Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 69. KENYATAAN PAHIT.


__ADS_3

Angan-angan bahagianya mulai merasuk namun sebuah kalimat keluar dari mulut suaminya membuat Zelda tak percaya.


"Apa kamu yakin menginginkan ini?" tanya Horison tepat disamping telinga Zelda.


"Sebagai seorang istri aku ingin disentuh dan dibelai." ucap Zelda sambil mengangguk dan menutup matanya. "Apa aku salah jika aku menginginkannya? Bukankah ini seharusnya kita lakukan?"


"Apa kamu yakin benar-benar ikhlas melakukan kewajiban mu tanpa ada bayangan masa lalumu?"


"Apa maksudmu? Apa engkau menuduh ku membayangkan wajahnya saat kita sedang bersama!" tanya Zelda sambil membuka matanya, dirinya tak percaya dengan ucapan suaminya yang membahas tentang masa lalu.


"Aku tidak bicara seperti itu." jawabnya enteng.


"Tapi kamu menuduhku demikian!" ucap Zelda lantang lalu mendorong tubuh Horison dan membetulkan posisinya menjadi duduk. Hingga keduanya kini sama-sama duduk berjauhan.


Seketika rasa nyaman dan bahagia dipuncak tadi hilang saat ucapan suaminya begitu melukai hatinya hingga ia menyimpulkan arti dari pertanyaan Horison.


"Jadi kamu jijik denganku? Jika kamu merasa jijik dengan statusku dulu kenapa engkau mengajakku menikah!" tanya Zelda sambil menahan air matanya yang hampir tumpah.


Melihat wajah istrinya yang hampir menangis Horison hanya diam tak berusaha menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Jika tidak ada jawaban artinya benar kamu jijik. Baiklah jika itu alasanmu, setidaknya aku mengerti apa alasan selama menikah kita tidak pernah seranjang." ucap Zelda kemudian berlalu meninggalkan Horison di ruangan kerja sendirian.


Melihat kepergian istrinya membuat Horison menarik nafasnya begitu dalam, matanya terpejam sambil masih terbayang wajah dan ucapan istrinya yang seakan bernada kecewa. Kata-kata Zelda begitu menancap di hatinya, seakan pedih dan teriris. Dirinya tahu bahwa tindakan dan ucapannya begitu keterlaluan.


Zelda yang kini berada di kamarnya mencoba kuat dan menahan rasa sakit dan kecewa. Dipandanginya cincin yang melingkar di tangannya serta sebuah wallpaper di ponselnya yang terlihat gambar mereka bertiga, yaitu dirinya, Horison dan Nata.


Air mata yang sedari tadi ditahannya kini keluar dan jatuh membasahi layar ponselnya.


"Kenapa engkau begitu tega? Tidakkah engkau tahu betapa aku mengagumi saat engkau menerima dan merawat aku beserta putriku hingga engkau memberikan nama belakangmu kepada putriku.


Kenapa engkau tega membuatku kecewa seperti ini? Apa sebenarnya maumu!" ucap Zelda lirih sambil mengusap air matanya.


Akan tetapi air matanya tiba-tiba berhenti saat ia mengingat sesuatu yang tadi ia dilihatnya ketika berada di kamar Horison.


"Tapi foto tadi, bagaiamana dia bisa memiliki nya? Bukankah itu pernikahan kami saat berada di KUA. Kapan dia mengambil foto itu?


Tidak hanya itu banyak foto-fotoku dan Nata menghiasi kamarnya.


Apa maksudnya, seandainya jika dia tidak mencintaiku untuk apa ia lebih memilih menaruh foto pernikahan kami di kamarnya ketimbang di ruang tamu ataupun ruang keluarga?" tanya Zelda pada dirinya sendiri.


Sepanjang hari, ia memilih untuk berada dikamar memikirkan semuanya, ia bahkan tidak ingat bahwa siang ini ia harus menjemput putrinya.


"Kemana ibu, tidak biasanya ibu seperti ini." ucap Nata dalam hati sambil keluar dari kelasnya untuk melihat apakah ibunya sudah tiba.


Merasa bosan karena ibunya tidak kunjung datang ia pun memilih untuk bermain bersama beberapa anak yang juga menunggu di jemput.

__ADS_1


"Paman dokter?" sapa Nata kepada seseorang yang muncul bersama seorang wanita.


"Nata, kamu sekolah disini?" tanya Henri tak percaya bisa bertemu lagi dengan gadis kecil yang tak lain adalah keponakannya.


"Iya, aku menunggu ibu. Halo Tante cantik!" sapa Nata kepada wanita cantik disamping Henri.


"Hai cantik, siapa namamu?" tanya Pika balik.


"Namaku Yumna Razeta Putra Horison, tapi ayah dan ibu biasa memanggilku Nata. Paman dan bibi ada apa kemari?" tanya Nata sambil melihat lawan bicaranya.


"Wanita cantik ini adalah istri paman, dan paman kemari karena ingin bertemu dengan pasien paman." bohong Henri, yang sengaja mengajak Pika untuk menemui seorang gadis yang diceritakannya kemarin.


"Nata belum pulang? Bagaiamana jika kami mengantar mu pulang?"


"Tidak, karena ibu pasti akan marah. Aku akan menunggu ibu atau ayah yang menjemput." jelas Nata lalu dirinya kembali bermain.


Selama Nata bermain, Pika tak dapat mengalihkan pandangannya, matanya menatap kepada Nata selalu.


"Dia sangat mirip dengan Yugo dan Zelda, aku tidak menyangka bahwa Zelda hamil saat diceraikan oleh Yugo. Aku harus memberitahunya." ucap Pika lirih sambil mengambil ponsel dalam tasnya.


"Jangan, jangan biarkan mereka bertemu dulu."


"Kenapa?"


"Aku takut Zelda akan menjauhkan putrinya dari Yugo,"


"Siapa dia?" tanya Pika kepada suaminya.


"Entah, kita ikuti saja." ucap Henri sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti Pika.


Kini Pika dan Henri berada tepat dibelakang mobil dimana Nata berada.


"Jangan sampai kehilangan mereka." ucap Pika kepada suaminya.


Beberapa saat kemudian, kini mereka berhenti disebuah gedung perkantoran besar.


"Gedung apa ini?" tanya Pika.


"Yugo mendapatkan saingan berat."


"Maksudmu?"


"Pria yang menikahi Zelda adalah penerus dari perusahaan real estate terbesar di Asia bahkan merambat ke kanca Eropa." jelas Henri.


"Lalu apa yang bisa kita lakukan?"

__ADS_1


"Menunggu kesempatan yang tepat."


"Tepat, kapan itu?"


"Sabar lah sayang, aku tidak tahu apa yang terjadi antara kehidupan pernikahan Zelda dan suaminya, aku merasa ada yang mereka sembunyikan."


"Apa Zelda membohongi suaminya tentang ..-?"


"Aku tahu yang ada dipikiran mu tapi bukan, bukan itu."


"Lalu?"


"Bukan itu, yang pasti dia berjanji akan mempertemukan Zelda dan putrinya kepada Yugo jika tiba saatnya nanti."


"Lalu kamu percaya padanya?"


"Ya, karena aku dan Yugo begitu mengenal nya."


Mendengar perkataan suaminya membuat Pika penasaran siapa pria saingan berat sepupunya tersebut.


***


Seminggu telah berlalu, pertanyaan Zelda kepada suaminya serta perkataan suaminya kepada dirinya membuat keduanya tetap bersikap normal seperti biasanya, tidak ada perbedaan sikap diantara keduanya.


Begitu juga dengan Nata yang semakin hari semakin kompak dengan ayah nya, melihat itu membuat Zelda bersyukur baginya ini adalah sebuah anugerah meski ia tidak pernah disentuh namun dinikahi pria baik yang mau menerima dirinya dan putrinya adalah kado terbesar dalam hidupnya.


Namun kebahagian yang dirasakan Zelda selama hampir enam tahun ini berhenti saat dirinya sedang menjemput Nata, dan tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakangnya ketika ia sedang memeluk putrinya.


Dooorrrr!!!!


"Ibu, itu suara apa? Aku melihat ada orang terluka." ucap Nata yang mengintip ketika sedang dipeluk oleh sang Ibu.


Seketika Zelda menoleh dan berusaha menutupi apa yang sedang dilihat putrinya.


"Tutup matamu." perintah Zelda pada putrinya lalu menggendongnya.


Zelda berdiri dan berbalik untuk melihat siapa seseorang yang sedang terkapar karena tertembak. Kakinya terasa gemetar saat melihat sepatu dan setelan baju juga celana dihadapannya, merasa tak asing dengan pakaian yang dipakai orang tersebut. Rasa panik dan ketakutannya mulai muncul, segera ia mendekat dan duduk disamping pria yang sedang tertelungkup, jam tangan yang melekat pada tangan pria tersebut makin membuat hatinya berdegup kencang, seketika tangannya bergetar setelah melihat wajah pria tersebut hingga membuat dirinya berteriak dan menelan kenyataan pahit.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih.


__ADS_2