Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 66. KEHADIRAN PRIA ASING.


__ADS_3

Setelah mengetahui tentang keberadaan Zelda, kini Henri mulai mencari tahu siapa lelaki yang berada disamping Zelda malam itu.


Sambil membuka laptopnya ia mulai membuka sebuah situs yang sebenarnya tidak bisa dibuka oleh orang sipil, namun dengan dia saat masuk ke situs tersebut.


Guratan garis terlihat di keningnya pertanda dia mengalami kesulitan.


Siapa dia sebenarnya?


Seperti nya dia bukan lelaki sembarangan,


****!!! Dia benar-benar bukan orang biasa!


Ini sudah yang ketiga kali aki mencoba masuk tapi tidak bisa bahkan untuk mencari rekaman CCTV saat itu aku tidak bisa.


Pantas saja ternyata ini alasan mengapa selama ini aku tidak bisa mengecek keberadaan Zelda.


Aku kira Zelda yang melakukan semua ini.


Apa ada hubungannya dengan Yoga?


Ini tidak bisa dibiarkan, aku perlu waktu untuk mengetahui semuanya.


Informasi yang sangat sulit ia dapat menuntut nya untuk semakin ingin mengetahui siapa pria yang sedang dicarinya tersebut. Merasa kesulitan akhirnya ia meminta mencoba mencari cara lain yaitu dengan menghubungi seseorang yang menurutnya dapat membantu dirinya.


***


Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Zelda dan Horison tampak seperti pasangan suami istri berbahagia yang baru dikaruniai seorang anak. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja Horison selalu meluangkan waktu untuk mengajak bermain putrinya termasuk saat siang hari di Kantor. Dirinya selalu meminta Zelda untuk melakukan panggilan lewat vidio agar dapat berkomunikasi dengan Nata, putrinya. Termasuk saat malam tiba, Horison juga tak pernah absen untuk menina bobok putri kecilnya itu agar merasa aman dan tenang saat ditinggal tidur sendiri.


Tak terasa sudah satu Minggu berlalu, terlihat Zelda semakin mahir dalam merawat buah hatinya seorang diri. Dirinya sengaja tidak meminta bantuan baby sister sepenuhnya, begitu juga dengan Horison, dia seakan-akan bersikap sebagai seorang ayah dan suami yang siaga.


Meski keduanya sudah terlihat seperti keluarga namun keduanya masih belum menikah menikah padahal saat itu Horison berjanji akan menikahi Zelda setelah melahirkan.


"Kapan kamu akan menikahinya?" tanya Richard disela-sela kesibukan Horison yang sedang menandatangani dokumen yang ada di mejanya.


"Segera."


"Segera, kapan? , Bukankah ini sudah hampir sebulan!"


"Kenapa justru sekarang kamu yang ingin aku cepat-cepat."


"Apa kamu tidak kasihan dengan Zelda?"


"Kasihan? Apa maksudnya?"


"Apa kamu lupa, saat dia sedang hamil engkau pernah berucap akan menikahi nya sesat setelah dia melahirkan?"


"Aku tahu, lagipula dia masih nifas."


Mendengar kata nifas membuat Richard mengerutkan dahinya sambil menahan tawanya. Ia juga tak percaya jika keinginan sahabatnya untuk menikahi Zelda tak lepas dari hasrat lainnya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Tidak ... tidak apa. Ternyata benar kan? Sepertinya niatmu mulai luntur."


"Luntur? Kamu kira baju."


"Ckckck... Aku tahu akal bulus mu kenapa menikah setelah dia Nifas." ucapnya sambil menahan senyumnya.


"Jika kamu tahu lebih baik diam." jawab Horison sambil tetap berkonsentrasi pada dokumen di depannya.


***


Dua bulan kemudian.


"Kemana kita?" tanya Zelda kepada Horison yang sedang menyetir di sampingnya.


"Tunggu saja, kamu akan tahu."


"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu kemana kita dengan pakaian seperti ini?"

__ADS_1


"Berdoalah agar kita cepat sampai." ucap Horison cuek sedangkan Zelda merasa tidak tenang karena harus meninggalkan putrinya yang berada di rumah bersama pengasuh.


Setengah jam kemudian mobil Horison berhenti disebuah halaman yang cukup luas.


"Dimana ini?" tanya Zelda pada Horison yang sedang membuka sabuk pengamannya.


"Turunlah, segera kamu akan tahu." ucap Horison lalu membuka pintu mobil.


Zelda menuruti ucapan Horison dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh lelaki disampingnya tadi.


Setelah keluar dari mobil Zelda mulai melihat sekelilingnya, terlihat sebuah bangunan pemerintahan jelas terbaca.


"Kantor urusan agama, untuk apa kemari?" tanya Zelda dalam hati. Dirinya masih tidak tahu apa tujuan Horison mengajaknya kesini.


"Ayo, kemari!" ajak Horison sambil melambaikan tangan nya.


Zelda tidak menjawab dia hanya memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya pada Horison yang ada di depannya.


Melihat Zelda yang tak kunjung berjalan ke arahnya membuat Horison menghampiri Zelda sambil mengenggam tangannya.


Tangannya yang digenggam membuat Zelda mendelik kaget, dia kaget dan tak percaya bahwa n mengenggam nnti no.


"Ada apa dengan mu?" tanya Zelda lirih.


Horison tidak menjawab, dia tetap menggandeng Zelda lalu membawanya masuk.


"Apa yang kita lakukan disini? Kenapa engkau membawaku kemari?" tanya Zelda lirih.


"Sebentar lagi Nata akan sekolah, dan dia memerlukan akte kelahiran." jawab Horison enteng.


"Tapi itu masih lama, lalu apa hubungannya dengan kita kemari?"


"Kamu masih belum paham?"


Zelda kembali menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik sekarang kamu berdoa, sebentar lagi giliran kita dipanggil."


Jadi dia benar-benar membuktikan ucapannya untuk menikahiku.


Zelda yang sedang bergumam sendiri melihat satu persatu orang selesai dinikahkan, terdengar kalimat ijab qobul dari masing-masing pasangan pengantin.


Hal tersebut membuatnya ingat akan masa lalunya dimana saat itu pernah ada seorang lelaki yang melantunkan kalimat tersebut di depan ibunya yang sekarang telah tiada.


Air matanya mulai mengalir jika mengingat hal tersebut, tak hanya itu ia juga mengingat masa-masa setelah menikah bersama dengan Yugo yang indah namun berlangsung beberapa bulan saja dan selanjutnya berubah menjadi kelam.


Rasa trauma dengan pernikahan kembali membayanginya, kekerasan dan penghianatan yang dilakukan Yugo membuatnya takut untuk kembali berkeluarga.


"Kenapa kamu terlihat tegang?" bisik Horison pada calon pengantinnya.


"Kenapa kita harus menikah?"


Mendengar pertanyaan Zelda membuat Horison mengerutkan dahinya.


"Apa kamu lupa apa yang pernah aku ucapkan dulu?"


Zelda hanya mengangguk tanpa bicara.


"Lalu, kenapa masih bertanya?"


"Ku kira tidak jadi, karena aku sudah merasa nyaman."


"Merasa nyaman dengan apa dan siapa?"


"Dengan mu tanpa ada status."


"Kamu yakin ingin seperti itu?"


Zelda yang ditanya kembali diam.

__ADS_1


"Lalu, apa kamu siap dengan segala pertanyaan Nata nanti?"


Mendengar pertanyaan itu Zelda hanya melihat ke arah Horison dengan tatapan kosong.


"Jika kamu tidak bisa menjawab artinya sekarang kita menikah." ucap Horison sambil duduk di depan karena saat ini adalah giliran nya.


Melihat Horison yang maju ke depan segera Zelda menyusul duduk di samping Horison.


Akhirnya suara ijab qobul keluar dari mulut Horison, hingga kembali membuat hati Zelda bergetar. Suara lantang pria disampingnya mampu membuat air matanya keluar hingga terdengarlah suara SAH keluar dari beberapa orang disana yang tak lain telah menjadi saksi dan wali.


Setelah proses ijab qobul selesai kini Zelda dan Horison kembali pulang. Di dalam mobil keduanya masih saling diam tak bicara padahal kini status mereka sudah berubah menjadi pasangan suami istri.


Saat ini keduanya sudah berada di halaman rumah, Zelda yang masih enggan beranjak dari tempat duduk meski kini mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir.


"Apa kamu masih ingin disini?" tanya Horison yang memulai pembicaraan.


"Beberapa orang disana tadi apa mereka adalah wali hakim dan saksi pernikahan kita?" tanya Zelda tanpa menatap Horison.


"Iya, aku yang mencari wali hakim dan saksi."


"Apa kamu tahu jika aku memiliki seorang paman?"


"Aku tahu."


"Lalu kenapa harus wali hakim bukan pamanku?" tanya Zelda yang kini menatap Horison.


"Beliau sudah tiada sehari sebelum Nata lahir." ucap Horison sambil menunjukkan bukti bahwa dirinya berada di makam tempat sang paman di kuburkan di dekat pemakaman keluarga Zelda.


"Jadi kamu tahu dimana makam ayah, bunda dan kakak ku berada?"


"Ya. Sebelum aku menikahimu aku meminta izin juga pada mereka, aku memperkenalkan diriku pada mereka semua."


"Apa sebenarnya niatmu ingin menikahi ku? Padahal aku tidak pernah sedikitpun kamu berkata cinta kepadaku."


"Untuk apa? Apa rasa cinta dan sayang di ukur dari sebuah ucapan? Kamu salah! Cinta dan sayang dilihat dari sikap dan perbuatan, bukan dari sebuah ucapan."


"Meski aku tidak pernah mendengar mu mengucapkan cinta, ku harap sikap dan perbuatanmu bisa menjadi bukti." ucap Zelda sambil membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.


Melihat sikap Zelda membuat Horison memejamkan mata dan menahan sesuatu yang sebenarnya ingin dia lakukan pada wanita yang kini menjadi istrinya.


***


Lima tahun kemudian.


"Ibu ..." panggil Nata sambil berlari mencari ibunya ke dalam.


"Ayah ...." panggil Nata sambil berlari ke dalam, ke ruang kerja ayahnya.


Merasa dipanggil oleh sang putri segera Zelda dan Horison keluar dari kamar mereka untuk menghampiri putrinya.


"Ia sayang ..." ucap keduanya.


"Kenalkan dia adalah paman temanku yang pernah aku ceritakan dulu. Paman ini yang pernah menolong ku." ucap Nata dengan nada suara manja, ia terlihat begitu bahagia memperkenalkan seseorang kepada ibu dan ayahnya.


Horison yang sangat mengenal pria yang dibawa putrinya hanya dapa mengambil nafas panjang dan memandang wajah istrinya yang terlihat tak suka. Ia juga melihat istrinya dengan cepat mengambil dan menggendong putrinya yang berada di dekat pria yang tidak ia suka.


"Terimakasih atas semua bantuan dan pertolongannya kepada putriku." ucap Zelda lalu mengajak Nata masuk ke dalam.


Terlihat sikap Zelda yang tidak menyukai keberadaan pria tersebut membuat Horison tahu dengan apa yang harus dilakukannya selanjutnya.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2