Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 53. HAMIL?


__ADS_3

Terdengar suara langkah tegap mendekati sebuah pintu dan ....


"Bos, bagaiamana ini?" tanya Richard yang tiba-tiba muncul saat Horison membuka pintu.


"Apa? Ada apa? bicaralah santai!"


"Dia ... wanita itu."


"Kenapa? Apa dia tidak mau mendengarmu?"


"Bukan ...bukan itu."


"Lalu?"


"Dia pingsan. Aku menemukannya di westafel."


Mendengar itu Horison segera berlari menuju ke toilet, sepertinya dia tidak menyimak bawah Zelda sudah dibaringkan di sofa yang ada di ruangannya. Sedangkan Richard merasa heran dengan sikap bosnya yang terlihat konyol, ia hanya mengerutkan dahi dan tetap berada di dalam ruangan.


"Tidak ada." ucap Horison yang tiba-tiba masuk dengan wajah panik.


"Dia disana sedang terbaring." jelas Richard sambil mengarahkan bola matanya ke arah sofa.


"Apa kamu sudah menghubungi dokter?"


"Belum."


"Cepat, cari dokter yang paling cepat!"


Mendapat perintah dari atasannya segera Richard menelfon dokter yang standby di kantor.


"Cepat masuk." ujar Richard kepada lelaki tegap dan berkaca mata tersebut.


"Bagaiamana keadaan nya?" tanya Horison kepada dokter sesat setelah memeriksa kondisi Zelda.


"Dia hamil, pak."


Horison kaget dan tak percaya jika wanita yang ingin dinikahinya telah mengandung.


Apa pak Yugo tahu jika mantan istrinya hamil?


Jika hamil bukannya talak tidak sah?


Aku harus menanyakan ini kepada pak ustad.


"Sudah berapa bulan?" tanya Horison setelah ia cukup lama membatin pertanyaan sendiri.


"Lebih baik ke dokter kandungan untuk cek masa kehamilannya, pak. Karena dokter kandungan lebih akurat lagipula harus disesuaikan dengan masa saat terakhir istri bapak datang bulan.


Tapi saya taksir sepertinya ini hamil muda, jadi usahakan agar selalu mengunyah makanan meski tidak banyak "


Mendengar ucapan dokter, Horison hanya manggut-manggut dan berencana mengajak Zelda untuk pergi ke dokter kandungan.


"Wanita ini istriku." ucap Horison tiba -tiba.


"Kalau begitu selamat ya pak."


"Tolong jangan sampai ada yang tahu perihal ini. Jika ada yang mengetahuinya maka aku akan mencabut ijin praktek mu." ancam Horison.


Mendapat ancaman demikian membuat Dokter mengangguk.


Setelah kepergian dokter tak berselang lama Zelda terbangun dan heran kenapa dirinya berada di ruang bosnya sedangkan tadi dia sedang pamit ke toilet.


Kenapa aku disini?


"Cepat bangun, ini kantor bukan hotel." ucap Horison ketus.


"Maaf pak." ucap Zelda lalu mencoba berdiri dan hendak keluar.


Saat mendekati pintu dan hendak membuka Zelda tampak kesulitan membuka.


Ada apa dengan pintunya?


Kenapa sulit untuk dibuka?


Apa terkunci?


"Pak, kenapa bapak mengunci pintunya?" tanya Zelda sambil membalikkan badan.


"Duduk, ada yang masih ingin aku bicarakan."

__ADS_1


"Sejak kapan kamu hamil?"


Zelda kaget dengan pertanyaan bosnya, ia tak menyangka tentang sebuah kenyataan yang baru saja ia dengar.


"Kenapa? Saya rasa ini pertanyaan pribadi. Jadi saya tidak perlu menjawab."


"Saya atasan kamu, jadi saya berhak tahu."


"Maaf. Bapak memang atasan saya tapi bukan suami ataupun anak dari bayi yang saya kandung."


"Kalau begitu terima saya untuk jadi suamimu dan menjadi anak dari bayi yang kamu kandung."


Zelda kaget mendengar permintaan bosnya yang menurut nya gila.


Begitu juga dengan Horison yang tak menyangka jika mulutnya tiba-tiba berkata demikian padahal ia masih ingin bertanya ke ustad.


"Apa saya tidak salah dengar?"


"Tidak, saya serius. Saya harap kamu mempertimbangkannya."


Mendengar itu Zelda diam dan tidak bergerak dari tempatnya.


"Ada apa lagi? Cepat keluar dari ruangan ini dan lanjutkan pekerjaan mu."


Keluar dari ruangan bosnya, Zelda tak terlalu memikirkan keinginan gila bosnya itu, yang ia pikirkan justru kehamilannya. Dia sendri masih tak percaya ada janin yang sedang berproses tumbuh di dalam rahimnya.


"Apa benar kamu ingin menikahi seorang janda?" tanya Richard kepada sahabat sekaligus bos nya itu.


"Ya, apa ada yang salah?"


"Tidak, tapi dia sedang hamil."


"Kalau begitu jadwalkan pertemuan ku dengan ustad Badrus hari ini."


"Tujuannya?"


"Jadwalkan saja dulu." ucap Horison menutup pembicaraan nya karena ia kembali fokus pada pekerjaan nya.


***


"Putri, darimana saja kamu?" tanya atasannya kepada Zelda saat baru memasuki ruangan.


"Dari ruangan pak Horison, pak."


"Oh, saya tadi sempat ke toilet pak."


"Duduklah, segera selesaikan bahan meeting. Saya tunggu secepatnya. Dua jam lagi meeting dimulai."


"Baik, pak." ucap Zelda lalu segera duduk.


Anggi tampak melirik keberadaan Zelda, ia merasa ada yang aneh dengan wajah sahabatnya itu. Terlihat sesuatu hal sedang dipikirkannya.


"Are you okay?" bisik Anggi pelan.


Zelda hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut lalu mencoba fokus mengerjakan pekerjaannya kembali.


Tak terasa sudah setengah jam berlalu tinggal 30 menit lagi meeting akan berlangsung. Bahan meeting yang sudah Zelda berikan kepada atasannya juga sudah selesai. Atasannya yang sudah berada diluar membuat ruangan tampak renggang, seperti biasa Anggi yang selalu membuat suasana ramai mulai mengambil cemilan dari dalam tasnya.


"Bro-sis, ni cemilan enak..Yuk dimakan. Kalau kalian suka seperti bisa chat aku ya." ucap Anggi sambil membagikan kepada semua temannya disana.


"Gimana -gimana, enak kan! Yang pertama gratis kalau yang kedua bayar ya kalau mau." ucap Anggi lagi.


Saat teman-temannya menikmati cemilan, Zelda tampak terlihat sibuk dengan ponselnya, tak tahu apa yang sedang dicarinya namun terlihat jika dirinya sedang mencoba menghitung.


"Hitung apaan?" tanya Anggi yang tiba-tiba berada disamping Zelda sambil berdiri.


"Tidak-tidak papa."


Tak berselang lama, terdengar suara telepon diruangan yang menitipkan pesan yaitu sebuah perintah kepada Zelda.


"Put, lu dipanggil di ruang meeting. Pak Zakky barusan yang telfon."


"Aku?" tanya nya tak percaya namun dirinya mencoba tetap berdiri meski dengan rasa malas.


Hari apa sih ini?


Kenapa semuanya terjadi di hari ini?


Zelda yang ditanya tak menjawab membuat Anggi diam-diam mengikuti nya.

__ADS_1


"Apa kamu yakin tidak ingin bercerita kepadaku?"


"Aku tidak tahu harus bagaiamana, saat istirahat nanti aku akan menceritakannya." ucap Zelda lalu berlalu dan berjalan seperti biasa bahwa dirinya sedang hamil muda.


Beberapa saat kemudian sampailah Zelda di ruang meeting, terlihat Horison tampak berada disana dan memandang dirinya dengan tatapan elang.


Kenapa dia disini?


Yaampun aku lupa dia kan bos, wajar jika dia ikutan meeting.


Zelda yang mengatur nafasnya karena baru masuk tiba-tiba diminta untuk melakukan presentasi oleh atasannya. Mau tak mau dia berdiri dan melakukannya.


Presentasi yang dilakukan Zelda begitu memukau, ucapan dan gestur Zelda begitu menarik untuk dipandang. Tampak terlihat orang-orang yang berada disana kagum, tak terkecuali dengan Horison yang baru hari ini datang ke kantor dan langsung mengikuti rapat, karena biasanya Richard lah yang mewakili dirinya untuk menghandle kantor sedangkan dirinya sibuk dengan kegiatannya sendiri yang menyamar menjadi seorang OB di kantor Yugo.


Baginya, tak ada masalah menjadi seorang OB di kantor AIM-GOOD, milik keluarga Arthadinata, ayah Yugo. Lagipula ia ingin mengikuti cara kerja Yugo yang ia anggap begitu menarik, tak hanya itu ia ingin membalas jasa yang pernah Yugo dan keluarga lakukan kepada dia dan orangtuanya.


Maka dari itu, tidak perlu waktu lama bagi Dodo Horison mengetahui keberadaan Zelda yang tiap hari ia lihat di meja ruangan Yugo dalam bentuk foto. Rambut panjang tanpa make up membuat Zelda makin ayu saat dipandang. Dan sebuah foto yang diberikan Richard pada dirinya saat diadakannya wisata kantor beberapa hari yang lalu.


Dari foto dan ingatannya tersebut ia membandingkan hingga mencari keberadaan Zelda yang ternyata menggunakan nama lain saat bekerja dikantornya yaitu nama Putri. Tidak aneh jika nama Putri menjadi panggilan Zelda di kantornya karena nama panjangnya adalah Zelda Azqila Putri.


"Apa ada pertanyaan?" tanya Zelda diakhir sesi presentasinya.


Beberapa pertanyaan telah dijawab Zelda dengan begitu baik dan lancar, hingga membuat orang-orang makin terpukau, namun tidak pada Horison. Dia terlihat memandang Zelda serius namun tidak memberikan pertanyaan, dan itu membuat Richard harus menyadarkan bosnya tersebut.


"Bagaiamana pak Horison, apa ada yang ditanyakan?" tanya Richard sambil memberikan dokumen dengan maksud menyadarkan pandangan Horison.


"Oh ... t-tidak. Saya rasa sudah cukup dan jelas apa yang disampaikan."


"Kalau begitu saya tutup meeting hari ini." ucap seorang moderator.


Setelah keluar dari ruangan meeting Zelda kembali berjalan ke ruangannya bersama atasannya, terlihat sang atasan begitu puas dengan hasil kerja dan presentasi yang dilakukan anak buahnya.


"Saya bangga, tetaplah bekerja dengan baik ya Putri." puji atasan Zelda.


***


Jam 17.00


Sebuah jam sudah menunjukkan pukul lima sore, jam kerja telah usai. Zelda yang tampak cepat -cepat berkemas sedari tadi membuat Anggi melirik ke arahnya.


"Tumben, mau kemana sih?"


"Yang aku ceritakan tadi."


"Oh, bayi itu. Lalu?"


"Lalu apa? Aku hanya menengoknya, kasihan aku melihatnya."


"Ya dasar orang tua tak bertanggung jawab, bisanya bikin doang giliran ada bayi gak mau rawat." omel Anggi.


Zelda tak memperdulikan omelan Anggi, ia fokus mendengarkan bunyi alarm pertanda jam kantor berakhir, dengan langkah seribu Zelda menjadi karyawan pertama yang keluar dari kantor.


"Tumben, neng Putri keluarnya awal, biasanya paling akhir bareng mbak Anggi." ucap pak Muchlis, seorang sekuriti.


"Saya ada keperluan pak, urgent."


"Urgen? Kumaha atuh neng(apa itu?) Orgen? mau beli orgen?"


"Bukan pak, bukan. Maaf saya buru -buru ya pak. Assalamualaikum." ucap Zelda sambil membuka pintu taksi.


"Kumaha atuh kalau bukan orgen? Dasar anak muda banyak istilah." ucap pak Muchlis dengan logat Sunda kentalnya.


"Pak ... Pak, lihat Putri?" tanya Anggi yang tiba-tiba muncul.


"Neng Putri beli orgen, jadi buru -buru."


"Orgen? Untuk apa?" tanya Anggi bingung.


"Tadi neng Putri bilang, ada keperluan pak, orgen. Gitu."


"Hahahaha." Anggi tertawa mendengar ucapan sekuritinya tersebut.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih


__ADS_2