Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 9. SIAPA HUGO?


__ADS_3

Mereka saling berpandangan satu sama lain. Zelda yang kaget segera melepaskan diri secara paksa namun Yugo menahannya.


"Lepas!" bentak Zelda.


"Tidak!" jawab Yugo.


Plak


Spontan Zelda menampar wajah lelaki yang sedang ia tindih itu agar melepaskan dirinya.


"Jangan banyak bergerak. Ada yang ingin aku tanyakan."


"Tidak aku tidak mau. Lepas!" ucap Zelda sambil berontak.


Karena Zelda berontak kini posisinya menjadi terbalik. Yugo berada diatas tubuh Zelda seperti sedang mengungkungnya.


"Jika kamu tidak mau aku akan tetap membuatmu seperti ini."


Zelda yang cerdik tak kehilangan akal ia pura-pura lemas dan saat tangan Yugo melemah segera ia melepaskan dirinya dari kungkungan Yugo.


Setelah lepas dari kungkungan Yugo segera Zelda berdiri dan membersihkan bagian tubuhnya yang terkena pasir lalu pergi meninggalkan Yugo yang masih mencoba berdiri.


"Hei tunggu!" teriak Yugo sambil mengejar Zelda.


"Jangan mengejar ku! Aku tidak suka dikejar!" ucap Zelda keras.


"Oke. Tapi aku ingin bertanya."


"Kalau begitu diamlah disana. Aku pun juga akan diam disini."


Kini keduanya saling berhadapan namun ada jarak diantara mereka.


"Apa?" tanya Zelda cuek.


"Kenapa kamu memanggilku Hugo?"


"Aku salah orang." jawabnya cuek.


"Kalau salah orang kenapa setiap malam kamu menemaniku?"


"Aku salah orang."


Paham jika jawaban yang keluar dari mulut wanita di depannya ini selalu diulang membuat Yugo kesal.


Yugo menghela nafas panjang, dia mencoba bersabar dengan kelakuan Zelda yang sedikit menjengkelkan.


Sedangkan Zelda yang tahu bahwa lelaki di hadapannya ini mulai jengkel dengannya segera ia mencoba melangkah mundur pelan-pelan agar dapat segera menjauh.


Yugo dengan tatapan kesal tahu dengan apa yang dilakukan Zelda, dirinya pura-pura diam meski tahu jika beberapa langkah lagi Zelda akan menginjak sebuah batu yang terlihat agak runcing sepertinya pecahan karang yang terbawa ke tepi pantai.


"Aww ... ."teriak Zelda pelan sambil diam menahan rasa perih pada telapak kakinya.

__ADS_1


Melihat wanita dihadapannya kesakitan, Yugo ingin sekali menolong tapi dia tahu tak mungkin mendekati wanita di hadapannya mengingat Zelda sedari tadi menghindar jika hendak ia dekati.


Zelda yang melihat lelaki dihadapannya hanya diam melihat dirinya yang sedang kesakitan ia mulai jengkel.


"Dia lelaki atau bukan sih! Kenapa hanya diam melihat seorang wanita sedang kesakitan!" kesal Zelda.


"Bagaimana apa masih sakit?" tanya Yugo.


"Apa-apaan dia, dasar lelaki tanpa empati." gumam Shasha.


Kasihan melihat wanita yang ada dihadapannya segera Yugo menghampiri dan tanpa basa-basi segera menggendong Zelda ala bridal style.


Zelda yang saat itu sedang menunduk untuk melihat luka pada telapak kakinya tiba-tiba merasa dirinya melayang. Ternyata dirinya sedang digendong oleh lelaki yang dikenalnya dengan nama Hugo.


"Turunkan aku! Turun!" teriak Zelda berulang kali.


Mendengar teriakan Zelda, Yugo hanya diam dan tak menghiraukan teriakan wanita yang sedang ia gendong. Zelda yang lelah dengan teriakan sendiri mulai diam karena rasa perih di kakinya.


"Apa kamu sudah lelah berteriak?" tanya Yugo sambil masih menggendong.


Zelda tak menanggapi pertanyaan Yugo, ia hanya diam karena menahan rasa sakit. Yugo tetap berjalan hingga kini ia sampai di sebuah Puskesmas. Sesampai di Puskesmas segera ia membawa Zelda masuk. Yugo yang tak ingin banyak ditanya ia segera pergi keluar tanpa kata.


Zelda yang sedang kesakitan fokus pada lukanya yang sedang diobati. Setelah diobati salah satu perawat yang merupakan teman baik Zelda berkata, "Siapa laki-laki yang membawamu tadi, sepertinya aku pernah melihatnya?" tanya Nadia.


"Masa? Aku rasa dia orang yang beda." jawab Zelda cuek.


***


Siapa lelaki paruh baya itu? Dan mengapa beberapa orang yang aku temui tadi memanggilku dengan nama Hugo seperti wanita itu?


Belum sempat Yugo masuk ke dalam rumah tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Yugo dan berhenti tepat di depan rumah. Yugo tak ingat siapa lelaki yang sedang menyapanya ini, ia hanya tersenyum menanggapi sapaan orang tersebut.


"Nak, bagaimana kabarmu? Akhirnya kamu sudah siuman." tanya seseorang yang Yugo tidak tahu namanya. " Kamu masih ingat bapak kan? Bapak ini pak RT disini, dulu kita sering main catur bersama almarhum pak Imam, ayah angkatmu." lanjut orang pak RT menjelaskan.


"Pak Imam? Orang tua angkatku?" batin Yugo.


"Bapak turut berduka ya atas meninggalnya pak Imam, bapak tahu kamu pasti berduka. Dia adalah lelaki baik, tabah dan sangat menyayangi anaknya. Bapak yakin surga tempatnya."


"Pak, boleh ceritakan ke saya bagaimana saya bisa bertemu dengan pak Imam?"


Pak Surojo yang merupakan ketua RT menceritakan, tak ada yang ia tutup-tutupi karena memang pak Imam hanya bercerita kepada pak Surjo tentang bagaimana dirinya menemukan seorang lelaki yang ia dianggap sudah meninggal namun ternyata masih bernyawa dan diberinya nama mirip dengan nama anaknya yang telah tiada yaitu Hugo.


"Kebetulan saat itu kamu sendiri tidak tahu nama kamu siapa, lalu almarhum memberimu nama tersebut."


Yugo yang baru mengetahuinya merasa terharu, dirinya tak menyangka bisa bertemu dengan orang baik seperti pak Imam yang merawat dirinya hingga rela manampung dirinya selama hampir tiga tahun lamanya.


"Bapak kira kamu dan Zelda akan menikah sesaat setelah pak Imam wafat. Karena seminggu sebelum almarhum wafat, beliau akan segera menikah kan kalian berdua setelah dirinya dirawat di rumah sakit dan menjalani rawat jalan."


"Tidak pak, Saya tidak mau menikah dengannya!" ucap Zelda yang tiba-tiba muncul bersama Aisyah.


"Zelda, kamu dari mana Nak? Kenapa kakimu?" tanya pak Surojo yang terheran melihat Shasha dengan berjalan yang tidak sempurna."

__ADS_1


"Tidak pak, tidak apa-apa. Tadi saya di pantai bertemu dengan buaya darat yang hampir menerkam saya. Karena saya takut akhirnya saya tidak hati-hati dan tersandung oleh batu yang tajam."


"Lain kali berhati-hatilah Zelda. Buaya darat? Bapak rasa tidak pernah ada buaya darat di pantai kita." ucap pak Surojo heran.


"Buaya darat itu sekarang berubah menjadi manusia pak. Dia mirip siluman tepatnya jailangkung, datang tak diundang pulang tak diantar." celetuk Zelda.


Aisyah tahu jika saat ini Zelda benar-benar kesal dengan kelakuan Hugo sehingga ia berkata kurang sopan kepada pak RT sekitar. "Maafkan anak saya pak, sepertinya tidak hanya kakinya yang sakit tapi otaknya juga sakit dia." ucap Aisyah.


"Iya, mungkin nak Zelda terlalu melihat film horor. Baiklah bapak pamit dulu kalau begitu." ucap pak Surojo sambil berdiri dari kursi tempatnya tadi duduk. "Nak Hugo, tolong ingat ucapan almarhum." bisik pak RT.


Setelah kepulangan pak Surojo, Yugo diam di kursi sambil memikirkan sesuatu sedangkan Zelda memilih untuk masuk ke dalam kamar. Dan hanya Aisyah yang menemani Yugo di teras.


"Nak, bagaimana kabarmu?" tanya Aisyah dengan lembut.


"Saya baik. Ibu, bagaimana?" tanya Yugo balik.


"Alhamdulillah. Boleh ibu memperkenalkan diri?"


"Silakan bu."


"Saya Aisyah. Ibu Zelda, istri alamarhum pak Imam. Kami menikah dan memiliki dua orang anak bernama Hugo dan Zelda. Saat Hugo berumur enam tahun bencana tsunami datang, saat itu kami sedang berlibur kemari. Saya yang terbawa arus sedangkan Hugo anak lelaki kami ternyata meninggal dalam bencana itu. Saat itu saya juga sempat mengalami amnesia sehingga saya tidak ingat bahwa saya telah berkeluarga. Beruntung ada seorang dokter yang merawat saya sampai saya sembuh yaitu dokter Henri. Saya tidak tahu keberadaan anak dan suami saya saat itu, bahkan mereka menetap ditempat ini pun saya tidak menyangka. Bahkan saya baru tahu jika Zelda adalah anak saya saat beberapa bulan setelah peristiwa kecelakaan itu. Saat itu kalian bertiga mengalami kecelakaan, kamu yang berada di ruang ICU, Zelda yang berada di UGD dan pak Imam yang berada di ruang jenasah."


"Jadi nama Hugo adalah nama pemberian yang bapak berikan ke saya. Pantas saja beberapa warga disini sedari tadi memanggilku dengan panggilan Hugo termasuk wanita itu."


"Wanita itu punya nama, dia adalah Zelda."


"Iya maksud saya Zelda. Dan dia selalu menemani saya setiap malam saat saya terbaring koma. Begitu juga dengan ibu yang selalu datang kepada saya setiap pagi tiba." imbuh Yugo.


"Iya, awalnya Zelda berharap bahwa kamu akan menepati ucapanmu sama saat masih ada ayahnya. Namun sekarang dia tidak berharap agar kamu menepati ucapanmu sesaat setelah ingatanmu kembali. Karena baginya itu adalah hal mustahil bagaimana bisa orang yang tidak mencintai dipaksa menikah." jelas Aisyah.


"Tolong sampaikan permohonan maafku kepadanya karena telah mengusirnya saat itu. Tapi dalam hati lubuk nurani saya yang terdalam saya benar-benar mengucapkan terima kasih kepada pak Imam sekeluarga." "Saya pamit dulu ya bu, tolong sampaikan salamku pada dia." ucap Yugo sambil mencium tangan Aisyah.


***


Dalam perjalanan pulang Yugo tak tahu harus pulang menggunakan apa dirinya hanya terus berjalan hingga dirinya mendengar sebuah klakson mobil.


Tin... Tin...


Tin ... Tin...


"Masuk!" seru orang di dalam mobil kepada Yugo.


Yugo kenal dengan suara orang yang memanggilnya, ia pun masuk ke dalam mobil.


.


.


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2