
Melihat Zelda keluar membuat Yugo bersalah kepada mantan istrinya, ia tahu bagaiamana perasaan mantan istrinya tersebut namun tak dapat ia pungkiri jika saat ini dirinya juga merasakan pedih karena anak kecil yang tak lain adalah darah dagingnya telah memanggilnya dengan sebutan paman sedangkan orang lain dipanggil dengan sebutan ayah.
Perih rasa hatinya namun dirinya mencoba tegar dan introspeksi karena sebab dari keadaan ini tak lain adalah akibat sikapnya yang keterlaluan kepada Zelda.
"Ayah, Nata rindu. Aku ingin memeluk ayah." ucap Nata manja.
"Ayah juga, maafkan ayah ya sayang." ucap Horison dengan sedikit kaget karena melihat kedatangan Yugo bersama putrinya.
Dengan wajah masih terheran Horison mencoba tetap tenang dan hanya bertanya kepada dirinya sendiri.
Kenapa pak Yugo bisa berada disini bahkan ia begitu akrab dengan putriku?
Siapa yang memberitahu aku ada disini?
"Ayah, kenalkan ini paman yang menolong ayah."
"Terimakasih," ucap Horison kepada Yugo. Sebenarnya dia sendiri bingung apa yang sudah dilakukan mantan bosnya itu kepada dirinya.
"Tidak ada yang bisa kulakukan selain memberikan darah kepada orang baik sepertimu." jawab Yugo enteng.
Darah? Artinya aku kehilangan banyak darah waktu itu.
Terimakasih, engkau selalu membantuku.
"Ayah, kenapa engkau meneteskan air mata?" tanya Nata sambil mengusap air mata Ayahnya.
"Ayah beruntung selalu dikelilingi orang baik. Kemana ibumu?" tanya Horison mengalihkan keadaan.
"Putri sedang keluar." jawab Richard cepat.
"Bukankah ibu tadi disini?" tanya Nata yang tak percaya jika ibunya sedari tadi sudah tidak ada di tempat.
"Mungkin ibu sedang membeli makan, sayang." bohong Anggie, sebenarnya dia sendiri tidak tahu kemana Zelda yang dia tahu sahabatnya itu memilih keluar ruangan karena tidak ingin melihat kehadiran mantan suaminya.
Tak lama kemudian saat mereka saling bertanya keberadaan Zelda kini terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Tok ...
Tok...
"Itu pasti ibu." tebak Nata dengan ekspresi riang. Ia pun segera berlari membukakan pintu.
"Paman polisi, hore ada paman!" teriak Nata kegirangan.
"Kenapa kamu sangat gembira?" tanya Yoga dengan tersenyum.
"Ayah sudah sadar, dan aku akan menceritakan kepadanya bahwa paman telah menangkap penjahat yang menembak ayah. Ayo paman masuk." ajak Nata sambil menggandeng tangan Yoga.
"Ayah, paman ini adalah paman polisi. Dia sudah menangkap penjahat yang menembak ayah, keren kan yah?" puji Nata.
"Terimakasih." ucap Horison sambil tersenyum.
"Sama-sama. Maaf, bolehkah saya meminta waktu untuk bertanya beberapa pertanyaan?"
"Silakan." jawab Horison lagi.
__ADS_1
"Tapi boleh kah hanya beberapa orang saja, kita dan dia." pinta Yoga sambil menunjuk Yugo.
Horison hanya mengangguk sambil menatap ke arah sahabatnya yaitu Richard. Mengetahui maksud dari Horison segera Richard mengajak Anggie dan juga Nata untuk keluar.
"Cantik, ayo kita keluar." ajak Anggie kepada anak sahabat nya itu.
"Kenapa kita keluar? Aku menunggu ibu datang."
"Ah ya, kemana Zelda, kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Yoga yang menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Zee.
"Paman ... Paman mencari siapa? Zee?" tanya Nata dengan wajah tak percaya.
Melihat ekspresi Nata yang berbeda membuatnya Yoga berfikir apa dirinya salah bicara.
"Paman tadi memanggil ibu dengan sebutan Zee, artinya ibu, paman dokter dan paman polisi adalah teman dekat ibu?"
"Paman dokter ..?" tanya Horison yang takut jika putrinya semakin dalam bercerita.
"Ya, paman dokter yang waktu kerumah kita itu ayah. Artinya sekarang sahabat ibu sudah ...." ucap Nata dengan riang.
"Sayang,, ayo kita keluar sebentar karena paman polisi harus bicara dengan ayah." ucap Anggie yang segera menyahut ucapan Nata.
"Baiklah, ayah aku keluar dulu. Sekalian aku akan mencari ibu."
Belum sempat mereka keluar tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu lalu pintu pun terbuka.
Terlihat sosok pria tampan dengan kaca matanya yang khas, baju Hem lengan panjang yang dilipat setengah adalah ciri khas pria tampan ini. Dan saat ia memasuki ruangan tersebut ia tampak kaget karena melihat banyak orang yang dikenalnya berkumpul.
"Sorry, aku baru mendengar kabar bahwa engkau tertembak beberapa jam yang lalu." ucap Henri berusaha santai meski terlihat tatapan mata Yugo yang terlihat seperti ingin menghakimi dirinya.
"Tak apa, terimakasih sudah datang menjenguk ku. Apa putriku yang memberitahumu?" tanya Horison dengan senyum.
"Hore paman datang, sekarang sahabat ibu semua sudah berkumpul, aku yakin ibu pasti akan senang. Ayah aku keluar mencari ibu bersama aunty dan uncle, ayo." ajak Nata keluar ruangan diikuti Richard dan Anggie.
***
Dilain tempat terlihat Zelda sedang duduk bangku taman ditemani oleh sinar bulan, dalam kilauan sinar terlihat Zelda sangat begitu tertekan, dirinya tidak terima dengan keadaan bahwasannya kebahagiaan yang baru saja akan ia dapat mulai terusik dengan kehadiran seseorang dari masa lalunya.
Kenapa Allah tidak mengizinkan aku bahagia?
Apa sebenarnya salahku?
Apakah dengan tiada anggota keluarga disampingku masih tidak bisa membuat Allah berhenti mengujiku?
YaAllah, hamba tahu tak seharusnya hamba berucap demikian, tapi boleh aku meminta padamu kebahagiaan... Izinkan aku bisa bersama dengan suami dan putriku tanpa ada masa laluku yang muncul?
Hamba mohon yaAllah, tolong kabulkan doaku...
Sambil berucap ia kembali meneteskan air matanya, berharap agar Allah mengabulkan doanya.
Dinginnya angin malam yang menusuk tubuhnya membuat dirinya merasakan kedinginan, ditambah gigitan nyamuk membuat dirinya menggaruk tangganya sambil melihat jam ditangannya.
"Sudah pukul sembilan, aku harus kembali ke kamar, pasti putri dan suamiku sudah menungguku." gumamnya sambil merogoh ponsel disaku celana.
"Kemana ponsel ku? Upsss aku lupa membawanya." ucap Zelda pasrah lalu berdiri dan berjalan menjauhi taman.
__ADS_1
Namun langkahnya seakan berat saat berjalan menuju ke kamar suaminya, seakan ada yang menarik kakinya untuk tidak menuju kesana, tak hanya itu perasaannya seakan bergejolak.
"Ada apa ini? Kenapa aku seperti merasakan sesuatu? Apa Allah marah padaku karena ucapanku tadi? Astaghfirullahhaladzim..." ucap Zelda dalam hati sambil tetap melanjutkan langkahnya.
Kini Zelda membuka pintu dan ia segera ia berjalan mendekati suaminya yang sedang berbaring.
"Darimana?" tanya Horison tersenyum kepada istrinya.
"Aku tidak suka banyak orang disini, aku hanya ingin ada kamu dan aku."
"Kebiasaanmu tidak pernah berubah."
"Ternyata diam-diam kamu memperhatikan aku."
Horison hanya menanggapi dengan senyum.
"Cepatlah pulih .." ucap Zelda sambil mengelus tangan suaminya.
"Bagaiamana jika aku tidak selamat?"
"Aku tidak tahu harus berkata apa, yang pasti aku akan menyesal seumur hidupku."
"Jangan pernah menyesal dengan apa terjadi, karena itu adalah takdir."
"Tapi takdir bisa berubah bukan?"
"Ya, tapi untuk kelahiran dan kematian tidak."
"Ya, aku tahu."
"Jadi, jangan pernah menyalakan takdir jika sebuah kematian akan datang menghampiri."
"Ya, aku tidak akan menyalakan takdir. Apa suamiku hari ini ingin istirahat atau masih ingin berbincang?" tanya Zelda yang berusaha mengalihkan pembicaraan suaminya tentang kematian.
"Aku tidak ingin istirahat, aku ingin memandangi mu lebih lama lagi."
"Maka cepatlah sembuh, nanti saat dirumah kamu bisa memandangiku tiap hari. Kita mulai dari awal."
Horison tetap tersenyum tanpa menjawab ucapan istrinya tersebut.
Ada apa dengannya, kenapa dia tampak terlihat berbeda?
Senyumnya sungguh berbeda, apa ini senyumnya yang sesungguhnya??
Dalam hati Zelda bertanya-tanya tentang suaminya yang terlihat berbeda, rasa syukur menghinggapi dirinya meski ada sesuatu yang tampak berbeda namun ia berusaha mengabaikannya.
Ini bukan firasat, ini benar-benar senyumannya. Senyuman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.