Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 59. SEMBURAN NAGA.


__ADS_3

"Kenapa melihatku?" tanya Zelda yang sedikit risih karena Anggie menatapnya terus menerus.


"Aku curiga."


"Curiga apa?" tanya Zelda sambil mengerutkan dahinya.


"Itumu berubah."


"Apa?"


"Itu tuh." ucap Anggie sambil mengarahkan matanya ke badan Zelda.


"Apa sih?"


"Itumu berubah karena hamil atau faktor lainnya." ucap Anggie seperti sedang berfikir.


"Ini maksudmu?" ucap Zelda sambil memegangi perutnya.


"Bukan."


"Lalu apa?"


"Gunung mu," ucap Anggie sedikit kencang.


"Sialan!"


"Gak Zee, beda. Lebih berisi Zee."


"Ya karena aku sedang mengandung," bisik Zelda.


"Oh aku kira karena yang lainnya." celetuk Anggie dengan nada menggoda.


"Memangnya apa?" tanya Zelda polos.


"Aku kira, dia yang membuatnya semakin besar."


"Ih, jorok. Tuh otak perlu di renovasi dan perbaikan." ucap Zelda geregetan dengan ucapan sahabatnya tersebut.


"Hahaha, jika kamu sudah di unboxing tak apa. Kan lagi hits." ucap Anggie sambil terkekeh.


Zelda hanya mendelik ke arah sahabatnya sedangkan Anggie yang ditatap tampak fokus pada seseorang yang ada di depan pintu lift.


Ia yang baru saja menggoda Zelda dengan Horison merasa gugup, hingga ia memilih diam dan tak bicara di dalam lift.


Selama di dalam lift, mereka berempat saling terdiam, begitu juga dengan Zelda dan Horison, mereka seperti tidak saling mengenal satu sama lain padahal sudah sehari mereka tinggal bersama.


Tak lama kemudian pintu lift mulai terbuka, Anggie dan Zelda sudah bersiap untuk keluar namun langkahnya sengaja dihalangi oleh Richard. Anggie yang sudah berada diluar menunggu Zelda keluar sambil berucap, "kami duluan, pak." ucap Anggie memecah suasana.


"Kamu saja," jawab Horison.


"Tapi saya harus ke ruangan saya pak." ucap Zelda berusaha menyingkirkan tubuh Richard yang berada di depannya.


"Saya ada perlu dengan kamu. Ikut keruangan saya." ucap Horison sambil menarik baju belakang Zelda hingga ia tak dapat bergerak.


"Baik pak." jawab Anggie sambil mengangguk. "Aku dulu ya." lanjutnya sambil melambaikan tangan nya pada Zelda.


"Tunggu! Kamu sahabat dia kan?" ucap Horison yang mencegah langkah Anggie.


"Iya."


"Asal kamu tahu, meski kami tinggal bersama aku belum pernah menyentuhnya apalagi sampai meraba gunung nya. Jadi jaga bicaramu."


Mendengar perkataan bosnya, membuat Anggie kaget dan setia berdiri di depan lift. Ia tak menyangka jika candaannya tadi telah di dengar oleh Horison.


"Apa suaraku terlalu keras?" tanya Anggie kepada dirinya sendiri. "Untung saja mereka yang mendengar, jika orang lain bisa jadi fitnah." lanjutnya yang masih berbicara sendiri sambil berjalan.


Sama halnya dengan Zelda, ia juga merasa heran bagaiamana bisa Horison sanggup berucap demikian.


Tak masalah jika ia berkata seperti itu, setidaknya ia tidak membiarkan namanya tercemar.


Tapi darimana ia tahu?


Apa CCTV disini?


Zelda yang masih bertanya pada dirinya sendiri tidak menyadari jika pintu lift terbuka dan harus keluar.


"Ayo, ikut aku!" ajak Horison sehingga membuyarkan lamunan Zelda.

__ADS_1


"Kemana?"


"Kamar!" ucap Horison dengan malas,


Mendengar itu Zelda mengerutkan alisnya hingga terbentuk suatu gelombang garis pada dahinya.


"Otakmu mes*m, tak ada hal lain selain bekerja jika kamu kemari!" ucap Horison sambil keluar dari lift diikuti oleh Zelda dan juga Richard.


***


Ruangan Horison.


"Maaf, apa yang harus saya lakukan disini?" tanya Zelda kepada dua orang yang ada di dalam ruangan.


Belum mendapatkannya jawaban, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok ... Tok ...


"Masuk!" perintah Richard.


Terlihat seorang OB masuk dengan membawa dua paper bag besar.


"Ini pak, saya letakkan disini ya pak."


"Ya, terimakasih."


Setelah meletakkan dua paper bag OB pun segera keluar.


"Kamu mau tahu apa yang harus kamu lakukan?"


Zelda menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Horison.


"Cepat buka dan habiskan makanan di dalam tas itu. Dan ingat jangan keluar dari ruangan ini sampai aku datang."


Zelda mencoba membuka tempat makan dan melihat makanan yang ada dalam kotak, "segini banyaknya harus habis? Kamu kira aku kulkas." ucap Zelda sambil mencari keberadaan dua orang lelaki yang berdiri di depannya.


"Huh ... Sepertinya mereka sudah keluar dan aku baru saja bicara sendiri. Oke, tak apa, lagi pula ini ayam, makanan kesukaanku."


Sebelum makan ia berdiri menuju ke sebuah meja yang ada hand sanitizer nya, setelah membersihkan tangan nya ia mulai duduk sambil mengambil sepotong ayam goreng tepung kesukaannya, namun baru satu kali gigitan rasa mual menghampiri nya.


"Uwek ...uwek , kenapa ini? Bukankah ini makanan kesukaanku." ucap Zelda sambil masih menelan kulit beserta daging ayam yang ada di dalam mulutnya.


Lebih baik aku segera menghabiskan nya.


Sebuah sugesti yang telah ia ucapkan ternyata berhasil, dengan lahap dan cepat Zelda menghabiskan ayam goreng tepung kesukaannya itu.


Tahu dari mana dia tahu jika aku menyukai ayam terapung seperti ini.


Meski tanpa nasi aku sanggup menghabiskannya semua.


Hehehehe ....


Dalam hati ia berucap sambil memandang banyaknya ayam goreng tepung yang ada di depannya, terlihat riang gembira wajahnya makan meski harus menahan rasa mual yang perlahan mulai menghilang.


Setelah menghabiskan makanannya kini Zelda membereskan sisa makanan yang berhamburan di meja menggunakan tisu kering dan basah yang ada disana. Selesai makan ia segera minum sebotol air minum ukuran tanggung.


Ahhhhh, segar ...


Alhamdulillah, kenyang....


"**Terimakasih**," ucapnya sambil tersenyum ke arah foto Horison yang menempel di dinding.


"Kapan dia akan kembali? Sudah setengah jam aku disini hanya makan dan duduk." gumamnya sambil melihat jam yang ada ditangannya.


Rasa bosan mulai menghampiri nya, ia mulai mengambil ponselnya dan membuka aplikasi novel online favoritnya di Noveltoon. Sebuah judul Terjebak Kisah Masa Lalu, Karya Nanda RaRa membuatnya merasakan sedih saat mengetahui bahwa tokoh wanita utamanya meninggal setelah berjuang melahirkan putri keduanya.


"Hiksss... Kenapa meninggal, padahal mereka baru saja bersatu." ucapnya sambil mengusap air matanya yang tumpah. "Saat kamu keluar nanti kita harus berjuang bersama ya nak, kita melihat dan menikmati dunia ini bersama-sama ya nak." lanjut Zelda mengajak bicara sambil mengelus perutnya.


"Ternyata suaminya begitu setia, ia tidak menikah lagi dan memilih membesarkan kedua buah cinta mereka. Happy ending, aku suka cerita ini gambaran pria setia." gumam Zelda sambil mematikan layar ponselnya.


Setelah selesai membaca dan menaruh ponselnya di atas meja Zelda mulai bersandar dan menarik nafas. Ia merasa kekenyangan dan masih terngiang akan cerita yang dibacanya tadi. Kini ia merasa bosan.


"Kenapa dia tidak membiarkanku keluar? Apa aku keluar saja ya." ucapnya sambil berdiri menghampiri pintu.


"Lagi-lagi dia mengunci pintu, dia kira aku barang mati yang selalu dikunci dari luar! Ah sudahlah, dari pada aku marah-marah lebih baik aku duduk dan tidur disini. Tidak baik jika aku mengomel terus karena aku tak ingin wajah anak ku mirip dengannya nanti."


Kini Zelda kembali duduk di sofa sambil bersandar, ia berulang kali membetulkan posisi duduk nya agar tidak merasa kantuk dan bosan, karena lama menunggu akhirnya ia pun merasakan kantuk dan kemudian mulai tertidur.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian terdengar bunyi suara sepatu pantofel memasuki ruangan.


Sedang apa dia?


Kenapa begitu hening?


Sambil berjalan ia berbicara sendiri dan -


"Sudah kuduga," ucap Horison sambil tersenyum simpul.


Horison mulai mendekatkan tubuhnya ke Zelda, dengan perlahan ia mulai menaruh pergelangan tangannya pada tengkuk Zelda agar dapat menggendong dan memposisikan Zelda tidur dengan nyaman.


Dalam mimpinya Zelda merasakan aroma yang sangat menyengat tanpa sadar ia yang sedang tidur mulai mengerutkan dahinya, sedangkan Horison yang sedang berada di atas Zelda merasa heran dengan mimik wajah wanita yang akan dinikahinya beberapa bulan lagi.


"Mau apa kau!" tanya Zelda melihat Horison yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Hanya ingin membenarkan posisi tidurmu." jawab Horison enteng.


"Aku tidak tidur, aku hanya tak sengaja tertidur." ucap Zelda sambil menahan rasa mual yang semakin menyerang nya.


"Aku tidak paham dengan kalimat mu. Aku tidak tidur, aku hanya tak sengaja tertidur." ucap Horison mengulang perkataan Zelda. "Bukankah memiliki arti yang sama? Sama-sama tertidur?" tanya Horison balik sambil masih berada di dekat Zelda.


Sadar jika kalimat yang diucapkan nya berantakan, ia memilih diam dan tidak beradu argumen karena saat ini ia benar-benar tidak dapat menahan rasa mualnya dan -


(byuur)


Horison pasrah merasakan sesuatu yang hangat mengguyur wajah tampannya hingga mengenai setelan bajunya yang terkena muntahan Zelda.


Sedangkan Zelda kaget, ia tak menyangka jika ia mengeluarkan semua makanan yang tadi dimakannya secara bebas kepada orang yang memberinya makan.


"Maaf ... maafkan aku. Aku tidak sengaja. Andai saja kamu tidak berada di dekatku, pasti engkau tidak mungkin terkena."


Dirinya yang basah dan bau tidak berbicara apapun, ia berusaha mengelap cairan muntah yang ada pada wajah dan bajunya dengan tisu basah yang ada di meja.


"Kenapa kamu diam saja. Apa kamu marah? Kamu seharusnya tidak marah. Aku muntah itu karena ada sebabnya, andai saja kamu tidak memakai aroma parfum menyengat pasti aku tidak akan mual begini." ucap Zelda sambil membantu Horison yang masih membersihkan sisa-sisa noda yang melekat pada jasnya.


"Lebih baik jangan membantuku, bukankah parfumku menyengat hingga membuat mu muntah." ucap Horison memperingati Zelda.


"Sudahlah, beruntung aku membantu mu, setidaknya aku bertanggung jawab dengan apa yang telah ku perbuat padamu." ucap Zelda sambil tetap membersihkan jas. Lepaskan saja pakaianmu! Kalau tidak aku yang akan melepasnya." ancam Zelda.


Tanpa sepengetahuan keduanya Richard dan Anggie masuk ke dalam ruangan dan mendengarkan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Zelda.


"Ehem ..." Richard berdehem begitu kencang saat Horison mulai melepas jasnya.


Seketika Horison menoleh diikuti oleh Zelda.


"Ka--kalian? Kapan masuk?" tanya Zelda dengan terbata, sedangkan Horison hanya santai memandangi kedua orang yang baru saja memasuki ruangannya.


"Cukup lama, dan kami berdua sudah mendengar ucapan intim kalian." goda Richard sambil menahan tawa melihat ekspresi bosnya menahan aroma muntah yang menempel pada pakaian.


Horison yang sedang fokus melepas pakaiannya tidak peduli dengan banyaknya orang yang berada di ruangannya. Badannya yang atletis dan six pack membuat Anggie kagum dan menelan ludah.


"Kenapa kamu melepasnya?" tanya Zelda tanpa menatap Horison yang sedang bertelanjang dada.


"Bukankah kamu yang memintanya tadi."


"I--iya kalau begitu mana? Akan aku bantu untuk membersihkannya." tanya Zelda sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu, bisa ambilkan bajuku!" perintahnya pada Richard.


"Bukankah semua baju sedang di laundry dan baju itu adalah baju terakhir di lemari."


"Kalau begitu cepat ambil di laundry, sekarang juga." ucap Horison sambil mantap tajam ke arah Richard.


Setelah diperintah segera Richard mengajak Anggie untuk keluar. Kini di ruangan hanya ada Zelda dan Horison yang sedang bertel*njang dada.


"Jangan kemari!" perintah Zelda pada Horison yang hendak mendekatinya.


"Tidak akan, karena aku tak ingin terkena semburan naga lagi." ucap Horison sinis sambil mengambil tisu yang berada di dekat Zelda.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih.


__ADS_2