Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 6. KESEDIHAN ZELDA.


__ADS_3

Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Zelda berusaha mengikuti kemauan ayahnya untuk duduk disamping Hugo namun berbeda dengan Hugo yang justru menyuruhnya untuk duduk dibelakang menemani pak Ahmad, ayahnya.


"Duduklah dibelakang bersama ayah, temani beliau." ucap Hugo lirih.


Kenapa sih lelaki ini, sepertinya tidak suka aku ada disini. Padahal baru saja memintaku untuk menjadi istrinya tapi belum sampai sehari di tidak ingin aku duduk disebalah nya.


"Kenapa? Apa mas keberatan jika aku duduk disini?" tanya Zelda penasaran.


"Tidak, ayah sedang sakit, alangkah baiknya kamu temani dia dulu."


Apa yang diucapkan calon suaminya itu ada benarnya juga, dirinya sudah lama tidak saling bertemu, berbicara dan bermanja dengan sang ayah.


Zelda turun dari mobil dan memilih untuk duduk dibelakang bersama ayahnya.


"Kenapa pindah kesini?"


"Aku ingin duduk disebalah ayah, sudah hampir tiga tahun kita tidak saling berbincang, bukan."


"Baiklah, terserah kamu anakku." ucap pak Ahmad sambil mencubit hidung anak kesayangannya itu.


Pak Ahmad dan Zelda saling memandang, kenapa mobil tetap diam dan belum berjalan padahal mereka bertiga sudah cukup lama berada di dalam dengan kondisi mesin menyala.


"Mas, kenapa? Ayo kita berangkat." ajak Zelda


"Ohh, ti-tidak. Apa sudah siap?" tanya Hugo kebelakang sambil tersenyum.


"Iya. Ayo berangkat. Lebih cepat lebih baik agar bapak bisa segera bertemu Hugo." ucap pak Ahmad dengan santai.


"Pak, saya ada disini kenapa buru-buru ingin bertemu dengan saya?" tanya Hugo sedikit heran.


Pak Ahmad hanya tersenyum mendengar Hugo bicara. Berbeda dengan Zelda yang merasa begitu rindu pada ayahnya, dirinya merasa seakan-akan hendak berpisah lama dengan ayahnya.


Ada apa ini? Kenapa aku merasa ada yang berbeda? Apa hanya perasaan ku saja yang merasa seperti ini.


Saat sedang melakukan perjalanan tiba-tiba turunlah hujan yang begitu deras, Hugo yang berusaha konsen menyetir tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan salah satu ban nya, dan itu membuat dirinya mulai merasakan mual dan pusing. Dirinya merasa pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Rasa pusing yang sedang dialami membuat padangannya menjadi kabur. Karena pandangannya mulai kabur ditambah dengan bannya yang tiba-tiba mengalami pecah maka ia berniat menepikan mobilnya.


"Mas, kenapa?" tanya Zelda.


"Sepertinya pecah ban." ucap Hugo dengan lemas.


"Kamu kenapa, mas?"


"A--aku"


Brukkkkk....


Belum sempat Hugo menjawab pertanyaan Zelda tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah belakang. hingga membuat mobilnya bergerak kedepan menabrak pembatas jalan beton yang ada disekitar. Seketika, Hugo tak sadarkan diri sedangkan pak Ahmad dan Zelda selamat. Sebuah keajaiban, penumpang di bagian belakang baik-baik saja tanpa luka serius. Sedangkan mobil yang menabrak mereka melaju dengan kencang.


Setelah kecelakaan, beberapa saat kemudian datanglah tiga mobil ambulan untuk membawa mereka bertiga ke rumah sakit terdekat. Sesampai nya di rumah sakit mereka dimasukkan ke sebuah ruangan yang berbeda, Zelda dan pak Ahmad dimasukkan ke ruang UGD, sedangkan Hugo ke ruangan ICU. Zelda yang masih diobati tidak tahu jika setelah pemeriksaan ayahnya dipindahkan kesebuah ruangan.


Selesai pemeriksaan ia mulai mengecek satu persatu orang yang berada disebelahnya namun ia tak menemukan ayahnya. Ia pun keluar ruangan dan bertanya kepada seorang petugas administrasi yang berada di depan ruang UGD.


"Mbak, permisi. Saya adalah korban kecelakaan yang tadi dibawa kesini."


"Iya mbak, ada yang bisa dibantu."


"Tadi saya dan ayah masuk ke ruangan yang sama namun kemana ayah saya. Kenapa tidak ada disini?"


Petugas tahu siapa yang dimaksud, pasti wanita ini mencari lelaki paruh baya yang sekarang dipindahkan di ruang jenasah. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan nya karena melihat wanita di hadapannya ini terlihat lemah dan ia takut jika akan membuat pingsan.


"Mbak, dimana ayah saya?"

__ADS_1


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk bahunya, "Nak, ayo ikut saya. Ayahmu telah dipindahkan di tempat lain." ucap seseorang yang bernama Aisyah.


Dilihat dari pakaiannya dia adalah seorang kepala perawat.


"Iya, tolong antar saya. Saya khawatir dengan ayah saya."


Sepanjang perjalanan tak banyak yang diucapkan Zelda. Ia terlalu panik dan ingin melihat kondisi ayahnya. Berbeda dengan Aisyah yang tak henti-hentinya mengucap syukur telah bertemu anaknya dan suaminya meski dalam kondisi seperti ini.


"Dimana ayah saya, suster?"


"Beberapa lorong lagi kita akan sampai." ucapnya sambil menyeka air mata agar tidak terlihat.


Zelda merasa ada yang aneh dengan langkahnya. Mengapa semakin melangkah ke sebuah lorong ia tidak melihat orang menunggu sanak keluarganya seperti lorong lainnya, justru ia melihat banyak orang yang bersedih setelah keluar dari sebuah ruangan.


*Ruangan apa yang hendak aku masuki? Kenapa banyak orang-orang menangis?


Tidak ... tidak mungkin. Ayah pasti baik-baik saja. Ayah sudah berjanji akan melihat aku dan Hugo menikah*.


"Suster dimana ayah saya?"


"Beliau ada disana? ucap suster Aisyah.


Zelda melangkah dan melihat sebuah kaki yang tertutup kain putih. Kain tersebut tertutup sampai ke atas kepala.


"Kenapa kain ini menutupi wajah ayah ku?Ayahku bisa kesulitan bernafas." ucap Zelda sambil tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ayah ... bangun yah... Ini aku, Zelda?" ucap Zelda sambil masih menahan air matanya.


"Ayah ... bangun ayah!!!!! Lalu aku harus bersama siapa? Dengan siapa ayah???? Kakak yang telah tiada, ibu yang hilang dan belum ketemu, lalu sekarang ayah bahkan Hugo juga sedang terbaring lemas di ruang ICU." ucap Zelda yang tangisnya mulai pecah.


"Bukannya ayah janji akan melihatku menikah dengan lelaki pilihan ayah?"


Mendengar itu Aisyah tak dapat menahan air matanya. Ia menangis tak percaya harus melihat suaminya meninggal. Dan anaknya yang sedang menangis meratapi kepergian suaminya yang lama telah terpisah karena peristiwa tsunami beberapa tahun yang lalu.


Deg.


Mendengar ucapan itu membuat Zelda tersentak kaget. Ia menoleh kebelakang melihat wanita yang mengantarnya tadi.


"A--apa kamu i--bu-kku?" tanya Zelda dengan gagap.


Aisya tak kuasa menahan air matanya. Bibirnya terkunci seketika dan ia hanya bisa mengangguk.


"Ibu, aku bahagia bisa bertemu dengan ibu tapi mengapa sekarang aku harus berpisah dengan ayah! Takdir apa ini?" Mengapa begini!" ucap Zelda sambil masih menangis.


Aisyah mulai memeluk anaknya. Di ciumnya anaknya itu berkali- kali dengan penuh kasih sayang.


"Ini takdir Zelda, kamu beruntung masih bisa merasakan pelukan ayah dan melihat ayah? bagaiamana dengan ibu? Ibu baru bertemu dengan ayahmu dengan keadaan sudah tiada seperti ini." ucap Aisyah sambil menepuk lembut pundak anaknya untuk menenangkan.


"Sabar Nak, ikhlaskan, apa yang sudah digariskan oleh Allah, itu adalah jalan yang terbaik."


"Lebih baik segera kita sucikan ayahmu agar kamu bisa segera menemani pasien yang berada di ruang ICU. Apa dia calon suamimu?"


"Iya."


Zelda masih tidak dapat menahan air matanya yang keluar, ia memegangi tangan ayahnya yang sekarang mulai dingin.


"Jodoh dan maut adalah takdir dan yakinlah setelah turun badai maka akan muncul pelangi. Bahkan setelah muncul pelangi maka akan kembali turun badai. Baik badai maupun pelangi tak akan abadi, mereka hanya muncul sesaat. Sama halnya dengan kehidupan kita, tak selama nya kita akan sedih dan tak selamanya kita akan gembira."


"Saat ini hanya ibu dan dia yang aku punya." ucap Zelda sambil memegang sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


***

__ADS_1


Tak terasa sudah satu bulan lamanya Hugo terbaring diatas tempat tidur rumah sakit dengan menggunakan beberapa alat bantuan pernafasan, dirinya mengalami koma dan tak tahu kapan akan sembuh.


Untuk membiayai perawatan Hugo diperlukan banyak biaya maka sebagai pengusaha lobster yang sedang berkembang mau tak mau Zelda harus melanjutkan pekerjaan yang diturunkan ayah nya dan juga Hugo. Meski terlihat awan namun dirinya mencoba menyukai untuk belajar mengenai ilmu baru tersebut.


Mau tak mau Zelda meminta bantuan ibunya untuk menjaga Hugo saat pagi tiba, karena setiap pagi sebelum subuh Zelda harus pulang ke desa untuk melihat hasil panen dan menjualnya. Sedangkan saat malam ia harus menemani Hugo.


Sebuah kabar baik ia dapatkan dari dokter yang merawat calon suaminya itu bahwasannya kini pasien sudah ditempatkan di sebuah ruangan perawatan, bukan ruang ICU lagi. Artinya keadaan Hugo sudah mulai membaik meski sebuah infus masih terpasang di tubuhnya.


Melihat Hugo yang sedang tertidur tanpa bantuan alat membuat dirinya merasa lega.


Semoga kamu cepat sembuh,


Saat ini ayah sudah tiada, semoga kamu tetap memperlakukan aku dengan baik seperti janjimu kepada ayah.


Dengan langkah hati-hati Zelda masuk ke sebuah ruangan untuk menemani Hugo. Disana ia meringkuk kedinginan tepat  di sebuah kursi tunggu di samping brankar. Tubuhnya yang letih tidak ia rasakan, kulitnya yang bening kini mulai terlihat coklat pun tidak ia hiraukan.


Setiap malam Zelda selalu mengajak calon suaminya itu berbicara, meski Hugo terlihat tidak mendengar dan menanggapi tapi Zelda yakin bahwa apa yang ia katakan telah didengar. Terlihat dari jari jemarinya yang merespon saat Zelda sesekali menggenggam tangan calon suaminya itu.


Pagi ini Zelda yang hendak bersiap untuk berangkat ke desa mendapat kabar dari dokter bahwa kondisi Hugo tidak stabil, denyut jantungnya naik turun. Zelda memutuskan untuk menunggu Hugo, dirinya berdoa berharap Hugo dapat kembali sehat seperti sedia kala.


Seketika doa Zelda didengar, Hugo yang nafas dan denyutnya tidak stabil perlahan mulai teratur bahkan matanya yang selama satu bulan ini tertutup mulai terbuka. Sebuah wajah cantik dan tulus yang pertama kali ia lihat membuat dirinya bertanya-tanya.


Melihat mata Hugo terbuka, segera Zelda menekan sebuah tombol untuk memanggil perawat dan dokter.


***


Melihat satu persatu perawat mulai keluar, Zelda tak sabar untuk masuk dan menyapa calon suaminya itu.


"Mas Hu...go... " sapa Zelda.


Siapa wanita ini?


Kenapa aku tak mengenalinya.


Hugo yang dipanggil tak menjawab dia hanya mengernyit kan dahinya dengan kebingungan yang terpancar dari wajahnya.


"Siapa kamu? Keluar!" teriak Hugo histeris. Ia terlihat tidak suka dengan panggilan nama yang menurutnya aneh di telinganya.


Zelda terkejut dan menahan tangisannya. Pria yang dicintainya telah melupakannya. Bagai sebuah petir di siang hari hatinya tak dapat diungkapkan betapa nelangsanya dia saat satu-satunya orang yang telah berjanji akan menikahinya justru tidak mengenali dirinya.


Zelda yang diusir tidak segera keluar, ia memilih untuk tetap berada disamping Hugo sambil menangis. Hugo tak tahan melihat suara tangisan dan wajah sedih namun mau bagaimana lagi ia benar-benar tidak tahu siapa nama yang disebut-sebut oleh wanita itu. Perlahan Hugo kembali merasakan pusing.


Melihat itu segera dokter memanggil perawat untuk menenangkan Hugo sedangkan dokter memilih untuk mengajak Zelda berbicara empat mata di luar ruangan.


"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Mengapa ia tidak mengenali aku?" tanya Zelda sambil menahan tangisannya dan mengusap air mata yang tadi sempat keluar.'


"Dirinya telah kembali, yang kamu lihat sekarang adalah pikirannya yang sebenarnya."


"M--maksud dok--ter apa?"


"Apa sebelum terjadi kecelakaan dia sempat merasakan pusing?" "Coba anda ingat-ingat kata-kata apa yang membuat anda bertanya-tanya saat ia meminta sesuatu sederhana kepadanya?"


Tiba-tiba Zelda teringat saat dia pernah bertanya siapa nama Hugo dan dari mana ia berasal. Sebuah jawaban yang begitu aneh terdengar di telinganya.


Dokter pun meminta agar Zelda membiarkan apa yang sedang terjadi, artinya ia harus menerima kenyataan bahwa Hugo tak lagi mengenalnya. Zelda terpaksa menuruti ucapan dokter Henri karena pasien sedang dalam proses penyembuhan. Bahkan dokter juga berjanji akan membantu Zelda agar membuat Hugo mengingat semua memori yang hilang.


Setelah berbicara dengan Zelda, kini dokter ya g menangani Hugo masuk ke dalam ruangan dan ia terkejut saat pasien memanggil namanya.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️


__ADS_2