
Horison tersenyum memandangi fotonya, ia tidak menyangka jika dirinya tersenyum ditengah-tengah meeting berlangsung.
"Tapi, mengapa Richard memberikannya padanya! Sial!" umpat Horison kepada sahabatnya itu.
Dia yang ingin menghubungi Richard harus urung karena Zelda muncul di depan kamarnya.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Zelda yang tiba -tiba muncul.
"Jangan disini, kita keluar saja."
"Kenapa? Bukankah nanti setelah menikah kita akan berada di kamar yang sama?" goda Zelda.
"Jangan, lebih baik diluar saja." ucap Horison ketakutan.
Dirinya takut dengan sikap Zelda yang tidak pernah ia duga, wanita yang dianggapnya diam dan tak mungkin bersikap menggoda kini berubah menjadi berani.
"Di dalam saja," ucap Zelda lalu menutup pintunya.
"Jangan mendekat, tetap disitu." perintah Horison pada Zelda yang mulai mendekat.
"Ssst ...., apa yang sedang kamu pegang?" tanya Zelda yang semakin mendekat ke sofa yang diduduki oleh Horison dan tiba-tiba ponsel miliknya terjatuh lalu berdering.
Kring ... Kring ....(suara ponsel Horison)
Mendengar ponselnya berdering membuat Horison sadar bahwa apa yang barusan terjadi hanyalah khayalan nya saja.
Jadi, yang barusan terjadi tadi tidak nyata? Aku hanya berhalusinasi.
Ada apa denganku?
Apa benar aku jatuh cinta dengannya?
Ini adalah pertanyaan kedua yang aku tanyakan pada diriku sendiri.
Ponsel yang berdering tadi kini berhenti karena Horison tak kunjung menjawab panggilan tersebut, dan tak berselang lama kini ponsel kembali berdering hingga membuat Horison yang sedang bertanya -tanya pada dirinya sendiri tersadar dan mengangkat panggilan tersebut.
Richard : "Ada apa denganmu? Kenapa tak menjawab panggilanku? Apa kamu baik-baik saja?"
Horison : "Maaf, aku ... Aku sepertinya sedang sakit."
Richard : " Sepertinya sedang sakit, maksudnya bagaiamana?"
Horison : "Oh .. Tidak. Sudah dulu ya, ada yang harus aku lakukan."
Horison yang menutup sambungan teleponnya sepihak membuat Richard yang ada di seberang telepon heran dengan sikap sahabatnya itu.
Setelah mematikan sambungan teleponnya kini Horison keluar kamar dan mencari keberadaan Zelda.
"Kemana dia?" gumamnya sambil mencari ke semua tempat dimana Zelda biasanya berada.
"Ternyata dia ada di dalam kamar, kenapa tidak menutup kamarnya? Apa aku harus masuk langsung atau mengetuk dahulu? Ah pertanyaan bodoh apa ini, kenapa begini saja aku harus bertanya." tanya Horison lirih sambil mondar-mandir di depan kamar Zelda.
Setelah berada di depan kamar Zelda cukup lama, akhirnya Horison mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar. Tak tahu apa yang sedang keduanya bicarakan yang jelas terlihat kini keduanya tampak sangat begitu akrab hingga membuat salah satu ART tersenyum bahagia melihat kebahagiaan majikannya tersebut.
***
Tujuh Bulan kemudian.
Tak terasa kini usia kandungan Zelda sudah memasuki bulan ke sembilan. Selama masa kehamilan ternyata Horison meminta agar Zelda fokus pada kehamilannya, bahkan tak hanya itu Horison juga memfasilitasi rumahnya dengan salon, mini market kecil, ruangan gym dan pilates, bahkan ia juga meminta dokter kandungan agar setiap 3 minggu sekali ke datang kerumah untuk memeriksa kandungan Zelda.
Zelda yang kini terlihat lebih berisi namun tetap terlihat cantik, aura ke ibunya begitu terpancar hingga membuat semua pekerja yang ada dirumah Horison tak sabar menanti kelahiran anak dalam kandungan Zelda.
Mereka semua termasuk Richard dan Anggie beberapa hari yang lalu telah memberikan kejutan berupa acara tasyakuran dengan mengundang anak-anak panti asuhan untuk mendoakan kelancaran proses persalinan Zelda.
"Terimakasih sudah membantu mempersiapkan ini semuanya." ucap Zelda sambil memandangi wajah lelaki yang ada di depannya.
"Jangan memandang ku seperti itu, ini semua dia yang menyuruh."
"Oke-oke, siapapun itu aku berterimakasih banyak."
__ADS_1
"Kemana dia?"
"Dia, siapa yang kamu maksud? Horison?"
Zelda mengangguk.
"Kenapa kamu masih memanggilnya dengan sebutan dia? Kenapa tidak ada panggilan kesayangan atau nama romantis lainnya." tanya Richard penasaran.
Zelda hanya tersenyum mendapat pertanyaan itu.
"Kenapa kamu tersenyum? Apa dengan kamu tersenyum sudah menjawab pertanyaan yang ku tanyakan?" tanya Richard dengan sedikit gemas.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? tanya Horison yang tiba-tiba muncul dari pintu.
"Aku sedang bertanya padanya tentang panggilan kalian berdua, kenapa masih panggilan standart bukankah sebentar lagi kalian akan menikah?"
Belum sempat pertanyaan dijawab oleh keduanya tiba-tiba Zelda merasakan perutnya merasa mulas.
"Aku ingin ke dokter sekarang." ucap Zelda sambil memejamkan matanya.
"Sudah berapa kali kontraksi ini?"
"Ini sudah yang ke dua kalinya." ucap Zelda sambil masih menutup matanya.
"Apa semakin cepat atau bagaiamana?"
"Di awal tadi aku hanya merasakannya sekitar 5menit saja, jaraknya sudah hampir 1jam dan sekarang aku baru merasakannya, tapi ini benar-benar rasanya ..." ucap Zelda sambil menahan rasa sakitnya yang sangat luar biasa.
Horison yang melihat Zelda kesakitan segera menggendongnya ke mobil.
"Cepat siapkan mobil, kamu yang menyetir." ucap Horison kepada Richard sambil menggendong Zelda ala bridal style.
Kini keduanya berada di dalam mobil, Zelda dan Horison duduk bersebelahan, Zelda tampak menahan sakit sambil mengatur nafasnya seperti yang biasa ia lakukan selama belajar Yoga.
"Kamu sabar ya, tenang, jangan panik, baca doa yang banyak."
Zelda mengangguk, sedangkan Richard yang melihat dari spion depan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik fokuslah mengemudi, jangan melihat kebelakang." ucap Horison kesal.
***
Dirumah sakit.
"Bagaimana kondisinya dokter? apakah istri saya sebentar lagi melahirkan?" tanya Horison panik.
"Istri bapak saat ini sedang mengalami kontraksi, dan setelah di cek sudah pembukaan tiga."
"Pembukaan tiga, apa maksudnya dok?" tanya Horison bingung.
"Jadi, mulut rahimnya sudah terbuka sekitar 3 sentimeter."
"Segini?" tanya Horison sambil menunjukkan ketiga jarinya yang ia ibaratkan sepanjang 3 sentimeter."
"Benar sekali, dan untuk proses melahirkan adalah hingga pembukaan 10 pak."
"Segini?" tanya Horison sambil mengangkat ke sepuluh jarinya.
Dokter yang melihat kelakukan Horison mengangguk sambil menahan tawanya.
"Bagaiamana bisa dok? Kenapa bisa selebar itu? Apa bisa kembali lagi setelah pembukaan 10?"
"Inilah yang namanya kebesaran Allah, pak. Untuk kembali ke ukuran normal pasti bisa, tapi sebelumnya pasti akan saya jahit dulu."
"Jahit? Apanya? Itunya?"
Dokter kembali mengangguk.
"Jangan gila dok, itu akan menyakiti nya."
__ADS_1
"Tidak akan sakit jika bapak memberikan dukungan padanya.
Kalau begitu saya permisi dulu, mau visit pasien selanjutnya." ucap dokter kemudian berlalu keluar dari ruangan Zelda.
"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti tadi?"
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana milikmu itu bisa terbuka sebesar ukuran 10 sentimeter." ucap Horison yang masih tak percaya. "Dan aku juga tidak bisa membayangkan jika setelah terbuka sebesar itu kemudian harus dijahit." lanjut Horison dengan wajahnya yang masih tak percaya.
"Memang seperti itu prosesnya, makanya dari dulu kita sudah dibilang agar sayang kepada kedua orang tua kita terutama ibu. Karena melahirkan sama dengan bertaruh nyawa."
"Ia aku tahu, aku pernah dengar itu. Sekarang makanlah dan minum agar engkau kuat saat mengejan nanti."
Horison tampak menyuapi Zelda, makanan kesukaan Zelda yaitu sayur sop dengan perkedel tahu dan kentang. Tampak Zelda begitu lahap makan hingga tidak ada sisa.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Zelda sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Belum,"
"Maaf aku menghabiskannya."
"Tidak apa, melihatmu lahap membuatku kenyang."
"Yakin?"
"Iya, aku mau keluar sebentar. Apa kamu tidak apa aku tinggal keluar sebentar?" pamit Horison sambil melihat ponselnya.
"Tidak masalah."
Setelah berpamitan keluar kini Zelda hanya seorang diri berada di kamar perawatan yang cukup besar. Sebuah kamar VVIP yang dipilih Horison agar Zelda merasa nyaman. Meski merasa nyaman namun Zelda merasa bosan dengan kesendiriannya ditambah dengan ponsel yang dirinya sendiri lupa tidak membawa.
"Aku akan keluar untuk berjalan-jalan disekitar koridor, lagipula aku masih pembukaan tiga. Setidaknya dengan berjalan -jalan maka pembukaan akan lebih cepat." gumam Zelda.
Langkah kakinya mengarah ke sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan bahwa ditempat itu dia akan bertemu dengan seseorang.
"Zelda?"
Zelda yang dipanggil tidak menoleh, karena dia telah membiasakan diri jika berada ditempat umum hanya mengenal nama Putri sebagai panggilan namanya.
"Zelda?" panggilnya lagi.
Merasa ada yang memanggil namanya membuat dia tetap berjalan dan tidak menengok ke belakang. Meski sebuah suara tak asing tersebut begitu jelas terdengar di telinganya.
Kenapa aku harus bertemu dia disini?
Tidak ... Aku tidak boleh menoleh, aku harus tetap berjalan wajar, agar tidak curiga.
Saat sedang berjalan sambil melamun membuat Zelda tidak fokus berjalan hingga ia menginjak lantai yang masih basah dan ...
Horison yang sigap memegangi Zelda yang terpeleset hampir jatuh ke belakang. Kini posisi Horison memegangi punggung Zelda, kedua mata mereka saling menatap, jarak diantara mereka hanya sejengkal. Bibir merah dan leher Zelda yang jenjang tampak begitu seksi, baju kancing depan yang Zelda kenakan begitu menarik, dua kancing paling atas yang tidak dikancing membuat sebagian gunung kembar milik Zelda terlihat.
Sadar jika saat ini dirinya sedang berada ditempat umum, Horison segera membenarkan posisi tubuh Zelda sambil berkata, "hati-hati, bukankah aku sudah bilang agar jangan terlalu jauh berjalan? Apa kamu tahu aku khawatir. Bagaiamana jika aku tidak datang dan kamu jatuh?"
"Aku tidak akan jatuh karena aku tahu kamu selalu ada di dekatku." ucap Zelda sambil tersenyum.
Kini keduanya saling berjalan berdampingan, sedangkan seseorang yang menyapa Zelda tadi melihat langkah Zelda yang semakin jauh meninggalkan dirinya.
"Aku tadi mendengar ada yang memanggil namamu, apa karena panggilan itu sehingga kamu tidak melihat langkahmu sendiri?"
Mendapat pertanyaan demikian Zelda hanya diam dan mencoba mengalihkan pertanyaan itu dengan pertanyaan lainnya.
Mengetahui jika ada yang disembunyikan oleh Zelda darinya, namun ia berusaha bersikap biasa seakan tidak terjadi apapun.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.