Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 47. KEPERGIAN AISYAH.


__ADS_3

"Bunda!" teriak Zelda keras sambil menghampiri tubuh ibunya yang roboh.


Yugo yang melihat mertuanya jatuh segera menggendongnya masuk kedalam kamar lalu ia keluar untuk menekan tombol. Tak berselang lama muncul seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar dan memeriksa keadaan Aisyah.


"Bunda! Bunda!" panggil Zelda sambil berurai air mata dan memegang tubuh ibunya.


Melihat kondisi pasien membuat dokter memberikan tanda kepada perawat agar Zelda sedikit memberi jarak untuk tidak terlalu dekat dengan ibunya karena harus segera diberikan penanganan. Mengerti situasi itu perawat tahu apa yang harus dilakukannya, segera ia meminta Zelda tenang dan menjauh, lalu ia keluar mengambil sebuah alat yang membuat Zelda dan Yugo tercengang.


Sebuah alat pengejut jantung kini berada tepat di samping Aisyah, dokter pun segera memberikan sebuah gel yang dioleskan pada alat tersebut. Melihat itu Zelda hanya dapat terdiam sambil menangis terisak. Ia takut ibunya kenapa-kenapa.


Wajah tegang terlihat dari bentuk alis simetris milik dokter yang memeriksa Aisyah. Tak beberapa lama kemudian sebuah alat detak jantung menunjukkan suara lazim denyut jantung kembali normal. Situasi pun menjadi normal kembali. Melihat itu terdengar sebuah kalimat Alhamdulillah' keluar dari mulut Zelda dan Yugo.


Setelah situasi kembali normal, Yugo pun memilih untuk duduk di sofa tempat dimana ia menjatuhkan Zelda tadi.


"Apa ini, milik siapa?" tanya Yugo dalam hati. Dirinya masih tidak menyadari jika apa yang menempel pada sofa adalah milik Zelda.


Yugo tak terlalu memikirkan noda pada sofa tersebut ia hanya fokus melihat dan memikirkan mertuanya bahkan kalimat yang ia ucapkan tadi pun ia tak mengingatnya, lamunannya pun hilang saat dokter Rizal memegang pundaknya.


"Kondisi pasien sudah stabil," ucap dokter lirih kepada Yugo yang terlihat melamun ambil memandang mertuanya.


"Ya, terimakasih, Dok." ucap Yugo singkat.


"Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa kondisi pasien berubah bahkan detak jantung nya menjadi lemah? Padahal tadi pagi saya memeriksa kondisinya baik-baik saja." jelas dokter Rizal. (Dokter Rizal adalah senior dokter Zidan.)


"Entah, tadi aku dan istriku sedang dikamar dan-" ucap Yugo terhenti karena ia sedang mengingat sesuatu.


Tiba-tiba Yugo teringat apa yang tadi dia lakukan kepada Zelda,


Apa jangan-jangan,


"Dan apa pak?" tanya dokter sambil menepuk pundak Yugo lagi, karena terlihat Yugo yang tampak tak fokus menjawab pertanyaannya.


"Tidak, tiba-tiba saja aku mendengar suara jatuh di depan kamarku dan saat aku melihat ternyata mertuaku yang pingsan." jelas Yugo yang berusaha menutupi kecurigaan nya tentang alasan mertuanya yang tiba-tiba pingsan.


"Kalau begitu biarlah pasien istirahat, nanti setiap satu jam kami akan memeriksa kondisi beliau." ucap dokter.


Yugo mengangguk, diikuti langkah dokter dan perawat yang meninggalkan kamar.


***


Di kamar Yugo.


Zelda terlihat masih berada di samping Aisyah sambil memijat tubuh ibunya, air matanya kini tak terlalu terurai, namun suara sesenggukan masih muncul kala melihat tubuh ibunya yang sedang terbaring lemah, dirinya tak menyangka jika beberapa saat yang lalu ia masih bergurau dan bermanja bersama ibunya di kamar.


Berbeda dengan Yugo yang memilih diam sambil masih bertanya-tanya apa yang membuat sang mertua jatuh di depan kamarnya. Dugaannya jika sang mertua mendengar dia dan Zelda sedang bertengkar.


Apa jangan-jangan aku tidak menutup pintu?


Baru saja ia menduga-duga kini terdengar suara mertuanya memanggil.


"Zelda ... ." panggil Aisyah lirih.


Mendengar mertuanya memanggil nama Zelda membuat Yugo memandang mertuanya yang berada di depannya. Dipandangnya kedua wanita di hadapannya, tak tahu apa yang sedang dibicarakan namun sebuah guratan pada kening dan wajah sendu begitu terlihat.

__ADS_1


Tak berselang lama, ia mendengar mertuanya memanggil namanya.


"Yugo ..."


Mendengar namanya dipanggil dia pun berjalan menghampiri Aisyah.


"Ya, bunda .." jawab Yugo sambil memegang tangan mertuanya.


"Ada apa sebenarnya kalian? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Aisyah.


"Kami tidak bertengkar, kami baik-baik saja." jawab Zelda cepat. Dia takut jika Yugo akan menjawab jujur pertanyaan ibunya.


Mendengar itu Aisyah menitihkan air mata sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kalian masih ingin menyembunyikan nya?" tanya Aisyah lagi.


"Tidak ada yang kami sembunyikan, kami benar baik-baik saja. Iya kan sayang?" jawab Zelda sambil menatap ke arah Yugo.


"Kesalahan apa yang diperbuat putriku hingga engkau menampar dan mengucapkan talak padanya?" tanya Aisyah yang masih bertanya, dan kali ini ia mengarahkan pertanyaannya kepada Yugo.


Mendengar pertanyaan itu membuat Zelda kaget, ia tak menyangka jika ibunya telah mendengar pertengkarannya dengan Yugo. Berbeda dengan Yugo yang sedari tadi sudah menduga jika mertuanya pingsan karena mendengar pertengkarannya dengan Zelda, termasuk sebuah kata talak yang tanpa sadar sudah ia ucapkan tadi.


"Tidak bunda, mas Yugo tidak melakukan apa-apa, mas Yugo juga tidak berkata apapun. Kami sungguh baik-baik saja." ucap Zelda yang berusaha menutupi semuanya.


"Cukup nak, jangan bohong. Bunda melihat semuanya. Di depan mata bunda, bunda melihat engkau ditampar hingga tubuhmu tersungkur di sofa itu, bahkan sebuah kata talak sudah diucapkannya."


"Tidak Bunda, mas Yugo tidak mengatakan kata itu, tadi kebetulan aku jatuh tepat di sofa dan mas Yugo menolongku."


Aisyah tahu jika yang diucapkan oleh Zelda tidak benar, dan ia yakin jika putrinya tersebut sedang menutupi apa yang terjadi tadi, kini ia pun kembali bertanya kepada Yugo.


"Aku memilihmu karena kegigihanmu untuk mendapatkan nya dan itu membuatku luluh untuk menyerahkan putriku kepadamu, termasuk kebaikanmu telah membuat mendiang suamiku yakin bahwa engkau adalah jodoh yang terbaik untuk putri kami. Tapi mengapa ..., mengapa engkau melakukan itu semua?" lanjut Aisyah bertanya dengan nada lirih seakan sebuah rasa kecewa begitu terdengar dari suaranya yang lemah.


Mendengar itu Zelda diam, ia tidak lagi menyembunyikan kesedihannya, kesedihan yang sedari tadi ia pendam akhirnya keluar, benih air mata mulai muncul perlahan, karena tak ingin dilihat oleh ibunya Zelda pun membalikkan badannya dan menyeka air mata yang sudah tumpah.


"Maafkan aku bunda, aku salah. Aku terlalu emosi, aku tidak dapat mengontrol emosiku. Aku terlalu mencintai istriku." jawab Yugo.


Aisya yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Saat ini Zelda bukan lagi istrimu, kalian berdua adalah mantan suami istri."


Ucapan Aisyah membuat Zelda semakin menangis, ucapan talak yang diucapkan Yugo kembali terngiang di telinga nya.


"Aku tak menyangka pernikahan kalian akan secepat ini di umur ku yang tidak lama lagi." lanjut Aisyah berkata.


"Apa yang bunda bicarakan? Kami hanya bertengkar layaknya suami istri biasa. Kami baik-baik saja." jelas Zelda sambil menatap wajah ibunya.


Aisyah hanya tersenyum memandang putrinya.


"Untuk hal ini kamu tidak terlalu pandai membohongiku, Nak. Belajarlah ikhlas menerimanya, tetaplah menjadi wanita yang tegar, kuat seperti saat engkau belum bertemu bunda dan jangan lupa doakan bunda, ayah serta kakakmu Hugo." ucap Aisyah sambil meraih pipih Zelda yang terlihat masih basah karena air mata.


"Yugo, maafkan bunda jika mengecewakanmu dan terimakasih atas semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku, suami dan anak ku." lanjutnya Aisyah yang masih berusaha meminta maaf kepada mantan menantunya.


"Tidak, bunda dan keluarga tidak pernah mengecewakan, justru aku yang mengecewakan kalian." ucap Yugo sambil memegang erat tangan mertuanya.


"Zelda ..., maafkan bunda yang tidak dapat menemanimu lebih lama.

__ADS_1


"Apa maksud bunda? Bunda harus bersama Zelda, Bunda mau kemana?"


"Setiap manusia pasti akan mengalami ini Nak, tolong ikhlaskan Bunda. Ingat pesan Bunda."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut tangan Aisyah menjadi dingin, Zelda yang panik segera berlari mencari keberadaan dokter dan suster sedangkan Yugo tetap berada di dalam kamar menemani Aisyah.


"Bunda, aku mohon kuat lah. Demi Zelda, dia begitu menyayangimu." ucap Yugo yang tak kuasa juga menitihkan air mata.


"Aku sudah mencobanya. Aku minta padamu, ingat pesan mendiang suamiku. La Illaaha Illallaa." ucap Aisyah lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


Zelda yang memasuki kamar tak mendengar apa yang diucapkan ibunya, yang ia dengar hanya ucapan tahlil sambil menggenggam tangan ibunya.


"Bunda .... Bunda ..., " panggil Zelda sambil menangis.


Melihat Zelda menangis tersedu-sedu membuat Yugo menepuk pundak istrinya sambil berbisik, "Bunda sudah meninggal."


"Tidak, bunda hanya tidur, dia tidak mungkin tega meninggalkanku."


"Sayang, bunda sudah tiada. Dia tidak tidur."


"Tidak! Jaga bicaramu, bunda hanya tidur." bentak Zelda sambil mengibas tangan Yugo yang memegang pundaknya.


Dokter dan suster yang melihat hanya bisa saling pandang dan iba.


"Kalian! Kenapa kalian diam saja, cepat kemari, periksa bunda ku! Cepat!" bentak Zelda.


Dokter dan suster mulai mendekat lalu mengecek keadaan Aisyah dan benar ternyata Aisyah telah tiada.


"Bu, ibu anda telah  tiada. Tolong tabah dan ikhlas demi kebaikan ibu anda lebih baik sekarang kita sucikan beliau.


"ucap dokter dengan nada lembut.


"Tidak ... tidak mungkin bundaku meninggal. Baru saja kami berbincang, ia memintaku untuk menjadi wanita kuat, tegar dan mandiri. Bunda hanya tidur, kalian pasti salah. "ucap Zelda sambil menangis.


Melihat Zelda menangis keras dengan reflek Yugo memeluk istrinya dengan erat.


"Lepas!! Lepas!! Kamu jahat mas, kamu bilang bundaku tiada!"


"Sadarlah, Bunda sudah tiada. Lebih baik kita sucikan Bunda."


Zelda yang masih tak percaya dengan kematian ibunya berusaha menyangkal.


"Bunda belum meninggal, bunda hanya ti-"


Zelda yang sedang menyangkal kepergian ibunya tiba-tiba pingsan,


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..


__ADS_2