Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 56. DI BALIK KANTOR POLISI.


__ADS_3

"Lah ini, si laki nya baru bangun. Aku yakin dia kelelahan setelah wik wik di mobil." ucap salah seorang yang ada di kerumunan.


Mendengar ucapan yang menjijikan membuat Zelda memandang lelaki itu dengan tatapan tajam.


"Otak dan mulutmu sangat menjijikan!”


"Apa kamu bilang? Dasar wanita penghibur!" ucapnya sambil menghampiri Zelda dan melayangkan tangannya ke wajah Zelda.


Zelda yang cermat dan gesit dengan mudahnya menghindar, sedangkan orang tersebut merasa malu karena pukulannya meleset.


Tak terima karena pukulannya meleset, ia pun kembali. mengulanginya, sambil mengumpat, "kurang aj*r!"


Zelda yang tahu hendak diserang dengan santai menghindar sambil menarik kebelakang tangan lelaki tersebut hingga terdengar suara rintihan.


"Awww ... Awww ... Sakit. Lepas!" teriak lelaki itu.


"Tidak akan ku lepas sampai mulutmu itu berbicara dengan sopan dan meminta maaf padaku."


"Dasar wanita malam, aku bukan pelanggan mu, lagi pula wanita malam seperti mu tidak pantas dihormati."


Mendengar dirinya di caci membuat Zelda semakin kesal hingga menarik tangan tersebut dengan lebih keras.


"Kurang aj*r! Lepas!" teriak lelaki itu dengan rintihan lebih keras, hingga membuat sebagian orang disekitar melihat ke arah mereka.


Horison yang sedang berada disamping Zelda sebenarnya ingin sekali memberi pelajaran lelaki kurang ajar tersebut namun niatnya harus urung karena Zelda lebih dulu memberikan pelajaran.


Melihat keberanian Zelda membuat dirinya bersyukur, karena Yugo menikah dengan wanita yang tepat meski saat ini mereka sedang berpisah.


Dia bukan wanita biasa, sungguh beruntung pak Yugo.


Saat dirinya sedang memuji Zelda dalam diam, tiba-tiba ia merasa terusik mendengar beberapa orang disana sedang mencela sikap Zelda yang menurut mereka brutal. Tak ingin membuat suasana lebih kacau Horison segera meminta Zelda untuk melepaskan cengkeramannya.


"Tidak, aku tidak akan melepasnya sebelum dia meminta maaf dan memperbaiki ucapannya."


"Aku bilang lepas! Tidak ada gunanya kamu begitu."


"Tidak akan!"


Horison yang awalnya memuji kini jengkel dengan sikap Zelda yang tidak dapat dinasehati. Beruntung ponselnya bergetar, orang yang sedari tadi dinanti akhirnya mengangkat teleponnya.


Tak tahu apa yang dibicarakan nya, namun dilihat dari raut wajahnya seakan Horison sedang merencanakan sesuatu.


Setelah berbicara lewat telepon, Horison kembali ke kerumunan dan spontan berucap "maaf."


"Kenapa engkau meminta maaf? Memangnya apa yang sedang kita lakukan?" tanya Zelda sambil menyenggol lengan Horison.


"Diamlah dan ikuti saja!" bentaknya sambil berbisik.


"Tidak, aku tidak merasa bersalah! Bukankah wajar jika kita tertidur dipinggir jalan?"


"Yang mereka ributkan adalah mobil berhenti lama dan bergoyang. Apa kamu paham!'


"Tidak! Mereka berhak berpandangan demikian, tapi aku juga punya hak untuk membela diri dengan menjelaskan dan menyakiti laki-laki tak bermoral ini agar tidak sembarangan bicara."


Horison yang tak ingin menambah keributan mulai berkata, "bawalah kami ke kantor polisi. Kami akan mempertanggungjawabkan perbuatan kami."


Zelda yang tak terima dengan ucapan Horison dan hendak membantah namun ada yang lebih dulu bicara serta membenarkan ucapan Horison.


"Memang seharusnya begitu! Kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan tanpa harus disuruh! Lagipula kenapa kalian memilih jalanan sepi jika ingin bermain. Kenapa tidak menyewa hotel saja." ucap salah seorang warga lainnya.


"Hussh!!! jaga mulutmu."


"Kenapa harus dijaga, bagaimana jika pasangan ini adalah pasangan halal, tidak masalah kan, mau dimana mereka melakukan."


Apa yang diucapkan salah satu warga membuat Horison sedikit lega, ternyata dari beberapa yang berkerumun menghakiminya ada orang yang berpikir positif.


Kericuhan pun sedikit kondusif dengan ucapan orang tersebut, tak berselang lama terdengar suara sirine datang.


"Ada apa ini?" tanya salah seorang polisi yang baru turun dari mobil patroli.


"Ini pak ada mobil goyang, lelaki dan wanita ini adalah pelakunya." ujar seorang warga sambil menunjuk ke arah Zelda dan Horison.


"Lalu kenapa lelaki itu merintih begitu?" tanya polisi yang melihat kearah Zelda.

__ADS_1


"Wanita ini pak! Dia menarik tangan ku pak, aww ... aww...," keluh seorang yang tangannya masih ditarik kebelakang oleh Zelda.


"Lepaskan dia!" perintah seorang polisi menghampiri dan menatap tajam ke arah Zelda.


"Tidak! Aku tidak akan melepasnya sampai dia meminta maaf karena telah mencaci dan mencela ku" jawab Zelda sambil tetap menarik tangan lelaki tersebut lebih erat.


Horison yang tidak ingin memperpanjang urusan segera membantu lelaki itu agar terlepas dari cengkraman Zelda.


"Kenapa dilepaskan!" kesal Zelda sambil memandang sinis ke arah bosnya.


"Pakai otak dan nalarmu! Jangan berlebihan!" bisik Horison.


Dengan jengkel Zelda berusaha memahami situasi dan menerima ucapan bosnya.


"Wanita liar! Dasar pec*n!" maki lelaki tersebut sambil menunjuk Zelda dengan telunjuknya.


Mendengar wanita disampingnya dihina membuat Horison memegang erat tangan Zelda agar tidak terpancing emosi.


"Kalian berdua sebaiknya ikut ke kantor polisi. Jelaskan disana."


Keduanya pun berjalan menuju ke mobil polisi sambil diteriaki, sedangkan mobil milik Horison ditinggal disana.


***


Di dalam mobil.


"Akhirnya aman ..." ucap Horison dalam hati sambil menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


Suasana yang tenang berubah berisik saat Zelda mulai menggerutu.


"Ini semua gara-gara kamu, andai saja kamu tidak tertidur mungkin tidak akan begini." gerutu Zelda sambil menatap ke arah jendela disampingnya.


"Ya, semua itu gara-gara aku yang mau dan sadar mengantarmu malam-malam ke bidan ."


"Tapi ini semua berawal dari kamu, andai kamu tidak muncul di rumah sakit dan mengambil vitaminku pasti aku tidak menyusulmu ke parkiran."


"Diamlah! Jangan bicara terus, apa setelah tidur mulutmu itu auto bicara seperti baterai." balas Horison sambil bersandar dan memegang keningnya.


Polisi yang sedang menyetir mencoba menengahi keadaan agar tidak terlalu gaduh.


Zelda yang masih ingin membalas ucapan Horison memilih diam karena merasakan perutnya sedikit kram.


Melihat Zelda tak lagi bicara membuat Horison penasaran, ia pun melihat ke arah spion di dekatnya, dirinya yang duduk di depan Zelda penasaran dengan apa yang dilakukan wanita dibelakang nya.


Kenapa dia diam?


Ada apa dengan perutnya?


Apa dia lapar?


Melihat itu, Horison segera mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


***


Di Kantor Polisi.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di kantor polisi dan diarahkan untuk menuju ke sebuah ruangan.


Saat memasuki ruangan terlihat hanya ada dua orang disana, perut Zelda yang kram membuat dirinya lebih banyak diam. Namun tenaganya seakan terisi saat melihat dua buah kotak makanan ayam cepat saji di atas meja, melihat itu tatapan matanya tak bergerak dan fokus ke kotak makan di depannya.


"Tunjukkan KTP!" perintah salah seorang polisi yang sedang mengintrogasi mereka.


Dengan tenang Horison mengambil dompet dan menunjukkan KTPnya, tak terlihat gurat ketakutan sedangkan Zelda hanya diam saja dan tetap memandang makanan dalam kotak tersebut.


"Kamu!" tanya polisi membuyarkan konsentrasi Zelda yang fokus pada kotak makan tersebut.


"Tertinggal." ucap Zelda enteng.


"Kenapa tidak dibawa?"


"Karena saya gak bawa dompet."


"Kalau begitu siapa namamu?"

__ADS_1


"Putri."


"Panjangnya?"


"Putriiiiiiiiiiiiiiiiiiii." jawab Zelda tanpa rasa bersalah.


Jawaban Zelda membuat Horison dan polisi yang menanyai nya menahan tawa.


"Maksud nya nama lengkap." jelas polisi satunya.


"Oh, hanya putri." ucap Zelda ketus.


"Kenapa pandangan mu mengarah kemari? Apa kamu ingin ini?" tanya seorang polisi.


Tanpa Zelda sadari kepalanya mengangguk.


"Kalau begitu makanlah dulu."


Tidak menyia-nyiakan kesempatan segera Zelda mengambil makanan yang ada di depannya, "terimakasih." ucapnya sambil berdiri dan mencari bangku meja-kursi yang kosong.


Saat dirinya sedang menikmati makanan terdengar suara telepon berbunyi, dan tak berselang lama juga terdengar suara ketukan dari balik pintu. Zelda yang asyik menikmati makanan sedikit melirik kearah pintu. Dilihatnya seorang pria dengan wajah bersinar, tubuh tegap masuk sambil memakai topi lengkap dengan baju Koko.


Pria tersebut masuk dengan disambut salam oleh orang disana termasuk Horison.


Siapa pria itu?


Meski bertanya -tanya namun ia tetap melanjutkan acaranya yaitu menghabiskan makanan di depannya, namun saat sedang makan ia merasa aneh dengan keadaan di sekitarnya.


Kenapa aku merasa ada yang ganjil dengan suasana disini?


Apa iya ruangan penyidik senyaman ini? Kenapa ruangan nya justru seperti ruangan kerja.


Bahkan kedua polisi itu terlihat tidak sibuk memberikan pertanyaan kepada Horison, bukan kah mereka seharusnya tidak memberi kan izin Horison untuk menerima tamu dan berbicara santai seperti ini.


Siapa sebenarnya pria berbaju Koko tersebut?


Saat Zelda sedang makan dan bingung dengan pertanyaan nya sendiri, ia tanpa sengaja mendengar suara cukup keras keluar dari mulut pria tersebut yang membahas tentang hukum Islam tentang perceraian. Bahkan membicarakan perihal masa idah dan kehamilan.


Apa yang sebenarnya mereka bicarakan, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.


Lebih baik aku segera menghabiskan makanan ini dan berpura -pura tidur.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Zelda segera mengelap mulut dan kedua tangannya dengan tisu basah yang tersedia di dekat mejanya. Selanjutnya ia menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu mulai menutup kedua matanya sambil bersedekap.


"Wanita itu tertidur setelah makan, sepertinya ia benar-benar letih."


"Ya, dan dia begitu cantik. Pantas saja pak Horison ingin menikahinya. Bahkan beliau rela berada di kantor polisi hanya untuk bertemu dan bertanya kepada pak ustad." ucap salah seorang polisi kepada rekannya.


"Maksudnya?"


"Hussst, jangan sampai membangunkannya." ucapnya lirih.


Seorang polisi yang mendengar penjelasan rekannya hanya mengangguk."Apa skandal mobil goyang juga settingan?"


"Tidak, justru karena itu maka beliau meminta asistennya untuk menelpon kantor polisi agar dijemput disana dan minta dipanggil kan ustad kemari."


Zelda yang pura-pura tidur terkejut, dirinya tak menyangka dengan semua sikap Horison.


Apa maksud nya?


Apa karena aku wanita sehingga dia membodohi ku seperti ini?!


Dirinya yang tidak dapat mengontrol emosi mulai membuka matanya dan keluar dari ruangan tersebut hingga membuat orang di dalam ruangan kaget.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2