Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 52. RENCANA AWAL.


__ADS_3

Mendengar ucapan Pika yang akan mempertimbangkan keinginannya membuat Yugo lega karena menurutnya Pika masih ingin mempertimbangkan bukan menolak. Namun tidak bagi orang dibalik pintu, dia yang berniat masuk untuk menyapa Yugo yakin jika permintaan Yugo begitu berat dan tak mungkin dikabulkan oleh sepupu dan sahabat nya tersebut.


Setelah mendengar percakapan tersebut lelaki dibalik pintu itu memilih untuk mengurungkan niatnya masuk dan memasuki ruangan lainnya.


Mungkin ini semua jalan Allah, dengan cara membuat keadaan sedemikian rupa. Aku yang seharusnya masuk siang tiba-tiba harus berganti shift dan pintu yang sedikit terbuka tadi telah membuat ku mendengar apa pembicaraan tadi.


Aku akan menolong pak Yugo dengan menikahi mantan istrinya.


***


Ditempat lain, di sebuah kota yang begitu tenang jauh dari hiruk pikuk ibukota, sebuah kota yang tak pernah ia bayangkan untuk di datangi lagi setelah peristiwa itu. Dan tinggal di kota ini adalah pilihannya untuk hidup dengan tenang.


Dinginnya suhu udara membuat dirinya selalu merasakan lapar, sudah beberapa hari ini setiap pagi ia menghabiskan beberapa lembar roti, entah apa yang membuat selera makannya bertambah. Beberapa lembar roti coklat panggang hangat yang baru saja ia angkat dari alat pemanggang kini mulai ia nikmati, ditambah secangkir susu putih dengan campuran madu.


"Kenapa makanan ini begitu nikmat bahkan rasa coklat dan susu vanila benar-benar membuatku ketagihan?" tanya Zelda disela-sela makannya.


"Apa karena udara dingin ini membuat aku menjadi pemakan segala? Ah sudahlah, artinya rasa coklat dan vanila sekarang menjadi rasa favoritku."


Sambil menikmati hidangan di depannya Zelda teringat oleh keluarga yang telah meninggalkan dirinya.


"Aku rindu kalian," ucap Zelda sambil menghela nafas panjang.


Saat sedang menikmati makanannya tiba-tiba ponselnya bergetar, terlihat sebuah pesan masuk. Setelah membaca pesan kini Zelda cepat-cepat menghabiskan roti dan susu yang ada di piring lalu segera ia mengambil tasnya dan segera keluar dari rumah kontrakan yang baru disewanya beberapa bulan yang lalu.


Kini Zelda keluar dari pagar dan berjalan kaki sekitar 700 meter ke tempatnya bekerja. Setelan celana palazo berwarna hitam dipadu padankan dengan kemeja berwarna pastel dan sepatu flat berwarna senada dengan tas sling bag yang ia silangkan membuat penampilan nya begitu menawan.


Dalam perjalanan ke kantor tidak pernah ia bayangkan akan mendengar sesuatu yang membuatnya harus berhenti begitu juga orang-orang disekitar.


Suara apa itu?


Dengan rasa penasaran Zelda dan beberapa orang berusaha mencari sumber bunyi tersebut, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah kardus terbuka yang berada di bawah pohon rindang.


"Bayi siapa ini?" tanya Zelda sambil menggendong bayi yang barusan diambilnya dari dalam kardus.


Beberapa orang yang ada dibelakangnya tadi saling berpandangan satu sama lain, mereka semua tidak tahu dan saling bertanya bagaimana bisa ada bayi di dalam kardus.


"Tolong antar aku ke bidan, aku akan menaruh bayi ini disana untuk diperiksa kesehatannya." ucap Zelda kepada orang-orang disekitar.


Karena penemuan bayi tersebut sehingga membuat Zelda harus menunda keberangkatannya ke kantor untuk pergi ke bidan diantar oleh petugas kepolisian yang beberapa menit kemudian datang setelah mendapat laporan.


***


Di kantor.


"Kenapa terlambat?" bisik Anggi kepada sahabatnya.


"Nanti aku ceritakan." jawab Zelda lirih.


"Siap-siap kamu dipanggil, bukannya tadi aku sudah kirim pesan supaya jangan terlambat." gerutu Anggi kepada Zelda.


"Ya, aku siap." jawab Zelda sambil tersenyum melihat sahabatnya yang sedang menggerutu.


Ternyata benar tak lama kemudian, baru saja Zelda duduk sebuah telepon berdering di atas meja Zelda, segera dia menerima panggilan tersebut lalu ditutup telepon tersebut.


"Benar kan dipanggil, kamu sih terlambat."

__ADS_1


"Kan cuman dipanggil, dipanggil bukan berarti di adili kan?"


"Ze, jangan anggap remeh, tadi itu pemilik perusahaan datang, dan ia bertanya tentang outstanding pekerjaan dari masing-masing divisi."


"Aku akan jawab semua pertanyaan nya bahkan statusku juga akan aku jawab." ucap Zelda sambil tersenyum kepada Anggi.


Anggi yang mendengar itu hanya tersenyum dan memajukan bibirnya seperti bebek.


Tok ... Tok ...


(Suara pintu diketuk)


"Permisi, saya Putri."


"Masuk."


Zelda masuk lalu berdiri di depan meja orang yang berada disana.


"Duduklah, ada beberapa pertanyaan yang saya tanyakan." ucap seorang bos yang baru saja Zelda lihat wajahnya.


"Apa kamu seorang janda?"


Sebuah pertanyaan yang begitu sensitif namun pernyataan tersebut adalah sebuah fakta yang tak dapat ia pungkiri kebenarannya.


"Maaf, apakah bapak memanggil saya hanya untuk bertanya tentang status saya?"


"Kenapa bertanya balik? Jawab saja pertanyaan ku."


"Ya."


"Apa kamu memiliki anak?"


"Kalau begitu kenapa terlambat?"


"Ada nyawa seorang anak yang harus saya tolong." jawab Zelda.


"Lalu bagaiamana denganmu? Apa kamu mau seperti lilin? Menyelamatkan orang tapi nyawamu sendiri hilang?"


Mendengar itu Zelda kesal tapi ia berusaha meredam karena ia mengakui keterlambatannya yang hampir satu jam.


"Maafkan saya, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi."


"Mulai besok naiklah mobil perusahaan, dan ingat jangan bilang karyawan lain jika kamu naik mobil perusahaan termasuk Anggi sahabatmu."


"Saya tidak mau."


"Kenapa?"


"Saya tidak ingin gaji saya dipotong gara-gara saya ikut mobil perusahaan."


"Kenapa dipotong? Ini fasilitas kantor."


"Jika fasilitas kantor kenapa Anggi atau karyawan lainnya tidak mendapatkan?"


"Karyawan lainnya memiliki kendaraan dan kamu tidak, lagipula kamu adalah staf ahli di kantor kami."

__ADS_1


"Banyak staf lain yang juga ahli tapi tidak mendapat fasilitas pak, sebaiknya jangan. Karena saya termasuk karyawan baru, jadi saya tidak ingin ada kecemburuan."


"Saya tidak akan memaksa, temui saya jika kamu berubah pikiran."


”Baik pak." Zelda lalu berdiri dan hendak beranjak dari kursi.


"Apa saya sudah menyuruhmu untuk keluar?"


Suara keras yang barusan di dengarnya membuat Zelda merasa mual dan pusing, mengingat biasanya selama bekerja Zelda selalu makan makanan ringan untuk mengisi perutnya yang akhir-akhir ini merasa sering kapar.


"Kamu kenapa?" tanya pemilik perusahaan milik Zelda.


"Maaf pak, saya harus ke toilet. Nanti saya balik kesini lagi." ucap Zelda menahan mual lalu keluar menuju toilet.


Kini di ruangan itu hanya ada seorang lelaki yang tinggi dengan badan yang sangat proporsional, wajahnya memang tidak setampan Yugo namun dia memiliki paras yang menarik lesung di pipinya membuat dirinya terlihat manis saat tersenyum.


"Kemana dia? Kenapa lama sekali?" tanyanya sambil melihat jam tangannya. "Lima menit lagi pas 30 menit, jika dia tidak kembali awas."


Ternyata benar 30 menit sudah berlalu, si pemilik perusahaan merasa kesal dengan Zelda ia pun mencoba keluar dan memeriksa ke ruangan tempat Zelda.


Dasar! Awas saja jika aku melihatnya disana maka aku akan memberinya SP dan melaporkannya kepada HRD!


Dengan rasa jengkel sang pemilik perusahaan berjalan menuju ke ruang yang ia yakini Zelda sedang berada disana.


Pintu pun terbuka dan kemunculan si pemilik perusahaan membuat semua staf disana berdiri dan menyapa.


"Pak Horison, ada yang bisa dibantu?" tanya atasan Zelda.


"Tidak, saya hanya ingin melihat-lihat saja." jawabnya bohong. "Oiya, kenapa meja dan kursi itu kosong? Apa anak buah mu ada yang tidak masuk?"


"Anggi, kemana putri?"


"Tadi keruangan pak Horison."


Jadi dia belum kembali? Kemana dia? Apa dia tertidur di kamar mandi.


Saat sedang membatin ponselnya berdering, dia melihat sebuah nama yang tak lain adalah anak buahnya.


"Lanjutkan kerja kalian, saya akan melihat-lihat lainnya." ucap Horison sambil keluar ruangan dan menerima panggilan tersebut.


X : "Cepat kemari bos. aku menaruhnya di ruangan mu." ucapnya lalu menutup panggilan telepon tersebut.


Kenapa dia langsung menutup teleponnya, aku kan belum selesai bicara!


Tapi, kenapa suaranya terdengar seperti orang panik? Memangnya ada apa?


Lebih baik aku pelan-pelan saja jalannya, anggap aja impas karena tadi dia membuatku lama menunggu.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih


__ADS_2