Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 43. KESEDIHAN ZELDA.


__ADS_3

Tetesan air mata mulai jatuh membasahi pipinya, ia tak kuasa menahan rasa sedihnya. Kekecewaan yang ia rasakan karena sikap Yugo, ditambah dengan kehadiran seorang wanita yang dengan sadar meminta jatah bulanan dan sekarang ia harus kuat melihat kondisi ibunya.


Air mata yang selama beberapa Minggu ia tahan kini tumpah jatuh jadi satu. Dirinya yang biasa terlihat tegar kini seperti makhluk lemah, ia yang tak kuasa menahan beban mencoba bersandar pada tiang pintu.


YaAllah, hadiah apa yang telah hamba terima?


Sebuah kejutan pernikahan dan kini hamba harus melihat beliau terbaring seperti ini.


Tolong sembuhkan bunda, kenapa sebagai anak, aku sampai tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada bunda bahkan saat ayah masih hidup, aku sendiri tidak tahu penyakit apa yang di dimilikinya.


Maafkan aku yaAllah, ampuni aku..


Sebagai seorang anak seharusnya aku lebih peka dan peduli dengan kondisi kedua orang tuaku.


Aku mohon, tolong beri hamba kesempatan untuk bisa menjaga dan mengobati bunda, karena hanya beliau yang aku punya.


Dirinya yang sedang menangis mulai menyeka air matanya saat terdengar suara dari belakang memanggil namanya.


"Ibu Zelda?" tanya salah satu perawat yang sedang lewat dan hendak melakukan pengecekan.


"Ya." jawab Zelda dengan suara parau sambil menyeka bekas air matanya yang keluar.


"Bisa tolong ikut saya, untuk menuju ke ruangan dokter."


Zelda berjalan mengikuti langkah perawat, dalam hatinya terasa berdebar. Ia merasa tak sanggup mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh dokter tentang kondisi sang bunda.


Sebuah pintu tertutup itu mulai dibukanya, terlihat sebuah nama dokter tertulis di papan nama yang ada di meja lengkap dengan gelar yang dimiliki.


"Silakan duduk." sapa seorang dokter tampan sambil menampilkan giginya yang putih dan rapi.


"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu saya?"


Dokter pun menceritakan bahwa Aisyah memiliki tumor yang sudah memasuki stadium akhir. Tumor yang berkembang di otak Aisyah sudah menyebar ke jaringan otak lain sehingga harus segera dilakukan tindakan pengangkatan tumornya.


Zelda tercengang dan tak percaya, dia sama sekali tidak mengetahui jika selama ini ibunya sedang sakit, pantas saja ibunya lebih memilih untuk tinggal di yayasan dan sesekali tinggal bersamanya di apartemen.


"Tumor!"


Bagai petir di siang hari, ia yang tak pernah melihat ibunya mengeluh kesakitan, kini merasa kaget saat mendengar berita tersebut.


"Apa ibu Aisyah pernah mengeluh sakit kepala?"


"Tidak."


"Mungkin beliau menutupinya." jelas dokter Zidan kepada Zelda.


Zelda keluar dari ruangan dokter sambil mengusap air mata yang kembali turun membasahi pipinya, air mata yang sedari tadi ia tahan saat duduk di ruangan dokter kini mulai tumpah saat ia berdiri.


Kini dirinya mencari tempat duduk untuk menata hati, Zelda mencoba menenangkan dirinya sambil memberi sugesti bahwasannya bunda nya akan baik-baik saja dan bisa disembuhkan.


Setelah cukup tenang ia kembali berdiri untuk menuju ke meja administrasi untuk menandatangani beberapa berkas.


***


Di ruang operasi.


Tut ..


Tut ...


Tut ...

__ADS_1


Bunyi suara detak jantung pada alat yang ditempelkan di dada Aisyah, dokter Zidan adalah dokter bedah saraf yang menangani Aisyah. Seperti biasa sebelum melakukan tindakan operasi dokter Zidan dan para tim medis lain selalu berdoa terlebih dahulu.


Selesai berdoa salah satu rekannya mulai melakukan pembiusan, dirasa bius sudah mulai bekerja segera dokter Zidan mulai melakukan pengangkatan tumor melalui hidung dengan alat endoscopy. Metode yang dipilih untuk mengangkat tumor ini adalah Metode Transnasal Endoscopy.


Dilain tempat Zelda yang sedang sendirian menunggu jalannya operasi berharap agar operasi berjalan dengan lancar. Ia sama sekali tidak memperhatikan ponselnya yang sedari tadi bergetar.


Tak terasa 120 menit telah berlalu, yang mana waktu operasi seharusnya sudah selesai namun lampu operasi tak kunjung padam. Hati Zelda dibuat tak karuan. Tiga puluh menit lebih telah berlalu namun lampu tetap tak kunjung padam, hingga 15 menit kemudian lampu mulai padam pertanda operasi telah selesai.


Zelda yang sedari tadi panik kini mulai berdiri menuju sebuah pintu yang kini mulai terbuka. Terlihat seorang dokter keluar menggunakan pakaian hijau, pakaian yang selalu digunakan saat sedang mengoperasi pasien.


"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?"


"Operasi berjalan dengan lancar. Segera pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan."


"Terimakasih, dok." ucap Zelda sambil memegang tangan dokter dengan erat.


Dokter tersebut tersenyum sambil mengangguk lalu meninggalkan Zelda yang masih berdiri.


***


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Zelda yang sedang berada di ruang perawatan sedang tertidur diatas tangannya sendiri sambil menunggu Aisyah sadar. Ponsel yang sedari siang berbunyi membuat baterai ponsel habis dan mati, dirinya tak memperdulikan keadaan Mansion yang kacau karena dirinya tidak bisa dihubungi.


Terdengar suara pintu terbuka, seorang perawat yang masuk untuk memeriksa berbarengan dengan salah satu dokter jaga.


"Sus jangan berisik! Jangan sampai wanita cantik itu terbangun gara-gara kehadiran kita."


"Kenapa memangnya, Dok."


"Biar saya puas memandangi wajah cantiknya."


"Dokter-dokter, wanita cantik ini sudah menikah."


"Bagaimana kamu tahu?"


"Jika dia bersuami kenapa disini sendirian?"


"Karena saya baru saja pulang dari urusan bisnis." ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul membuat keduanya menjadi kaget.


"Maaf pak, kalau begitu kami permisi." pamit suster sambil menarik tangan dokter Zidan.


"Tunggu, bagaiamana keadaan mertua saya?"


"Keadaanya perlahan mulai membaik." ucap Zidan singkat, kemudian berjalan keluar sambil menahan malu.


Saat ini di ruang perawatan terlihat ada tiga orang, yaitu dua penunggu dan satu orang yang sedang terbaring. Aisyah yang belum sadar dan Zelda yang masih tertidur lelap berada disamping ibunya. Sedangkan seorang lelaki yang mengaku sebagai suami Zelda setia menunggu keduanya sambil meminta seseorang lewat telepon untuk membayar tagihan operasi dan perawatan yang sudah dilakukan Aisyah selama beberapa hari.


***


Pagi hari,


Zelda bangun melihat Aisyah yang sudah membuka mata dan tersenyum.


"Bunda!"


"Kamu sudah bangun," ucap Aisyah dengan suara serak.


"Ya, kenapa bunda tidak membangunkan ku?"


"Aku melihatmu begitu lelah, tak mungkin aku membangunkan putri ku yang sedang nyenyak tidur. Mana suamimu?"


"Mas Yugo sedang ke LA, Bun. Ada launching produk baru disana." jelas Zelda. "Bunda, kenapa tidak memberitahuku keadaan bunda yang sesungguhnya?" lanjut Zelda bertanya dengan protes.

__ADS_1


"Bunda tidak ingin menjadi bebanmu."


"Apa yang bunda bicarakan? Zelda tidak suka bunda berbicara seperti itu. Bunda bukan beban tapi bunda itu pembuka rezeki Zelda. Justru aku seperti anak durhaka yang tidak mengetahui kondisi orangtuanya jika Bunda tidak menceritakannya.


"Tidak, engkau bukan anak durhaka. Maafkan bunda menyembunyikan ini semua. Bunda takut kamu akan menjauhi bunda jika tahu penyakit ini. Bunda tak ingin memberimu beban."


"Tidak bunda. Sudah jangan bicara itu lagi. Mulai sekarang bunda ikut Zelda dirumah ya, mas Yugo pasti mengizinkan Bunda tinggal bersama kami." ucap Zelda sambil mengambil ponselnya yang ada didalam tas.


Dilihatnya ponselnya sedang mati, membuatnya panik. Dirinya tahu jika orang-orang di Mansion pasti bingung mencari dirinya.


"Kenapa?" tanya Aisyah kepada putrinya.


"Ponselku mati, aku akan meminjam charger milik perawat yang ada di depan.


Zelda keluar menuju ke ruang perawat untuk meminjam charger dan saat dirinya kembali ke kamar ia berpapasan dengan seorang perawat dan dokter Zidan.


"Pagi?" sapa seorang perawat yang sedang berjalan menuju ke ruang perawatan Aisyah.


"Pagi juga."


"Apa bunda Aisyah sudah bangun?" tanya dokter Zidan.


"Sudah dok."


"Lalu suaminya, apa masih di dalam?" tanya dokter Zidan tanpa ragu sehingga membuat suster yang disampingnya kaget.


"Suami?Ada suami saya di dalam?" tanya Zelda tak percaya.


"Ya, semalam suami anda datang." jelas dokter Zidan.


Zelda kaget dan tak percaya, ia masuk ke dalam ruangan sambil mempersilahkan keduanya masuk untuk memeriksa ibunya. Sambil menunggu ibunya diperiksa, Zelda mencoba berjalan ke arah kamar mandi dan kosong. Ia yang percaya dengan ucapan sang dokter mengira suaminya benar-benar sudah datang dan sedang berada di dalam kamar mandi.


Tidak ada orang, apa mungkin mas Yugo sedang keluar?


Setelah memeriksa kamar mandi kini ia segera menghampiri dokter dan suster yang sedang memeriksa bunda nya.


"Bagaiamana kondisi bunda saya?" tanya Zelda dengan khawatir.


"Operasinya lancar, tumor sudah kami angkat, dan sekarang tinggal proses penyembuhan.


Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu untuk memeriksa pasien lainnya, jika Bu Zelda memerlukan bantuan silakan menghubungi nomor saya ini." ucap dokter Zidan memberikan kartu namanya kepada Zelda.


"Ya dok, terimakasih."


Setelah memberikan nomor ponselnya kini dokter Zidan dan perawat keluar ruangan, dengan wajah bahagia dokter Zidan mengumbar senyumnya setelah keluar dari ruangan tersebut.


***


Sepeninggalan dokter kini Zelda dengan sibuk menemani Aisyah, sang bunda yang banyak bertanya tentang kehidupan pernikahan putrinya setelah menikah membuat Zelda harus pandai menyembunyikan kesedihannya agar sang bunda tidak sedih.


Dilain tempat Yugo yang marah karena Zelda sama sekali tidak bisa dihubungi, bahkan ia kecewa karena ternyata tagihan rumah sakit sudah dibayar dan identitas pembayar membuat Yugo geram.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih..


__ADS_2