
Hingga keringat dingin terlihat keluar dari dahinya.
"Ibu.. Alhmdulillah suami ibu sudah mulai merespon." ucap seorang dokter yang mendekat ke arah Zelda.
Zelda merasa bahagia namun tak ada satu katapun keluar dari mulutnya, ia hanya meneteskan air mata sambil tersenyum. Melihat sikap istri dari pasiennya membuat Dokter yang tadi mendekat pun ikut duduk disebelah Zelda.
"Saya bisa memahami perasaan ibu, ibu wanita tegar dan kuat, doa ibu di dengar oleh Allah, tak lama lagi suami ibu akan sadar. Tetap berada disamping bapak ya bu." ucap dokter tersebut sambil tersenyum ke arah Zelda.
"Suami saya mulai merespon dan tak lama lagi ia akan sadar?" tanya Zelda meyakinkan pernyataan dari dokter.
"Benar Bu, tetaplah berdoa. Kalau begitu saya dan rekan-rekan akan pamit. Kami akan segera kemari jika kami mendengar pergerakan dari suami ibu." pamit dokter kepada Zelda.
Kepergian dokter dan perawat membuat Zelda segera berdiri dan mendekati suaminya.
"Suamiku... Terimakasih, engkau mencoba untuk bangun." ucap Zelda sambil mengenggam tangan suaminya, dan betapa terkejutnya Zelda saat ia merasakan sesuatu menggenggam tangannya.
Zelda yang digenggam kaget tak percaya, ia pun secara spontan melihat ke arah Horison yang sedang terbaring. Kedua mata mereka saling bertatapan hingga bekas tangisannya yang belum kering kini kembali basah karena air mata keluar dari matanya tanpa diperintah.
Tanpa keduanya sadari sudah ada dokter dan perawat yang baru saja kembali kini mulai datang ke ruangan Horison lagi.
"Permisi, saya datang lagi untuk memeriksa kondisi pasien." ucap dokter kepada Zelda.
Zelda yang mendengar hanya mengangguk sambil tetap menatap mata suaminya yang sudah terbuka, dan saat Zelda hendak beranjak dari tempatnya ia tak dapat bergerak pindah karena Horison begitu erat memegang tangannya.
Mengetahui bahwa pasien sedang tidak ingin ditinggal oleh sang istri, akhirnya dokter pun membiarkan Zelda untuk tetap duduk disamping suaminya.
Satu persatu alat yang terpasang di tubuh Horison mulai dilepas, kini benar-benar terlihat wajah Horison yang masih pucat sedang memandang wajah istrinya.
"Bapak, selamat sudah melewati masa kritis. Saya dan perawat sangat bahagia. Kami akan tetap memantau kondisi bapak dalam beberapa hari ini. Jika kondisinya semakin baik maka bapak boleh pulang." ucap dokter tersebut kepada Zelda dan Horison.
"Baik Dok, terimakasih." ucap Horison lirih.
Setelah kepergian dokter dan perawat kini hanya ada Zelda dan Horison yang masih saling memandang, Zelda yang masih tak tahu harus berkata apa hanya bisa diam sambil mengeluarkan air mata. Begitu juga dengan Horison yang tidak ada hentinya melihat wajah sang istri sambil sesekali mengelap air mata yang jatuh di pipi Zelda.
"Kenapa masih menangis? Bukankah aku sudah sadar." ucap Horison memecahkan keheningan.
"Terimakasih." ucap Zelda sambil tersenyum bahagia dan menahan tangisnya agar tidak kembali keluar.
"Kemarilah." perintah Horison sambil memberi isyarat agar Zelda mendekat ke arahnya.
Diminta untuk mendekat membuat Zelda bahagia meski rasanya tak percaya namun ia bahagia.
"Terimakasih sudah menungguku." bisik Horison kepada istrinya.
"Ini sudah tugasku untuk selalu berada disamping mu." jawab Zelda yang sekarang sudah kembali duduk.
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Ya, silakan."
"Sebelum aku meminta aku ingin meminta maaf padamu."
"Meminta maaf apa?"
__ADS_1
"Maafkan semua kesalahanku."
"Aku memaafkan semua kesalahanmu kecuali .."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kesalahanmu kemarin."
"Apa?"
"Engkau telah membahayakan dirimu."
"Sebagai seorang suami wajar jika aku melindungi istri dan putriku."
"Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika aku tidak menangkap nya. Jikalau pun terjadi harusnya aku yang disini bukan engkau."
"Ini adalah takdir, aku ditakdirkan berada disini agar engkau bisa memaafkan semua kesalahanku. Jika engkau yang disini maka engkau tidak mungkin akan memaafkan aku."
"Jangan begitu, lain kali jangan seperti itu. Aku tidak mau kau terluka seperti ini."
Horison hanya tersenyum melihat istrinya berbicara demikian.
Keduanya terlihat saling berbicara, pembicaraan keduanya terlihat begitu sangat berbeda. tidak seperti biasanya yang bicara singkat, padat dan jelas. Kali ini semua kata-kata yang keluar dari bibir Horison membuat Zelda merasa nyaman sehingga ia lupa dengan segala pertanyaan yang tadi dia tanyakan saat suaminya masih belum sadar.
Sangking asyiknya mereka berbicara dan tertawa riang sehingga membuat seseorang yang ingin masuk enggan untuk menganggu suasana harmonis kedua pasangan suami-istri tersebut.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Anggie yang berada di depan pintu dan hendak masuk.
"Kenapa? Apa Horison sudah sadar?"
"Ya, jangan ganggu mereka. Kita tunggu saja disini, kemana Nata?" tanya Richard yang berusaha mengalihkan pertanyaan agar Anggie membahas pertanyaan lainnya.
"Itu." ucapnya sambil menunjuk dimana Nata berada.
"Apa ada sesuatu yang sudah kamu tahu." tanya Richard kepada wanita pujaannya.
"Sesuatu .. Apa?" pura-pura Anggie tidak tahu.
"Pria itu. Dia mantan suami Putri dan juga ayah biologis Nata, betulkan."
Anggie diam dan memandang ke arah Richard.
"Jangan pura-pura tidak tahu, mungkin ini adalah saatnya untuk Nata tahu siapa ayah kandungnya."
"Tapi Nata tidak tahu jika pria itu adalah ayahnya, yang dia tahu bahwa pria tersebut adalah penolong ayahnya."
"Ya, itulah mengapa aku dari tadi tidak melihat kehadiran Henri, pria yang biasanya dipanggil paman dokter oleh Nata."
"Paman dokter, sejak kapan Nata bertemu dengannya?" tanya Anggie kaget.
Richard pun menceritakan apa yang terjadi beberapa Minggu lalu, tentang pertengkaran kecil yang akhirnya terjadi di keluarga sahabatnya itu.
"Lalu bagaiamana?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Apa Nata tahu jika pendonor itu adalah ayahnya?"
"Sepertinya belum, yang dia tahu ibunya melarang dirinya untuk bertemu dengan Henri, tapi sepertinya ini adalah takdir. Meski Putri melarang Henri untuk menemui putrinya justru yang datang dan menyelamatkan Horison tak lain adalah Yugo, ayah kandung Nata."
Mendengar itu membuat Anggie berfikir jika seorang ayah tidak akan pernah membiarkan anaknya menangis. Yugo rela mendonorkan darahnya untuk pria yang dianggap putrinya sebagai ayah, meski dirinya kecewa dengan mantan istrinya yang tidak memberitahu tentang kehamilannya.
"Ada apa denganmu, mengapa diam? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
"Apa orang di kantor tahu jika Horison sudah menikah?"
"Semua orang tahu, tapi mereka memilih untuk tidak mencari tahu siapa istri Horison, yang dia tahu bahwa kini bos sudah memiliki anak."
"Apa mereka tahu jika Zelda adalah istri Horison?"
"Aunty ... Uncle... Kenapa kalian disini? Ayo masuk, aku ingin melihat ayah." ucap Nata menghampiri Anggie dan Richard.
Untung saja Nata datang, setidaknya aku tidak perlu berbohong.
"Aku masuk saja ya,,bersama paman superhero. Siapa tahu ayah akan sadar saat paman masuk." ucap Nata sambil tersenyum ke arah Yugo.
Richard dan Anggie tak dapat menahan keinginan Nata, hingga akhirnya mereka pun masuk bersama.
Mendengar pintu terbuka membuat Horison bertanya pada istrinya siapa itu, dan belum sempat melihat siapa yang datang terdengar suara manja yang sangat mereka kenal.
"Ibu ... Apa ayah sudah bangun?" tanya Nata sambil tetap menggandeng tangan Yugo.
Zelda yang melihat kedatangan Yugo bersama putrinya mencoba tenang meski perasaan nya tak karuan. Bukan karena perasaan cinta yang masih ada tapi rasa takut apa yang harus ia jelaskan kepada putrinya setelah ini.
"Ayah sudah sadar sayang, kemarilah." saut Horison yang berada di dalam.
Mendengar suaminya menyahut membuat Zelda hanya tersenyum kepada putrinya tanpa menatap pria disamping putrinya.
"Ayah Nata sudah sadar lebih baik paman keluar." pamit Yugo kepada gadis kecil yang tak lain adalah putrinya.
"Tidak, paman harus menemui ayahku, ayahku harus tahu jika paman adalah superhero ayah." ucap Nata sambil menarik tangan Yugo menuju tempat tidur Horison.
Kini Nata dan Yugo berjalan melewati ibunya, perasaan Zelda semakin campur aduk, tak tahu harus bagaiamana. Sedangkan Anggie juga Richard hanya mengamati ekspresi wajah Zelda yang terlihat bingung.
Tak ingin mendengar apa yang di dengarnya Zelda pun memilih pergi.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.
__ADS_1