
Pria yang tadi melihat Zelda dan Nata dari jauh mengurungkan langkahnya saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang berjalan ke arah wanita yang pernah singgah dihatinya. Hingga ia memilih kembali ke dalam mobilnya yang sedang diparkir.
"Lebih baik aku tidak menemuinya dan menjauh, andai saja saat itu aku tidak nekat mungkin kejadiannya tidak seperti ini, kalian tidak mungkin berpisah.
Dan kini saat engkau sudah bertemu dengan jodoh lain kalian justru dipisahkan oleh maut.
Dodo, hatimu mulia, engkau pria baik yang pernah ku kenal, surga adalah tempatmu.
Zee, aku tahu saat ini engkau sedang rapuh aku berdoa semoga engkau kuat dan tegar. Aku percaya engkau sanggup melalui ini semua." gumam Yoga di dalam mobil.
Ditempat yang sama terlihat sebuah mobil Range Rover Velar berwarna putih sedang terparkir rapi. Sang pemilik masih berada di makam tempat istrinya dimakamkan.
"Kak,, ada apa denganmu?" tanya Zyva yang sedang duduk disamping makam ibunya.
"Tidak." jawab Ecka cuek sambil membersihkan beberapa daun kering yang jatuh di atas tanah makam ibunya.
"Lalu kenapa pandangan mu dari tadi kesana terus?" ledek Zyva kepada kakaknya.
Ecka yang diledek adiknya tampak diam dan tak menanggapi.
"Ayah, Kak Ecka sedari tadi melirik kesana."
"Mungkin dia merasa iba dengan anak perempuan tadi." jawab Daniel menanggapi ucapan putri semata wayangnya.
"Tapi kakak selalu melirik wanita itu saat disekolah, bukan hanya hari ini saja." celetuk Zyva.
Mendengar itu Ecka melirik ke arah adiknya, ia tak percaya jika sang adik telah memperhatikannya.
"Zee, jangan menggoda kakakmu. Lebih baik sekarang kita mendoakan ibu."
Mendengar itu Zee kecil hanya diam sambil tersenyum puas memandang kakaknya yang terlihat kesal pada dirinya.
Tak terasa sudah setengah jam lebih Daniel dan kedua anaknya berada di makam Shasha untuk mendoakan sambil menaruh bunga kesukaan istrinya, namun saat mereka sudah selesai dan hendak berdiri meninggalkan makam, Daniel justru diam dan tak kunjung berdiri, pandangannya beralih ke seberang.
"Kenapa yah?" tanya Ecka yang hendak berdiri namun urung saat melihat ayahnya memandang ke seberang makam.
"Kalian datangi mereka dan hibur, ayah akan menunggu di tempat parkir." perintah Daniel kepada kedua anaknya.
Saat kedua anaknya berjalan ke arah seberang makam sedangkan Horison yang berjalan keluar tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh seseorang yang berada dibelakangnya.
"Pak Daniel ..."
"Kamu masih disini."
"Iya,"
"Kenapa tidak kesana?"
"Dia sedang berduka, dan aku takut dia akan marah dengan kedatanganku."
"Saat ini kondisinya tidak stabil, butuh waktu untuk membuatnya untuk bisa menerimamu. Saranku, dekati putrimu dulu, bangunlah keakraban, tapi ingat jangan memaksanya untuk mengerti siapa dirimu sebenarnya."
"Ya pak."
"Aku akan membantu,"
"Kenapa bapak ingin membantu ku?" tanya Yugo dengan mata berbinar.
"Aku tahu apa yang sudah terjadi termasuk sebuah wasiat yang diinginkan almarhum Dodo Horison agar engkau bisa kembali menikah dengan Zelda."
"Bagaimana bapak tahu?"
"Tidak ada di dunia ini yang tidak aku ketahui, kecuali urusan maut seseorang." ucap Daniel dengan sikap sombong nya lalu pergi meninggalkan Yugo yang masih terpaku dengan kalimat dari rekan bisnisnya.
Setelah merenungi ucapan Daniel kini Yugo juga berjalan kearah mobil nya agar Zelda tidak melihat dirinya. Beberapa saat kemudian terlihat Zelda sedang ya berada di kursi roda sedang di dorong oleh Ecka yang ditemani Zyva Nata, putrinya.
"Apa yang diucapkan pak Daniel ada benarnya, aku hanya perlu waktu yang tepat agar aku bisa memiliki tempat di hati kalian. Aku mencintaimu putriku." gumam Yugo sambil melihat ke arah putrinya.
***
Sebulan kemudian.
"Kenapa kamu menangis disini?"
"Bukan urusanmu,"
"Kalau begitu jangan mengeluarkan suara jika menangis."
"Bagaimana bisa menangis tanpa suara?"
__ADS_1
"Kalau tidak bisa maka jangan menangis."
"Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan."
"Kalau begitu ceritakan maka aku bisa merasakan."
"Tidak, aku tidak mau berbagi cerita denganmu."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah menghampiri adik kelasnya kini Ecka memilih pergi agar tidak terlihat oleh gadis yang sedang bersedih tadi.
"Kak, apa kakak melihat Nata?" tanya Zyva menghampiri kakaknya.
"Tidak." jawab Ecka cuek.
"Aku yakin kakak tahu, ayo dimana dia?" tanya Zyva dengan memaksa.
"Memangnya kenapa kalau aku tahu."
"Ayo beritahu dimana dia."
"Katakan dulu ada apa kamu mencarinya."
"Ada yang mencarinya, dia pria yang sangat tampan sepertinya itu pria yang pernah diceritakan Nata padaku."
"Oh."
"Ayo, tunjukkan padaku dimana Nata?"
"Cari saja sendiri, jika kamu sahabat nya seharusnya kamu tahu tempat favorit nya." ucap Ecka sambil berjalan menjauh dari adiknya.
"Ih.... Benar-benar menyebalkan. Sebenarnya dia mirip siapa sih? Aku yakin bukan ibu, apa ayah dulu seperti kakak ya? Ah sudahlah aku akan mencarinya, sepertinya tadi kakak berjalan dari arah sini." gumam Zyva sambil berjalan mencari keberadaan sahabatnya itu.
Setelah berjalan menyusuri tempat kakak nya berjalan tadi kini secara tidak sengaja ia mendengar suara sayup-sayup seperti seseorang sedang menangis.
"Apa ini suara Nata, atau mungkin hantu?" tanya Zyva dalam hati.
Zyva yang mendengar suara tangisan itu memilih untuk tidak memanggil nama Nata, ia dalam hati mulai membaca ayat kursi dengan harapan yang menangis adalah manusia bukan hantu.
Krekkkk ... Krekk...(terdengar suara kayu yang saling bergesek.)
"Ini aku Zyva," ucap Zyva sambil berjalan menghampiri Nata.
"Zeee,, maafkan aku. Aku kira -"
"Pasti kakakku, maaf ya."
Nata mengangguk tanpa bicara.
"Ada yang mencarimu."
"Tidak, aku tidak mau keluar sampai acara selesai."
"Jangan Nata, jika kamu tidak keluar maka acara tidak akan dimulai."
"Kenapa begitu?"
"Aku rasa dia yang sudah mensabotase acara ini kepada kepala sekolah."
"Apa itu sabotase aku tidak mengerti?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya yang jelas sekarang ayo ikut aku segera."
Setelah saling berbicara kini keduanya turun dari roftop, saat sedang berjalan mereka berpapasan dengan pria yang selama ini dirindukan oleh Nata karena sudah hampir sebulan ia tidak lagi bertemu.
"Paman ? Sedang apa kemari?" tanya Nata kepada pria yang sangat ia kenal.
"Aku kemari karena aku merindukanmu." ucap Yugo dengan menahan air matanya.
Mendengar itu Nata tersenyum, entah apa yang membuatnya merasa bahagia setelah lama tidak bertemu dengan seseorang yang tanpa ia sadari adalah ayah kandungnya.
"Nat, aku akan kembali ke kelas." bohong Zyva dengan sengaja, ia tahu bahwa pria tersebut adalah orang yang pernah menolong ayah Nata.
Tak tahu apa yang sedang keduanya bicarakan hingga tak terasa acara yang ditunggu telah tiba. Nata yang awalnya tak ingin mengikuti acara tersebut kini dengan antusias memasuki aula bersama Yugo.
"Paman terimakasih." ucap Nata sambil berjalan digandeng oleh Yugo.
Semua yang ada disana sangat bahagia menyambut acara ini, termasuk Zyva yang tak menyangka bahwa sahabatnya bisa ikut di acara hari ayah yang diadakan sekolah.
__ADS_1
"Ayah, apa ayah mengenal pria disana?" bisik Zyva kepada ayahnya.
"Iya,"
"Menurut ayah apa dia pantas menjadi ayah dari Nata?"
"Menurut mu?" tanya Daniel balik sambil memandang wajah putrinya yang menggemaskan.
"Menurutku pantas, karena wajah mereka sangat mirip."
"Bagus kalau begitu,"
"Apa jangan-jangan pria itu adalah ayahnya?" tanya Zyva lagi.
"Hari ini adalah hari Ayah, dan saat ini waktunya kita memenangkan lomba, jadi jangan bergosip. Ayo!" ajak Daniel sambi mencubit gemas pipi putrinya.
Saat ini acara perlombaan telah berlangsung, acara ini diadakan bertujuan untuk membangun keeratan antara ayah dan anak. Dan selama acara berlangsung terlihat Nata begitu sangat dekat dengan Yugo. Kedekatan mereka membuat mereka menjadi pemenang dari acara lomba yang diadakan.
Beberapa penonton terdengar riuh gemuruh memberikan tepuk tangan kepada para pemenang, namun tidak bagi salah satu penonton cantik yang berada disana. Ia tampak begitu kesal hingga ia memilih keluar dari aula dan pergi ke taman sekolah untuk menunggu putrinya yang tak lama lagi akan menghampirinya karena acara telah selesai.
Setengah jam kemudian Zelda yang menunggu kemunculan putrinya merasa tak percaya saat ia mendengar seseorang anak mengucapkan terimakasih kepada ayahnya.
Kenapa suaranya mirip sekali dengan Nata?
Apa itu suara putriku?
Tidak ... Tidak mungkin. Tak mungkin ia memanggil nama ayah kepada lelaki itu.!
Dalam hati Zelda berbicara sendiri merasa penasaran hingga ia menoleh kebelakang.
Zelda yang tak ingin mendengarkan memilih untuk berjalan menjauhi mereka.
***
Di taman sekolah.
"Terimakasih ayah." ucap Nata kegirangan saat berada di taman sekolah.
Mendengar itu Yugo kaget, ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kenapa ? Kenapa ayah diam? Apa engkau keberatan dengan panggilan yang aku ucapkan?" tanya Nata sambil memandang Yugo.
Yugo yang masih tak percaya tetap diam dan tak tahan air matanya pun berlinang.
"Kenapa engkau menangis? Apa aku tidak sopan memanggil mu dengan sebutan ayah? Maaf ... Kalau begitu aku akan memanggilmu pa-"
"Tidak, aku diam bukan karena aku marah. Aku bahagia akhirnya engkau memanggil ku dengan sebutan ayah." potong Yugo dengan bahagia.
"Terimakasih, maaf apa paman sudah menikah?"
Bibir Yugo seperti terkunci saat putrinya bertanya pertanyaan ini, ia takut Nata akan benci padanya jika mengetahui kebenarannya, namun ia juga tak ingin kehilangan momen baik ini.
"Nata, ayo kita pulang." ajak Zelda kepada putrinya yang sedang duduk bersama Yugo di bangku taman sekolah.
"Tunggu bu, sebelum aku pulang ibu harus berterimakasih karena -"
"Terimakasih, kalau begitu kami pamit dulu." ucap Zelda sambil menggandeng paksa tangan Nata.
Nata heran dengan sikap ibunya yang tidak bersahabat padahal yang ia tahu ibunya sangat ramah kepada orang lain.
Saat Nata berjalan di gandeng sang ibu, ia mencoba berhenti dan menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan kepada Yugo.
Melihat mantan istri dan putrinya menjauh hati Yugo kembali merasakan sesak, nafasnya terasa berat bahkan tanpa sadar air matanya menetes.
Putriku ... Andai engkau tahu aku adalah ayahmu mungkin engkau tak akan meminta izin padaku
Putriku .. Andai engkau tahu betapa jahatnya aku saat itu kepada ibumu mungkin engkau tak ingin memanggil ku ayah.
Sambil terdiam Yugo berfikir sambil memandangi bagian belakang kedua wanita yang sangat disayangi nya, rasa sesal atas apa yang pernah ia lakukan dulu kembali menyelimuti kalbunya.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih.