
"Ibu ...." panggil Nata sambil melihat wajah ibunya yang sedang menyetir.
"Iya," jawab Zelda datar.
"Tadi aku mendapat juara." cerita Nata kepada Zelda.
"Kamu hebat." jawab Zelda sambil tersenyum.
"Bukan aku yang hebat tapi ayah yang hebat."
Mendengar perkataan putrinya membuat Zelda kaget dan mulai menepikan mobilnya.
"Ayah? Siapa yang kamu maksud ayah?" tanya Zelda dengan hati-hati.
"Lelaki yang di taman tadi adalah ayahku, bukan?"
"Bicara apa kamu Nak, mungkin engkau sedang rindu ayah. Lebih baik kita ke makam ayah sekarang." ucap Zelda dengan wajah tenang dan hati-hati, karena ia tak ingin putrinya itu curiga dan semakin mendesaknya dengan pernyataan dan pertanyaan yang ia takutkan.
Setelah berbicara seperti itu kini Zelda kembali fokus ke jalan untuk mengendarai agar segera tiba di makam suaminya.
Berbeda dengan Nata, baginya jawaban yang keluar dari mulut ibunya membuat dirinya tak menyangka bahwa selama ini ibunya benar-benar tega terhadap dirinya.
Ada apa sebenarnya, kenapa ibu tega kepadaku,,
Nata berbicara sendiri dalam hati sambil pandangan matanya melihat ke arah jendela disamping, dari tatapannya terlihat ia sedang memendam sesuatu.
"Nata, kita sudah sampai. Ayo turun lah."
Nata yang tahu mesin mobil ibunya berhenti segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu, lalu ia mulai berlari ke area makam tanpa menunggu ibunya.
"Sayang tunggu!! Jangan berlari seperti itu." teriak Zelda kepada putrinya namun sang putri terlanjur telah keluar dan meninggalkan dirinya yang masih di dalam mobil.
"Kenapa dia? Aku harus tenang menghadapi sikapnya aku tidak boleh terpancing.
Zee ..., kamu harus tenang." gumam Zelda menasehati dirinya sendiri.
***
Di makam.
"Kamu rindu ayah, sampai kamu cepat-cepat ingin kemari mendoakan." ucap Zelda yang baru sampai ke makam suaminya sambil menenteng sekeranjang bunga.
"Sayang, aku dan Nata datang." ucap Zelda lagi sambil memilih duduk di depan putrinya.
Sesaat setelah berkata demikian kini keduanya memilih diam, hingga akhirnya terdengar suara Nata berbicara.
"Ayah ... Terimakasih engkau telah merawat dan menyayangi ku sampai engkau menutup mata. Meski aku bukan putri kandungmu namun engkau telah memperlakukan ku seperti anak sendiri."
"Nata?" tanya Zelda kaget.
"Kenapa Bu? Kenapa? Apa ibu kaget?" tanya Nata dengan wajah menantang.
"Apa yang kau ucapkan, kamu anak ibu dan ayah. Dan sekarang ayah telah meninggal."
"Yang meninggal adalah ayah sambung ku, sedangkan ayah kandung ku masih hidup."
"Ibu tidak mengerti apa maksud mu."
"Ibu masih mengelak. Pria yang selama ini aku panggil dengan sebutan paman ternyata dia adalah ayah kandung ku, kan.
Yugo Arthadinata, dan nama panggilanku Nata diambil dari nama belakangnya, benar kan Bu?" tanya Nata sambil menahan tangisnya.
Zelda terdiam dia memilih untuk menunduk dan menahan tangisannya. Ia tak menyangka jika putrinya akan mengetahui rahasia besar ini.
"Kenapa diam Bu? Angkat wajah ibu, tolong jelaskan semua ini padaku Bu! Aku perlu tahu kenapa ibu menyembunyikan semua ini!" ucap Nata lagi sambil menangis.
Zelda tak kuat bicara, ia memilih menunduk, rambutnya yang terurai ke depan menutupi sebagian wajahnya sehingga tak terlihat jika saat ini ia sedang menangis.
"Jawab ibu! Kenapa ini tega mengatakan bahwa ayahku telah meninggal! Apa ibu tidak sadar bahwa itu adalah doa! Bukankah ibu sudah merasakan bagaimana hidup tanpa seorang ayah! Hampa Bu! Mengapa ibu tega kepadaku, bahkan ibu tidak memberikan kesempatan kepada ayah dan aku untuk bersama! Justru ibu sengaja menjauhkan aku dari dia! Kenapa Bu !!!!
Jika ibu membencinya seharusnya jangan libatkan aku, biarkan aku tetap bisa bersamanya!!
Engkau egois Bu!!! Aku benci ibu!!!" teriak Nata lalu pergi.
Mendengar langkah putrinya pergi segera Zelda mengejar putrinya, namun Zelda yang baru saja bisa berjalan tidak dapat kuat mengejar putrinya hingga membuatnya terjatuh.
"Nata, tunggu Nak. Jangan tinggalkan ibu!" teriak Zelda.
__ADS_1
Mendengar suara dibelakangnya membuat Nata menoleh kebelakang, rasa hatinya iba saat melihat ibu nya sedang terjatuh namun rasa kecewa kepada ibunya membuat Nata memilih pergi dan meninggalkan ibunya yang terjatuh di makam yang tak jauh dari tempat makam.
"Nata!!!!" teriak Zelda memanggil putrinya.
Zelda yang tidak kuat berjalan memilih untuk membiarkan pakaiannya kotor karena ia berjalan sambil menyeret tubuhnya hingga menuju ke makam tanah kubur Horison.
"Suamiku, apa kamu dengar tadi?
Apa yang harus aku lakukan? Bantu aku??
Tolong jangan diam, tolong jawablah!" ucap Zelda sambil menangis.
"Kamu lihat kan, aku tak sekuat dulu, bahkan saat ini tubuh ku lemah." ucap Zelda lagi dengan nada nelangsa.
Suara tangisan Zelda membuat seorang anak yang baru memasuki makam mendekat ke arah sumber suara.
"Apa yang engkau lakukan disini? Kenapa bajumu kotor seperti itu?"
Zelda kaget mendengar suara yang tak asing hingga membuat ia mendongakkan wajahnya ke atas.
"Putriku, tolong cari putriku! Aku mohon!" pinta Zelda sambil memegang tangan lelaki tersebut.
"Aku akan mencarinya." ucap Ecka sambil membantu Zelda berdiri menuju ke tempat parkir mobilnya.
"Pak, tolong antar ibu ini sampai ke rumah nya." perintah Ecka kepada supirnya.
"Baik." jawab supir pribadi Ecka.
***
Malam hari.
"Kak, siapa dia?" tanya Zee penasaran melihat kakaknya menggendong seseorang.
"Cepat buka kamarmu!" perintah Ecka menuju ke kamar adiknya.
"Tidak! Aku tidak mau berbagi kamar dengan orang asing!"
"Baiklah kalau begitu, aku akan menaruhnya di kamar tamu." ucap Ecka santai.
Zee sebenarnya penasaran siapa yang sedang digendong kakaknya tapi dia memilih untuk kembali ke kamarnya sendiri. Sambil berjalan Zee mencoba mengingat bentuk poni rambut dan anting wanita yang digendong oleh Daniel, kakaknya.
Ternyata apa yang di gumamkan Zyva benar tak berselang lama akhirnya ayahnya datang.
Sebuah langkah tegap dengan suara sepatu yang begitu khas terdengar berjalan cepat menuju ke kamar tamu.
"Kenapa pintunya terkunci?" tanya Daniel curiga.
Tak ingin menunggu lama dan menduga segera ia berjalan ke arah kamar Ecka.
Begitu kagetnya Daniel saat ia masuk kesana tidak melihat putranya di dalam.
"Kemana Ecka?" tanya Daniel dalam hati.
Sambil mencari-cari keberadaan putranya, Daniel terus berusaha mencari di setiap sudut ruangan.
"Ayah harap kamu bisa berfikir jernih," ucap Daniel lirih sambil duduk di atas tempat tidur putranya.
"Apa maksud ayah? Kenapa menyuruh ku berfikir jernih?" tanya Ecka yang muncul di depan ayahnya.
"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Daniel yang tidak menanggapi pertanyaan putranya.
"Baju."
"Baju wanita, untuk?"
"Ayah,, jangan pura-pura tidak tahu. Bukankah ini adalah bagian dari rencana ayah."
Daniel tak menyangka jika putranya tahu tentang rencana nya.
"Kenapa ayah melakukan ini semua?"
Sekejap Daniel diam, dia memilih untuk duduk di sofa dekat tempat tidur putranya.
"Yugo adalah gambaran diriku saat itu. Apa kamu ingat bagaiamana pertemuan pertama kita?"
"Iya." jawab Ecka singkat sambil mengingat waktu itu.
__ADS_1
"Saat bertemu denganmu ragaku kembali bernyawa, dan aku yakin Yugo juga merasakan itu."
"Tapi, situasinya berbeda ayah. Aku tidak pernah menyalakan ibu tentang alasannya yang tak pernah mempertemukan kita."
"Kalau begitu itu tugasmu untuk memberinya pengertian." ucap Daniel menatap putranya dalam.
"Maksud ayah?"
"Bukankah kamu mencintainya?"
"Ayah?"
"Hmm." Daniel tersenyum sambil masih menatap putranya. "Ayah juga pernah muda, saat itu ayah jatuh cinta pada wanita yang pernah menolong ayah dari penculikan, dan wanita tersebut tak lain adalah ibumu."
"Tapi aku tidak mencintainya. Aku peduli padanya karena .."
"Karena engkau takut ayah mendekati ibunya?"
Ecka diam tak berani menatap ayahnya.
"Percayalah pada ayah, disini sudah tidak ada ruang kosong." ucap Daniel sambil menunjuk dadanya. "Disini hanya ada Zanecka, Zyva, dan Shasha." lanjut Daniel memberitahu putranya.
Ecka tak banyak bicara, ia hanya tersenyum kepada ayahnya.
***
Keesokan paginya disebuah mansion terlihat seorang wanita yang terlihat benci memandangi situasi di sekelilingnya. Ia seakan mengingat semua kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun silam.
Berulang kali ia merogoh sakunya untuk menghubungi seseorang guna mencari kabar putrinya namun tak bisa.
"Sial, sepertinya dia sengaja mematikan sinyal disini."
Tak berselang lama terdengar suara pintu terbuka.
"Kamu sudah bangun." sapa Yugo kepada mantan istrinya.
"Kemana putriku?" tanya Zelda tanpa merespon sapaan Yugo.
"Nata bersama orang yang tepat."
"Apa maksudmu? Kamu pikir aku bukan orang yang tepat untuknya. Mana putriku!"
"Dia juga putriku, aku berhak melindunginya."
"Aku bisa melindunginya meski tanpa dirimu."
"Aku akan melindungi kalian, karena engkau adalah istriku."
"Jaga bicaramu! Diantara kita tidak akan pernah ada hubungan lagi."
"Apa kamu lupa ucapan Horison?? Dia meminta ku untuk menikahi mu."
"Meski itu permintaannya tapi aku tidak ingin menjalin hubungan lagi denganmu."
"Kalau itu maumu, maka jangan pernah lagi menemui Nata."
"Apa maksudmu! Aku ibunya dan aku berhak atas putriku."
"Kamu memang ibunya tapi kamu tidak bisa melindunginya, sedangkan aku bisa."
"Jangan sombong kau, Yugo. Kamu lupa siapa dirimu dulu! Jika tidak ada ayahku maka engkau tidak akan sehat seperti ini!" ucap Zelda geram.
"Aku tahu, aku ingat. Oleh karena itu aku ingin melindungi keturunan ayah yaitu kamu dan cucunya."
"Tanpa kamu aku bisa, aku bisa melindungi putriku sendiri tanpa dirimu!" teriak Zelda kepada Yugo.
"Itu dulu, tapi tidak sekarang! Lihat dirimu! Berdiri saja engkau tak mampu, bagaiamana engkau melindungi Nata!" bentak Yugo keras hingga membuat Zelda kaget.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih.