan pergi ke apotik terdekat untuk membeli benda yang Mentari katakan. Meski dengan degupan jantung yang berdebar.


"Aku ambil semuanya!" kata Rean kepada pelayan apotik.


Setelah mendapatkan lima alat tes kehamilan dengan harga yang berbeda, Rean buru-buru menuju apartemennya. Dia sudah tidak sabar mengetahui hasilnya.


"Sayang, ini aku tidak tahu mana yang bagus jadi aku beli semuanya!" kata Rean dengan napas yang tersengal-sengal.


"Ya ampun!" Mentari menggeleng kepala dengan kelakuan Rean.


"Aku pakai semua ya. Kamu tunggu aja di sini!" Mentari mengambil alih plastik yang berisi alat tes kehamilan tersebut.


Gadis itu melangkah menuju kamar mandi. Rean terus saja mondar-mandir menunggu Mentari yang tidak kunjung keluar. Seakan waktu begitu lama.


"Sayang, apa kau pingsan?" tanya Rean yang berada di depan pintu kamar mandi.


Pintu itu terkunci jadi Rean tidak bisa masuk. Rean terus saja mengetuknya padahal baru tiga menit Mentari masuk ke kamar mandi.


"Bentar!" teriak Mentari dari dalam kamar mandi.


Rean menghela napas panjang dan kembali mondar-mandir seperti setrikaan. Saat pintu kamar mandi terbuka, Rean dengan cepat meraih semua alat yang berada di tangan Mentari. Namun, dengan cepat gadis itu menyembunyikannya dan menunduk dengan tubuh yang lemas.


"Hey, ada apa?" tanya Rean panik.


Mentari menggeleng. Dia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya.


"Bagaimana hasilnya?" Rean sudah tidak sabar.


Mentari menyerahkan semua alat itu. "Maaf, aku mengecewakan kamu!" kata Mentari dengan kedua mata berkaca.


Rean mengambil alat yang hanya menunjukkan garis itu. Dia tidak mengerti apa artinya.


Garis dua.


Rean duduk di sebelah Mentari dan meletakkan alat tes kehamilan di sampingnya. Dia mengelus punggung Mentari.


"Sudah jangan bersedih. Mungkin belum rejekinya. Aku saja yang terlalu berharap!"


Mentari menoleh, "Berharap?" tanyanya.


Rean mengangguk. "Ya, aku pikir kamu hamil. Aku iseng saja lihat di Gugel tadi ciri-ciri wanita hamil dan itu semua sama dengan yang kamu alami pagi ini. Aku seneng aja kalau bener kamu hamil. Kalau belum ya sudah jangan bersedih." Rean tersenyum manis untuk memberikan semangat pada istrinya itu.


Toh mereka masih muda jadi perjalanan masih panjang, 'kan?


"Astaga! Rean, apa kau tidak tahu itu apa?" Mentari menunjuk ke arah tespek yang tergeletak di samping Rean.


"Tespek kan?" jawab Rean polos.


"Iya, tespek dengan garis dua!" ucap Mentari tegas, terkejut dan ekspresi Mentari yang tadinya sendu mendadak senang.


Mentari pikir Rean belum siap jika dirinya ....


"Aku hamil, Rean! Aku hamil!" pekik Mentari.


Sementara Rean hanya melongo dan mengambil semua alat tes kehamilan itu.


"Kamu hamil? Ini beneran?" Rean memandangi dua garis yang ada di alat tersebut dan membuangnya asal. Dia mengelus perut Mentari yang masih datar.


"Ini ... Di sini ... Ada hasil olahraga kita setiap malam?"


Mentari terkekeh. Rasa mual kembali melanda dan dengan cepat Mentari berlari karena rasa itu semakin tidak tertahankan. Rean mengejar Mentari karena takut jika istrinya itu terpeleset.


"Huweeeek..."


Rean memegangi rambut panjang Mentari dan memijat tengkuknya.


"Kita periksa ya, supaya diberi vitamin dan tahu kondisimu."


Mentari mengangguk.


Rean memapah tubuh lemas Mentari. Dia tidak tega melihat istrinya ini terus dilanda mual. Ya, memang seperti itu kan jika wanita sedang mengandung di awal trimester.


Sementara di SMA Pelita Bangsa, sepasang kekasih yang baru jadian tadi pagi bergandengan tangan. Seakan dunia ini hanya milik mereka berdua dan yang lain ngontrak.


Mereka berjalan menuju kantin dan membuat siapa saja yang melihat Rain dan Bara merasa iri. Ya, maklum lah Bara dan Rain kan sedang dimabuk asmara.


Berbeda sama Kenan yang hatinya terasa di remas-remas. Hancur berkeping-keping. Dia yang berniat ingin ke kantin pun memilih menuju rooftop saja. Ketiga sahabatnya pun saling pandang satu sama lain melihat tingkah Kenan yang malah berbalik arah.


"Biarin aja, mungkin dia lagi patah hati!" kata Lando.


"Dahlah mending makan aja dulu!" sahut Sandy. "Laper nih!" Sandy menepuk-nepuk perutnya.


"Sama, siapa tahu anak baru ada yang cantik!" jawab Reno.


"Yeuh si Pea!" Lando menempeleng kepala Reno.


Mereka pun memesan makanan yang sama. Reno memperhatikan sekitar, menatap adik kelas barunya. Siapa tahu ada yang kecantol dengannya.


"Masih piyik ya!" celetuk Reno.

__ADS_1


Lando dan Sandy hanya menggeleng saja.


"Rean kenapa nggak masuk?" tanya Sandy yang mengaduk baksonya.


"Lagi bulan madu kalik! Tuh anak susah bener deh di hubungi!" ujar Reno.


"Tanya Rain aja. Kalau udah balik kita ke apartemennya main," usul Sandy.


"Bilang aja mau minta oleh-oleh!" tebak Reno.


Mereka pun malah tertawa bersama. Menikmati bakso meski dua sahabatnya sibuk dengan dunianya masing-masing.


***


Kenan menghisap rokok yang dia selipkan di sela jemarinya. Sudah ada lima batang rokok yang berserakan di lantai. Hatinya benar-benar kacau. Dia bahkan menendang kursi dan meja yang ada di rooftop hingga rusak.


"Aaarggghh! Kenapa gue terlambat!" teriaknya dan mematikan rokok tersebut yang sudah hampir habis.


Dia kembali mengambil satu batang lagi dan baru saja hendak menyalakan apinya, rokok tersebut sudah di ambil alih oleh Reno.


"Gue tahu Lo lagi patah hati! Tapi bukan gini caranya, Bro!" Reno membuang rokok yang masih utuh itu.


Melihat banyaknya puntung rokok yang berserakan dia hanya menghela napas panjang. Kenan bukan perokok. Dia baru tahu jika Kenan sekarang merokok sejak skandal tentang Ella dan keluarga Kenan hancur.


"Nggak usah perduli sama gue!" bentak Kenan.


"Gue sahabat Lo, gue perduli sama Lo. Gue tahu betapa hancurnya hati Lo. Kalau Lo pengen liat dia bahagia Lo harus ikhlaskan dia sama seseorang yang dia cintai. Gue yakin Lo bisa move on. Nggak perlu di sesali, Ken!" Reno menepuk bahu Kenan.


Cowok itu menepisnya. Dia benci dengan kehidupannya yang sekarang. Dia juga benci kenapa baru menyadari jika dia benar-benar mencintai Rain dan dulu malah membuat gadis itu terluka demi mendapatkan cintanya. Kalau saja Kenan tidak terbujuk rayuan Ella, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur dan untuk apa di sesali.


"Sampai kapan Lo seperti ini? Jangan nyiksa diri sendiri, Ken. Banyak orang yang butuhin Lo! Kembali lah ke Aksara!" ucap Reno yang kemudian pergi meninggalkan Kenan.


Kenan memang sudah tidak perduli lagi dengan geng motornya. Dia hancur, rapuh dan butuh seseorang untuk mengeluarkan semua isi hatinya. Namun, dia terlalu gengsi untuk curhat kepada sahabatnya. Pada akhirnya Kenan selalu memendam semua perasaannya sendiri. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan orang lain termasuk mamanya sendiri.


Kenan memilih masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Sebelum pergi ke kelas, dia menuju toilet karena ada panggilan alam yang mendesak.


Bruuk


Saat berbelok menuju toilet seorang gadis menabraknya. Gadis berkuncir dua dengan tali rafia beda warna itu sangat ketakutan. Apalagi buku yang dia pegang jatuh.


"M-maaf, Kak!" ucapnya sambil menundukkan kepala tanpa berani menatap seseorang yang dia tabrak.


Kenan tersenyum kecil dan dia memilih untuk melanjutkan langkah ke toilet.


Melihat kaki lelaki itu melangkah, dengan cepat gadis itu mendongak dan menatap punggung Kenan yang hampir menjauh.


Kenan menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Kakak kenal dengan yang namanya Kak Kenan?" tanya gadis itu.


Mata gadis itu mengerjap. Kenan menatap kedua mata itu dengan jarak yang lumayan dekat. Kenan akui gadis itu memiliki mata yang indah.


"Ya," jawab Kenan.


Gadis itu tersenyum. "Beneran? Boleh minta tolong tunjukin kelasnya?" Gadis itu menangkupkan kedua tangannya.


"Dua belas IPA tiga!"


"Makasih, Kak," ucapnya.


"Aku Azella." Gadis itu mengulurkan tangannya.


Kenan menahan senyum karena ekspresi wajah gadis itu sungguh menggemaskan.


"Kenan!" Cowok itu membalas uluran tangannya.


Kemudian meninggalkan gadis itu yang mengulang kembali namanya.


"Dia orang yang gue cari, astaga!" pekik Azella yang masih di dengar Kenan.


Kenan tidak perduli karena sudah sangat kebelet. Ucapan Reno terus terngiang di telinganya. Mungkin sudah saatnya Kenan move on. Mengejar Rain pun pasti tidak akan pernah bisa dia gapai karena dia sudah memberikan luka yang teramat dalam di hati gadis itu.


Namun, untuk melupakan perasaannya kepada Rain itu sangat sulit. Kenan baru menyadari jika perasaannya untuk Rain teramat dalam.


Kenan mencuci wajahnya dan membasahi rambutnya supaya terlihat lebih segar. Setelah dirasa penampilannya tidak terlalu kusut, Kenan keluar dari kamar mandi.


"Astaga!" Kenan mengelus dadanya karena terkejut dengan kehadiran Azella.


"Maaf, Kak kalau aku ngagetin. Aku butuh banget kakak. Please bantu aku!" Azella sudah hampir menangis.


"Apa?" Sebenernya Kenan malas menanggapi urusan anak baru seperti ini. Ada saja tugas yang harus mereka kerjakan.


Kadang Kenan heran dengan para anggota OSIS yang mengurusi kegiatan masa pengenalan siswa-siswi baru ini. Ya mereka yang ikut dalam Organisasi itu bertanggung jawab dengan acara pengenalan lingkungan siswa baru, tapi tetap ada guru yang mengawasi jalannya kegiatan.


"Kak, nunduk dikit aku capek harus liatan kakak ke atas terus!" Bibir Azella mengerucut.


Kenan pun sedikit merendahkan kakinya untuk mensejajarkan dengan tinggi Azella. Gadis itu mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Cup


Azella mencium pipi Kenan dan mengambil foto saat dirinya mencium pipi cowok dingin itu.


"Heh!" Kenan cukup terkejut, tapi hal ini sudah biasa karena tahun kemarin dia menjadi ajang rebutan para siswi baru untuk bisa mencium pipinya.


Mereka ada juga yang memilih di hukum karena Kenan sangat dingin dan mengerikan. Namun, cara Azella yang lucu ini malah membuat Kenan tersenyum.


"Maaf, Kak. Tapi makasih ya!" teriak Azella yang langsung ngacir setelah mencium pipi Kenan.


Azella menutup wajahnya karena sangat malu mencium pipi Kenan.


"Bodo amat dah!"


Azella terus melangkah menuju kakak ketua OSIS untuk memperlihatkan keberhasilannya. Ini sebenarnya termasuk menguji keberanian para siswa-siswi baru.


"Kak Fikri!" panggil Azella ketika melihat Fikri si ketua OSIS baru saja keluar dari ruang OSIS.


"Aku sudah lakukan tugasku!" Azella menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto Azella yang mencium pipi Kenan.


Fikri tertawa, "Ya udah sana balik ke aula. Jangan di ulangi lagi ya. Harus perhatikan apa saja yang di sampaikan guru maupun para anggota OSIS!"


Azella mengangguk. Ini sebenarnya tadi dia dapat hukuman karena terus saja mengobrol dengan teman barunya saat salah satu anggota OSIS menyampaikan tugas untuk siswa-siswi baru.


"Iya, aku janji!" Azella mengangkat tangannya tanda hormat kepada Fikri.


Kemudian dia berbalik dan berlari ke arah aula.


Fikri geleng kepala melihat tingkah Azella.


"Gadis yang berani!" puji Fikri.


Kebanyakan cewek yang mendapatkan tantangan seperti ini pasti akan gagal karena Kenan menolak. Sikap dinginnya membuat nyali para adik kelasnya menciut. Kenan akan terus menghindar dari serbuan adik kelasnya yang mendapatkan tugas aneh menurut Kenan. Namun, Azella adalah orang yang pertama kali berhasil mendapatkan itu. Entah sihir apa yang dia gunakan sampai Kenan pasrah saja.


Mungkin karena suasana hati Kenan sedang kacau.


***


Rain menatap kelima cowok yang masih memakai seragam putih biru. Mereka berbondong-bondong menyodorkan buku untuk meminta tanda tangan Rain. Mereka bukan mendapatkan tugas itu tapi mereka adalah fans seorang Queen.


Saat Rain ke kantin beberapa adik kelas barunya berteriak histeris melihat kedatangan Rain. Bahkan dia harus bersabar ketika ada yang meminta foto dan juga tanda tangan. Sungguh Rain tidak pernah membayangkan dirinya menjadi idola seperti ini. Padahal waktu itu Gwen yang mengatakan dirinya adalah Queen.


Entah siapa yang menyebarkan jika Gwen adalah pembohong dan Rain adalah Queen. Jadi saat Damian mengatakan dia adalah seorang Queen si pembalap motor gp tidak ada yang memprotes. Bahkan akunnya menuai pujian. Bukan hujatan seperti yang dia kira.


"Terus siapa yang mau aku coret-coret bukunya?" tanya Rain dengan wajah datar.


Sejak tadi kelima cowok itu hanya ribut sendiri ingin menjadi yang pertama mendapatkan tanda tangan Rain.


"Kak, aku dulu!"


"Heh, gue dulu!"


"Nggak bisa! Gue dulu."


Mereka malah adu mulut dan saling menyikut. Rain memilih pergi daripada meladeni kelima adik kelasnya itu.


"Ya, tuh kan gara-gara Lo jadi pergi dah si Kak Rain!"


Keempat cowok tersebut malah langsung mengejar Rain dan meminta maaf demi sebuah tanda tangan di bukunya.


Bara yang melihat kekasihnya di kejar-kejar oleh adik kelasnya merasa darahnya mendidih dan langsung menghampiri mereka.


"Ngapain?" tanya Bara.


"Maaf, tadi kami hanya minta tanda___"


Bara langsung menarik tangan Rain menuju taman belakang sekolah. Pelajaran memang kosong karena guru masih sibuk dengan siswa-siswi baru dan juga mengadakan rapat dadakan.


"Kamu suka ya jadi rebutan cowok tadi?" kata Bara yang sudah sangat kesal.


Rain mengulum senyum. Bara kalau lagi cemburu lucu dimata Rain.


"Mereka tadi cuma minta tanda tangan doang!"


"Itu alasan aja. Mereka cuma mau deketin kamu, sayang!" Bara memasang wajah masam.


"Cemburu?"


"Kamu pikir? Cowok mana yang nggak cemburu kalau ceweknya jadi rebutan cowok lain. Mana adik kelas baru pula!"


Rain sudah tidak tahan lagi dan akhirnya menyemburkan tawanya.


"Bara, aku banyak lho temen cowok. Kalau kamu lupa!"


Rain menepuk pundak Bara dan melangkah pergi. Bara menarik tubuh Rain dan hampir terjatuh kalau saja Bara tidak segera menangkapnya.


Jarak mereka sangat dekat dan Bara bisa merasakan hembusan napas Rain.


Bara segera menepis pikirannya yang malah fokus pada bibir ranum milik Rain. Ingin rasanya dia mencicipi rasa manis pada bibir itu.


"Ayo ke kelas!"

__ADS_1


Jantung Rain hampir saja lepas dari tempatnya karena adegan tadi yang sangat dekat. Rain pikir Bara akan menciumnya tapi dia tidak melakukan apapun dan malah kini dia lupa dengan amarahnya. Bara mengajak Rain untuk kembali ke kelas.


Bersambung...


__ADS_2