Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 45. PERTENGKARAN.


__ADS_3

"Bunda!" panggil Zelda.


"Bunda, ini aku Yugo."


Panggil mereka sambil menuju ke tempat dimana Aisyah terbaring, ternyata Aisyah masih tidur dan belum terbangun.


Mengetahui jika mertua dan ibunya masih tidur membuat keduanya sadar bahwa ditengah-tengah pertengkaran mereka tadi ada Vincent dan dia sengaja mengatakan jika Aisyah sudah bangun.


Merasa dikerjai oleh Vincent, kini keduanya hanya diam, Yugo yang masih terbawa emosi mencoba untuk meredam amarahnya. Dia merasa kecewa dengan Zelda, wanita yang ia yakini bahwa lebih baik dari Vian ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan. Tak hanya Yugo yang berfikir negatif tentang Zelda, ternyata sebaliknya.


Kini di sebuah ruangan cukup besar dan dingin keduanya tak banyak bicara, Yugo memilih untuk memainkan ponselnya begitu juga dengan Zelda yang memilih duduk menjauh dari suaminya sambil mengupas beberapa buah yang tadi dibawa oleh Vincent.


Dia begitu tenang, apa dia sengaja tidak menampakkan kegelisahan nya.


Wajahnya sama sekali tak menampakkan ketakutan, padahal ponselnya ada di dekatku.


Yugo yang membatin sikap tenang istrinya makin jengkel, ia merasa Zelda begitu handal memainkan peran sebagai pembohong.


Berbeda dengan Zelda yang begitu menikmati buah yang sedang di kupas, ia terlihat tenang meski jengkel dengan Yugo karena wanita yang beberapa Minggu lalu datang sehari setelah pernikahannya.


Saat keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing tiba-tiba terdengar suara wanita sedang mengetuk pintu. Zelda yang berada didekat pintu segera menghampiri dan membukanya.


"Mbak, apa saya bisa ambil charger nya sekarang?" ucap seseorang dari balik pintu.


"Oh ya, maaf saya ketiduran." alasan Zelda lalu berjalan mengambil charger dan ponselnya yang berada di dekat Yugo.


Zelda yang tadi berdiri kini kembali duduk dan mencoba menyalakan ponselnya yang seharian mati, ia tak percaya jika Yugo berulang kali menelpon dirinya.


"Mas, kamu menelfon ku? Maaf aku baru menyalakan ponsel." ucap Zelda lembut, dirinya merasa bersalah karena telah membuat khawatir suaminya.


"Sepertinya kamu lebih sibuk dari aku, sampai baru buka ponsel."


"Mas tahu sendiri aku jarang mencas ponsel, dan saat aku hendak belanja bulanan tiba-tiba ponselku bunyi, memberitahu jika bunda sedang dirawat di rumah sakit. Selanjutnya aku begitu sibuk tidak melihat ponsel."


"Alasan!" ucap Yugo dengan nada sinis meski bersuara lirih.


Mendengar ucapan suaminya membuat dirinya emosi, ia yang dari tadi sabar dan memilih diam kini mulai bersuara.


"Maksud nya, aku bohong?"


"Ya."


Rasa jengkel Zelda kembali muncul saat melihat jawaban singkat suaminya, namun ia kembali diam saat sebuah suara keluar.


"Yugo!" sapa Aisyah yang membuka mata dan melihat menantunya sedang duduk di sofa yang berada tepat di depannya.


"Ya, ini aku." ucap Yugo sambil berdiri menghampiri mertuanya yang masih terbaring lemah.


"Syukurlah kamu sudah datang, bunda merasa tenang jika kamu disini menjaga Zelda."


"Jangan banyak bergerak, Bun. Dokter bilang tumor bunda sudah diambil dan bunda bisa sehat seperti sedia kala."


"Iya, Alhamdulillah. Makasih ya nak."


Zelda merasa kini ibu dan suaminya begitu akrab, sedangkan dirinya terabaikan.


Kenapa bunda berbeda tidak seperti kemarin?


Sebenarnya yang anaknya itu aku atau Yugo sih?


Ya Sudahlah yang penting bunda bahagia.


Melihat Yugo yang begitu perhatian dengan Bundanya, Zelda memilih keluar ruangan karena ingin menghirup udara luar dirinya memilih berjalan ke sebuah taman dan duduk di bangku. Disana ia berusaha mengecek identitas wanita yang diduganya sebagai selingkuhan Yugo, namun dirinya merasa aneh baru kemarin ia bisa mencari informasi tersebut dengan mudah namun sekarang tidak bisa.

__ADS_1


Ada apa ini? Kenapa begitu sulit di buka?


Zelda tetap mencoba membuka melalui ponselnya dan tetap tidak bisa.


Aku harus segera dirumah, aku akan membukanya melalui laptop.


Lebih baik sekarang aku menemui dokter dan menanyakan bagaimana kondisi bunda, semoga saja bunda membaik dan diizinkan pulang.


Saat ini ia mencoba melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan dokter, namun saat kakinya mendekati ruangan dokter terdengar seseorang berbicara dan menepuk pundaknya, "mau bertemu dokter Zidan?"


"Iya." jawab Zelda sambil menoleh kearah lawannya bicara.


"Dokter saat ini tidak ada ditempat, beliau sedang melakukan operasi." jelas perawat.


Mendengar itu Zelda hanya dapat menghela nafas dan berharap keadaan bundanya membaik sehingga diizinkan pulang. Dirinya mencoba melanjutkan langkah ke ruangan tempat Aisyah berada dan ketika pintu terbuka terlihat ibu dan suaminya tampak begitu rapi.


"Bunda mau kemana?" tanya Zelda heran.


"Untuk sementara bunda akan ikut bersama kalian." ucap Aisyah menjawab pertanyaan putrinya.


"Bukan untuk sementara tapi seterusnya, Bun." pertegas Yugo.


"Siapa yang mengizinkan bunda boleh pulang?" tanya Zelda kepada Yugo.


"Dokter." jawab Yugo singkat.


"Dokter siapa mas? Baru saja aku ke tempat dokter Zidan tapi-"


"Kita yang akan merawat bunda dirumah, akan ada perawat dan dokter juga disana untuk memeriksa kondisi Bunda." jelas Yugo.


"Apa mas sudah berkonsultasi dengan dokter?"


"Zelda hargai niat baik suami mu, dia tahu yang terbaik buat bunda." potong Aisyah yang tak ingin mendengar Zelda berdebat dengan Yugo.


Setidaknya Yugo masih tetap peduli kepada bunda, meski rasa kecewaku masih ada padanya.


Kini mereka berjalan keluar rumah sakit, terlihat Vincent sedang membantu memasukkan beberapa barang kedalam mobil.


***


Di Mansion.


"Ini kamar Bunda." ucap Yugo sambil membuka pintu kamar kepada mertuanya.


"Terimakasih ya nak, kamu begitu perhatian dan baik kepada bunda."


"Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga bunda."


Kini mereka bertiga masuk ke dalam kamar, di dalam kamar Aisyah duduk di atas tempat tidur sedangkan Yugo dan Zelda memilih untuk duduk di sofa yang ada di depan tempat tidur.


"Kalian berdua yang rukun, bunda berdoa semoga segera dapat menimang cucu." nasehat Aisyah kepada anaknya.


Zelda dan Yugo saling tersenyum tanpa memandang, tidak ada yang tahu jika saat ini mereka berdua saling mencurigai satu sama lain.


"Baiklah kami ke kamar dulu," pamit Yugo kepada mertuanya.


Yugo berjalan keluar sambil menggandeng tangan istrinya. Genggaman erat tangan Yugo begitu terasa membuat Zelda merasa tidak nyaman, ingin rasanya melepas paksa gandengan itu namun saat keduanya memasuki kamar dengan cepat Yugo melepas genggamannya dengan kasar.


"Sakit? Mau marah? Protes?" tanya Yugo lantang.


Zelda kaget tak percaya dengan sikap suaminya yang terlihat manis namun ternyata menyakitkan. Rasa sakit bekas genggaman tersebut membuat Zelda memegang tangannya sambil merintih kesakitan. Ia memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaan suaminya.


"Bagus kalau kamu diam dan tidak marah! Artinya kamu sadar bahwa wanita seperti mu tidak bisa diperlakukan dengan lembut."

__ADS_1


"Mas kenapa? Aku salah apa sampai mas semarah ini? Apa yang aku perbuat mas?" tanya Zelda kesal.


"Diam! Aku tidak ingin kamu bicara. Yang aku ingin kamu mengakui bahwa kamu adalah pembohong."


"Pembohong? Aku pembohong? Atas dasar apa mas mengatakan aku sebagai pembohong??"


"Mana ada tukang bohong mengaku!"


"Bukan tidak mengakui, tapi aku memiliki hak untuk membela diriku sendiri karena memang aku tidak melakukan apa-apa seperti yang mas tuduhkan."


"Kamu masih mengelak dengan membela diri? Benar-benar hebat dan tak tahu malu! hardik Yugo.


"Wajar aku membela diri karena aku sendiri tidak suka dengan tuduhan mu!"


"Kenyataannya kamu memang pembohong!"


"Bukti apa yang menyatakan bahwa aku pembohong."


Yugo mengeluarkan bukti pembayaran rumah sakit dan menunjukkan nya pada Zelda.


"Kwitansi, apa hubungannya ini dengan-?"


Prak!


Yugo yang sedari tadi mencoba menahan amarahnya kini menjadi tak terkontrol. Emosinya yang memuncak membuat dirinya dengan tega menampar pipih Zelda dengan sangat keras hingga membuat Zelda tersungkur.


Zelda yang tersungkur menutupi bekas tamparan dengan tangannya, hatinya merasa menangis, dirinya tak menyangka jika lelaki yang baru beberapa bulan menikahinya telah tega menampar nya.


"Sakit?? Seperti itu rasa sakitku bahkan lebih dari itu. Aku tak menyangka kamu wanita yang ku anggap lebih baik dari Vian ternyata sama bahkan lebih hina."


Mendengar ucapan suaminya yang menyamakan dirinya dengan Vian, membuat Zelda semakin kecewa. Dirinya menangis karena disebut hina oleh suaminya sendiri.


Zelda yang terisak memilih untuk tetap duduk tersungkur di lantai dengan ditutupi oleh rambut panjangnya. Bekas tamparan yang begitu panas pada pipi dan perih pada bibir membuat Zelda reflek menutupi nya dengan tangan. tayang masih duduk tersungkur sengaja


"Kenapa diam! Kenapa tidak menjawab!" bentak Yugo.


Yugo yang masih emosi tak puas dengan tindakannya menampar sang istri, kini ia mengangkat rahang Zelda hingga wajah istrinya yang tertunduk kini terlihat jelas memandang wajahnya.


Air mata yang masih membasahi mata Zelda, bekas tamparan yang masih terlihat di pipi putih dan darah yang keluar di mulut istrinya membuat Yugo tersentak kaget, namun dirinya yang masih emosi tidak berpikir jernih bahwa saat ini ia sudah melukai Zelda.


"Kanapa diam! Jawab aku!" teriak Yugo.


"Demi Allah aku tidak bohong, dan kwitansi itu bukankah wajar jika engkau yang membayar. Jika engkau keberatan melakukan nya kenapa kamu lakukan, toh aku sanggup untuk membayarnya!"


"Kamu masih pura-pura mengira aku yang membayar nya! Aku tidak melakukannya!" bentak Yugo. "Tak hanya kwitansi bahkan kamu dengan tega memasukkan dia ke ruang perawatan bunda saat bunda belum sadar!"


"Dia siapa! Bicaramu benar-benar ngawur mas, daripada kamu menuduhku lebih baik kamu mencari bukti dulu."


"Kamu masih pura-pura tidak tahu! Lalu bagaiamana dengan ucapan orang disana yang bilang bahwa wajah suamimu berbeda. Jawab aku Zelda!" bentak Yugo.


Zelda yang tidak tahu harus menjawab apa, tuduhan yang Yugo ucapkan membuat Zelda seakan terpojok dan -


.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih..


__ADS_2