
Bunyi suara pintu membuat orang -orang yang ada disana kaget termasuk Horison. Dirinya yang sedang mendengarkan penjelasan dari ustad terpaksa harus keluar mengejar Zelda yang keluar dengan membanting pintu.
"Berhenti jangan lari!" sambil berlari Horison berteriak.
Zelda tak menghiraukan teriakan Horison, dirinya tetap berlari tanpa menoleh kebelakang.
"Aku bilang berhenti, jangan berlari!" teriak Horison lebih keras."
Mengetahui sikap Zelda yang sedikit keras, ia pun memutuskan untuk tidak mengejar Zelda, karena semakin dikejar maka semakin kencang larinya.
Merasa tak mendengar suara langkah kaki mengejarnya Zelda pun berjalan sambil memegang perutnya yang terasa kram hingga membuatnya sedikit merintih.
"Kenapa tidak kamu lanjutkan saja berlari mu?" tanya Horison yang berada tepat di belakang Zelda.
Zelda yang sedang kesakitan tidak menjawab, ia memegang perut sambil memejamkan matanya, berharap kram pada perutnya hilang.
"Ibu macam apa kau, yang lari sekencang itu tanpa memikirkan anak dalam kandunganmu!"
Ucapan Horison yang menohok membuat dirinya bersalah dan takut jika kram yang ia rasakan berpengaruh pada kandungannya
"Kamu benar-benar merepotkan, lihat gara-gara ulahmu sekarang kita berada jauh dari kantor polisi." ucap Horison memarahi Zelda.
Zelda yang dimarahi hanya diam karena menahan rasa kram pada perutnya,
"Kamu kenapa?" tanya Horison panik saat melihat wajah Zelda yang pucat.
"Zelda! bangun!" bentak Horison sambil mengguncang tubuh wanita yang saat ini bersandar padanya.
Horison yang tak ingin terjadi apa-apa pada anak dalam kandungan Zelda segera menelfon Richard yang sedari tadi mengikuti keduanya dari belakang.
***
Di rumah
"Bagaiamana kondisi bayinya?"
"Syukurlah bayinya tidak apa-apa, anak bapak sangat kuat."
"Lalu bagaiamana kondisi istri saya?"
"Istri bapak kelelahan. Maaf saya lancang, apa semalam sebelum pingsan kalian berdua sedang -" ucap dokter yang tidak melanjutkan perkataannya namun memberikan kode wik wik kepada Horison.
"Apa itu?" tanya Horison polos.
"Ya begini pak." ucapnya sambil masih memberikan kode.
"Apaan sih, saya tidak tahu. Bicara saja tak perlu memberikan kode."
"ML pak, making love. Saya yakin kalian berdua sering melakukannya apalagi ini kehamilan pertama, belum lagi istri bapak sangat cantik dan memiliki tubuh yang seksi." puji dokter wanita yang kagum dengan paras cantik Zelda.
"Memang kenapa?"
"Untuk sementara jangan berhubungan dulu karena kandungan istri anda lemah. Jadi kalian bisa berhubungan suami istri saat memasuki trimester ketiga saja."
"Oh, lalu untuk makanannya?"
"Perbanyak protein, buah dan sayur agar serta multivitamin yang saya berikan tolong rutin untuk dikonsumsi."
"Baiklah, terimakasih, dok."
"Kalau begitu saya pamit, salam untuk istrinya ya pak."
Horison hanya mengangguk sambil mengantarkan dokter kandungan tersebut ke luar dari kamarnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian setelah kepergian sang dokter, Zelda mulai sadar. Ia mulai membuka matanya. Sebuah ruangan dengan kombinasi warna abu-abu dan coklat yang cozy, dengan ukuran kamar tidur yang sangat besar seperti kamarnya dulu saat menjadi seorang istri dari CEO perusahaan kosmetik.
Setelah membuka mata, ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Dia pun mulai berusaha bangun namun rasa kram pada perutnya masih terasa. Karena rasa kram ia tidak memaksakan diri untuk bangun, namun ia mencoba menoleh ke samping dan melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya sedang duduk di sofa sambil memegang tablet di tangan.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zelda dengan suara parau.
"Apa kamu berbicara denganku?" tanya Horison balik sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Jika bukan dengan mu lalu siapa? Dikamar ini hanya ada kita berdua."
"Oh ..." jawab Horison datar sambil kembali menatap tablet.
"Jawab aku, siapa kamu sebenarnya?"
"Apa yang kita lakukan semalam membuatmu lupa siapa aku?" tanya Horison balik namun pandangannya tetap fokus pada tabletnya.
Zelda kaget mendapat pertanyaan balik dari Horison.
"Maksudmu?"
"Bukankah kemarin malam kita berdua di fitnah, lalu kita digiring ke kantor polisi dan kamu melarikan diri saat di interogasi."
"Kita tidak digiring tapi kamu sengaja meminta bantuan asisten mu untuk menelfon polisi dan disana sebenarnya tidak ada yang dilakukan karena engkau memberiku makanan sedangkan engkau bercengkrama dengan ustad." jelas Zelda dengan sedikit menekankan suaranya.
"Aku sangat kagum denganmu, engkau benar-benar cerdas dan tahu isi kepalaku tanpa aku menjelaskan. Apa karena itu hingga kamu memutuskan untuk berlari dan keluar dari kanto polisi?"
"Ya, aku tidak suka dibohongi. Kenapa tidak memberitahuku di awal jika kedatangan polisi ditengah keributan hanyalah akal-akalan mu, hingga kita dibawa di ke kantor polisi juga bagian dari rencanamu."
"Memberitahumu di awal? Bagaiamana bisa? Melihat sikapmu yang sedikit cengkal dan tak bisa menahan emosi membahayakan kita.
"Tidak ada yang dibahayakan, kita bisa menjelaskan kepada mereka dengan baik dan aku yakin mereka akan menerimanya."
"Apa kamu pikir semudah itu memberikan penjelasan kepada orang yang menghakimi diri kita?"
"Aku yakin pasti kamu tidak memikirkan anakmu. Sekarang kamu lihat dirimu, terbaring lemah akibat perbuatan mu sendri.
Seharusnya engkau tidak mempermasalahkan hal itu, ibu macam apa dirimu hingga membahayakan anak dalam kandunganmu."
Seketika Zelda ingat perbuatannya yang berlari dengan kencang hingga membuat perut nya kram dan tak sadarkan diri.
"Bagaiamana anakku? Kenapa kamu tidak membawaku ke rumah sakit?" tanya Zelda panik.
"Terlambat! Ini obat dan vitamin." ucap Horison sambil berdiri dan memberikannya pada Zelda.
"Bagaiamana anakku?" apa dia baik-baik saja? Tolong antar aku ke dokter aku ingin memastikan dia baik-baik saja."
"Terlambat." ucapnya sambil membuang muka, ia tak ingin lama-lama menatap wajah Zelda yang cantik meski tanpa make up.
"Apa maksudnya terlambat?" tanya Zelda sambil menarik baju Horison dari belakang dan membuat lelaki tersebut memutar tubuhnya hingga kedua mata mereka saling menatap.
Sejenak tak ada kata keluar dari mulut keduanya, mereka saling memandang, dalam diam Horison mulai memperhatikan wajah Zelda dari dekat.
Ternyata yang diucapkan dokter tadi benar, ia benar-benar cantik.
Bibirnya yang tipis berwarna merah, giginya yang putih rapi, rambutnya yang hitam, alisnya yang tebal dan rapi tanpa diarsir, bulu matanya yang lentik, dan matanya yang lebar sungguh mengagumkan.
Pandangan mata Horison berubah saat melihat air mata keluar dari mata Zelda bercampur dengan suara tangisan.
"Bagaiamana anak ku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zelda sambil merengek.
"Hapus air matamu! Simpan! Dia baik-baik saja, jangan pernah kau sakiti dia lagi." ucap Horison sambil menghempaskan tangan Zelda yang menarik bajunya tadi.
Zelda merasa tenang meski dirinya masih penasaran dengan semua pertanyaan yang ada dikepalanya.
__ADS_1
Sepeninggalan Horison, kini Zelda berada di dalam kamar sendirian. Ia mulai mengelus perutnya sambil berkata, "maaf kan ibu ya nak, ibu tidak memikirkan mu karena ibu benci dengan kebohongan." Sambil berbicara Zelda menghapus air matanya yang keluar kala mengingat kebohongan Yugo hingga menalak dirinya.
"Kamu satu-satunya kekuatan ibu, hanya kamu yang ibu punya. Ibu janji akan menjaga dan melindungi mu dengan nyawa ibu."
Saat dirinya sedang asyik berbicara dengan bayi dalam kandungannya terdengar suara pintu terbuka.
"Mau kemana?" tanya Zelda dengan posisi duduk di tempat tidur.
"Kerja."
"Aku ikut."
"Tidak, tunggu sampai keadaan mu pulih."
"Tapi -"
"Tidak ada kata tapi." ucap Horison sambil memegang tabletnya.
"Siapa sebenarnya kamu?"
"Jangan-jangan kamu lupa siapa namamu?" tanya Horison balik.
"Jawab, siapa kamu sebenarnya? Kenapa memanggil namaku dengan kata Zelda bukan Putri."
"Zelda Azqila Putri, dan terserah aku mau memanggil namamu apa, Zelda, Putri atau Azqila. Apa ada masalah?" tanya Horison enteng.
Mendengar jawaban itu Zelda tak menaruh curiga. Merasa tidak lagi ditanya Horison pun melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar tersebut.
Melihat Horison yang keluar dari kamar membuat Zelda menarik nafasnya dalam. Ia yang sudah tidak merasa sakit mencoba untuk berdiri dan berjalan dengan pelan. Ia ingin mencari tahu dimana saat ini dirinya berada.
Di dalam kamar terlihat sebuah rak buku begitu besar yang berisi novel, sebuah novel remaja.
"Kenapa semua novel -novel ini tentang percintaan? Apa dia penyuka novel romantis?" tanya Zelda sambil melihat-melihat semua novel pada rak.
Saat dirinya asyik melihat novel ia tak sengaja memegang sebuah buku yang ternyata tidak dapat diambil, dengan penasaran ia memutar-mutar buku tersebut lalu sebuah dinding di balik rak tersebut tiba-tiba mulai terbuka.
"Ruangan apa itu?" tanya Zelda penasaran.
Dia yang tak bisa menahan rasa penasarannya mencoba memasuki ruangan tersebut dan ia melihat sebuah ruangan begitu luas.
Kamar siapa ini?
Apa ini kamarnya?
Sambil berbicara dalam hati ia mencoba melihat-lihat sekelilingnya berharap ada sesuatu yang ia dapatkan, disudut kamar ia melihat ada sebuah meja kerja, didekatinya meja tersebut dan ia melihat sebuah gambar perusahaan yang tak asing di pikirannya, sebuah
Bukankah ini kantor milik Yugo?
Kenapa begitu banyak foto perusahaan Yugo?
Bahkan tidak cuma satu, kenapa banyak sekali?
Siapa sebenarnya dia?
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih.