Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 21. DIA ASISTENKU BUKAN TUNANGANKU.


__ADS_3

Kini Zelda telah berada di parkiran motor untuk kembali ke apartemennya. Dirinya sengaja tidak kembali ke rumah karena tidak ingin mengingat kenangannya bersama Hugo atau Yugo. Meski hanya sebuah kenangan singkat namun begitu membekas di benaknya.


"Mengapa jatuh cinta itu sakit? Bukannya orang bilang jatuh cinta itu indah? Apa hanya orang lain yang merasa cinta itu indah sedangkan aku tidak?" tanya Zelda kepada dirinya sendiri. Dia yang berbicara sendiri masih terlihat mengatur nafasnya dengan sesenggukan. "Hiks... hiks... Ya Allah, sakit rasanya mendengar dia menyebut nama wanita lain." kini ucapan Zelda di iringi dengan air mata yang mengalir dibalik kaca helm yang dipakainya.


Sepanjang perjalanan Zelda tak hentinya menangis. Dia mengingat semua yang Yugo atau Hugo lakukan saat mereka masih tinggal bersama selama beberapa hari. Dirinya yang berusaha fokus dijalanan masih terbayang-bayang oleh sebuah kenangan singkat dirinya dengan Hugo, seorang lelaki yang hampir saja menjadi suaminya.


Meski saat itu engkau hanyalah seorang pria biasa namun bagiku dia pria istimewa. Memang rasa itu tidak muncul dipandangan pertamaku, tapi melihat keadaan ekonomi keluargaku yang berubah setelah adanya dirimu, perhatianmu memperhatikan kesehatan ayahku itu yang membuatku jatuh cinta karena kepedulianmu itu hingga sebuah tembok hati yang kubangun agar tidak mudah jatuh cinta kepada seseorang perlahan mulai goyah terkikis saat aku mendengar bahwa ayah meminta dia untuk menjagaku dan sebuah kalimat***aku setuju****, hingga engkau memasangkan sebuah cincin dan meminta izin untuk mengecup keningku kau lakukan di depan ayahku.*


Hingga hari itu terjadi, engkau yang berjanji untuk menjadikanku belahan jiwa perlahan sirna. Sebuah kecelakaan yang menjadi pengantar wafatnya ayah dan kembalinya ingatanmu adalah sebuah petaka bagiku. Engkau yang tersadar dari tidur panjangmu selama hampir satu bulan membuat namaku terhapus dari benakmu.


Hampir beberapa tahun engkau pergi menghilang dari hidupku, kering rasanya air mataku mengingat semua tentangmu, meski rasa kecewa menghampiriku namun aku meyakinkan diriku bahwa engkau sedang menyusun ingatan-ingatanmu yang hilang. Hingga sebuah pertemuan itu kembali hadir, dan engkau telah mengecupku, aku bingung harus bersikap bagaimana? Ingin rasanya marah namun aku bahagia, ternyata engkau telah mengingatku.  Namun sebuah cerita yang kudengar tadi beserta sebuah nama telah cukup bagiku untuk tidak menyebut kembali namamu di sepertiga malamku.


***


Di sebuah hotel tempat berlangsungnya acara.


"Kenapa?” tanya Henri yang mendekat ke arah Yugo.


"Sepertinya dia salah paham,"


"Tentang?"


"Sudahlah, setelah acara ini kita cari keberadaan Pika." ucap Yugo yang memilih berjalan untuk segera masuk ke tempat acara berlangsung.


Yugo yang sedang duduk ditemani Henri menatap lurus kearah pengantin.


Zelda, aku tahu kamu mencintaiku tetapi ego masih menyelimuti perasaanmu.


Tak apa, seiring berjalannya waktu aku percaya ego itu akan sirna terbungkus oleh rindu dan kenangan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Henri yang membuyarkan lamunan Yugo.


"Tidak ada." bohongnya.

__ADS_1


"Yakin? Apa kamu menyesal melihat mantan tunanganmu duduk di pelaminan bersama adik tirimu?" goda Henri.


"Bicara apa kamu! Justru sebaliknya, aku merasa lega karena Memberi pelajaran tanggung jawab kepada Sonny."


"Tanggung jawab? termasuk dengan kelakuannya terhadapmu."


Yugo hanya mengangaguk, dirinya tak tahu harus berkata bagaimana. Dirinya tak sampai hati jika memenjarakan adiknya itu.


"Aku akan memberi kesempatan Sonny untuk mengembalikan semua yang telah diambilnya dariku."


"Jika tidak?"


"Aku akan memaksanya dengan semua caraku.."


Tak terasa acara pernikahan Sonny dan Vian telah usai. Henri telah meminta bantuan kepada anak buahnya untuk mencampurkan obat tidur agar membuat Sonny, Vian dan Yongki dapat tertidur pulas setelah acara pernikahan. Cara ini ia lakukan agar mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan dirinya dan Yugo setelah acara selesai.


***


"Ya,"


Sesampainya di sebuah apartemen segera kedua sahabat itu keluar dari mobil dan menuju ke resepsionis untuk mencari keberadaan Pika dengan berpura-pura bertanya nama dari nopol mobil milik Pika. Henri beralasan jika dirinya tanpa sengaja menyenggol sebuah mobil yang terparkir sehingga kaca spion nya rusak dan ia berniat untuk membereskannya.


Belum sempat resepsionis itu menjawab ternyata mata stereo Yugo melihat keberadaan Pika yang sedang masuk menaiki lift, melihat keberadaan asisten nya tersebut segera Yugo berlari masuk ke dalam lift disusul oleh Henri. Begitu pintu lift terbuka segera Yugo berlari menghampiri Pika yang hendak membuka pintu apartemennya.


"Pika!!!" teriak Yugo.


Mendengar suaranya di panggil Pika menoleh dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat Yugo dengan nafas tak teratur sedang berlari menuju ke arahnya hingga mereka saling berpelukan menahan kerinduan. Keakaraban keduanya membuat orang yang melihat menjadi salah sangka termasuk orang yang berada di depan kamar Pika.


*Prang!!! (*sebuah suara piring terjatuh dengan suara empuk karena karpet empuk yang menghiasi seluruh koridor apartemen.)


Suara itu sukses membuat Yugo dan Pika tersentak kaget dan melepaskan pelukan mereka.


"Zelda?" panggil Pika kepada tetangga di depannya.

__ADS_1


"M--mm--"


Zelda tak dapat meneruskan ucapannya, air matanya yang baru saja kering kini kembali keluar. Kali ini apa yang dia lihat benar-benar sebuah kenyataan. Tak tahu harus berkata apa Zelda memilih untuk tidak meneruskan ucapannya, ia memilih untuk mengambil beberapa potong roti yang terjatuh dari piring. Sambil memungut potongan roti yang jatuh ia mencoba menahan tangisannya yang tetap mengucur meski telah ditahan olehnya.


Yugo yang mendengar nama Zelda disebut seketika ia menoleh ke arah seorang wanita yang sedang memungut roti tersebut sambil berjongkok tepat di dekat wanita tersebut.


"Angkat wajahmu," ucap Yugo sambil memegang kepala Zelda yang sedang menunduk untuk menyembunyikan tangisannya.


Dari kejauhan terdengar suara teriakan yang begitu khas di telinga Pika.


"Pika!!!!" teriak Henri yang tak kalah heboh.


Kini Henri dan Pika saling berpelukan, pelukan keduanya jauh lebih erat bahkan dengan reflek Henri mengecup bibir lembut Pika.


"Kamu lihatkan mereka? sejatinya mereka berdua adalah pasangan dan apa yang aku lakukan tadi semata-mata karena aku benar-benar merindukannya."


"Aku tak perlu penjelasanmu." ucap Zelda yang masih diluputi cemburu.


"Aku tahu, kamu cemburu. Tolong dengarkan aku. Dia adalah asistenku bukan tunanganku yang aku ceritakan itu. Dia adalah asisten sekaligus sepupuku."


"Apa kamu masih ingin menangis karena malu dan terharu?" bisik Yugo tepat di telinga wanita yang dicintainya tersebut.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2