Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 8. MENGUMPULKAN INGATAN.


__ADS_3

"Zelda!" panggil Aisyah yang sedang melambaikan tangan kepada anaknya.


Melihat ada seorang wanita melambaikan tangan di hadapannya segera Zelda menghampiri.


"Zelda, tumben kemari?" tanya ibunya kaget dengan kedatangan putrinya.


"Aku dari kota Bu, aku mendapat tawaran pekerjaan sebagai konsultan di sebuah perusahaan kosmetik."


"Lalu bagaimana? Apa kamu ambil?"


"Tidak, aku masih ingin meneruskan usaha ayah di desa. Aku masih ingin memberi banyak edukasi dan pengalaman atau sharing pengalaman kepada para pekerja serta warga sekitar tentang lobster Bu."


"Sepertinya kamu mulai menyukai budidaya lobster, kalau begitu terserah kamu saja. Ingat jangan terlalu sering ke pantai kulit cantikmu bisa eksotis nanti." goda Aisyah kepada putrinya.


"Tapi tetap cantik kan Bu?" tanya Zelda dengan tersenyum.


Dari kejauhan terlihat seorang lelaki sedang memandangi Zelda bicara,


Wanita itu?


Aku harus segera mendatangi nya untuk bertanya bagaimana dia bisa mengganti nama Yugo menjadi Hugo. Tak hanya itu bahkan wanita itu mengatakan bahwa Yugo adalah calon suaminya.


Namun saat dia hendak berjalan kearah Zelda tiba-tiba seorang perawat menghentikan langkahnya.


"Dokter, pasien di kamar X tolong di visit karena setengah jam lagi akan operasi."


"Oke, baik Sus."


Sesaat setelah berbicara dengan suster ternyata wanita yang dicarinya telah hilang.


Kemana wanita itu?


*Tunggu ..., sepertinya dia anak dari suster Aisyah.


Setelah visit nanti aku akan menemuinya* .


***


Di kediaman rumah Henri.


"Kemana Henri, kenapa sudah larut begini belum datang?" tanya Yugo sambil berjalan mondar-mandir.


Gue bosan, kenapa acara televisi nya hanya ini ini saja.

__ADS_1


Tapi mengapa tidak ada berita atau koran tersedia disini.


Yugo yang merasa bosan mulai keluar dari kamar ternyaman yang sudah disiapkan oleh Henri agar Yugo merasa nyaman dan tak ingin keluar kamar. Hal tersebut dia lakukan agar Yugo tidak menonton TV diluar kamar yang memang channel-nya belum diatur.


"Diluar begitu nyaman, tapi mengapa Henri melarang ku keluar?" tanya Yugo kepada dirinya sendiri.


Yugo melihat pantry yang begitu tenang, dirinya teringat suasana dimana ia berada di sebuah rumah dan sedang menunggu sajian makanan dan minuman di hidangkan. Yugo pun duduk disana sambil meminum segelas air mineral yang sudah ia ambil tadi.


Di meja pantry terlihat koran. Yugo tertegun saat membaca di head line depan koran tertulis "AIM-GOOD CEO IN MEMORIAM". Yugo melihat dan membaca isi dari koran tersebut.


Koran ini terbit tahun 2019 dan sekarang tahun 2022.


Wanita ini ...., sepertinya aku pernah melihatnya..


Pria ini juga ...


Siapa sebenarnya mereka?


Hati Yugo mulai berdetak kencang tak karuan, dirinya berusaha mengingat semuanya, hingga dia merasakan pusing yang tak biasa dan -


Yugo ditemukan tergeletak di bawah meja pantry.


Beruntung Henri tiba sesaat setelah Yugo jatuh. Segera ia mencari bantuan sekuriti yang sedang patroli malam.


"Terima kasih pak, telah membantu."


Setelah kepergian sekuriti dan memapah Yugo kembali ke kamar dirinya penasaran apa yang telah membuat Yugo pingsan. Padahal sudah sebulan ini Yugo sama sekali tidak pingsan jika dirinya melakukan terapi kepada sahabatnya itu.


"Sepertinya gara-gara koran ini. Ckck, harusnya aku tidak ceroboh." ucap Henri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku harus siap-siap menjawab pertanyaan Yugo besok pagi." gumamnya sambil menuju ke kamarnya.


***


Keesokan paginya apa yang ditakutkan Henri ternyata tidak terjadi, Yugo yang saat ini sudah bangun dan berolah raga menyambut kedatangan Henri yang masuk ke kamarnya.


"Pagi ..., " sapa Yugo seperti biasa.


"Kenapa wajahnya begitu cerah bahkan tersenyum lebar." batin Henri.


"Semalam tumben pulang malam?" tanya Yugo basa basi, dirinya tahu jika Henri yang menaruh dirinya ke tempat tidur saat dia berada di pantry dan mungkin pingsan saat itu.


"Iya ada operasi mendadak. Sorry ya bro." ucap Henri sambil berusaha menatap Yugo mencoba mencari jawaban dari raut wajah Yugo setelah membaca koran tersebut.

__ADS_1


"Tak masalah. Oia, boleh aku pinjam ponsel sebentar." pinta Yugo.


"Ini." Henri memberikan ponselnya tanpa curiga. "Aku tinggal mandi ya, nanti jika ada yang telepon biarkan saja." pesan Henri kepada sahabatnya lalu keluar dari kamar.


Setelah meminjam ponsel, Yugo menaruh ponsel milik Henri diatas sebuah meja dan ia kembali melanjutkan olahraganya. Beberapa saat kemudian Henri masuk ke kamar Yugo untuk mengambil ponselnya dan pamit berangkat.


Mengetahui jika Henri telah berangkat segera ia pergi keluar rumah dan pas sebuah motor telah menunggunya. Yugo ternyata memesan ojek menggunakan ponsel Henri.


Sepanjang perjalanan pengemudi ojek tampak cuek dengan penumpangnya. Sang pengemudi tidak akan pernah mengira jika penumpangnya adalah seorang CEO yang pernah dikabarkan meninggal dan jasadnya ditemukan dengan keadaan tidak utuh karena terbakar bersama mobil yang ditumpanginya.


"Pak turun sini saja." ucap Yugo.


"Tapi ini belum sampai tujuan, pak. Masih jauh." ucap tukang ojek.


"Tidak apa-apa. Saya janjian dengan teman disini."


Tukang ojek menurut lalu meninggalkan Yugo di pinggir jalanan yang begitu besar. Yugo segera menyebrang hingga dirinya berada disebuah tol, lalu dirinya melihat dibawah tol terlihat pohon-pohon rindang.


Dengan langkah hati-hati Yugo menuruni dan melewati pohon - pohon rindang itu. Di pepohonan yang rindang itu masih terlihat bekas kecelakaan. Terlihat masih banyak bekas kaca dan beberapa barang yang jatuh berhamburan termasuk sebuah ponsel yang yang sembunyi di dekat akar-akar pohon.


Ini ponsel ku, aku menemukannya.


Segera Yugo memasukkannya kedalam saku.


Saat dirinya memasukkan ponselnya, ia kembali mengingat apa yang dibacanya semalam.


Kenapa di koran dinyatakan bahwa aku telah tiada dalam sebuah kecelakaan tunggal, bahkan jasadku hancur karena ledakan keras dari mobil yang aku tumpangi.


Ya lelaki itu, dia yang memberi pernyataan di koran bahwa aku telah tiada. Aku akan mengingat wajahnya.


Sekarang aku akan melanjutkan turun ke bawah, jika diriku selamat artinya saat kecelakaan itu aku jatuh ke pantai ini, kemungkinan tubuhku terpental dan mobilku jatuh disini lalu terbakar.


Yugo mulai menyusuri pantai tempat paling rendah di tempat itu. Hari semakin siang, dan matahari semakin terik. Yugo yang sedari tadi berjalan mulai merasa letih kemudian ia memilih duduk bersandar di rindangnya sebuah pohon kelapa besar.


Saat dirinya hendak mensejajarkan kakinya yang lelah tiba-tiba dia merasa ada yang menyenggol kakinya dan seseorang yang berlari kearahnya itu pun jatuh karena tersandung kaki Yugo. Beruntung tubuh tersebut jatuh tepat di atas tubuh Yugo bukan di pasir pantai.


Tak ada kata yang terucap dari keduanya saat bibir mereka saling bertemu dan tatapan mata keduanya membuat mereka kaget.


Cup...


.


.

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️


__ADS_2