Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 60. JERUK VS NAGA


__ADS_3

"Permisi, kamu tadi bilang apa?" tanya Zelda sambil mengangkat kepalanya yang tadi menunduk.


"Tidak." jawab Horison cuek.


"Kamu bilang semburan naga!" ucap Zelda dengan penuh emosi.


"Kamu dengar lalu kenapa menyuruhku mengulangnya." ucap Horison membalas tatapan Zelda.


Kini keduanya saling bertatapan, namun tak lama kemudian Zelda kembali menundukkan kepalanya.


"Kamu pikir aku naga, baru kali ini aku dengar ada orang yang mengatai aku dengan sebutan naga." gerutu Zelda lirih.


"Sudah jangan diperpanjang, lebih baik tepati janjimu untuk membersihkan pakaianku ini."


Zelda yang masih menggerutu berusaha menarik nafas dalam-dalam sambil menutup matanya berharap emosi redah.


Dari jarak 2 meter Horison dapat melihat jika Zelda sedang meredam emosinya sendiri.


"Jangan melihatku seperti itu, dan jangan membenciku terlalu. Ingat kamu sedang mengandung, jangan sampai calon anakku itu akan benar-benar mirip denganku, ayah tirinya." ucapnya sambil tersenyum melihat ke arah Zelda.


"Jangan sampai dan tidak mungkin!" balas Zelda sambil mengelus perutnya. "Dimana aku harus mencuci bajunya? Disini tidak ada wastafel selain diluar." lanjut Zelda bertanya sambil berdiri.


"Tidak mungkin bagaimana, kita lihat saja nanti saat dia lahir." goda Horison. "Ayo ikut aku." ucapnya sambil berjalan ke sebuah ruangan dibalik TV yang diikuti oleh Zelda di dibelakang.


"Ruangan apa ini? Kenapa rumah dan kantormu penuh dengan rahasia?" tanya Zelda lirih.


"Sesuai janjimu lakukan lah disana." ucap Horison sambil menunjuk ke arah toilet yang ada di dekat sebuah tempat tidur ukuran single. Ia sebenarnya mendengar jelas apa yang diucapkan Zelda namun ia memilih untuk tidak menjawab dan berbicara hal lain.


"Mau kemana kamu?" tanya Zelda kepada Horison yang hendak keluar dari kamar rahasia.


"Kenapa? Apa kamu ingin aku temani disini?" tanya Horison menghentikan langkahnya.


"Jangan keluar dulu, kita keluar bersama."


Horison menurut dan ia mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Menunggu Zelda yang sedang mencuci pakaian membuat dia merasa ngantuk hingga tertidur.


Sekitar setengah jam akhirnya Zelda selesai mencuci dan ia keluar dari toilet.


"Tidur?" ucap Zelda sambil menahan bau parfum milik Horison yang masih melekat di tubuhnya.


Melihat Horison yang tidur membuat Zelda memilih keluar dari ruangan tersebut, namun saat dirinya hendak keluar terdengar suara ponsel berdering.


Ponsel siapa? Kenapa bunyinya mirip sekali dengan milikku?


Zelda mencoba mencari sumber suara dan bunyi tersebut berasal dari ponsel yang berada di meja dekat Horison tidur.


Kenapa ponselku bisa ada disana?


Harusnya ada di sofa tadi,


Zelda yang merasa ponsel tersebut adalah miliknya segera mengambilnya namun saat ia hendak membuka terlihat wallpaper ponsel yang berbeda dengan miliknya.


Bukan milikku, ini bukan ponsel ku.


Kenapa bisa sangat mirip?


Zelda yang masih bertanya-tanya sambil melihat ponsel tak menyadari jika pemilik ponsel bangun dan melihat Zelda sedang memegang ponsel miliknya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Horison yang bangun dan berdiri tepat dibelakang Zelda."


Zelda yang kaget spontan menoleh kebelakang.


"Ma-maf aku kira ini ponsel ku, aku tidak tahu."


"Ohh, aku kira kamu mulai cinta dan tak ingin kehilangan ku."


"Maksudnya bagaiama-" ucap Zelda terputus karena dirinya kembali merasa mual berada di dekat Horison.

__ADS_1


Mengetahui bahwa wanita di depannya hendak muntah segera Horison menutup mulut Zelda dan ia memutar tubuhnya kebelakang sambil menggiring Zelda menuju ke toilet.


"Apa-apaan kamu?" ucap Zelda dengan nada tidak terlalu jelas karena mulutnya sedang ditutup Horison.


"Ssst ... Jangan banyak bicara, dalam hitungan detik kamu akan segera mengeluarkan semburan naga untuk yang kedua kali."


Dan benar, baru saja mereka tiba di toilet segera Zelda kembali muntah untuk yang kedua kalinya.


Uwek ... Uwek ...


"Untung aku siaga, setidaknya semburan naga tidak mengenai ku." ucap Horison lirih.


Meski selamat dari semburan naga namun melihat dan mendengar keadaan Zelda yang sedang muntah membuatnya merasa iba, hingga tanpa sengaja ia memijat tengkuk Zelda sambil mengelus punggung Zelda.


Merasa nyaman dengan sentuhan hangat membuat Zelda merasa baikan dan seketika ia berhenti muntah lalu mengelap bibirnya dengan air.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Horison khawatir.


Zelda mengangguk.


"Istirahatlah disini, aku akan membuatkan susu hangat."


Zelda yang sedang berada di atas tempat tidur merasa sangat lemas, ia tak menyangka makanan yang dimakan nya tadi telah keluar semua.


"Ini." Horison memberikan segelas susu hangat kepada Zelda.


"Apa kamu mengganti parfum mu?" tanya Zelda sambil mengendus ke arah Horison.


"Ya,"


"Bukankah ini bau pengharum ruangan?" tanya Zelda sambil menahan senyumnya.


"Apa kamu merasa nyaman?"


"Hem..lebih enak bau ini."


"Baguslah, sekarang beristirahatlah. Aku akan menunggu di luar sampai jam pulang nanti. Hari ini jangan bekerja dulu sampai dirimu baikan." ucap Horison sambil keluar dari kamar rahasia tersebut.


Terimakasih...


Aku tidak tahu siapa engkau sebenarnya, tapi aku merasa engkau begitu baik dan tulus.


Siapapun kamu, kami akan membalas kebaikanmu.


***


"Ini bajunya," ucap Richard yang baru memasuki ruangan bersama dengan Anggie yang berada di belakang nya.


"Taruh disana," ucap Horison sambil memandang wajah kedua orang yang baru saja masuk. "Ada apa dengan kalian? Apa kalian mencari sesuatu?"


"Maaf pak, kemana Putri?" tanya Anggie memberanikan diri.


"Ohh, dia baru saja tidur sepertinya kelelahan."


"Di kamar rahasia mu?" tanya Richard kaget.


"Ya, kenapa?"


Mendengar itu Anggie tertegun,


"Apa bapak menidurinya?" tanya Anggie polos.


Mendengar pertanyaan itu Horison mulai menaruh tabletnya lalu melihat ke arah Anggie.


"Aku akan menidurinya nanti setelah masa ida nya selesai dan saat dia sudah sah menjadi istriku." jelas Horison sambil menatap tajam kepada Anggie.


"Terimakasih pak, saya merasa tenang."

__ADS_1


"Tenang?"


"Dia berada ditangan lelaki yang tepat, semoga bapak tidak sama seperti mantan suaminya dulu."


"Memangnya kenapa?"


"Lebih baik bapak tanyakan padanya langsung kenapa mereka sampai bercerai di usia pernikahan yang belum genap setahun."


"Setelah aku menikah dengannya, aku tidak akan membahas masa lalunya." ucap Horison cuek.


Anggie mengangguk dan merasa lega, "kalau begitu saya pamit untuk kembali ke ruangan saya."


Horison hanya mengangguk sambil memandang data yang ada pada tabletnya.


"Pak, terimakasih." ucap Anggie yang tiba-tiba berhenti berjalan dan kembali memutar tubuhnya untuk menghadap Horison.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Horison sambil menatap Anggie yang berada di depannya.


"Bapak rela mengganti parfum mahal bapak dengan pengharum ruangan dan bau ini lebih pas untuk berada di dekat wanita hamil, pak." ucap Anggie sambil tersenyum lalu kembali memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan bosnya itu.


Setelah terdengar pintu ditutup segera Richard berdiri dan mendekat ke arah sahabatnya, "apa benar kamu menggunakan pengharum ruangan?" tanya Richard sambil mengendus aroma tubuh Horison.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Horison balik.


"Tidak, hanya saja kini engkau mulai menyukai sesuatu yang tidak engkau suka, dan itu demi dia, kan?" goda Richard sambil mencolek bahu sahabatnya itu.


"Sudahlah, jangan berlebihan. Cepat kita ada meeting lagi sore ini!" ucap Horison yang tidak terlalu menggubris ucapan asistennya.


***


Di ruangan meeting,


Didalam ruangan meeting tampak beberapa orang sedang saling berdiskusi untuk membicarakan rencana pembangunan hotel yang akan segera dibangun, mereka tampak serius berdiskusi meski sang pemilik perusahaan belum memasuki ruangan meeting.


Bagi mereka bisa bekerja di perusahaan real estate terbesar di Asia dan sedang merambah ke negara Eropa membuat mereka sangat bangga dengan kepemimpinan bos mereka, meski jarang terlihat namun begitu peduli dengan karyawan dan perusahaan.


Sesaat kemudian terdengar langkah kaki yang tak asing bagi mereka memasuki ruangan meeting.


"Selamat sore semuanya. Saya dan pak Horison minta maaf jika harus mengundang meeting mendadak." ucap Richard membuka meeting.


Dalam meeting kali ini banyak yang harus mereka diskusikan. Namun saat Richard baru membuka meeting hampir semua yang ada di ruangan saling berpandangan, mereka heran dengan bau yang mereka hirup.


"Ada apa dengan kalian semua? Apa kalian mencium aroma jeruk?" tanya Richard kepada semua yang hadir di meeting sore ini.


Mendengar Richard berucap demikian membuat Horison mengerutkan dahinya memandanginya dengan tajam, sedangkan Richard yang dipandang pura -pura tidak melihat dan cuek.


"Jika kalian mencium aroma jeruk tidak masalah, karena untuk beberapa bulan ke depan aroma ini diperbolehkan dan tidak ada larangan untuk menggunakan aroma ini." ucap Richard tersenyum. "Baiklah cukup untuk intermezo nya, ayo kita kembali untuk membicarakan bangunan yang harus kita selesaikan."


Kini semuanya yang ada di ruangan mulai fokus berbeda dengan Horison yang merasa heran dengan dirinya sendiri.


Ada apa denganku?


Kenapa aku rela menggunakan pengharum ruangan dibanding dengan parfum mahal ku, tak hanya itu aku yang membenci aroma jeruk, rela menaruhnya di badan ku?


Ada apa denganku?


Apa jangan -jangan?


Ah, tidak. Ini hanya untuk sementara saja. Aku menggunakan aroma ini karena terpaksa menyelamatkan diriku dari semburan naga.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih.


__ADS_2