Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 25. MENYELAMATKAN DUA NYAWA.


__ADS_3

Yugo yang tadi tersungkur di lantai kini posisinya berubah menjadi duduk di sebuah kursi dengan keadaan belum sadar, mulut dibekap dan tangan terikat ke belakang.Sama dengan Sonny, keduanya sama-sama terikat dan saling membelakangi. Sonny yang tadi bahagia melihat kehadiran kakaknya berubah sirna saat dengan jelas ia melihat salah seorang penjahat memukul Yugo dari arah belakang. Bukan tak ingin memberikan kode kepada kakaknya agar menghindar dari pukulan namun mulutnya tak mampu bicara keras karena tubuhnya benar-benar terasa lemas.


"Dasar lemah!! Sok menjadi pahlawan!" ujar si penjahat dengan sombong.


"Kamu lihat orang ini, dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Hahahaha ..." lanjut salah satu penculik berbicara kepada Sonny.


Tak banyak yang dilakukan Sonny, ia hanya bisa berdoa.Sesuatu yang lama tidak pernah ia lakukan setelah kematian ibu, wanita berhati mulia yang selalu menemani dan menjaganya. Dia adalah nyonya Arthadinata, ibu dari Yugo.


Seketika bayangan wanita baik tersebut muncul di benaknya, semua kebaikan dan kasih sayang yang diberikan kembali hadir.


Maafkan aku ibu, aku adalah anak yang tak punya balas budi,


Harusnya aku bisa membalas budi baikmu dengan melindungi kak Yugo, anakmu.


Engkau yang selalu menyayangi, mencintai dan melindungiku melebihi wanita yang melahirkan ku. Bahkan kepedulianmu itu selalu membuatku tenang.


Justru aku merasa engkaulah ibuku bukan dia.


Sekali lagi maafkan aku ibu, aku sudah melakukan dosa besar, dan aku yakin jika engkau masih ada engkau pasti akan kecewa dan membenciku.


Aku sendiri tak mengerti, kenapa aku sanggup melakukannya?


Apa karena aku cemburu? Atau aku iri?


Ya, dua jawaban itu benar. Aku iri karena ayah sama sekali tak pernah mengajakku bicara bahkan menyapaku. Dia menganggapku tidak ada. Tidak hanya kasih sayang bahkan sepeser pun harta aku tidak mendapatkannya


Itulah alasannya mengapa aku tega kepada kak Yugo.


Cukup lama Sonny meratapi kesalahannya dengan memejamkan mata dan menangis, dan saat ia kembali membuka matanya ia kembali menangis melihat kondisi sang kakak yang hampir sama seperti dirinya.


Saat dirinya sedang berdoa dan berharap mendapatkan pertolongan tiba-tiba lampu di kamar yang tadinya bercahaya redup kini telah berubah menjadi gelap gulita, dalam gelap ia mendengar suara bising yang sudah ia hafal, suara yang sama saat dirinya diculik.


"**** kenapa lampunya mati?! Apa tidak ada lampu emergency?" gerutu salah satu penjahat.


"Lu pikir Mall! Ini hutan gobl*k!" ucap salah satunya.


"Sabar, ini lebih baik. Tanpa ada penerangan membuat kita banyak istirahat. Toh dua target sudah kita dapat. Bos pasti akan bahagia."


Sonny yang mendengar percakapan mereka heran, siapa sebenarnya bos mereka? Mengapa menculik dia dan Yugo?


"Kapan kita serahkan kedua lelaki ini?"


"Besok pagi." ujar si penjahat yang memukul Yugo tadi.


Baru beberapa menit mereka saling berkumpul dan bercengkrama, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah depan.


"**** siapa yang datang malam-malam begini! Hari sudah hampir pagi kenapa musuh malah datang! Kita berpencar sebagian ikut aku ke depan dan sebagian lagi jaga kedua lelaki lemah ini."


"Oke."


"Woi, lu berdua. Gue tahu kalau tamu yang datang saat ini adalah anak buah kalian, bukan! Hahahaha kalian begitu mudah ditebak, asal kalian tahu aku sudah memasang jebakan disini. Jadi tak akan mudah untuk menyelamatkan kalian berdua dari tempat ini. Hahahaha." ucapnya dengan suara keras sambil membuka kain yang menutup mulut kedua sandranya.


Baru beberapa detik tertawa kini Sonny mendengar suara erangan dan tak berapa lama kemudian ia merasakan tangan Yugo bergerak.


"Aku dimana?" tanya Yugo dengan suara parau.

__ADS_1


Dalam keadaan ruangan yang masih gelap tiba-tiba terdengar suara.


"Apa kalian tak apa?"


Yugo yang setengah sadar tak percaya dengan suara yang tak asing ditelinganya.


"Kenapa kamu kemari? Ini terlalu bahaya." ucap Yugo khawatir.


"Jangan mengkhawatirkan ku, khawatirkan dirimu sendiri." ucap Zelda sambil melepas tali.


Sonny tidak tahu siapa yang dikhawatirkan kakaknya tersebut, mengapa dari cara Yugo berucap tampak begitu khawatir sedangkan si wanita yang baru datang tampak tak asing dengan suaranya.


"Ayo kita keluar," ajak Zelda.


"Arghhhh ... ." teriak Sonny.


"Kenapa?" tanya Yugo panik.


"Kaki ku, aku tidak dapat berdiri."


Keadaan Sonny yang tidak dapat berdiri membuat Yugo harus memapah adiknya itu, sedangkan Zelda dengan sigap dan waspada berada disamping keduanya untu mengawal mereka hingga sampai di tempat aman.


"Sayang, bukannya aku melarangmu untuk kemari?" tanya Yugo kepada Zelda memecah suasana yang gelap dan hanya diterangi cahaya senter dari jam tangan Zelda.


Zelda yang mendengar pertanyaan Yugo tidak paham pertanyaan itu ditujukan pada siapa, dirinya Hanya diam tidak merespon.


"Aku bertanya padamu, tapi kenapa kamu diam?" tanya Yugo dengan nada sedikit merajuk.


"Hei, kamu ditanya kakaku." ucap Sonny kepada wanita yang sedang berada diantara mereka. Sonny masih tidak tahu wanita disampingnya, bukan karena tidak kelihatan tapi Zelda menggunakan masker untuk menutupi wajahnya."


"Aku?"


"Namaku Zelda bukan Sayang. Jadi panggil lah namaku dengan baik dan benar."


Yugo yang mendengar jawaban tak biasa dari wanita yang dicintainya itu membuat dirinya merasa gemas dengan kelakuannya.


***


Perjalanan mereka untuk berada di tempat aman sudah hampir dekat, kini mereka sudah sampai dan -


"Bos, bagaiamana keadaanmu?" tanya Vincent kepada Yugo.


"Aku lebih baik, tapi sepertinya Sonny tidak. Tolong periksa dia, dia sepertinya lemah dan dehidrasi."


Vincent pun memeriksa keadaan Sonny, sedangkan anak buah lainnya membasahi mulut Yugo dengan air dalam kemasan botol minuman minuman.


Kondisi Sonny memang terlihat lemah dan saat ini dirinya tertidur setelah diberi sepotong roti dan segelas botol minuman oleh Yugo yang sudah disiapkan anak buahnya.


Selesai memberikan makan dan minuman, kini Sonny tertidur, Yugo yang melihat keadaan sekitar tidak melihat keberadaan wanita yang sudah mencuri hatinya.


"Kenapa kamu gelisah?" tanya Vincent kepada Yugo.


"Kemana dia?"


"Wanita cantik itu maksudnya?"

__ADS_1


"Jangan memujinya di depanku karena hanya aku yang boleh memuji dan memandang wajah nya." bentak Yugo.


"Hahahah, justru aku kira dia kekasih Yoga."


"Siapa dia?"


"Seorang Intel yang membantu kita."


"Kenapa kita memerlukan bantuan?"


"Bos Henri tertangkap oleh kawanan penjahat, jadi kami tidak tahu harus bagaimana, karena kita bukan mafia jadi aku menghubungi rekan ku itu. Dan aku sendiri tidak mengira jika Yoga dan wanita itu saling kenal." jelas Vincent.


"Lalu kemana mereka berdua sekarang?"


"Mereka menyelamatkan Henri. Aku kagum pada wanita itu, dia telah menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Dia benar-benar wanita hebat, aku kagum padanya."


Mendengar penjelasan Vincent membuat Yugo cemburu, cemburu karena wanitanya dipuja dan cemburu karena ada lelaki lain yang baginya itu adalah saingan beratnya.


Tak lama kemudian, kini terlihat sekumpulan penjahat telah tertangkap diiringi dengan beberapa anggota polisi, sedangkan Zelda sedang berjalan membopong Henri.


"Ni temanmu." ucapnya sambil menyerahkan tubuh Henri kepada Yugo.


"Kenapa dia?"


"Coba periksa sendiri," ucap Zelda ketus.


Melihat tubuh Henri yang tak terluka, dia tahu jika sahabatnya itu sedang tertidur dan tidak mengalami cidera berat, ia pun juga menyuruh Vincent memeriksa kondisi Henri. Sedangkan dia memilih untuk mendekati Zelda agar wanitanya itu tidak duduk berdekatan dengan Yoga.


Tahu jika Yugo akan mendekat, Zelda pun menghindar dan memilih untuk melihat kondisi Sonny. Begitu juga dengan Yugo yang tahu jika Zelda hendak menghindari dirinya segera ia menarik tangan Zelda.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa menghindariku?" ucap Yugo dengan keras.


Zelda tak menyangka jika Yugo akan berkata seperti itu, membuat dirinya mengernyitkan dahi.


Mengetahui jika dua alis Zelda bersatu membuat Yugo tahu jika Zelda tak suka dan kesal dengan kelakuannya.


"Kamu tak perlu malu dengan hubungan kita, semua orang disini harus tahu hubungan kita."


Zelda semakin bingung dengan kelakuan lelaki yang hampir menjadi suaminya itu.


"Apa kamu tidak iba melihat keadaan saudaramu, lebih baik kamu cari tahu siapa dalang dibalik semua ini," ucap Zelda lirih tepat ditelinga lelakinya itu.


"Pelakunya adalah Yongki," celetuk Yoga menanggapi ucapan Zelda.


Yugo tak menyangka jika lelaki yang ia cemburui itu menanggapi ucapan Zelda kepadanya.


"Yongki? Bukannya dia adalah tangan kanan adikku? Mengapa dia melakukannya?" tanya Yugo kepada Yoga dengan wajah serius.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya.Suka dan komentar.


Terimakasih..❤️❤️


__ADS_2