Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 71. GARA-GARA AKU.


__ADS_3

"Anggie!" sapa pria yang baru saja mengetuk pintu.


"Hai ... Halo ..." jawab Anggie dengan sedikit kaget.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"A--a--ku -" ucap Anggie dengan sedikit terbata karena ia tak ingin Yoga tahu bahwa ada Zelda di dalam.


"Bukankah ini kamar pria yang tertembak kemarin, apa artinya .." ucap Yoga yang menerobos masuk hingga melihat wanita dengan baju yang sama dengan yang tadi ia lihat.


Terlihat wanita tersebut sedang mencium tangan suaminya sambil duduk terbaring, sedangkan Nata yang baru saja keluar dari kamar mandi muncul bahagia saat melihat pria yang tadi ditemuinya.


"Paman polisi!" sapa Nata hingga membuat Yoga tersentak kaget.


Seketika Zelda bangun dan menoleh ke arah Yoga dan putrinya.


"Hai!" sapanya sambil melambaikan tangan pada gadis kecil yang menyapanya. "Apa ibumu ada di dalam?" lanjutnya bertanya sambil berjongkok.


"Ibu, ada yang ingin bertemu." ucap Nata yang berjalan kearah ibunya.


Zelda segera menegakkan sebagian tubuhnya yang bersandar di tangan Horison sambil mengusap air mata.


Nata tahu jika sang ibu baru saja menangis, namun ia berusaha tidak bertanya namun hanya mengusap bekas air mata tumpah di pipi ibunya.


"Bisa kita bicara sebentar ada yang ingin aku sampaikan." ucap Yoga yang ikut mendekat ke arah Zelda.


"Maaf tidak bisa, aku harus menunggu suami ku disini." ucap Zelda tanpa memandang ke arah pria yang pernah ia anggap sebagai kakaknya.


Melihat wajah kesedihan wanita yang pernah menempati ruang hatinya membuat Yoga ikut merasakan hal yang sama dengan Zelda, namun dirinya tak lagi dapat seperti dulu yang dengan mudah menggandeng atau memeluk Zelda, dirinya sadar jika gara-gara perbuatanya dulu hingga membuat Zelda dan Yugo bercerai karena salah paham.


"Tolong ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan. Ini terkait penembak suamimu." ucapnya sambil menatap wajah wanita di hadapannya.


Mendengar kata penembak suaminya membuat Zelda mengangkat kepalanya dan berusaha terlihat tegar.


"Kalau begitu bicara disini saja, aku tidak ingin melewatkan sedetikpun jauh dari suami ku."


Mengetahui hal penting tersebut membuat Anggie tahu apa yang harus dilakukannya, ia pun segera mengajak Nata keluar.


"Nata, ayo ikut aunty. Kita beli sesuatu." ajak Anggie sambil menghampiri Nata.


"Aku tidak ingin beli sesuatu, aku hanya ingin ayah bangun. Kapan ayah bangun aunty?" tanya Nata dengan matanya yang kini mulai berkaca-kaca.


"Kalau begitu kita pergi ke mushola saja, kita disana berdoa agar ayah segera bangun, setelah kita berdoa kita beli makanan kesukaan ayah. Jadi setelah ayah bangun kita berikan makanan itu kepada ayah. Bagaimana, apa kamu setuju?"


"Mau aunty, aku mau." ucap Nata sambil membalas ajakan Anggie.


Kini di dalam ruangan itu ada Zelda dan Yoga ditemani oleh Horison yang masih terbaring belum sadar pasca operasi. Bunyi alat bantu pernafasan yang terpasang di dekat Horison menghiasi isi ruangan.

__ADS_1


"Katakan, siapa yang menembak suami ku?" tanya Zelda sambil tetap menatap suaminya.


"Dia adalah napi yang lepas." jawab Yoga dengan hati-hati.


"Apa aku mengenalnya?"


"Kamu tidak terlalu mengenal nya tapi dia begitu mengenalmu."


"Katakan dia siapa?" ucap Zelda yang mulai berurai air mata.


"Yongki, apa kamu ingat dia?"


Mendengar nama tersebut membuat Zelda berusaha mengingat nama tersebut.


Seketika bayangan masa lalu saat dia berhasil menangkap pria jahat itu termasuk saat dirinya diminta untuk menginterogasinya. "Apa tujuannya menembak? Bukankah dia tidak mengenal suamiku."


"Sebenarnya dia ingin menembak mu dan putrimu namun suamimu muncul untuk menolong kalian berdua. Ini CCTV yang aku dapat, dilihat dari GPS yang terpasang di mobilmu sepertinya suamimu tahu jika kamu sedang dibuntuti oleh seseorang saat kau keluar dari supermarket hingga menuju ke sekolah. Disaat engkau selesai memarkirkan mobil dan menuju ke gerbang sekolah ia muncul dengan mengeluarkan senjatanya namun tiba -tiba muncul seorang pria keluar dari mobil berlari ke arahmu untuk menutupi kalian berdua agar tidak terkena tembakan."


"Kenapa dia ingin menembak ku?"


Yoga memilih diam, karena dia tahu jika Zelda akan menyesal atas tindakan yang pernah ia lakukan waktu dulu hingga berdampak di kehidupannya saat ini.


"Kenapa? Kenapa diam? Apa karena aku yang sudah menangkap nya?


Tidak kah dia tahu jika sekarang aku sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga Arthadinata. Apa dia tidak tahu jika aku telah bercerai dan menikah dengan pria lain. Pria yang lebih baik dan sayang padaku juga putriku!" ucap Zelda dengan sedikit emosi.


"Kenapa tidak dari dulu ia mencari tahu tentangku, kenapa baru sekarang?"


"Selama lima tahun baik aku mungkin juga suruhannya tidak dapat mencari tahu keberadaan tentang dirimu, namun baru beberapa bulan belakangan ini aku bisa mengetahui tentangmu."


"Bagaiamana bisa?" tanya Zelda dengan heran.


"Lebih baik tanyakan pada suami mu, seperti nya dia yang memiliki jawaban akan pertanyaan mu."


Ucapan Yoga membuat Zelda kembali menatap suaminya yang masih terbaring. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya selain hanya memandang suaminya dengan tatapan kosong.


Tak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tiba-tiba Zelda berdiri dan membuka pintu.


"Sekarang keluar lah, biarkan aku sendiri disini menemani suamiku. Ini semua terjadi karena masa laluku! Aku yang melakukan tapi suamiku yang menanggung. Keluar!" ucap Zelda sambil berdiri dan menarik kaos Yoga hingga membuat Yoga terpaksa berdiri.


"Tolong dengarkan aku, aku tahu kamu marah dan tidak terima, aku bisa memahami itu tapi tolong tenang lah, percayalah suamimu akan sadar."


"Pasti dia akan sadar. Aku hanya menyesal dengan apa yang pernah aku lakukan. Jika aku tak pernah melakukannya mungkin suamiku tidak akan seperti ini."


"Janganlah menyalakan masa lalu, apa yang terjadi sudah menjadi takdir." ucap Yoga yang kemudian memilih keluar karena ia tak ingin Zelda akan lebih menyalakan dirinya sendiri.


Setelah memaksa Yoga keluar, kini Zelda berjalan masuk dengan langkah yang berat, ia yang sedang berjalan kembali melihat kondisi suaminya yang masih terbaring dengan bantuan alat yang masih terpasang.

__ADS_1


"Apakah engkau tahu bahwa aku dan putriku sudah bahagia hidup bersamamu. Semua kenangan kita yang hampir dihakimi warga gara-gara mobil goyang? Ketika aku melahirkan? Saat engkau tanpa banyak bicara dan mengajakku ke KUA? Indah, bukan?


Lima tahun bersamamu, engkau memperlakukan aku seperti seorang ratu, bahkan engkau telah menganggap Nata sebagai putrimu sendiri.


Terlihat indah meski aku tahu engkau diam-diam membatasi ruang gerak ku namun aku para-pura mengabaikannya, tak masalah bagiku, dan aku nyaman, tapi kenapa?? Kenapa engkau melakukannya. Bukankah lebih baik jika engkau tetap menutup informasi tentang diriku agar kita dapat terus hidup bahagia bersama.


Kenapa? Apa engkau merasa sudah tidak bahagia denganku??" ucap Zelda sambil menitihkan air mata.


Namun baru beberapa detik bicara Zelda merasa bersalah dengan ucapannya, "tidak... Maafkan aku, engkau bukan pria yang mudah melepaskan karena bosan, jika dari dulu engkau sudah bosan seharusnya engkau sudah melepaskanku dan tidak melindungi ku.


Aku tahu kamu sudah mencintai ku meski tak pernah kau ucap dan kau sentuh aku tapi foto-foto yang menghiasi kamarmu adalah bukti.


Ayo bangun dan jawab pertanyaan ku??


Aku hanya ingin tahu, kenapa engkau membuka kunci yang sudah kamu tutup?? Kenapa? Jawab aku suamiku?? Jawab!!


Tolong bangun!!!" ucap Zelda dengan tangisan tersedunya hingga air mata tersebut jatuh mengenai pipi Horison.


Tanpa Zelda sadari, tangisannya yang jatuh tadi membuat Horison menggerakkan jari jemarinya. Tak berselang lama terdengar suara pintu terbuka hingga membuat Zelda yang masih menangis heran melihat kedatangan beberapa dokter dan perawat.


"Permisi Bu, kami harus memeriksa kondisi pasien." ucap salah satu perawat yang baru saja tiba bersama salah satu rekannya dan dua dokter yang menangani Horison.


Zelda memilih minggir dan berdiri tak jauh dari tempat tidur suaminya. Hatinya kembali berdegup kencang saat melihat dokter yang begitu sibuk mengecek kondisi suaminya.


"Bagaiamana keadaan suami saya, apa yang terjadi padanya? Apakah dia membaik?" tanya Zelda dengan suara atau dan lirih.


Suara Zelda yang kecil membuat orang disana tak mendengar apa yang sedang dirinya bicarakan. Namun tidak bagi Zelda, ia merasa suaranya terdengar oleh dokter dan perawat namun ia justru menduga bahwa orang-orang disana sengaja tidak menjawab pertanyaan karena tak ingin membuat dirinya bersedih.


Merasa ada yang aneh dengan keadaan suaminya hingga membuat dirinya mundur dari tempatnya berdiri, rasa gemetar mulai menyelimuti dirinya hingga ia terjatuh lemas dan duduk bersimpuh di lantai sambil menyalakan dirinya sendiri.


Aku tidak dapat memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu.


Tolong bangun ...


Zelda yang berbicara sendiri di pojokan merasa bersalah dengan apa yang pernah dilakukannya dulu. Dia yang ketakutan sambil memandang suaminya semakin gemetar saat seorang dokter berjalan menghampirinya hingga ...


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2