
Zelda berusaha mencari tahu dengan membuka laci pada meja tersebut. Di dalam laci ia tak menemukan apapun.
Apa ada hubungannya semua foto ini dengan ia mendekatiku?
Aku harus mencari tahu, tapi... aku tidak mungkin bisa mencari identitas orang dengan mudah seperti dulu.
Jika aku melakukannya maka Yoga akan mengetahui dimana aku berada, dan ia pasti akan bertanya keberadaan ku kepada Yugo.
Lebih baik aku menanyakan langsung hal ini padanya.
Cukup lama Zelda berada di dalam kamar untuk mencari tahu namun ia sama sekali tidak menemukan apapun disana.
Tidak mendapatkan apapun yang dicari ia pun mengembalikan foto -foto yang dilihatnya tadi ketempat asal. Setelah itu ia keluar dari kamar tersebut dan masuk ke kamar dimana ia terbaring.
Disana ia segera mengambil ponselnya, namun begitu terkejutnya Zelda saat melihat ponselnya yang terlihat berbeda.
"Kenapa tidak ada pesan sama sekali di ponsel ku, bahkan panggilan masuk dan keluar pun tidak ada." gumamnya.
Masih tidak percaya dengan ponselnya ia mencoba mematikan dan kembali menyalakan ponselnya.
"Kenapa masih kosong?tanya nya lirih sambil mengotak-atik ponselnya. Namun saat dirinya mencoba membuka kontak, ia begitu kaget saat melihat hanya ada satu nomor telepon dan diberi nama calon ayah anakku.
"Nomor siapa ini?" tanya Zelda sambil mengerutkan dahinya. Penasaran dengan nomor tersebut, ia langsung menelfon nomor tersebut.
Bunyi nada sambung terdengar di telinganya begitu lama.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya nya kesal. Karena tidak kunjung diangkat bunyi nada sambung pun hilang. Tidak putus asa, ia mencoba kembali menelfon nomor tersebut dan tetap sama, tidak ada jawaban.
Tak ingin menunda waktunya dengan mendengarkan nada sambung secara terus-menerus, ia memutuskan segera berjalan mendekati pintu untuk keluar kamar.
Lagi-lagi dirinya dibuat jengkel saat menekan gagang pintu.
"Apa lagi ini! Kenapa dikunci? Apa-apaan ini? Apa maksud dia melakukan ini? Apa dia sedang menyandera ku atau menolongku? Keterlaluan!"
Zelda mulai memukul-mukul keras pintu tersebut sambil berteriak, " buka! jangan main-main denganku!"
Cukup lama ia berteriak, hingga membuat dirinya lelah dan haus. Ia menjauh dari pintu dan duduk di pinggir tempat tidur sambil memijit keningnya dan mengelus perutnya. Sesekali mengecap air putih pada gelas yang tersedia sambil memakan buah yang ada di atas nakas.
"Hai anak ibu? Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa dia musuh atau kawan ayahmu? Apa ibu harus diam atau melawannya?" tanya Zelda dengan nafas kasar sambil mengelus perut nya yang belum terlihat buncit.
Saat sedang mengelus perut dan mengajak bicara perutnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
"Kenapa kamu menghubungi ku?" tanya seseorang yang membuka pintu tiba-tiba.
Zelda yang ditanya terpaku sambil melihat lawan bicaranya.
"Kenapa diam? 10 kali panggilan telefon, apa ini caramu membuatku khawatir?" ucapnya sambil menunjukkan bukti panggilan Zelda.
Jadi, lelaki ini adalah calon ayah anakku? Bukan dia.
Zelda yang berucap dalam hati tidak percaya jika Richard adalah pemilik nama yang ada pada kontaknya.
"Woi, apa kamu tidak dengar aku sedang bertanya? Kenapa hanya memandang ku?"
"Ehm... Kenapa pintunya terkunci dan kenapa hanya ada satu nomor telefon di ponselku? Dan kenapa semua chat di telefon baik itu kotak masuk dan keluar tidak ada termasuk semua galeri di ponselku?"
"Menelfon 10 kali dan hanya bertanya itu." ucapnya sambil menghela nafas panjang. "Aku hanya disuruh, bukan aku yang minta."
"Apa maksudnya? Siapa yang menyuruhmu?"
"Kenapa wanita selalu suka bertanya namun tidak pernah memberi kesempatan untuk menjelaskan?"
"Ayo jawab!" bentak Zelda.
"Aku yang menyuruh nya." ucap seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Kenapa?" tanya Zelda yang masih heran.
"Karena aku ingin menikahi mu."
"Atas dasar apa? Bukankah banyak wanita yang lebih menarik dan cantik diluar sana? Aku bukan tipe menarik apalagi aku adalah seorang janda yang sedang mengandung." pancing Zelda yang ingin mengetahui alasan dibalik kebaikan Horison berikan padanya dengan foto yang tadi ia lihat.
__ADS_1
"Apa ada alasan dan larangan menikahi janda?"
"Tidak."
"Kalau tidak ada, maka tidak ada alasan kamu menolak lamaranku."
"Sebagai wanita aku berhak menolak. Tidak hanya itu, bagaiamana kita bisa menikah jika tidak ada cinta diantara kita."
"Cinta? Apa cinta menjamin kehidupan pernikahan awet? Jika ia lihat dirimu sekarang. Kalian berdua saling mencintai tapi bagaiamana hubungan pernikahan mu dengan mantan suamimu itu?"
"Apa kamu menyelidiki ku?"
"Siapa yang tidak mengenal CEO tampan dan sukses. Bahkan dia bangkit dari kematiannya. Bukankah begitu?
Semua orang tahu dia menikahi seorang wanita yang lebih cantik dari mantan tunangannya dulu.
Sebagai laki-laki, normal jika aku iri padanya.
Dan mendengar perpisahan kalian adalah anugerah bagiku."
"Apa wanita selingkuhannya itu adalah rencanamu?"
Wanita selingkuhan?
Pak Yugo memiliki selingkuhan? Tidak mungkin.
(Horison hanya menggelengkan kepalanya.)
"Selingkuh?" tanya Horison dengan sinis. "Apa aku bilang, menikah tidak harus saling mengenal dan saling cinta lebih dahulu, buktinya adalah dia dan dirimu. Apakah pernikahan kalian awet? Buktinya salah satu dari kalian saling berkhianat, bukan?"
Seketika Zelda diam, dia merasa apa yang diucapkan Horison benar.
"Kamu benar. Tapi maaf, aku tetap tidak ingin menikah lagi."
"Jika kamu memiliki alasan yang tepat maka aku tidak akan memaksamu."
"Aku takut .. Aku takut ..."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Jika apa?"
"Aku tidak bisa memberitahumu, karena aku tidak mau anak ini mendengarkan keburukan ayahnya. Cukup dia tahu bahwa ibu dan ayahnya berpisah karena takdir."
"Artinya kamu tidak dapat memberikan alasan jadi kamu harus menerima lamaranku."
Zelda yang tidak dapat berkata-kata hanya diam sambil melihat Horison keluar dari kamar diikuti oleh Richard yang sedari tadi berada disana.
***
Keesokan harinya, Zelda yang selama beberapa hari ini tidak masuk kerja karena harus memulihkan tenaganya mulai masuk.
"Darimana saja kamu? Aku begitu khawatir." tanya Anggie.
"Ikut aku." ajak Zelda ke kantin.
Anggie penasaran, ia hanya menurut dan kini mereka duduk bersebelahan.
"Ayo, cerita. Ada apa?"
"Aku hamil." ucap Zelda sambil menatap Anggie dengan menahan air matanya.
"Hamil, anak Yugo?"
(Zelda mengangguk).
"Apa dia tahu?"
"Untuk apa?"
"Dia wajib tahu Zelda, setidaknya perceraian kalian bisa batal karena kehadiran anak ini."
__ADS_1
"Tidak, dia menalakku sebelum aku hamil. Bahkan akta cerai sudah ada."
"Tapi kamu sedang hamil, artinya perceraiannya batal."
"Tetap Syah. Lagi pula aku tidak mau lagi melihatnya karena ... Kamu tahu kan?"
"Ya. Dia sudah membuatmu sakit hati dan fisik. "Kalau begitu tinggal lah bersamaku, aku akan menjadi aunty yang baik untuk anakmu nanti."
"Terimakasih, tapi tidak mungkin. Yoga pasti akan melihatku."
"Ah...kenapa dia selalu menjadi penghalang diantara kita. Kenapa sih dia tidak mencari wanita lain. Kenapa harus dirimu selalu yang ada dihatinya?"
"Harusnya dia melihat dirimu bukan aku."canda Zelda kepada Anggie.
"Apaan sih, lalu bagaiamana hari-harimu? Siapa yang akan merawatmu? Kamu tahu kan orang hamil itu perlu perhatian ekstra, cuci masak, bersih -bersih rumah dan -"
"Ssst, jangan kencang -kencang," ucap Zelda sambil menutup mulut Anggie. " Ada lagi yang ingin ku sampaikan."
"Iya-iya." ucap Anggie sambil melepas tangan Zelda yang menutup mulutnya.
"Selama aku hamil, aku akan tinggal dirumah pak Horison."
"Hah??? Kalian?"
"Hussst." ucap Zelda sambil memberikan kode diam kepada Anggie.
"Aku akan tinggal dirumahnya untuk bekerja. Disana tidak hanya ada aku, tapi ada pekerja lainnya. Tidak ada yang aneh kan?"
"Tidak ada yang aneh bagaiamana? Kenapa harus dia? Apa kalian memiliki hubungan? Jangan-jangan kalian berdua?"
"Anggie, please. Jangan berfikir yang tidak-tidak."
"Tidak Zee... Kalau pun ada apa-apa aku tidak masalah. Aku bahagia jika kamu bahagia, buat mantan suami mu itu menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan padamu."
Setelah berbicara berdua di kantin kini keduanya kembali ke ruangan dan bekerja seperti biasanya.
***
"Apa benar kamu ingin menikahinya?"
"Keputusan ku sudah bulat."
"Menikah untuk selamanya?"
"Tidak, hanya untuk satu tahun. Setelah itu aku akan menceraikannya."
"Dengan alasan?"
"Aku akan memberitahunya jika aku mencintai wanita lain."
"Apa tidak menyakiti hatinya?"
"Tidak."
"Bagaiamana jika kamu mencintai nya?"
"Tidak akan. Karena aku hanya membantu pak Yugo agar bisa menikah lagi dengan dia."
"Tidak semudah itu Horison, setelah menikah ikatan batin kalian akan bersatu. Pikirkan itu! Pikirkan bagaimana jika anak yang kamu besarkan nanti itu akan memanggilmu ayah? Apa hatimu tidak merasa bergetar?"
"Biarkan aku yang memikirkan itu semuanya." ucap Horison santai sambil melihat berkas yang ad di depannya.
"Baiklah itu keputusan mu, sebagai sahabat aku hanya berpesan. Jika kelak kamu jatuh cinta pada nya maka pertahankan dia, jangan pernah kamu lepaskan. Karena penyesalan akan datang dibelakang."
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.