
Setelah operasi, Zelda sudah bisa bergerak meski sedikit tidak bebas. Segala gerak geriknya masih dibatasi oleh Horison. Semua keperluan bayi dari baju, bedong hingga kaos tangan dan kaki sudah disiapkan oleh Horison setelah baby Nata dimandikan, namun tidak untuk keperluan milik Zelda, ia merasa belum pantas, sehingga ia meminta bantuan pada Anggie untuk membantunya.
Namun di hari kedua, Horison harus pamit untuk tidak dapat menemani Zelda dengan alasan karena dirinya harus berpergian keluar negeri untuk mengerjakan proyek disana.
“Maafkan aku, aku harus meninggalkanmu dan baby Nata malam ini,”
“Tidak apa-apa.”
“Aku berjanji setelah urusan selesai aku akan segera kembali .”
Zelda hanya mengangguk dan tersenyum kepada Horison.
“Hati-hati,”
Sebenarnya bagi Horison berat jika harus meninggalkan calon istri dan anaknya pergi namun karena ada masalah pekerjaan maka ia dan Richard harus menyelesaikannya.
Sehari setelah kepergian Horison, Anggie yang diminta untuk menjaga Zelda dan baby Nata harus pamit karena ia mendapat kabar bahwa sang ayah sedang sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Sebagai seorang sahabat Zelda paham, ia meminta Anggie untuk menjenguk dan menunggu ayahnya yang sedang sakit.
“Pulanglah, dia ayahmu. Bagaimana pun dia adalah orangtua yang membesarkanmu.”
“Dia memang membesarkanku tapi aku tak akan melupakan apa yang sudah ia lakukan pada ibuku.”
“Kamu sudah lama tidak bertemu dengannya, ibumu di Surga pasti akan bahagia melihatmu menjadi anak yang pemaaf. Maafkanlah ayahmu aku yakin pasti beliau sudah menyesal atas perbuatan yang pernah ia lakukan.
Aku yakin setelah kepergianmu selama bertahun-tahun ayahmu menyesal dengan apa yang pernah dilakukannya.” nasehat Zelda.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Jangan pikirkan aku, ada banyak orang disini. Kamu tahu kan dia menyewa satu lantai ini untuk ku dan baby Nata. Jadi akan banyak yang membantuku." ucap Zelda berusaha tenang di depan sahabatnya.
Kini di ruangan yang besar dan indah ini hanya ada Zelda dan bayinya yang sedang tertidur pulas. Dipandanginya wajah Nata tampak terlihat mirip dengan seseorang yang pernah hadir mengisi hidupnya.
Bagiku Nata begitu mirip dengannya tapi kenapa dia berkata bahwa Nata sangat mirip denganku?
Tapi saat Nata lahir dia terlihat mirip sekali denganku, namun sekarang kenapa justru lebih mirip dengannya?
Tidak ... Tidak boleh... Hubungan ku dengan dia sudah usai saat ia mengucapkan talak, lagipula Horison sudah menyematkan nama belakangnya untuk anak yang bukan darah dagingnya.
Zelda yang sedang melamun harus tersadar saat mendengar suara tangis dari bayinya. Segera dia menggendong buah hatinya, namun tidak seperti hari-hari sebelumnya, malam ini tangisan putrinya begitu keras dan tidak berhenti-henti sehingga membuat Zelda sedikit kewalahan hingga membuat suster dan ART yang bertugas malam hari masuk dan mengambil alih. Keduanya secara bergantian menggendong untuk menenangkan.
Akan tetapi hasilnya sama saja, Nata tetap saja menangis hingga Zelda kembali mengambil alih untuk menggendong putri kecilnya keluar kamar. Perlahan suara tangisan Nata mulai reda.
"Apa kamu bosan di dalam?" tanya Zelda lirih kepada putrinya.
"Baiklah ibu akan disini, tapi hanya lima menit saja ya sayang, karena ini sudah malam tak baik kita berada di luar kamar, Nat." ucap Zelda sambil mengajak putrinya keluar kamar.
Para suster dan ART yang berada di belakang Zelda merasa tenang akhirnya baby Nata bisa diam.
***
Ditempat dan waktu yang sama namun berbeda ruangan terlihat seseorang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit, orang tersebut tak lain adalah korban kecelakaan tunggal yang beruntung bisa selamat.
"Bangun!! Bangun lah, ini sudah dua hari kamu berbaring seperti ini. Tolong jangan membuat kami semua cemas." ucap Pika dengan terisak.
__ADS_1
"Kondisinya tidak terlalu parah, dia mengalami beberapa luka ringan di tubuh." jelas Henri kepada tunangannya.
"Jika tidak parah kenapa dia tidak kunjung sadar?"
"Sayang, tidak akan terjadi apa-apa padanya, dia akan segera sadar dan kondisinya kembali normal. Berdoalah." ucap Henri menenangkan Pika.
Sedangkan Vian dan Sonny yang sudah dua hari ini ikut menjaga merasa heran dengan keadaan yang terjadi. Kakak iparnya berada ditempat yang sama namun tidak disini untuk menemani kakaknya, mereka justru melihat Zelda berjalan sendiri lalu dipeluk oleh seorang lelaki saat memilih tetap berjalan meski mereka sedang memanggil.
Tidak hanya itu, Pika dan Henri yang merupakan orang terdekat Yugo sama sekali tidak membicarakan Zelda saat mereka berempat sedang berkumpul menunggu Yugo sadar.
Vian yang tak ingin dianggap masih mencintai Yugo memilih tidak bertanya, namun secara diam-diam dirinya mencari keberadaan wanita kemarin yang disapanya.
Aku harus mencari tahu, siapa wanita itu sebenarnya?
Apakah dia Zelda atau bukan.
Kini dirinya berada di ruang persalinan untuk menanyakan kepada perawat yang berjaga nama-nama pasien yang melahirkan kemarin dan hari ini. Pertanyaan Vian membuat curiga para perawat namun perawat tersebut tidak mengambil pusing akan pertanyaan yang diajukan oleh keluarga pasien dari kelas VVIP.
Akan tetapi usaha yang dilakukan Vian tidak membuahkan hasil, tak ada informasi tentang nama pasien yang dimaksud. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke ruangan Yugo untuk memberitahu suaminya.
"Bagaimana keadaan Yugo?" tanya Vian pada Sonny yang berada di luar kamar
"Masih tetap, dia masih belum sadar."
"Bagaiamana jika engkau membisikkan nama kakak ipar ditelinganya?" bisik Vian pada suaminya.
"Apa kamu yakin?" tanya Sonny sambil melihat ke arah istrinya.
(Vian mengangguk).
Sonny yang berada di luar kini masuk ke dalam dan hendak membisikkan nama Zelda sesuai anjuran istrinya namun belum sempat ia melakukannya tiba-tiba tangan Yugo bergerak dan diikuti oleh matanya yang mulai membuka.
Melihat kakaknya sudah sadar membuat Sonny segera menekan tombol, dan tak lama kemudian suara langkah dokter dan perawat memasuki ruangan untuk memeriksa keadaan Yugo.
Semua yang berada disana tampak saling memandang dan berharap kabar baik tentang keadaan Yugo.
"Bagaiamana kondisinya?" tanya Pika kepada dokter.
"Dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya normal."
"Lalu kenapa dia sampai tidak sadar selama berhari-hari?" tanya Pika lagi.
"Diagnosa awal saya menduga dia mengalami sleep paralysis. Apa pasien sedang tertekan?" tanya Dokter pada semua yang ada disana dengan suara lirih.
"Lebih baik kita bicara berdua di ruangan dokter." ucap Henri sambil memberi kode kepada dokter yang memeriksa Yugo.
Mengetahui maksud dari Henri, dokter pun mengiyakan permintaan Henri kini mereka berjalan keluar, sedangkan Pika, Sonny dan juga Vian mendekat ke arah Yugo yang baru saja sadar.
"Bagaiamana keadaanmu?" tanya Pika menghampiri Yugo.
"Aku mendengar suara anak kecil menangis."
"Suara siapa, disini tidak ada anak kecil. Hanya ada kami berempat yang menunggu mu disini." jelas Vian.
__ADS_1
"Tidak, aku mendengar suara bayi kecil menangis. Aku yakin dia putriku." sambil masih terbaring Yugo berucap dengan nada suara yang jelas namun sedikit lemah.
"Yugo, kamu baru saja sadar. Pasti kamu sedang bermimpi." ucap Pika berusaha menyadarkan saudaranya.
"Tidak, aku tidak mimpi. Aku jelas mendengar suara Zelda sedang menggendong untuk menenangkan pitri kecil kami."
Mendengar itu Sonny dan Vian saling berpandangan, namun mereka memilih untuk tidak berucap apapun di depan Yugo.
"Sonny, bantu aku mencari Zelda." pinta Yugo kepada adiknya.
"Tapi ini sudah malam, kita cari besok saja ya kak."
"Kita cari sekarang, kita cari disini. Dia ada disini."
"Yugo sadarlah, Zelda tidak disini." ucap Pika.
"Tidak, dia disini. Aku merasakan keberadaannya."
"Aku akan membantumu mencarinya." ucap Sonny kepada kakaknya.
Vian mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan suaminya. Dirinya yang sudah mengetahui lebih dulu bahwasanya tidak ada pasien bernama Zelda dengan ciri-ciri yang disebutkannya. Namun ekspresi yang ia perlihatkan pada suaminya tidak terbaca oleh Sonny.
Sebagai seorang adik yang pernah berbuat jahat ia pun mulai menyesal dan ingin menebus semua kesalahannya dengan cara membantu Yugo untuk dapat bertemu dengan Zelda.
"Maafkan aku merepotkan mu." ucap Yugo lirih.
"Tidak kak, aku bahagia bisa membantu mu dengan caraku." ucap Sonny sambil mendorong kursi roda.
Kursi roda mengarah di bangsal menuju ruang bersalin.
"Kenapa kemari?" tanya Yugo kepada adiknya.
"Bukankah tadi engkau mengatakan jika kakak ipar mengandung?" tanya Sonny yang pura-pura tidak tahu kondisi Zelda saat ini. "Bahkan engkau juga merasakan suara tangisan putrimu." lanjut Sonny berucap.
"Tapi tadi, sekarang aku tidak merasakannya." ucap Yugo dengan raut wajah kecewa.
"Kita coba cari dulu ya kak." ucap Sonny melanjutkan langkahnya sambil mendorong kursi roda.
Saat keduanya memasuki ruangan terlihat dua orang sekuriti sedang berjaga.
"Selamat malam, bisa dibantu?" tanya seorang sekuriti menyapa Yugo dan Sonny.
"Boleh kami masuk?" ucap Sonny tanpa basa -basi.
Sonny yang hendak menjawab harus urung saat sebuah suara memanggil keduanya.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.