
Seminggu setelah kejadian tersebut, Zelda merasakan perbedaan. Dirinya yang terbiasa bebas kini tidak lagi karena ada seseorang yang telah mengawasinya. Seorang wanita cantik yang terlihat tangguh selalu berada tak jauh dari dirinya berada.
Awalnya Zelda tidak tahu siapa seseorang yang selalu mengikuti langkahnya, ia mengetahui hal tersebut saat ia memaksa wanita itu mengatakan mengapa selalu mengikuti dirinya.
Setelah mengetahui nya Zelda sempat protes namun ia berusaha menghormati apa yang dilakukan Yugo untuk dirinya.
Ketidak hadiran Yugo membuat Zelda bertanya-tanya namun ia memilih untuk diam dan pura-pura tidak peduli dengan keadaan tersebut. Sebagai seorang ibu Aisyah merasakan kegelisahan putrinya tetapi dirinya pun sama bersikap seakan tidak perduli. Justru ia menyuruh Zelda untuk berkutat di dapur jika sang putri sedang tidak ada pekerjaan diluar.
Apa yang sedang direncanakan oleh ibunya secara diam-diam tidak diketahui oleh Zelda, yang dia tahu jika ibunya tidak begitu peduli dengan hubungannya dengan Yugo. Harapan agar Yugo mengambil hati ibu agar kembali seperti dulu sepertinya harus pupus.
***
Hari berganti hari tak terasa sudah satu bulan lebih lamanya, Yugo yang dinanti tidak kunjung datang atau menghubunginya, hal tersebut membuat perasaan Zelda tidak karuan, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.
Beberapa hari lagi adalah hari dimana ia kehilangan sang ayah, ia ingat janji Yugo yang akan menikahi dirinya tepat hari itu. Hatinya semakin sesak jika mengingat janji tersebut. Dia tak menyangka jika Yugo akan menghilang tanpa kabar.
Sambil memandangi cincin yang pernah Yugo berikan saat itu membuat hatinya terasa sesak dengan semua janji-janji, ingin rasanya ia marah dan menghampiri lelaki tersebut untuk bertanya kejelasan namun dirinya memilih diam dan tidak melakukan, dia memilih pasrah dan terkadang menangis diam-diam.
Sebenarnya kamu kemana? Ini sudah sebulan lebih kamu tidak memberiku kabar, bahkan saat aku mencoba menghubungi, kamu tidak menjawab.
Apa kamu bosan dan mulai menghindari ku?
Atau kamu benar-benar sedang sibuk?
Lebih baik aku berfikir positif saja,
Tapi bagaiamana jika dia berubah??
Diam -diam Aisyah memperhatikan sikap Zelda yang terlihat berbeda, meski putrinya tidak berkata namun Aisyah tahu jika putrinya sedang sedih.
***
Disebuah ruangan kantor yang luas terlihat seorang lelaki tampan, lelaki yang hampir sebulan lebih menahan rindu. Ia sama sekali tidak bertemu dengan pujaan hatinya demi memenuhi syarat.
Kini yang dilakukan oleh Yugo adalah mempersiapkan semuanya sendiri.
"Bagaimana, apa sudah selesai?" tanya Yugo kepada anak buahnya yang ia percaya.
"Semuanya sudah sesuai yang bapak mau."
"Bagus. Terimakasih." ucap Yugo lau menutup sambungan teleponnya.
Setelah berbicara dengan kerabat dekatnya, ia menjadwalkan untuk bertemu dengan Aisyah, yang merupakan otak dari semua yang sedang dilakukan oleh Yugo.
"Bagaiamana, apa Ibu sudah melihatnya?"
"Ya, Ibu setuju. Dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan besok?"
"Pasti."
Malam harinya, Zelda yang baru tiba dari merias kliennya merasa kaget, karena sudah malam begini kenapa ia merasa sepi. Biasanya jam segini ia akan mendengar bunyi suara tokoh idaman ibunya lewat laptop, sebuah serial drama Korea tak pernah absen dari tontonan sang Bunda.
"Kemana Bunda? Apa Bunda sedang sibuk dan tak kemari??" gumam Zelda sambil menyalakan lampu di setiap sudut ruangan.
Selesai menyalakan lampu dirinya segera bergegas ke kamar mandi untuk mengusir lelahnya. Selesai mandi, Zelda ak langsung menuju kamar tidurnya, ia berniat menghubungi sang ibu untuk menanyakan keberadaannya, sambil berbaring di sebuah kursi ruang tamu yang empuk ia mengutak-atik ponsel. Saat ia akan mengambil remot tv dengan satu tangan tanpa melihat ia menjatuhkan sebuah surat.
"Apa ini?" tanya Zelda sambil meraih surat yang jatuh tersebut.
"Aku rasa ini bukan surat," Zelda yang berucap sendiri mulai membalik surat tersebut.
Dibukanya undangan tersebut ternyata dirinya terkejut bahwasannya yang dibukanya bukanlah sebuah surat melainkan sebuah undangan pernikahan yang tertulis sebuah nama yang sangat ia kenal.
"Aku tidak salah baca kan? Ini undangan kak Henri dan Kak Pika. Aku bahagia mereka akan menikah."
Penasaran dengan tanggal pernikahan, Zelda pun mulai membuka dan dirinya makin terkejut jika tanggal pernikahan akan diadakan besok.
"Besok? Kenapa mendadak? Apa aku yang baru tahu jika undangan ini sudah lama berada disini dan aku baru membacanya?"
Zelda penasaran dan ingin sekali menkonfirmasi kepada sang calon pengantin. Ia pun berniat untuk keluar kamar dan berjalan ke unit apartemen yang ada di depannya untuk menemui Pika.
Niatnya urung saat sebuah panggilan telepon berbunyi.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya tanpa aku kesana ia menelfon.
Pika : "Apa kamu sudah membacanya?"
Zelda : "Ya,, selamat ya kak. Aku tak menyangka kak Henri gak banyak bicara langsung cepat menyiapkan."
Pika : "Besok pagi, kamu harus datang paling pagi, karena kamu yang akan meriasku."
Zelda : "Oke," ucap Zelda lalu mematikan sambungan telepon yang ditutup oleh Pika.
Dia benar-benar wanita beruntung, kak Henri benar-benar membuktikan ucapannya untuk menikahi Pika.
"Sudahlah, lebih baik aku istirahat, aku harus bertempur besok pagi." ucap Zelda pasrah
Keesokan paginya, Zelda yang terlihat lesu karena semalaman ia yang berusaha tidur tidak dapat memejamkan matanya, dan baru merasa ngantuk saat subuh datang.
"Ada apa dengan diriku? Lebih baik aku bangun dan tidak menuruti kemalasan ini." ucap Zelda menyemangati dirinya sendiri.
Setelah membersihkan diri, ia yang bersiap hendak keluar dan mengunci kamarnya merasa terkejut karena ada beberapa lelaki dengan tubuh besar, wajah mereka tidak asing, karena wajah-wajah itu pernah ia lihat sebelumnya.
"Tolong ikut kami, pak Henri dan Bu Pika sudah menunggu." ucap salah satu dari mereka.
Tak percaya dengan ucapan lelaki tersebut Zelda mencoba menelpon Pika, dan belum sempat Zelda berucap Pika sudah berbicara terlebih dahulu.
Pika : "Ikutlah dengan Vincent dan anak buahnya. Ikut saja gak usah banyak tanya. Oke!"
Zelda pun menurut dan mengikuti langkah Vincent.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, seperti biasa Vincent yang cuek sama sekali tak mengajak nya bicara hingga kini mereka tiba di sebuah hotel. Zelda turun diikuti oleh Vincent dan anak buahnya. Di dalam hotel Zelda sudah disambut ramah oleh beberapa pegawai hotel.
Tanpa rasa curiga Zelda membalas senyum mereka hingga kini ia berhenti di sebuah kamar dimana ia harus masuk untuk merias Pika. Saat dirinya memasuki kamar dan menutup pintu tersebut ia mulai dikejutkan dengan sebuah suara dari dalam.
"Apa kamu siap?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah balkon.
Zelda tahu suara siapa itu, ia sengaja tidak menoleh dan hanya fokus menata sambil mengeluarkan alat makeup dari dalam tas.
"Kenapa tidak menatap ku?" tanya Yugo kepada Zelda.
"Kamu marah?"
Zelda tak menjawab dan memilih untuk tidak melihat seseorang yang mengajaknya bicara. Yugo tahu jika Zelda sedang marah, ia hanya menahan tawanya dan berjalan keluar melewati Zelda.
Merasa diacuhkan membuat Zelda kecewa dengan sikap Yugo. Kekecewaan Zelda berubah saat ia melihat sebuah koper yang tidak asing.
"Kenapa koper itu berada disini? Siapa yang membawanya?" tanya Zelda heran. Ia melihat koper tersebut mirip sekali dengan koper miliknya.
Rasa penasaran membuat dirinya ingin mendekati tas tersebut, Zelda yang mulai mendekati koper tersebut tiba terdengar suara ketukan. Rasa penasaran untuk mendekati tas tersebut urung karena ia harus membuka siapa yang mengetuk pintu.
"Selamat pagi kak, maaf saya sedikit terlambat karena harus membawa gaun ini."
"Maaf mbak siapa?"
"Saya Riska, yang akan merias kakak."
"Tunggu -tunggu ... merias maksudnya bagaiamana? mbak mau merias pengantin?" tanya Zelda heran.
"Iya, benar, kenapa Kak?"
"Boleh saya tahu siapa nama pengantinnya?"
"Kak Zelda, dan suatu kehormatan bagi saya karena akan merias seorang MUA terkenal seperti Kakak."
"Tapi bukan saya yang menikah, yang menikah adalah -."
Penjelasan Zelda terhenti saat Pika masuk.
"Zelda, aku minta kamu make up dulu ya, karena aku harus mengurus sesuatu yang penting."
"Kenapa aku harus di make up? Aku kan yang meriasmu."
"Kali ini aku mohon, tolong kamu turut semua permintaan ku."
__ADS_1
Entah apa yang membuat Zelda menurut dengan ucapan Pika, ia pun menurut tanpa banyak protes. Kini dirinya sedang dirias, dks menganggap jika akan dijadikan sebagai bridesmaid.
"Kak, terimakasih." ucap Riska bahagia.
"Terimaksih untuk apa?"
"Kakak telah mengizinkan aku merias wajah Kakak."
Zelda yang mendengar itu tersenyum sambil berucap, "make up kamu bagus, saya suka."
***
Setelah satu jam di make up Zelda tersenyum puas dengan hasilnya dan kini ia mulai menggunakan gaun.
"Apa aku tidak salah lihat? Kenapa gaun bridesmaid mirip dengan gaun pengantin. Aku penasaran bagaimana gaun Pika." ucap Zelda kepada Riska.
"Gaunnya cantik mirip seperti Kakak. Pasti pak Yugo terkesima melihatnya." celetuk Riska.
Celetukan Riska membuat dirinya kembali sedih, hatinya terasa sesak saat mengingat sikap Yugo tadi, yang cuek tak seperti biasanya.
"Kenapa Kakak diam?"
"Tidak."
Zelda pun memilih diam dan menyembunyikan kesedihannya. Sedangkan Riska yang bahagia karena bisa merias idolanya merasa semakin percaya diri karena Zelda memuji riasannya tadi.
Selesai merias wajah kini Riska mulai menata rambut Zelda.
"Oke, done. Coba kakak berdiri. Sebuah gaun minimalis modern dengan model halter neck yang dikombinasikan dengan belahan pada bagian kaki, tatanan rambut ku buat Messy hair dengan dibentuk bun rendah lengkap dengan aksesoris berdetail bunga warna putih yang ditempelkan di bagian belakang. Bagaiamana apa kakak suka?"
"Ya, riasan yang cantik. Terimakasih" puji Zelda.
Selesai dirias kini Zelda yang baru saja berdiri menutup pintu untuk mengantarkan Riska keluar merasa terkejut dengan kehadiran Pika yang tampak biasa saja.
"Apa kamu sudah selesai, ayo kita keluar." tanya Pika.
"Tunggu, sepertinya Riska salah memberikan baju. Seharusnya ini milikmu, dan yang Kakak pakai adalah milik ku."
"Sudahlah Zel, tak ada waktu. Kita ganti disana saja." ucap Pika sambil mengajak Zelda berjalan keluar kamar.
Melihat mood Pika yang buruk membuat Zelda diam dan hanya menurut semua ucapan Pika.
Setibanya di sebuah ruangan, Zelda dibuat terkejut dengan dekorasi yang begitu indah dengan sebuah inisial nama Z dan Y. Dirinya yang tadi berjalan memasuki ruangan tiba-tiba berhenti. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Pika yang melihat itu tersenyum diikuti dengan munculnya kehadiran Yugo yang sudah menggunakan Tuxedo dan jas senada dengan warna jas.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zelda tak percaya.
"Hari ini kita akan menikah, dan setengah jam lagi akan segera dilaksanakan." ucap Yugo sambil menatap wajah Zelda dalam.
"Apa maksudnya ini, Bun?" tanya Zelda kepada sang ibu yang tiba-tiba muncul dari dalam ruangan ball room.
"Bunda telah menerima permintaan Yugo, dan hari ini adalah acara pernikahan kalian akan berlangsung,"
"Apa ini nyata?" tanya Zelda sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Ini nyata, aku benar-benar membuktikan ucapan ku, bukan."
"Tapi kenapa harus begini? Kenapa tidak memberitahu ku? Kenapa harus kamu yang mempersiapkan sendiri?"
"Sudah diamlah. Jangan berdebat, beberapa menit lagi kita akan menikah. Setelah itu baru proteslah."
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih..❤️❤️
__ADS_1