
Rain memandangi lapang basket indoor yang ada di sekolahnya. Suasana nampak berbeda. Meski di lapangan itu ada yang sedang bermain basket, tapi tidak seheboh dulu. Para gadis biasanya akan berteriak heboh ketika melihat Radit atau Kenan yang bermain. Kini suasana itu mendadak hening. Radit sudah lulus, merek tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kini Rain sudah duduk di bangku kelas 3.
Dua minggu berlalu, liburan telah usai dan kini aktifitas belajar mengajar sudah kembali di mulai meski belum sepenuhnya. Kegiatan pengenalan untuk siswa-siswi baru pun segera dimulai. Banyak wajah-wajah baru yang menghiasi sekolah.
Rain melangkah ke dalam kelas barunya, setelah memandangi suasana lapangan basket yang berbeda. Kenan, laki-laki yang menjadi most wanted itu, dia dengar akan pindah di tahun ajaran baru. Rean yang mengatakannya, tapi belum sepenuhnya benar hanya rencana saja karena Tante Gina masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.
Meski dia sudah tidak perduli lagi dengan Kenan, tapi ada yang berbeda. Hati Rain terasa kosong karena Bara sudah tidak lagi menghubunginya. Sejak kejadian itu Bara benar-benar menghilang dan bahkan nomor ponselnya tidak aktif.
Rain merasa ada yang berbeda karena ketidak hadiran Bara selama liburan ini. Meski keluarganya mengajak berlibur, tetap saja pikiran Rain mengarah pada laki-laki itu. Laki-laki yang selalu merubah kesedihannya menjadi tawa renyah.
Kehadiran Bara memberikan pelangi dalam hidupnya. Dia merasa hidup tanpa beban, ada saja tingkah konyolnya yang selalu mengundang tawa Rain. Sekarang ... Hatinya kosong. Rain takut jika lelaki itu benar-benar pergi dan Rain tidak akan pernah bisa bertemu kembali.
Apa dirinya sudah jatuh cinta kepada Bara? Pertanyaan itu terus saja Rain katakan dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu bagaimana mencintai seseorang. Mengingat dulu hanya memanfaatkan Radit dan pada akhirnya merasa nyaman. Nyatanya kenyamanan itu malah membawanya kedalam sebuah masalah besar. Rain takut jika kejadian itu akan terulang kembali.
"Kakak, ini untukmu!" Seorang anak laki-laki yang memakai seragam putih biru itu menyodorkan cokelat kepada Rain.
Senyum tercetak jelas pada bibir tipisnya dan memperlihatkan lesung pipi di kedua pipinya.
"Buat aku?" Rain menunjuk dirinya sendiri. Dia juga sedikit terkejut dengan kehadiran anak baru yang akan menghuni kelas satu nanti.
Laki-laki itu mengangguk tanpa melunturkan senyumannya.
"Oh, Makasih ya."
"Sama-sama! Aku pergi dulu!" Laki-laki itu melambaikan tangannya.
Rain pun membalas lambaian tangan itu sambil memperlihatkan sekitar yang rupanya banyak pasang mata tertuju padanya. Mereka memandang Rain penuh iri, bukan lagi tatapan penuh kebencian.
"Kakak, ini juga untukmu!"
Baru saja Rain hendak melangkah, setangkai bunga mawar merah hadir tepat di depan wajahnya tanpa tahu siapa yang mengulurkan bunga itu.
Rain menoleh karena aroma maskulin yang sangat familiar ini.
"Bara?" pekik Rain dan reflek memeluk laki-laki itu.
Satu tangan Bara masih bersembunyi di punggung dan satu tangan lagi masih mengulurkan bunga mawar. Dia tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya memilih membalas pelukan hangat Rain.
"Hey, Lo nggak malu diliatin banyak orang?"
Rain langsung mendorong dada bidang Bara. Dia kaget karena mereka semua sudah menatap ke arahnya.
"Terima ... Terima ... Terima ...." Teriakan dari semua yang ada di halaman sekolah membuat Rain bingung.
"Terima?" beo Rain.
"Mereka pikir gue nembak Lo!"
Rain melihat setangkai bunga mawar yang masih di genggam Bara. Dia langsung menerima bunga itu.
"Horeeeee!"
"Kalian harus traktir kita!" teriak Reno yang entah kapan datangnya.
"Setuju!" teriak mereka yang menonton adegan romantis ini.
Sedang Bara dan Rain bingung, mereka mengira kalau Rain dan Bara pacaran. Apa-apaan ini.
"Hey, kalian__"
"Bara bilang kita ke kantin!" teriak Reno.
Membuat para siswa-siswi yang melihat adegan itu berbondong-bondong ke kantin. Beruntung ini masih pagi dan belum banyak yang datang.
"Reno! Lo yang tanggung semua ini. Gue sama Bara__"
Bara membungkam mulut Rain.
"Kita pacaran jadi Lo yang traktir!" Bara langsung menarik tangan Rain untuk berlari.
"Woy, Lo berdua gila ya!" Reno pun mengejar sepasang ... Sahabat mungkin.
"Bara, kenapa Lo bilang gitu!" tanya Rain sambil mengatur napasnya.
Mereka sudah berada di kelas baru yang sepi karena penghuninya sibuk ke kantin. Memanjakan perut yang katanya ditraktir oleh Bara dan Rain.
"Gue emang mau nembak Lo, gue menghilang karena gue ... Persiapin diri buat nembak Lo jadi pacar gue. Sebelumnya ... Gue nggak pernah nembak cewek duluan. Gue juga nggak pernah jatuh cinta sedalam ini. Selama liburan gue merenung, meyakinkan perasaan ini bener apa enggaknya!" jelas Bara yang sebenarnya dia terkejut dengan mulut yang tiba-tiba saja melontarkan perkataan itu.
Bara memukul mulutnya sendiri. "Aduh kenapa mulut nggak sinkron sama otak!" umpatnya.
Rain tertawa melihat tingkah Bara itu. Kekosongan hatinya telah menghilang. Kehadiran Bara bagaikan pelangi setelah hujan.
"Gue bercanda!" Bara mengangkat jari telunjuk dan tengah sambil nyengir dan meletakkan boneka sapi di meja.
__ADS_1
"Gue terima candaan Lo!" Rain memeluk boneka itu.
Bara melongo, tidak mengerti maksud ucapan Rain.
"Jadi Lo maunya apa?" tanya Rain. Memancing Bara untuk mengatakan ucapan yang tadi.
Sungguh jantungnya berdebar tidak karuan, bahkan perut Rain seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ini. Dia belum pernah merasakan seorang lelaki menyatakan cintanya.
Bara menghela napas panjang. Ingin mengatakan rangkain kata yang sudah dia rangkai selama dua minggu ini.
"Queen, gue emang brengsek dan gue terkenal badboy, tapi gue nggak perduli karena semakin gue jauh dari Lo, semakin gue rindu sama Lo. Semakin gue menghindar dan semakin dalam cinta gue ke Lo. Cinta gue nggak main-main. Bahkan jika mendapatkan Lo harus nyawa taruhannya maka akan gue lakuin!"
Bara menjeda ucapannya. Mengingat kejadian di saat dia menyelamatkan nyawa Rain dengan luka yang benar-benar mengenaskan. Wajah cantik itu sudah berlumuran darah karena Radit sialan itu.
"Queen, Lo mau nggak jadi pacar gue. Jadi istri gue dan kita bangun istana dalam kota bikini bottom!"
Wajah Bara terlihat lucu. Rain sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Sungguh ucapannya tidak ada keromantisan tapi Rain suka. Kepalanya perlahan mengangguk.
Bara mengikuti anggukan kepala Rain dan kemudian dia berjingkrak-jingkrak bahagian.
"Mama ... Papa ... Akhirnya aku punya pacar!" teriak Bara.
Beruntung suasana sepi jadi tidak ada yang mendengar.
Bara mengambil dompetnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Sebuah cincin emas dan dia pasang di jari manis Rain.
"Queen, gue akan lamar Lo secara resmi nanti. Lo mau nggak jadi istri gue?"
"Eum ... Gue ... Mau."
Bara langsung memeluk Rain dan menghujani wajahnya dengan ciuman. Bara tidak mencium bibir Rain karena takut keblabasan. Apa lagi ini sekolah.
"Jadi ... Sekarang kita pacaran?" tanya Bara memastikan.
"Ya."
Bara menarik tangan Rain menuju rooftop. Mereka berdiri menatap langit dari ketinggian sekolah.
Bara meletakkan tangan di sisi masing-masing pipinya.
"Tuhan, terima kasih atas jodoh yang engkau berikan untukku!"
"Mama ... Papa ... Bara punya pacar! Bara punya calon istri yang baik!"
Rain terkekeh dengan tingkah konyol Bara.
"Ayo kita ke kelas!" Rain menarik tangan Bara.
Laki-laki itu justru melingkarkan tangannya di pinggang Rain. Dia memeluk pinggang Rain posesif. Secara tidak langsung mengatakan jika Rain adalah miliknya.
Jangan tanyakan degupan jantung keduanya. Mereka sedang sangat bahagia. Namun, Rain berharap jika kisah cintanya kali ini tidak akan pernah ada halangan apapun. Dia ingin kisah cintanya ini akan abadi untuk selamanya.
"Selamanya kamu akan menjadi milik Bara Alterio!"
"Kamu?" Rain membeo, setelahnya terkekeh dengan gaya bicara Bara yang sudah aku dan kamu.
"Kenapa? Masa udah pacaran masih Lo gue sih!" Bara mengerucutkan bibirnya.
Belum sempat menjawab, Reno datang dengan napas yang tersengal-sengal.
"Lo berdua harus tanggung jawab dengan kerusuhan di kantin!"
"Lo yang buat, jadi Lo yang harus bayar. Gue nggak ada bilang mau traktir mereka!"
"Anj ... Duit jajan gue bisa habis buat bayar!" umpat Reno.
Bara hanya mengangkat kedua bahunya.
"Gue sumpahin hubungan Lo nggak bakal mulus!" teriak Reno kesal.
Bara berbalik dan menatap tajam Reno. Sungguh dia mengganggu kebahagiaannya saja.
"Udah, jangan berantem baru masuk juga!" Rain menengahi.
"Biar gue aja yang bayar. Lo tinggal bilang sama penjual kantin berapa total mereka yang ambil. Tolong stop mereka supaya tidak menambah tagihan!"
"Queen___"
Rain meletakkan jari telunjuknya di bibir Bara.
"Wah, beneran?" tanya Reno.
"Iya, nih ambil. Sisanya nanti gue ke sana!" Rain mengambil uang di dompetnya yang entah berapa jumlahnya.
__ADS_1
Reno tentu saja dengan senang hati menerima itu. Dalam otaknya juga sudah menyusun sebuah rencana.
"Sayang, kenapa kamu malah___"
Panggilan itu membuat Rain merasakan ada aliran listrik dalam darahnya.
"Berbagi kebahagiaan apa salahnya?"
Bara mengusap puncak kepala Rain. Dia memang tidak salah mencintai Rain yang selalu membuat hatinya meleleh dengan segala kebaikannya.
***
Berbeda dengan sepasang suami-istri yang hari ini tidak bisa masuk sekolah di awal tahun pelajaran baru. Akibat Mentari yang tiba-tiba tidak enak badan dan terus bolak-balik kamar mandi karena rasa mual yang tidak bisa dia tahan. Belum lagi kepalanya yang berdenyut nyeri dan tubuhnya terasa lemas. Telapak kaki dan tangannya juga dingin. Wajah Mentari sudah pucat karena semua yang Rean berikan pun akan kembali Mentari muntahkan.
Seharusnya hari ini mereka bahagia karena bisa bertemu kembali dengan teman-temannya setelah masa liburan kemarin mereka habiskan ke Bali dengan keluarga Rean dan Mentari juga tidak lupa mengajak Bunda dan juga Sean.
"Sayang, kita ke rumah sakit aja ya!" Rean sudah tidak tega melihat Mentari yang terus saja bolak-balik kamar mandi.
Saat ini Mentari terbaring lemah di ranjang. Sementara Rean memijit kakinya.
Mentari menggeleng, "Aku baik-baik aja! Hanya kecapean saja." Kedua mata Mentari rasanya berat dan ingin kembali terpejam.
Mereka memang baru pulang kemarin. Jadi wajar jika Mentari merasa lelah.
"Aku buatkan teh hangat lagi ya."
Mentari mengangguk. Saat Rean hendak melangkah, dia menepuk keningnya.
"Mau makan sup ayam jahe? Aku buatkan kalau mau?" Rean baru ingat jika Rain sakit dia akan mencoba membuatkan sup ayam jahe supaya menghangatkan tubuhnya dan juga memberikan rasa segar di tenggorokan.
"Kalau kamu nggak keberatan ... Aku mau kok."
"Tentu saja tidak. Kamu istirahat dulu nanti kalau sudah matang aku bangunkan!"
Mentari tersenyum dan mengangguk. Dia mulai terpejam dan Rean berkutat di dalam dapur.
Beruntung semalam mereka belanja sekalian makan malam karena stok dapur sudah habis. Dengan keluwesannya di dapur Rean memasak sup ayam jahe.
Rean sudah menguasai dapur karena dia terbiasa hidup mandiri bersama Rain. Ah dia jadi rindu adiknya. Tinggal bersama adiknya yang benar-benar menyebalkan itu. Selalu saja membuat dapur seperti kapal pecah jika menemukan resep baru dan melakukan eksperimen.
Rean mengaduk sup ayamnya dan mencicipi apa yang kurang pada rasa sup itu.
"Masakan Rean memang selalu lezat!" pujinya.
Rean puas dengan hasil masakannya. Dia segera menuangkan sup itu ke dalam mangkuk. Tidak lupa juga dia membuatkan teh manis hangat untuk istri tercintanya.
Dibawanya nampan berwarna cokelat itu ke kamar. Lalu Rean meletakkan di meja dekat ranjang. Rean membelai pipi Mentari yang tertutup oleh rambut panjangnya.
Rean merapikan rambut-rambut Mentari supaya wajah cantiknya terlihat.
"Sayang, ayo makan. Aku suapin ya."
Mentari perlahan membuka kedua matanya. Aroma sup ayam menggunggah selera makannya.
Dengan telaten Rean menyuapi Mentari dan gadis itu makan dengan lahap.
"Enak ya?"
"Iya enak banget, aku mau lagi." Mentari tidak bohong. Masakan Rean memang enak, meski Mentari jago masak tapi masakan Rean lebih lezat dari masakannya.
Rean tersenyum bahagia. "Aku ambilkan ya. Kamu minum dulu." Rean menyodorkan secangkir teh hangat.
Dia kembali ke dapur dan mengambil sup ayam yang tinggal sedikit itu.
Rean jadi teringat sesuatu setelah itu dia tersenyum sambil tidak sabar untuk segera sampai ke dalam kamarnya.
"Yang, kamu ... Mual kan ya?" tanya Rean.
Mentari mengangguk. "Masuk angin, soalnya kan malam hari di pantai," jawab Mentari.
"Kamu udah dateng bulan belum?"
Kedua mata Mentari membulat sempurna. Dia melupakan hal itu. Dia juga lupa kapan terakhir dia datang bulan. Mentari menjadi kelabakan sendiri mencari ponselnya. Dia selalu mencatat tanggal tamu bulanannya itu di kalender yang ada di ponsel. Mentari menutup mulutnya setelah tahu jika dia sudah tidak merasakan datang bulan saat liburan kemarin. Itu artinya dia sudah telat dua minggu.
"Nggak mungkin kan?" Mentari menatap Rean dengan tatapan entah.
"Apanya yang nggak mungkin, sayang?" Rean juga bingung, karena ekspresi Mentari yang tiba-tiba terkejut.
"Yang, beliin aku tespek!"
Bersambung ....
Dua bab lagi novel ini akan tamat. Terima kasih buat semua yang sudah memberikan dukungan, like dan komentar pada novel ini. Author minta maaf karena banyak typo dan kesalahan pada cerita di setiap bab nya. Author juga minta maaf karena update yang terkadang tidak bisa tepat waktu. Juga aku mau ucapin makasih buat kalian yang menanti setiap updatean ceritan Rain ini dan sudah mengikuti kisah mereka sejak awal. Terima kasih sudah setia sama Rain. salam hangat dan penuh cinta dari author remahan rengginang ini.
__ADS_1