Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 12. MENANGKAP PENEROR.


__ADS_3

"Kamu kenapa, seperti orang ketakutan?" tanya Vian heran.


"Ikut aku. Ada yang ingin aku tunjukkan." ajak Sonny.


"Sonny. Kamu gila. Kenapa kamu ajak aku kesini!"


"Kamu lihat kaca itu!" perintah Sonny paksa kepada Vian.


"Apa?! Tidak ada apa-apa! Aku rasa kamu masih mabuk." jelas Vian.


"Tidak, aku tidak mabuk. Aku sadar. Kalau gitu ikut aku lagi." paksa Sonny menuju ke ruangannya.


Saat Sonny dan Vian memasuki ruang kerja Sonny segera menuju ke meja kerja yang tadi bertuliskan sebuah pesan berdarah. Namun sebuah kertas pesan berdarah itu hilang tidak ada.


"Apa? Ada apa?" ucap Vian jengkel.


"Tadi aku melihatnya. Aku yakin tadi aku melihatnya." ucap Sonny dengan mimik wajah sedikit takut.


"Apa yang kamu lihat?"


"Ada sebuah tulisan berdarah disini dan di kaca wastafel."


Vian menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang diucapkan Sonny.


"Memangnya siapa tadi yang menelpon?"


"Seseorang kepercayaan ku."


"Kalau begitu blang padanya jangan asal bicara, tidak mungkin ada orang meninggal akan hidup lagi, lagipula tubuh Yugo terbakar dan tidak dikenali bukan?" ucapnya lantang.


Lagi-lagi Sonny hanya diam, kebenarannya adalah tubuh Yugo tidak terbakar namun belum ditemukan dan ia anggap sudah tiada, karena baginya sangat tidak mungkin jika Yugo selamat dalam kecelakaan itu.


"Kenapa kamu bengong?" tanya Vian sambil meraba pipi pacarnya itu.


"Bagaimana jika Yugo kembali?"tanyanya kepada wanita yang ada dihadapannya.


"Kesalahan kita hanya bermain serong dibelakangnya dan sekarang kamu hanya mengisi kekosongan jabatan kan? Bukankah itu wajar? Jadi jika dia muncul kita hanya perlu minta maaf. Simpel kan?"


"Apa kamu tidak ingat apa yang kita bicarakan waktu itu? Aku yakin dia pasti ingat semuanya."


Seketika Vian ingat dengan semua ucapannya yang mengatakan bahwa ia bosan dengan Yugo dan mereka berdua tetap akan menjalin hubungan meski nanti dia dan Yugo menikah.


Vian dan Yugo yang sama-sama sedang mengingat malam sebelum Yugo mengalami kecelakaan. Saat keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok ....!


Tok ....!


"Siapa!" tanya keduanya secara bersamaan dengan suara kaget.


"Saya pak, saya belum membersihkan ruangan bapak." jawab Dodo, salah satu pegawai cleaning service.


"Masuk!"


Segera Dodo masuk dan membersihkan ruangan tersebut. Dodo tak merasa canggung meski ada bosnya dan mantan tunangan dari bos lamanya sedang berada di dalam ruangan.


Vian sangat memperhatikan lelaki kurus tinggi yang sedang membersihkan ruangan. Ia heran dengan seseorang di depannya ini.


"Apa kamu karyawan baru disini?" tanya Vian dengan wajah mengintimidasi.


"Betul."jawab Dodo sambil menunduk.


"Lihat saya! Sepertinya aku pernah melihatmu!"


Segera Dodo mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Vian.


Tatapan Dodo tajam, membuat Vian merasa bergidik.


"K-kalau begitu lanjutkan kerjamu! Karyawan disini cekatan dan bersih, jika kamu tidak dapat melakukan itu maka calon suami ku tidak segan-segan memecatmu!" ucap Vian yang sikap angkuhnya mulai muncul.


Sonny tak terlalu memperhatikan percakapan Vian dengan pegawai cleaning service tersebut.


Selesai membersihkan ruangan, Dodo keluar. Sedangkan Vian mendekat ke arah pacarnya sambil berbicara lirih, " aku curiga dengan orang tadi, sepertinya dia bukan orang baik."

__ADS_1


"Kamu bicara apa? Yang tidak baik itu kita dan aku yakin yang menganggu ku itu hantu Yugo."


"Kamu apa-apaan! Kita hidup di era modern kenapa masih percaya dengan hantu!" sanggah Vian.


"Kamu bisa bicara demikian karena kamu tidak merasakan!"


"Yugo memang meninggal jika dia hidup seharusnya dia akan mencari ku, karena dia mencintaiku." ucapnya yakin.


"Kenapa bicaramu begitu yakin? Apa kamu tidak ingat waktu itu." Sonny merasa sesak hatinya saat Vian begitu yakin mengatakan itu. Meski ia benci dengan kelakuan wanita putih berambut panjang ini, namun lubuk hatinya memiliki rasa sayang dan peduli kepada wanita dihadapannya itu. "Saat itu Yugo memergoki kita berada di kamar saat ia datang ke apartemen mu bukan? lalu dia berlari dan mengendarai mobilnya hingga kecelakaan itu terjadi." lanjutnya mengingat peristiwa saat itu.


Mendengar itu, Vian kembali mengingat waktu itu.


Kini keduanya pun diam, mereka tahu jika saat ini mereka sedang berada di kantor, dan tanpa mereka sadar sedari tadi pembicaraan mereka terekam oleh sebuah alat yang tersembunyi di sebuah tempat.


***


Keesokan harinya, di sebuah rumah kos berukuran sedang terdapat seseorang yang hendak berangkat kerja tergopoh mengambil ponselnya yang sedang berdering.


X : "Bagaiamana?"


Y: "Aku sudah mendapatkan bukti. Namun ada satu bukti yang belum ada."


X: "Apa lagi!"


Y: "Tunggu saja, kamu akan tercengang dan tidak akan percaya." ucapnya lalu menutup telepon.


"Apa lagi? Siapa yang ia maksud?" gumamnya.


Pak Yugo, semenjak kepergian mu aku merasa kantor ini kehilangan nyawanya. Lelaki itu bukan orang yang tepat memegang perusahaan ini, meski aku hanya orang rendahan tapi aku mampu melakukan apa yang tidak semua orang bisa yaitu KESETIAAN. Aku tahu engkau masih hidup dan aku yakin engkau telah menyusun rencana. Sambil menunggu kemunculan mu aku akan melakukan ini dengan caraku sendiri.


Sudah hampir seminggu ini Sonny masih sering mendapatkan teror, tak hanya di dalam kantor, saat berada di parkiran motor hawa tak enak selalu menghampirinya. Dirinya merasa ada yang sedang mengawasinya.


Siapa sebenarnya yang menerorku?


Hantu atau manusia?


"Pak....!" sapa Dodo kepada Sonny yang sedang melamun sesaat setelah keluar dari mobil.


"Oh... Ada apa?" tanya Sonny balik.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja." jawabnya sambil berlalu.


Dasar belagu! apa dia tak ingat jika semua yang ia dapatkan adalah hasil rampasan.


Sonny yang tadi melamun, kini sudah berjalan menuju ke ruangannya merasa kaget saat melihat d*rah kering menempel di gagang pintunya.


Apa-apaan ini? Kenapa ada darah disini??


Sonny yang tak ingin masuk segera berlari ke pantry dan saat ia hendak membuka pintu pantry dari dalam seakan ada yang mendorong dan -


"Ah....!” teriak Sonny kencang.


"Bapak? Bapak kenapa teriak?" tanya Dodo yang keluar dari ruangan pantry.


"K--kamu kenapa disini? Bukannya kamu ada di parkiran?"


"Tidak, saya dari tadi disini membersihkan pantry."


"Tidak mungkin, jika tadi bukan kamu lalu tadi siapa yang menyapaku?" tanya Sonny heran.


"Apa jangan-jangan ada hantu di kantor kita pak?"


"Apa-apaan kamu! Daripada kamu berbicara tak karuan lebih baik kamu ikut saya, bersihkan ruangan saya." ucap Sonny menyembunyikan ketakutannya saat melihat darah pada gagang pintu.


Sonny mengikuti langkah Dodo, dan saat melihat gagang pintu ia tidak lagi melihat d*rah pada gagang pintunya.


"Tidak mungkin." ucap Sonny lirih.


"Apanya yang tidak mungkin, pak?"


"T-tidak."


"Apa bapak melihat sesuatu?" pancing Dodo.

__ADS_1


Sonny yang ditanya hanya diam tak menjawab.


Melihat wajah bosnya bingung membuat dirinya tertawa riuh dalam hati, "Hahahahahaha...!"


***


"Bagaiamana apa hantu Yugo masih menggangu mu?" tanya Vian kepada pacarnya. Mereka berdua sedang bersantai di balkon tempat apartemen Vian.


"Masih." jawabnya singkat.


"Aku mencurigai karyawan baru itu."


"Kenapa dia yang kamu curigai?"


"Saat itu aku melihat dia sedang menulis sesuatu di ruangan OB, ketika aku menegurnya ia seperti menyembunyikan sesuatu dan terlihat jarinya berwarna merah."


Seketika Sonny diam, dia mencoba memikirkan apa yang diucapkan oleh Vian.


Jika dia yang melakukan apa motifnya?


"Kita harus cari tahu dan menangkap basah dia saat dia melancarkan aksinya." imbuh Vian.


Keesokan harinya Sonny sengaja datang ke kantor tanpa menggunakan mobilnya, ia memilih ojek motor. Diam-diam ia masuk ke dalam kantor lewat ruangan belakang tempat para OB berkumpul.


Awalnya ingin memasuki ruangan tersebut namun justru ia dibikin merinding saat sebuah suara seperti sedang memanggil nya. Namun ia tak gentar, dia berusaha melawan rasa takut nya. Saat tangannya meraih gagang pintu dia langsung berteriak kencang hingga membuat orang yang ada di dalam panik, sampai membuat bajunya terkena noda merah.


"****!"


"Suara siapa tadi?" gumam nya sambil membereskan sesuatu.


Suara siapa itu yang mengumpat?


Tunggu ... kenapa mirip sekali dengan suara lelaki tak bermoral itu? Seharusnya ia belum datang.


Kenapa tiba-tiba ia datang dan menuju kemari? Jangan-jangan ia mencurigai ku?


Dengan cepat-cepat ia membasahi seragamnya yang terkena noda merah, tak hanya itu ia juga membuang cairan warna merah yang biasa ia pakai kedalam wastafel dan tiba-tiba lampu padam. Seketika ia merasa ada orang dibelakangnya lalu -


"**--olong!" teriaknya lirih.


Sebuah kain menutupi mulutnya dan ia pun di bawa paksa keluar dari pintu lain menuju ke dalam mobil kantor yang terparkir di dekat gudang.


"Masuk!" perintah seseorang yang menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil.


Segera kain yang menutup mulutnya pun dibuka.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya seseorang yang duduk di depan mobil.


Sebuah pis*u sudah menancap di lehernya.


"Aku melakukannya karena aku membencimu! Aku tahu kamu yang membunuh pak Yugo!" ucap nya dengan berani.


Seseorang yang berada di bangku depan mobil terkejut mendengar ucapan salah satu karyawan cleaning service nya. Segera ia menoleh kebelakang.


"Siapa kamu sebenarnya?"


"Pak Yugo?? Aku tahu anda masih hidup dan bedeb*h itu adalah dalang semuanya ini. Dia tidak pantas memerintah kantor yang telah bapak bangun dan dia sudah terlalu jahat terhadap bapak. Ini semua tidak adil bagi bapak. Dan dia harus menanggung kelakuannya."


"Hanya itu? Sepertinya tidak hanya itu, aku merasa tak asing denganmu."


"Aku adalah anak dari Bu Singgih."


Yugo mencoba mengingat siapa nama Bu Singgih, baginya nama itu tak asing di telinganya. Ia mencoba memejamkan mata untuk mengingat semuanya.


"Jika kamu tak ingat tak usah dipaksa." celetuk Henri yang berada disamping lelaki yang tadi di bekapnya itu.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️


__ADS_2